Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Rindu


__ADS_3

"Sampai jumpa Vi." Ucap Max ketika didalam jet pribadi nya sambil memandangi wajah Vivian yang tersenyum manis di ponselnya.


"Aku harap bisa hidup lebih baik disana." Ucap Max kembali. Ia memutuskan untuk pergi dan tinggal di Jepang. Ia bahkan pergi tanpa sempat memberitahu Vivian tentang identitas aslinya sebagai Max. Ia benar-benar berharap bisa rela melihat gadis yang ia cintai bahagia dengan laki-laki lain.


Didalam jet itu hanya ada dia, Rex, dan Joyce. James tidak ikut karena Max memintanya untuk mengurus bisnis abu-abu nya di ShangHai sekaligus menjaga Vivian dari jauh.


Max mencoba beristirahat karena ia merasa lelah. Tapi sangat sulit baginya karena adiknya dan Joyce sedang saling menghantam hingga desahan keduanya memenuhi Jet yang mereka naiki. Joyce bahkan sekarang berani terang-terangan melayani Rex didepan Max. Bukan tanpa alasan, ia sengaja untuk membuat Max marah dan cemburu tapi nyatanya tidak ada respon apapun dari Max.


"Baby apa kau tidak mau bergabung?" tanya Joyce ketika ia menyelesaikan permainan nya dengan Rex dan berjalan menghampiri Max hanya dengan pakaian dalam nya bekas merah tampak dimana-mana. Max menatap jengah kelakuan wanita yang ia benci itu. Bukan tergoda Max malah mendorong Joyce cukup kuat agar tidak mendekatinya.


"Enyah dari hadapanku. Aku sudah bilang aku hanya akan memakai mu jika aku mau." Ucap Max kasar. Joyce meneteskan air mata nya. Sakit mendengar apa yang diucapkan Max. Rex hanya tersenyum sinis mendengar perkataan menyakitkan dari kakaknya.


"Sayang berhati-hati lah. Kau baru saja keluar dari rumah sakit bukan berarti kau sudan benar-benar sembuh." Ucap Vivian yang sedang membantu Raymond berjalan memasuki mansion nya. Hari ini Max pergi bertepatan Raymond keluar dari rumah sakit.


"Tidak apa-apa. Jika aku sakit kau akan merawat ku kan?" tanya Raymond tersenyum manis.


"Tidak. Aku tidak akan merawat mu." Elak Vivian sambil mendudukan Raymond disofa ruang utama. Raymond hanya tersenyum kecil mendengar penolakan gadis nya. Ia tahu itu sangat tidak benar.


"Apa Louise sudah pergi?" tanya Raymond penasaran.


"Entahlah, dia tidak memberiku kabar apapun." Ucap Vivian dengan suara sedikit keras karena ia sedang berjalan ke dapur untuk menyiapkan beberapa cemilan dan minuman untuk Raymond. Max memang sengaja tidak memberitahu pada mereka tentang keberangkatan nya kecuali Harley. Ia selalu menghormati Harley walau bukan Ayah kandung nya.


"Apa dia sudah benar-benar pergi?" batin Vivian disela-sela kegiatan nya. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat pada Max dan kebersamaan mereka saat mengikuti kegiatan kampus mulai berputar di otaknya.


"Aw." Teriak Vivian sambil memegang jari nya yang terkena pisau. Raymond yang mendengar teriakan kekasihnya segera berlari menuju dapur tanpa mempedulikan kondisi nya sendiri. Saat di dapur ia kaget melihat Vivian sedang memegangi jarinya yang terluka.

__ADS_1


"Ya ampun Honey kau ini ceroboh sekali." Ucap Raymond sambil membawa kekasih untuk duduk di salah satu kursi di meja makan nya. Ia kemudian mengambil kotak obat yang tersedia di dapur lalu mengobati luka Vivian.


"Berhati-hati lah ketika mengerjakan sesuatu." Ucap Raymond kesal melihat kekasihnya melukai diri sendiri walau tanpa sengaja.


"Maaf. Aku kan tidak sengaja." Ucap Vivian menunduk.


"Apa yang sedang kau pikirkan hah?" tanya Raymond mencubit gemas pipi Vivian setelah menyelesaikan kegiatannya mengobati jari Vivian.


