
Tak terasa kehamilan Axnes telah memasuki usia sembilan bulan lewat lima hari.
Para anggota keluarga cukup tidak sabar untuk menyambut jiwa baru yang akan segera bergabung dan meramaikan keluarga besar itu.
"Axnes, apa semua persiapan mu sudah lengkap?" Tanya Vivian khawatir.
"Sudah Ma." Jawab Axnes.
"Apa kau sedang tidak enak badan?" Tanya Vivian lagi khawatir melihat menantunya sedikit pucat.
Axnes menggeleng.
"Aku tidak apa-apa Ma. Hanya sedikit lelah." Ucap Axnes merasa sedikit tidak nyaman dengan badannya terutama perutnya.
"Sebaiknya kau istirahat saja. Nanti saat makan malam biar mama mu yang membangunkan mu." Ucap Max.
Max dan Vanessa masih berada di Shanghai bahkan mereka tinggal di rumah Raymond dan Vivian, tentunya atas permintaan sang Tuan Rumah.
"Ayo sayang, sebaiknya kau beristirahat." Ucap Raiyan menuntun istrinya berdiri lalu membawanya ke kamar.
Sepeninggal Raiyan dan Axnes.
"Aku tidak sabar sekali ingin menggendong cucu ku." Ucap Max bahagia.
"Siapa bilang cucu mu? Itu cucu ku dan Vivian." Ucap Raymond menyanggah perkataan Max.
Max mendengus kesal.
"Putri ku yang akan melahirkan tentu saja itu cucu ku." Ucap Max lagi tak mau malah.
"Haha. Sepertinya kau lupa jika nanti cucu ku akan menyandang nama keluarga Lu." Ucap Raymond sambil tertawa mengejek.
"Terserah kau saja." Ketus Max kesal.
"Dasar kakek kakek tidak tahu diri. Setiap hari dari buka mata sampai tidur lagi kerjaannya hanya bertengkar." Gerutu Vivian kesal.
"Orang tua tidak tahu malu. Sudah tua tapi tingkah laku masih saja seperti itu." Kini Vanessa yang menggerutu.
Raymond dan Max memang selalu terlibat perdebatan sejak kedatangan Max dan Vanessa beberapa bulan lalu.
Bukan perdebatan berat, hanya perdebatan kecil yang membuat mereka terlihat seperti kucing dan tikus.
Terkadang mereka juga sangat kompak jika menyangkut hal penting untuk anak dan menantunya.
Mereka pun kembali melanjutkan obrolan mereka sambil memilih nama yang cocok untuk cucu mereka.
Tak terasa hari telah berganti menjadi malam.
Vivian dan Vanessa tengah menyiapkan makan malam dibantu oleh beberapa pelayan.
"Vi, perasaanku tidak enak. Aku merasa seperti Axnes akan melahirkan malam ini." Ucap Vanessa tiba tiba di sela kegiatan memasak mereka.
"Kau yakin? Tapi kondisi Axnes memang sedikit menampakkan tanda tanda." Ucap Vivian mengingat wajah pucat Axnes tadi.
"Sebaiknya kita tidak berpikir yang mengkhawatirkan." Ucap Vanessa menenangkan satu sama lain.
Mereka pun kembali berkutat dengan kegiatan mereka.
Kurang lebih satu jam, berbagai hidangan sudah tersedia di atas meja makan.
"Biar aku yang memanggil Raiyan dan Axnes." Ucap Vivian.
Ia pun langsung melenggang menuju kamar Raiyan dan Axnes.
"Mama, tolong aku.." Belum sampai dikamar Raiyan, Vivian mendengar teriakan histeris dari putranya.
__ADS_1
Segera ia berlari menghampiri kamar putranya.
"Ada apa Rai?" Tanya Vivian panik sambil membuka pintu.
"Astaga.." Ucap Vivian histeris saat melihat Axnes menjambak rambut Raiyan dan wajah Axnes lebih pucat dari yang tadi siang mereka lihat.
Vanessa dan beberapa anggota keluarga yang lain pun segera berlari menghampiri kamar Raiyan.
"Tadi Axnes mengeluh sakit perut, lalu tiba tiba saja dia menyerang ku. Dia mencengkram tangan ku, lalu mencakar ku, kemudian ... "
"Stop Rai, istri mu sudah mengalami kontraksi, segera bawa dia kerumah sakit. Mama dan yang lain akan menyusul." Gertak Vanessa.
Raiyan patuh dan segera menggendong istrinya keluar dari kamar lalu berlari secepat mungkin untuk sampai ke mobilnya.
Segera Raiyan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai dirumah sakit.
Raiyan segera menggendong Axnes turun dari mobil.
"Sakit Rai.." Ucap Axnes tertatih menahan sakit sambil menjambak rambut Raiyan.
"Bertahan sayang. Aku disini." Ucap Raiyan.
