
"Honey ayo cepat lah atau kita akan terlambat" ucap Raymond setengah berteriak memanggil Vivian. Saat dirasa tidak mendapatkan jawaban, ia lalu melangkah menaiki tangga menuju kamar Vivian. Padahal tadi ia sudah menunggu di bawah.
"Honey cepatlah" ucap nya lagi.
"Sebentar lagi" terdengar suara Vivian berteriak dari dalam. Dan Raymond memutuskan untuk menunggu di depan pintu kamar Vivian.
Hari ini Raymond akan membawa Vivian jalan-jalan, bermain menghabiskan waktu bersenang-senang. Karena besok nya Vivian sudah mulai masuk kuliah. Dua tahun sudah sejak peristiwa penyerangan yang terjadi di mansion Jordan. Vivian perlahan sudah mulai bisa melupakan kejadian pahit itu. Ia juga sudah mendaftarkan kuliahnya mengambil jurusan arsitektur sesuai yang ia impikan.
Raymond yang mengatur semua keperluan kuliahnya, sedang Vivian hanya diijinkan memilih universitas yang ia inginkan. Vivian tidak berani menolak karena ia takut Raymond akan berbuat gila lagi, walau ia tidak tahu alasan sebenarnya yang membuat Raymond seperti itu. Jika kalian bertanya bagaimana hubungannya dan Raymond sekarang? Jawabannya mereka baik-baik saja.
Sejak kejadian malam itu Raymond menyesali perbuatannya dan Vivian pun memaafkan nya. Walaupun butuh waktu untuk Raymond mendapatkan maaf Vivian. Raymond berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan maaf Vivian, dan akhirnya Vivian luluh dengan kegigihan Raymond. Tapi tetap saja Vivian tetap menjaga jarak dengan nya. Raymond bisa mengerti akan hal itu.
"Ayo. Sekarang aku siap" ucap Vivian dengan semangat saat ia keluar dari kamar nya.
"Wah wah, apa perlu kau berdandan secantik ini hanya untuk jalan-jalan dengan ku. Aku sangat terharu" ucap Raymond menggoda Vivian dengan memasang tampang sok terharu.
"Kau ini jangan berlebihan, lagipula aku kan memang sudah cantik natural" ucap Vivian tidak mau kalah sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Dan kau milikku" bisik Raymond ditelinga Vivian membuat Vivian merinding merasakan nafas berat nya.
"Jangan banyak bicara. Ayo berangkat" ucap Vivian berusaha mengalihkan pembicaraan sambil menarik tangan Raymond untuk berjalan.
"Dasar wanita. Dia yang lama tapi aku yang disalahkan" gerutu Raymond dengan nada dibuat kesal. Namun Vivian tidak mempedulikan nya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berangkat. Hanya berdua tanpa Jiro ataupun pengawal. Raymond benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua dengan Vivian karena ia tahu nanti Vivian pasti akan sangat sibuk dengan kuliahnya. Raymond mengajak Vivian bermain di mall, menonton film di bioskop, hingga yang terakhir bermain ditaman permainan. Saat ditaman bermain Vivian menjadi kurang semangat karena ia teringat apa yang ayahnya lakukan untuknya dulu dan juga Max. Raymond yang melihat itu tanpa bertanya pun ia sudah tahu apa yang Vivian pikirkan, karena pada saat itu ia juga ada ditaman bermain yang sama dengan Vivian.
"Honey jangan bersedih okay" ucap Raymond membawa kedua telapak tangan Vivian kedalam genggaman nya sambil menatap dalam matanya.
"Tidak aku tidak sedih. Aku hanya merindukan ayah dan Max" ucap Vivian dengan memelankan suaranya saat mengucapkan nama Max sehingga tidak di dengar oleh Raymond.
"Hey, apa kau ingin makan permen kapas itu?" tanya Raymond sambil menunjuk kearah seorang bapak yang menjual permen kapas. Tanpa menunggu jawaban Raymond langsung berlari kearah penjual permen kapas itu dan membeli sebungkus permen kapas yang paling besar.