"Tidak ada." Jawab Vivian sedikit berpaling. Mana berani dia menjawab kalau dia sedang memikirkan Louise pada Raymond. Bisa-bisa nanti dia malah mendapat hukuman.


"Ya sudah, biar pelayan saja yang melanjutkan nya. Kau ikut aku." Ucap Raymond lalu menarik tangan Vivian untuk mengikuti nya. Ia kemudian membawa Vivian menuju kamar nya. Setelah dikamar nya ia membaringkan tubuh Vivian diranjang nya dan menindih nya.


"Ray apa yang kau lakukan?" tanya Vivian sedikit takut.


"Aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan." Ucap Raymond dengan mata genit nya.


"Apa yang sedang kau pikirkan gadis bocah?" tanya Raymond jahil setelah ia mengecup kening kekasihnya dan merebahkan diri nya disamping Vivian. Vivian menjadi sangat malu. Ia kemudian berbalik memunggungi Raymond dan meracau tidak jelas merutuki kebodohan nya. Raymond yang melihat itu lagi-lagi tertawa kecil. Muncul sebuah ide nakal untuk mengerjai kekasihnya.


Ia kemudian mendekati Vivian dan melingkar kan tangannya ke perut Vivian. Bibirnya mulai menjelajahi leher Vivian dari belakang.


"Apa ini yang kau inginkan?" tanya Raymond disela-sela kegiatannya. Ia sedang bersusah payah menahan tawanya. Vivian seketika langsung meronta dan lepas dari pelukannya.


"Dasar mesum." Teriak Vivian dengan wajah yang sudah memerah karena malu. Lalu ia pun berlari keluar kamar meninggalkan Raymond dan seketika tawa Raymond langsung meledak. Memang sangat mudah untuk mengerjai kekasihnya itu.


"Aku berjanji pada diri ku sendiri Vi, aku tidak akan menyentuh mu lebih dari mencium bibir mu sebelum kita terikat dalam pernikahan." Ucap Raymond seolah sedang berbicara pada Vivian.

__ADS_1


Vivian berlari ke taman belakang mansion Raymond. Sejenak memandangi bunga-bunga indah disana ia lalu kembali memikirkan kenangan nya bersama Max. Jujur bahkan sampai saat ini entah kenapa ia masih merindukan Max.


"Max, kau dimana?" gumam Vivian.


"Apa kau tidak mau bahkan hanya sekedar datang untuk melihat ku?. Aku merindukan mu." Lanjutnya.


Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia sampai saat ini masih bisa merindukan Max. Tanpa sadar air mata nya mulai menetes namun cepat-cepat ia menghapus nya.


"Wah, ternyata Jepang indah sekali." Ucap Joyce. Mereka baru saja mendarat di Tokyo. Dan kini sedang dalam perjalanan menuju salah satu distrik mewah yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Rex mengendarai mobil karena memang ia sempat tinggal di Jepang saat ia diasuh oleh wanita yang merawat nya.


Joyce dan Max duduk di bangku belakang. Joyce sengaja menempel pada Max bahkan beberapa kali menggosok gundukan nya pada Max. Rex yang melihat kelakuan nya melalui kaca spion diatas kepalanya hanya bisa tersenyum sinis.


"Benar-benar murahan. Dia bahkan menggoda tanpa diminta. Hasratnya terlalu besar." Batin Rex dalam hati. Sedangkan Max hanya memejamkan matanya tidak peduli pada Joyce walaupun kini tangannya sudah mulai bergerak aktif meraba Max. Max hanya memikirkan satu nama di hati dan pikiran nya. Siapa lagi kalau bukan Vivian.


Gadis yang ia jaga dan lindungi dari kecil, bahkan sekarang menjadi penguasa hatinya. Ia benar-benar jatuh dalam pesona Vivian. Tanpa sadar sebuah senyum terbit di bibir nya membuat Joyce yang melihatnya langsung menghentikan aksinya. Joyce tahu senyum itu bukan untuk nya.


*************


***Selalu dan selalu ku ucapkan terima kasih untuk para reader yang selalu setia dengan "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?".


Dukungan kalian sangat berarti buat aku, maka dari itu terus tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.


Tekan favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update episode selanjutnya dan juga vote cerita ku.


Serta tinggalkan sedikit tip buat aku jika kalian berkenan.

__ADS_1


Follow IG ku @zml1104_


^^^Salam Semangat***.^^^


__ADS_2