Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Kebenaran.


__ADS_3

"Ha hantu." Rex berteriak histeris saat mendapati Vanessa sedang memasak didapur.


Vanessa yang mendengar itu hanya memutar malas kedua bola mata nya dan terus melanjutkan kegiatan memasak nya.


"Kak, ada hantu Vanessa sedang memasak." Ucap Rex seperti ketakutan saat melihat Max keluar dari kamar dan berjalan kearah nya.


Max menatap tajam pada nya tapi tidak berkata apapun. Ia menghampiri Vanessa dan memeluk posesif Vanessa dari belakang.


"Selamat pagi sayang." Ucap Max sambil mengecup pundak mulus Vanessa yang terekspos.


"Pagi sayang." Vanessa membalas ucapan nya lalu mengecup pipi nya membuat Max langsung tersenyum.


Max kemudian memutuskan untuk duduk di kursi meja makan sambil menunggu Vanessa selesai memasak tanpa menghiraukan Rex yang berdiri mematung sambil menyaksikan adegan romantis mereka.


"Silahkan dinikmati." Ucap Vanessa menyerahkan sepiring makanan yang ia masak dihadapan Max, kemudian menata dua piring lain nya untuk diri nya dan Rex.


"Terima kasih sayang." Ucap Max sambil menyendok makanan nya dan memasukkan nya kemulut.


"Rex, kemarilah. Kau tidak perlu berpura pura." Ucap Max tegas agar adiknya segera bergabung dengan nya. Sedangkan Vanessa sudah duduk di samping nya.


"Pura pura apa?" Rex bertanya pura pura bodoh.


"Kau merencanakan kematian Vanessa dengan begitu rapi dan membuat ku menderita berbulan bulan." Ucap Max menatap Rex dengan tatapan membunuh.


"Bukan aku kak. Tapi dia yang menginginkan nya." Ucap Rex menunjuk Vanessa. Vanessa hanya tersenyum tanpa dosa.


"Jika tidak begitu, apa mungkin kau sekarang bisa seperti ini?" tanya Vanessa menatap lekat Max.


Max terdiam. Pikiran nya membenarkan perkataan Vanessa.


"Terima kasih sayang." Ucap nya lalu mengecup pipi Vanessa.


"Menjijikan." Ucap Rex sambil menyendok kasar makanan nya dan memasukan nya dengan kasar kemulutnya.


Uhuk uhuk


Rex tersedak akibat perbuatan nya sendiri.


"Pelan pelan Rex. Kau seperti anak kecil saja." Vanessa mengomeli Rex sambil menyerahkan segelas air putih pada Rex. Rex menerima nya dan denga. cepat menenggak nya hingga tersisa setengah.


"Jadi siapa yang mau menceritakan pada ku, rencana apa yang sudah kalian lakukan untuk memalsukan kematian Vanessa hingga berhasil mengelabui ku." tanya Max menghentikan kegiatan makan nya dan duduk menegakan badan nya.


Rex dan Vanessa saling memandang dan saling menyuruh lewat kode mata mereka.


"Vanessa, lebih baik kau saja yang menceritakan nya, atau tidak aku akan menghukum mu nanti malam." Ucap Max sensual dengan nada mengancam ditelinga Vanessa.


"Baiklah." Ucap Vanessa.


Flashback On


"Maafkan aku Vanes, aku tidak bisa membantu apalagi melindungi mu." Ucap Rex penuh penyesalan seolah dialah yang bersalah dalam hal ini.

__ADS_1


"Ka kau masih bisa menolong ku Rex. Semua masih belum terlambat." Ucap Vanessa yang ternyata sudah sadar dari saat perawat hendak memindahkan nya keruang perawatan.


"Apa kau mau membantu ku?" tanya Vanessa kembali dengan suara lemah.


"Yang kau katakan akan aku usahakan Vanes." Ucap Rex menyanggupi keinginan Vanessa.


"Aku ingin kau membantu ku menyiapkan sebuah upacara pemakaman. Kau harus buat agar itu benar benar seperti aslinya." Vanessa menjelaskan dan meminta tolong pada Rex.


"Untuk apa?" tanya Rex bingung mendengar permintaan Vanessa.


"Untuk upacara kematian ku." Jawab Vanessa singkat.


"Kau gila? Kau sudah baik baik saja, tidak akan mati." Rex sedikit membentak.


"Ini cara terakhir Rex." Ucap Vanessa lagi lalu membuka genggaman tangannya.


"Obat ini akan membantu kita." Ia menunjukkan satu botol kecil obat cairan entah apa kepada Rex.


"Kau hanya perlu menyuntikan obat ini kedalam cairan infus ku. Setelah obat ini masuk kedalam tubuhku, maka reaksinya adalah jantung ku berhenti berdetak. Tapi kau hanya mempunyai waktu tiga puluh enam jam jika tidak ingin aku benar benar mati." Lanjut Vanessa lagi.


"Tapi Vanes, ini terlalu berbahaya." Rex berusaha menolak.


"Tidak ada cara lain Rex. Hanya kematian yang akan menyadarkan Max. Aku akan menghubungi beberapa anak buah ku untuk membantu mu." Ucap Vanessa lalu meminjam ponsel Rex.


Ia menghubungi beberapa anak buah nya untuk terlibat dan membantu Rex. Setelah itu ia mengembalikan ponsel Rex.