"Aaa makanlah" ucap Raymond hendak menyuapi Vivian. Vivian tidak menolak dan langsung menerima permen kapas itu dengan mulutnya.
"Kau membeli permen yang ukurannya sangat besar" ucap Vivian sambil memperhatikan permen kapas yang masih dalam genggaman Raymond.
"Yah dia besar. Seperti punya ku Haha" ucap Raymond jahil sambil tertawa.
"Kau ini.." ucap Vivian sambil merebut permen kapas itu dari tangan Raymond dan memukuli Raymond dengan itu.
"Rasakan ini" Vivian masih terus memukulinya.
Orang-orang yang lalu lalang menatap kagum terhadap kecantikan dan ketampanan mereka. Mereka sangat serasi itu lah yang ada dalam benak orang-orang itu. Raymond dan Vivian tidak mempedulikan pandangan mereka dan terus melanjutkan aksi senda gurau nya.
Sementara itu disebuah apartemen mewah terlihat Louise baru berolahraga. Badannya yang atletis ditambah keringat yang membasahi tubuhnya membuat ia terlihat sangat tampan dan sexy. Walau terdapat bekas luka di wajahnya.
"Tuan" sapa James tangan kanan nya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Louise dingin. Bekas luka sayatan pisau di wajahnya membuat nya terlihat menakutkan.
"Ini informasi yang tuan inginkan" timpal James menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Louise.
"Kau boleh pergi" ucap Louise setelah menerima amplop itu. Setelah James pergi ia pun berjalan mendekati jendela apartemen nya dengan satu tangan memegang amplop tadi dan satu tangan nya lagi mengelap keringatnya dengan handuk. Setelah selesai mengelap keringatnya ia mengalungkan handuknya dilehernya lalu ia membuka amplop nya. Ia melihat satu persatu isi informasi didalamnya lalu sebuah seringai terbentuk dari bibirnya saat melihat selembar foto candid seorang gadis yang tengah tersenyum manis.
"Tersenyum lah sepuas mu sekarang. Karena nanti aku akan membuat mu hidup di neraka" ucap Louise dengan ekspresi menakutkan lalu ia meremas foto tersebut dan menginjak nya.
Louise berhasil membangun kelompok abu-abu nya dalam waktu tidak sampai dua tahun dengan suntikan dana dari Harley Lu. Mengapa kelompok abu-abu? Karena ia menjalani bisnis illegal dan legal sekaligus. Bisnis legal agar Harley tidak curiga dan kecewa padanya. Bisnis illegal agar ia dapat dengan mudah mencapai tujuan nya dan mendapatkan informasi yang ia inginkan dengan mudah.
"Louise bagaimana kabarmu nak?" tanya Harley yang kini berdiri di belakang nya. Orang-orang tertentu memang diijinkan Louise untuk mengetahui password apartemen nya.
"Aku baik Ayah" ucap Louise. Ia akan sangat lembut jika sedang berbicara dengan Harley. Bagaimana pun Harley yang sudah menyelamatkan diri nya, dan ia sudah mengganggap Harley sebagai Syahnya.
"Bagaimana persiapan mu untuk besok?" tanya Harley saat ia sudah duduk di sofa.
"Aku sudah mempersiapkan diri dengan baik Ayah. Ayah tidak perlu khawatir" jawab Louise yang juga ikut duduk di samping Harley.
"Baiklah, semoga kau berhasil nak. Katakan pada Ayah jika kau butuh bantuan" ucap Harley lalu beranjak meninggalkan Louise.
Louise lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena ia mulai tidak nyaman dengan bekas keringat yang menempel. Saat sudah selesai dengan ritual bersih-bersih nya, ia pun meraih kemeja putih dan celana jeans hitam dari lemarinya untuk ia kenakan. Lengan kemeja nya ia gulung hingga keatas lengan nya menampilkan otot-otot kekar tangan nya. Setelah itu ia keluar dari apartemen nya dan mengendarai mobil nya menuju salah satu Club Malam untuk menghabiskan waktunya dan juga ada tujuan lain yang ingin ia capai.
^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk menekan tombol favorit jika readers menyukai cerita ku.~...
...*Terima Kasih*...