Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Sakit Ray.


__ADS_3

"Vi, kau tahu tidak beberapa hari ini Louise sangat perhatian padaku" ucap Joyce kegirangan.


"aku tidak ingin tahu" ucap Vivian singkat dengan nada malas dan tidak bersemangat.


"Hei, kau ini kenapa?" tanya Joyce menggoyang-goyangkan lengan Vivian.


"tidak, aku hanya sedang tidak bersemangat" ucap Vivian lalu menundukkan kepalanya kemeja membuat ia malah terlelap padahal saat ini ia sedang berada dicafe dekat Universitas tempat kuliahnya. Joyce melihat Vivian yang terlelap malah meninggalkan Vivian di Cafe sendirian. Saat melihat Joyce sudah menjauh, Louise yang sedari tadi memperhatikan mereka pun melangkah menghampiri Vivian. Ia menepuk pelan bahu Vivian namun tidak ada respon dari nya.


Dengan sigap ia langsung menggendong Vivian ala bridal style menuju mobilnya. Ia mendudukan Vivian dengan sangat hati-hati dibangku samping kemudi. Saat hendak memakaikan seat belt pada Vivian, ia terdiam sejenak dan memperhatikan wajah damai Vivian secara Intens baru memakai kan seat belt pada Vivian. Ia kemudian masuk dan duduk di bangku kemudi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen nya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia membawa seorang perempuan kedalam apartemen nya.


"Mengapa kau ringan sekali? Apa kau tidak makan dengan baik?" gumam Louise seakan ia sedang berbicara pada Vivian sambil menggendong Vivian ala bridal style menuju kamarnya. Ia kemudian menidurkan Vivian diranjang nya dan menyelimuti Vivian hingga menutupi lehernya. Lalu ia beranjak keluar dari kamar nya. Ia meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan kepada James. Setelah itu ia pun keluar meninggalkan apartemen nya. Ia melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat, namun ditengah perjalanan ia melihat ada seorang perempuan yang sedang diganggu oleh beberapa pria berbadan besar dan berwajah sangar.


Ia lalu keluar dari mobil nya dan mencoba mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan alangkah terkejutnya saat ia melihat bahwa yang sedang diganggu itu adalah Joyce. Tanpa berpikir panjang ia langsung menyerang salah satu preman itu dari belakang. Preman-preman itu terkejut, dan tanpa bertele-tele mereka langsung membalas serangan Louise. Namun bukan Louise namanya jika ia tidak bisa mengalahkan para preman tersebut. Hanya butuh waktu tidak lebih dari tiga puluh menit untuk ia benar-benar menumbangkan semua pria itu. Mereka berlari ketakutan.


"Hey, apa kau baik-baik saja?" tanya Louise lembut pada Joyce sambil memegang pundak nya. Joyce hanya menggeleng sambil menunduk terlihat ia sangat ketakutan.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja ada aku disini" ucap Louise membawa Joyce dalam pelukan nya.


Saat dirasa Joyce sudah lebih tenang ia lalu membawa Joyce ke mobil nya dan melajukan mobilnya menuju kesebuah rumah yang tampak minimalis tapi tetap menampilkan kesan mewah. Ia lalu mengajak Joyce masuk ke dalam rumah itu.


"Ini rumah siapa?" tanya Joyce sambil memandangi sekeliling rumah yang tampak kosong itu.


"Ini rumahku princess" jawab Louise tersenyum.


"Duduklah" ucap nya lagi mempersilahkan Joyce duduk. Ia kemudian melangkah kedapur lalu membuat secangkir teh hangat dan menambahkan sesuatu didalamnya.

__ADS_1


"Minumlah ini. Teh hangat bagus untuk memenangkan diri" ucap Louise sambil menyerahkan secangkir teh hangat tadi kepada Joyce dan duduk di samping nya. Joyce langsung menyesap teh hangat itu hingga menyisakan setengah cangkir. Tiba-tiba Joyce merasakan tubuhnya memanas dan seperti menginginkan sesuatu. Ia kemudian mendekati Louise dan mulai menciumi bibir nya namun Louise tak bergeming.


"Ada apa dengan mu Joyce?" tanya Louise mendorong tubuh Joyce menjauh darinya.


"A..aku tidak tahu Louise. Tapi aku menginginkannya" ucap Joyce dengan suara seakan menahan sesuatu dalam dirinya dan tatapan yang sayu.


"Ayo kita lakukan itu Louise" pinta Joyce dengan air mata yang sudah mulai menetes. Louise hanya tersenyum sinis mendengarnya.


"Kau yang meminta nya Joyce" ia lalu menarik tangan Joyce dan melangkah menuju kamar mandi didalam kamarnya dan menyirami Joyce dengan air dingin yang mengalir dari shower. Joyce terisak namun ia tidak berdaya.