Raiyan dituntun oleh perawat untuk membawa Axnes ke ruang pemeriksaan.
Raiyan menunggu diluar saat Axnes diperiksa.
"Oh Tuhan, jangan sampai istri dan putraku kenapa kenapa." Batin Raiyan cemas.
"Rai, bagaimana?" Tanya keempat orang tua mereka serentak namun pelan.
"Axnes masih diperiksa didalam." Jawab Raiyan gusar.
Raiyan akhirnya mencoba untuk tenang.
Tak lama Axnes didorong keluar dari ruang pemeriksaan menuju ruang bersalin dan Raiyan diminta untuk ikut mendampingi.
Para anggota keluarga lain mengikuti dari belakang.
"Sebentar lagi Raiyan akan merasakan apa yang aku rasakan dulu." Gumam Raymond tersenyum sinis menatap punggung putranya.
"Apa kau menyesal sekarang?" Tanya Vivian pura pura kesal.
"Tidak sayang. Untuk apa aku menyesal? Aku bahkan ingin merasakannya lagi." Ucap Raymond dengan suara sensual.
Vivian memilih tidak menggubris nya.
Raiyan telah masuk kedalam ruangan persalinan sedangkan anggota keluarga lain menunggu diluar.
"Paman, bibi bagaimana keadaan Axnes?" Tanya Vynshen yang baru saja sampai bersama Vion dan Dero.
Sudah tentu Dero mengabari yang lainnya karena ia tinggal bersebelahan dengan keluarga besar Raiyan.
"Masih didalam. Mungkin sebentar lagi akan melahirkan." Jawab Raymond.
Ketiganya mengangguk.
"Arghh.." Terdengar suara erangan Raiyan yang begitu menderita.
Ketiga sahabatnya bergidik ngeri.
"Astaga, yang melahirkan Rai atau Axnes?" Gumam Dero ngeri.
"Bodoh." Gumam Vion menepuk kepala Dero.
__ADS_1
"Arghh." Erangan Raiyan kembali terdengar.
"Ya ampun, hiperbola sekali anak itu." Gerutu Vivian kesal.
Max dan Vanessa hanya tersenyum kecil.
Max tidak merasakan bagaimana mendampingi istrinya melahirkan normal karena saat Vanessa melahirkan, ia terpaksa harus melahirkan secara sesar.
Menunggu cukup lama.
Oeek Oeek
Axnes akhirnya berhasil melahirkan.
Raiyan diminta untuk keluar terlebih dulu dari ruangan itu.
Raiyan keluar dengan keadaan yang sangat kacau.
Bajunya acak acakan, rambutnya juga berantakan, bahkan kedua lengannya berdarah akibat cakaran dan cengkeraman kuku tajam Axnes.
"Hahaha." Vion dan Dero tertawa terbahak bahak melihat Raiyan yang berantakan.
Raiyan memilih tidak menghiraukan mereka dan duduk lemas dikursi tunggu depan ruangan.
"Bagaimana keadaan Axnes dan bayi kalian Rai?" Tanya Vanessa cemas.
Raiyan hanya mengangkat jempol nya sebagai tanda jawaban.
Keempat orang tua bernafas lega.
"Kalian jangan menertawakan Raiyan. Aku beritahu satu hal, dulu Papa kalian juga menertawakan ku saat Mama Raiyan melahirkan dirinya. Tapi saat Mama kalian melahirkan kalian, apa yang Papa kalian alami justru lebih menakutkan. Maka dari itu mereka semua tidak berani memberikan adik untuk kalian." Ucap Raymond menasehati sahabat Raiyan.
Yang tertawa tadi langsung terdiam dan seketika menjadi takut.
Raiyan tersenyum sinis memandang sahabatnya yang ketakutan.
Tak lama para perawat mendorong brankar dengan Axnes diatasnya dan juga box bayi berisi bayi mungil mereka didalamnya.
Raiyan segera mengikuti disusul keluarganya.
Setelah perawat perawat tersebut pergi, Raiyan mendekat dan duduk dikursi samping ranjang Axnes sedangkan keluarga yang lain sibuk melihat bayi mungil yang berada di dalam box bayi.
"Sayang, kau tidak apa apa?" Tanya Raiyan cemas melihat istrinya sedang lemas namun tidak terlelap.
Axnes menggeleng pelan dan tersenyum.
"Siapa nama bayi kalian?" Tanya Max penasaran.
"Yanes Lu." Jawab Raiyan menatap Axnes dan Axnes mengangguk setuju.
"Nama yang unik." Ucap Max setuju.
"Yanes Lu. Unik." Ucap Raymond juga.
"Selamat kakak Rai, kau sudah menjadi seorang Ayah." Ucap ketiga sahabat Raiyan serentak.
"Terima kasih." Ucap Raiyan bahagia.
...~ To Be Continue ~...
######
Congrats Raiyan dan Axnes..
Welcome baby Yanes..
__ADS_1