
"Aku ... " Vivian tidak ingin melanjutkan perkataannya. Ia terus memeluk erat suaminya.
"Vi, aku mohon maafkan aku. Aku minta ampun pada mu." Ucap Max seketika berlutut dihadapan Raymond dan Vivian.
Vivian enggan melihat nya. Ia menyembunyikan wajah nya pada dada bidang suaminya.
"Aku tahu kejahatan ku pada mu sudah melewati batas. Tapi aku mohon untuk terakhir kalinya, berikan maaf mu walau sedikit saja. Aku ingin hidup lebih baik dengan maaf yang kau berikan. Aku mohon Vi." Ucap Max kini malah bersujud diantara kaki Raymond dan Vivian.
Vivian tatap tidak merespon, sedangkan Raymond membiarkan Max terus bersujud dikaki mereka.
"Aku sudah kehilangan wanita yang mencintai ku karena ketamakan ku, dan aku tidak ingin kehilangan adik ku juga. Berikan maaf mu walau sedikit saja agar aku bisa pergi dengan tenang." Ucap Max menangis penuh penyesalan.
Jika Max yang dulu mungkin sudah langsung menyerang bahkan membunuh Raymond dan Vivian secara bersamaan karena merasa harga dirinya diinjak injak. Tapi tidak dengan Max yang sekarang. Mac yang memohon ampun dari wanita yang pernah dicintai nya dan juga yang dihancurkan oleh nya sekaligus.
"Aku aku memaafkan mu." Ucap Vivian dengan cepat tanpa memandang wajah Max. Vivian terpaksa, ia hanya ingin Max segera pergi dari mansion nya.
Max tidak bergeming mendengar jawaban Vivian, serasa tidak percaya.
"Sekarang enyah lah atau ku habisi kau disini." Gertak Raymond menendang kakinya agar Max menjauh.
Segera ia menuntun istrinya untuk kembali ke kamar nya.
"Terima kasih Vi. Terima kasih." Max berterima kasih pasa Vivian dengan suara sedikit tinggi berharap Vivian mendengar nya.
Ia tahu perkataan Vivian hanya terpaksa. Tapi setidaknya itulah yang keluar dari bibir Vivian.
"Pergi segera atau ku patahkan leher mu." Ancam Jiro. Terdengar menakutkan, tidak seperti Jiro yang biasanya.
Max segera meninggalkan mansion Raymond dengan perasaan lebih tenang.
"Vanessa, aku berjanji aku akan hidup lebih baik. Aku tidak akan membiarkan pengorbanan mu sia sia." Batin Max seolah berbicara pada Vanessa.
Ia kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi James.
"James, carikan aku tiket ke Jepang besok. Pastikan bagaimana pun caranya agar penerbangan ku dan Rex bersamaan." Ucap nya memberi perintah pada James dan segera mematikan panggilan nya tanpa menunggu jawaban James.
Ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah besar. Rumah Harley, pria tua yang sudah menyelamatkan nyawanya beberapa tahun lalu.
Sesampainya di rumah besar, ia segera memasuki rumah itu dengan langkah bergetar. Rasa bersalah melingkupi dirinya.
__ADS_1
"Tuan Harley ... " Ia memanggil Harley dengan sebutan Tuan. Tidak lagi berani memanggil nya Ayah.
"Maaf, tapi sebaiknya kau pergi dari sini." Ucap Ryan menghalangi jalan nya.
"Tolonglah, aku hanya ingin meminta maaf sebelum aku pergi." Ucap Max memohon.
"Tidak bisa. Tuan Harley sedang beristirahat dan tidak ingin diganggu." Ucap Ryan teguh dengan pendirian nya.
"Ryan, biarkan dia masuk." Terdengar suara Harley memberi ijin pada Ryan dari belakang.
Ryan tidak menjawab atau berkata, ia hanya merunkan tangan nya yang menghadang Max dan memberi jarak agar Max bisa lewat.
"Tuan Harley, aku mohon maafkan aku." Ucap Max tersungkur bersujud dikaki Harley.
"Memang apa kesalahan mu?" tanya Harley sengaja.
"Aku sudah sangat tidak tahu berterima kasih pada Tuan. Aku sudah membuat menantu Tuan menderita dalam ketakutan, aku sudah merusak kebahagiaan putra Tuan. Aku ... " Max tidak dapat melanjutkan perkataannya.
Ia merasa sangat malu atas semua kejahatan nya.