"Hubungi aku kembali jika kau sudah sadar" ucap Louise dengan nada dingin lalu pergi meninggalkan nya sendirian. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemen nya.


"Eung.." Vivian melenguh kecil saat ia baru tersadar dari tidurnya dan mengerjapkan mata nya beberapa kali. Saat kesadaran sudah terkumpul ia kemudian merasa heran karena itu bukan kamar nya. Ia lalu melangkah keluar dari kamar mencoba untuk menemukan seseorang.


"Kau? Mengapa aku bisa ada disini?" tanya Vivian heran.


"Memangnya kau lupa apa yang tadi terjadi?" tanya Louise sengaja dengan senyum jahil.


"Tadi? Apa kau? Kau?" tanya Vivian namun tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Louise lalu berjalan mendekati Vivian.


"Kau tadi tertidur di cafe dan teman mu meninggalkan mu" ucap Louise menatap dalam mata Vivian.


"Memangnya apa yang kau pikirkan? Dasar payah" ucap Louise menjentik pelan kening Vivian.


"Sekarang makanlah dulu, setelah itu aku akan mengantar mu pulang" ucap Louise sambil mendorong bahu Vivian pelan agar mendekati meja makan nya. Saat Vivian duduk mata nya langsung berbinar melihat semua makanan yang ada di atas meja adalah makanan kesukaannya. Ia pun segera melahap makanan-makanan itu tanpa menunggu aba-aba dari Louise. Louise yang melihat Vivian makan dengan lahap hanya bisa mengembangkan senyumnya. Ada perasaan bahagia saat melihat Vivian bahagia.

__ADS_1


Sesuai janjinya, setelah makan ia pun mengantar Vivian pulang. Saat sampai di depan mansion ia melihat seorang laki laki yang sudah menunggu Vivian dengan wajah menahan amarah. Laki laki itu tak lain adalah Raymond. Saat melihat Vivian turun dari mobil Louise, Raymond langsung melangkah masuk kedalam mansion nya. Vivian yang melihat itu langsung segera mengejarnya.


"Ray, aku minta maaf karena pulang terlambat" ucap Vivian penuh sesal. Raymond tidak bergeming dan masih dengan posisi membelakangi nya, membuat Vivian mencoba menjelaskan lebih detail kejadian sebenarnya.


"Tadi aku tertidur di cafe dan...." belum sempat Vivian menyelesaikan kalimatnya Raymond sudah memotongnya


"Dan kau dibawa untuk tidur bersamanya?" ucap Raymond dengan penuh amarah.


"Tidak Ray, aku.." lagi-lagi Raymond membuat perkataan Vivian terhenti kali ini Ia mencengkeram pergelangan tangan Vivian kuat dan menariknya kekamar. Saat sudah di kamar ia mendorong Vivian keatas ranjang, lalu ia membuka ikat pinggang nya dan mencambuk kaki Vivian dengan ikat pinggang nya hingga meninggalkan bekas luka.


"Dasar jalang. Dengan ku kau bahkan selalu menolak, tapi begitu mudah nya kau memberi dirimu pada laki laki asing yang baru kau kenal" ucap Raymond dengan suara menggelegar dan masih terus mencambuk kaki Vivian.


"Tidak Ray akh..aku mohon. Ini tidak seperti yang kau kira" ucap Vivian terisak memohon dan merasakan sakit pada kedua kakinya.


"Aku minta maaf Ray, hikss ini sangat sakit" lanjutnya lagi, kali ini berhasil membuat Raymond menghentikan perbuatan nya.


"Akkhh" teriak Raymond menjambak kasar rambutnya. Ia kembali menyakiti Vivian dan melanggar janjinya, sedangkan Vivian hanya menangis sesenggukan ditepi ranjang sambil memeluki kakinya yang sudah penuh dengan bekas luka bahkan ada yang mulai mengeluarkan darah. Raymond langsung meninggalkan Vivian tanpa menoleh untuk melihat keadaannya. Pintu ia banting dengan sangat keras.


"Kenapa Ray? Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau tidak mendengar penjelasan ku terlebih dulu? Ini sakit Ray. Terasa sangat sakit bukan kaki ku tapi hatiku" gumam Vivian sendiri seolah sedang berbicara pada Raymond. Entah kenapa Vivian merasa sangat sakit bukan pada kakinya ta pada hati nya. Ia kemudian tertidur dalam tangisnya, bahkan saat tertidur pun suara isakan nya masih bisa terdengar.


^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^


^^^Jangan lupa juga untuk menekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update nya~^^^


...*Terima Kasih*...

__ADS_1


__ADS_2