"Sekarang lakukan tugas pertama mu. Aku melihat perawat menyimpan beberapa tabung suntikan baru dilaci itu. Kau bisa menggunakan nya." Ucap Vanessa menunjuk kearah laci nakas.


"He em." Jawab Vanessa mengangguk.


Setelah itu, Rex mencoba mencari jarum suntik, dan benar saja, ada beberapa jarum suntik dilaci itu dan berbagai ukuran. Rex memilih yang paling kecil karena paling mudah disembunyikan.


Ia kemudian meraih obat dari tangan Vanessa dan menarik obat itu dengan suntikan yang ia pegang kedalam tabung suntikan. Segera ia pun menyuntikan obat itu kedalam selang cairan infus Vanessa. Ia kemudian menyimpan sisa obat dan jarum suntik nya kedalam saku celana nya.


"Setelah ini kau harus segera memanggil dokter dan berpura pura panik. Obat ini bekerja sangat cepat. Ingat jangan sampai ketahuan.


Belum sempat Rex menjawab nya, tiba tiba detak jantung Vanessa melemah. Terlihat dari layar monitor yang menampilkan detak jantung Vanessa. Segera ia memencet tombol darurat yang ada didinding atas ranjang Vanessa untuk memanggil dokter.


Tidak lama menunggu sang dokter tadi langsung datang dan memeriksa keadaan Vanessa.


"Tuan, sebaiknya kau keluar dulu agar kami bisa dengan mudah menangani Nona Vanessa." Ucap dokter tadi. Rex menuruti dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan tidak tenang.


Cukup lama menunggu, hingga akhirnya dokter tadi dan para perawat pun keluar dari ruangan itu dengan ekspresi yang susah ditebak.


"Dokter, bagaimana keadaan Vanessa?" tanya Rex khawatir.


Huftt


Sang dokter lagi lagi menghela nafas kasar.


"Maaf Tuan, tapi kami gagal menyelamatkan Nona Vanessa." Ucap sang dokter pilu.

__ADS_1


"Tidak, tidak mungkin. Vanessa tidak mungkin pergi dengan cara seperti itu." Ucap Rex terduduk lemas di lantai.


"Tenangkan dirimu Tuan. Tuhan lebih menyayangi Nona Vanessa." Ucap dokter itu menepuk pundak Rex. Setelah itu ia pun berlalu meninggalkan Rex.


Rex mematung dan terisak menangisi kepergian sahabatnya. Vanessa memang menyuruh Rex agar berpura pura panik, tapi dia justru benar benar panik.


Hari setelah pemakaman dan Setelah Max pergi meninggalkan makam Vanessa.


"Bergeraklah lebih cepat atau Vanessa akan benar benar tiada." Ucap Rex pada anak buah Vanessa yang sedang menggali tanah penutup makam Vanessa yang sengaja dibuat tipis agar mudah untuk digali.


Secepat kilat para anak buah Vanessa menggali mencangkul tanah itu, padahal hari sedang hujan walaupun tidak deras.


Setelah selesai, mereka segera mengeluarkan peti itu dengan bantuan alat berat. Saat peti berhasil dikeluarkan, mereka segera membongkar peti itu dan mengeluarkan tubuh Vanessa.


"Dokter segera tangani Vanessa." Ucap Rex.


"Baik." Dokter itu menjawab.


Dengan sigap Dokter itu memasangkan selang oksigen pada hidung Vanessa dan berbagai alat lain nya. Kemudian ia mencoba mengembalikan detak jantung Vanessa dengan bantuan alat AED (automated external defibrillator).


Berhasil setelah balasan kali percobaan. Vanessa menarik nafas panjang membusungkan dada nya keatas saat mendapatkan detak jantung dan nafas nya kembali. Dengan segera mereka melarikan diri kerumah sakit karena kondisi Vanessa yang sangat lemah.


Flashback Off


"Jahat sekali kau?" Max melempar sapu tangan didepan nya kewajah Rex.


"Aku tidak jahat. Kekasih mu saja yang terlalu mencintai mu hingga rela melakukan apapun bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun hanya untuk menarik mu keluar dari kegelapan." Rex menjawab dengan ketus.


Max tersentuh mendengar jawaban Rex. Ia kemudian menatap dalam Vanessa yang sudah asyik memakan makanan nya. Ia terharu, karena ada perempuan yang mencintai nya sebesar itu.


"Terima kasih sayang." Ucap nya lalu menempelkan kening nya dipuncak kepala Vanessa.


"Hah, aku sudah kenyang." Rex mengamuk iri melihat keromantisan kakak nya dan segera pergi dari sana.


"Sayang, mau lah kau menemaniku kesuatu tempat untuk menyelesaikan sesuatu?" Max bertanya tanpa merubah posisinya.


"Tentu saja selama itu baik." Ucap Vanessa menyetujui.


",Aku janji tidak akan mengecewakan." Ucap Max memeluk Vanessa.


Barangkali ada yang minat mau pdkt sama Rex?



*******


Terus berikan dukungan kalian berupa komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah.


Bila berkenan tinggalkan sedikit hadiah untuk ku dan bagikan keteman kalian agar lebih seru baca bareng2.


Mampir juga di karya ku yang judul nya "IF LOVE"

__ADS_1


Salam sayang dan selalu jaga kesehatan yah.


__ADS_2