
"Bagaimana dokter? Apakah bayi kami baik baik saja?" Raymond bertanya semangat pada dokter wanita bernama Jen itu saat ia menyelesaikan pemeriksaan nya pada Vivian.
Dokter Jen tersenyum.
"Janin Nyonya Lu baik baik saja. Hanya saja masih kecil. Baru berusia enam minggu." Jawab dokter Jen tersenyum.
"Kapan aku bisa mengetahui jenis kelamin nya dok?" tanya Raymond antusias.
"Wah, Tuan Lu sangat bersemangat ya. Untuk Jenis kelamin bisa diketahui setelah usia kandungan menginjak lima bulan keatas." Dokter Jen menjelaskan.
Raymond mengangguk semangat. Dokter Jen melihat gelagat tidak wajar pada Vivian yang tampak murung dan sesekali senyum terpaksa.
"Nyonya Lu, apa ada yang ingin ditanyakan?" Dokter Jen bertanya khusus pada Vivian.
Vivian tersentak, ia kemudian memandangi wajah Raymond dan Dokter Jen secara bergantian.
"Dokter apakah bisa jika aku ingin melakukan tes DNA pada janin ini?" tanya Vivian Ragu.
Dokter Jen sedikit terkejut mendengar pertanyaan Vivian. Sedangkan Raymond mengepalkan tangannya kuat dan mengeratkan rahang nya menahan emosi.
Dokter Jen kemudian tersenyum.
"Tes DNA bisa dilakukan saat bayi masih didalam kandungan. Tetapi sebaiknya saya sarankan untuk tidak dilakukan karena berpotensi menyebabkan keguguran atau gangguan lain pada janin dan ibu nya. Jika ingin, sebaiknya bersabar menunggu hingga bayi ini lahir." Dokter Jen kembali menjelaskan dengan senyuman. Ia merasa bingung, tapi ia tidak bisa terlalu ikut campur urusan pribadi pasien nya apalagi melihat perubahan ekspresi Raymond.
"Ini resep obat dan Vitamin nya. Diminum yang teratur ya Nyonya Lu." Ucap dokter jen menyerahkan selembar resep pada Vivian.
Segera Raymond menggenggam tangan Vivian untuk keluar dari ruangan dokter Jen tanpa berkata apapun. Dokter Jen hanya menggeleng.
"Kenapa kau lakukan itu Vi? Kenapa kau harus bertanya seperti itu?" Raymond bertanya dengan emosi pada Vivian saat mereka sudah didalam mobil.
Vivian tidak menjawab dan hanya menunduk. Mata nya sudah berkaca kaca.
"Lihat aku Vi. Lihat aku. Tatap mata ku." Titah Raymond penuh emosi namun masih berusaha ia kontrol.
Mau tidak mau dengan ragu Vivian mengangkat kepalanya dan menatap mata Raymond yang terluka. Tentu saja terluka, Raymond memilih percaya pada nya, tapi dia bertanya seperti itu membuat dirinya seperti meragukan kepercayaan Raymond padanya.
"Aku sudah bilang, aku percaya pada mu. Dan aku tidak mempermasalahkan apapun tentang bayi kita Vi." Ucap Raymond menangkup wajah Vivian dengan kedua telapak tangan nya.
"Aku mohon jangan seperti ini sayang. Aku mencintai mu dan kau mencintai ku. Itu sudah cukup bagiku. Jangan meragukan kepercayaan ku lagi. Aku mohon." Raymond berkata dan menempelkan kening nya pada kening Vivian. Ia juga ikut terisak, terluka.
__ADS_1
"Maafkan aku Ray." Ucap Vivian lemah.
"Aku mohon jangan ulangi lagi." Pinta Raymond memeluk erat Vivian. Vivian hanya mengangguk.
Kemudian Raymond melepas pelukan nya dan meraih ponselnya. Ia kemudian menghubungi Sion.
"Sion, datang ke rumah ku sekarang dan tunggu aku diruang kerja ku." Titah Raymond saat Sion sudah mengangkat panggilan nya
"Baik Tuan." Jawab Sion dari balik telepon.
Raymond langsung mematikan panggilan nya tanpa berbicara lagi pada Sion. Segera ia pun melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan hening. Vivian dengan pikiran nya yang bercabang. Raymond dengan tujuan nya ingin bertemu Sion.
Sesampainya dirumah, Raymond menggenggam tangan Vivian menuntun nya kekamar.
"Kau istirahat saja. Obat dan vitamin mu nanti aku akan meminta Dream untuk menebus nya." Ucap Raymond dan hanya diangguki oleh Vivian.
Setelah itu Raymond melangkah keluar dari kamar nya menuju ke ruang kerjanya.
"Sion, tolong aku selidiki siapa saja wanita yang pernah tidur dengan Max. Dan apa ada dari mereka yang pernah hamil?" Ucap Raymond memberi perintah. Ia terpaksa melakukan semua ini demi Vivian. Ia tidak ingin Vivian stres dan membawa pengaruh buruk pada janin dalam kandungan nya nanti.
"Baik Tuan. Aku segera kerjakan." Ucap Sion membungkuk lalu keluar dari ruangan Raymond.
#####
"James, apa aku bisa bertemu dengan mu sekarang?" tanya Sion yang kini sedang menghubungi James.
Bagi nya cara paling cepat dan tepat untuk mengetahui tentang Max adalah lewat James, orang kepercayaan Max.
"Bisa. Kebetulan aku sedang diluar. Kau kirimkan saja alamat mu nanti aku kesana." Jawab James dari balik telepon.
"Baik. Kita bertemu di lapangan basket ... " Ucap Sion menyebut tempat yang akan didatangi. Sebuah lapangan basket yang hanya akan ramai jika ada pertandingan atau anak anak sedang latihan.
Setelah itu ia langsung menutup panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari James. Dengan segera ia melajukan mobilnya menuju ke tempat yang ia sebutkan tadi.
Saat Sion sampai terlihat James sudah menunggu disana. James melambaikan tangannya saat melihat Sion. Segera Sion pun turun dari mobil nya dan berlari kecil kearah Sion.
"Bagaimana? Apa yang ingin kau bicarakan?" James bertanya sopan.
Sion tahu, James berbeda dengan Max. James adalah pria yang baik, ia hanya bekerja dengan Max untuk membalas budi.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya tentang Tuan mu dan para wanita yang pernah tidur dengan nya." Ucap Sion membuat James mengernyitkan kening nya.
"Tentang apa?" tanya James bingung.
"Apa pernah ada wanita yang hamil setelah tidur dengan nya?" tanya Sion ragu. Ia sebenarnya tidak nyaman bertanya hal itu, hanya saja ini adalah perintah Tuan nya.
"Hah? Pertanyaan macam apa itu?" James terperanjat tak percaya mendengar pertanyaan Sion.
"Jawab saja James." Ketus Sion.
"Apa maksud mu ... ?" James tidak melanjutkan perkataannya, dan mengingat kejadian tentang Vivian.
"Tidak, tidak. Tuan Max dulu bukanlah pria yang suka berkomitmen dengan satu wanita, jadi dia selalu memasang kontrasepsi pada tubuhnya dan menggantinya tiap bulan. Dan ia baru memperbarui nya beberapa hari waktu itu sebelum maaf, menyetubuhi Nyonya Lu." Jawab James jujur sesuai apa yang ia tahu adalah kenyataan.
Setelah mendapatkan jawaban, tanpa berkata apapun Sion langsung berlari ke arah mobil nya dan segera melajukan mobilnya pergi.
James hanya bisa menggeleng dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. Sudah diberi informasi, malah tidak ada ucapan terima kasih.
Sion segera melajukan mobilnya dengan kecepatan hampir penuh kembali ke rumah Raymond. Saat sampai ia bergegas menuju ke ruang kerja Raymond.
"Tuan, hah ... " Sion memanggil Raymond dengan nafas terengah.
"Bagaimana? Apa sudah ada hasil?" tanya Raymond khawatir.
"Sudah Tuan. Hah..tapi bolehkah aku meminta air minum sebentar?" tanya Sion tanpa akhlak.
Raymond mendengus kesal. Ia kemudian berjalan menuju ke kulkas mini yang ia taruh di pojok ruangan. Ia mengambil sebotol air mineral dan melemparkan nya pada Sion. Dengan segera Sion meminum nya hingga tersisa setengah.
"Begini Tuan ... " Sion menjelaskan sesuai informasi yang ia dapatkan dari James tadi.
"Baiklah. Aku mengerti. Kau boleh pergi." Ucap Raymond tersenyum pada Sion.
Sion pun pamit dan pergi dari ruangan Raymond.
********
Yuk yuk mampir di novel ku satunya berjudul " IF LOVE "
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah.
__ADS_1
Selalu jaga kesehatan kalian, dan patuhi protokol kesehatan jika sedang bepergian.