"Sudah lah nak. Semua itu sudah terjadi. Mau kau nangis darah pun, semua yang sudah terjadi tidak akan kembali seperti semula. Bangkit lah, kau hanya bisa memperbaiki hidup mu sendiri dan bukan kehancuran yang sudah kau perbuat." Ucap Harley mengusap lembut kepala Max.
"Tetaplah memanggil ku Ayah seperti dulu. Anggap aku ini Ayah mu anggap aku tempat mu untuk berpulang ketika kau sedang merasa lelah." Harley melanjutkan perkataannya dan memeluk Max.
Rasa bersalah Max semakin besar. Harley benar benar punya hati yang besar untuk memaafkan kesalahan orang lain.
"Tapi Tuan, aku tidak pantas." Ucap Max penuh penyesalan.
"Yang menentukan kau pantas atau tidak bukan dirimu. Tapi aku. Aku hanya meminta mu untuk tetap menganggap ku Ayah mu dan kau harus hidup lebih baik. Itu saja." Harley kemudian melepaskan pelukan nya dan menatap lekat wajah sedih Max.
"Sekarang pergilah sejauh mungkin. Buang segala rasa kepahitan mu terhadap apapun itu. Bangkit lah dan hidup dengan lebih baik. Belum terlambat untuk memperbaiki kehidupan mu nak." Ucap Harley lagi memegang erat pundak Max. Kini Max yang memeluk Harley dengan sangat erat.
"Terima kasih Ayah. Terima kasih." Ucap Max tulus. Kemudian ia berbalik dan hendak meninggalkan Harley. Langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Harley.
"Ingat aku ada untuk mu selama aku masih hidup. Jika lelah istirahat lah sejenak dan pulang ke dalam pelukan Ayah mu ini. Kau bukan robot yang bisa melakukan segala sesuatu nya sendiri tanpa butuh orang lain selain untuk menghidupkan mesin nya." Ucap Harley lagi lagi membuat Max tersentuh.
"Baik Ayah. Terima kasih. Sekarang aku harus pergi." Max pamit tanpa berbalik untuk menatap Harley karena air mata nya sudah membasahi pipinya. Segera ia pun berlalu meninggalkan rumah itu.
"Pergilah Max. Pergilah sejauh mungkin dan perbaiki segala yang ada dalam hidup mu. Karena pada dasarnya kesalahan yang kau lakukan semua berpunca dari diri mu sendiri."
__ADS_1
Max melajukan mobilnya kembali ke rumah nya dengan Rex. Segera ia menuju kamar nya untuk mengemas barang barang pribadi nya yang menurut nya penting. Ia tidak menginap di hotel, hanya saja ia ingin menyiapkan semua nya agar tidak terburu buru besok.
"Tuan, ini tiket yang kau minta. Jam penerbangan yang sama dengan Rex dan juga pesawat yang sama." Ucap James yang mendatangi Max dengan tiket pesawat ditangan nya.
"Terima kasih James." Ucap Max memeluk erat dirinya. Untuk pertama kalinya Max seramah itu padanya.
"Ti tidak masalah Tuan." Ucap James terbata karena gugup. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar Max.
"James, maafkan aku. Maafkan aku untuk semua kesalahan ku pada mu entah apapun itu. Aku minta maaf." Max berucap membuat langkah James terhenti.
James kemudian berbalik menatap Max.
"Ha tidak apa apa Tuan. Aku tidak mempermasalahkan itu. Lagipula Tuan tidak pernah jahat padaku." Ujar James menggaruk belakang kepalanya dan tertawa kecil, tawa yang salah tingkah.
"James aku serahkan semua urusan pekerjaan dan bisnis ku disini pada mu." Ujar Max. Ia kemudian meraih sebuah Map yang berisi surat pemindahan kekuasaan menjadi atas nama James dan memberikan map itu pada James.
"Tidak Tuan ini berlebihan. Aku akan membantu mu mengerjakan semuanya tapi tidak berarti aku bisa menggantikan posisi mu." Ucap James. Ia lalu mengoyakan kertas kertas itu menjadi potongan potongan kecil.
"Terima kasih James." Max lalu memeluk James.
Setelah itu, James pun segera meninggalkan Max sendiri untuk melanjutkan kegiatan nya.
"Max aku mencintai mu dan aku ingin cinta mu."
"Ayah tidak lagi marah pada mu. Tapi berjanji lah setelah ini hiduplah lebih baik. Jangan lagi menyakiti orang lain ataupun dirimu sendiri."
"Aku aku memaafkan mu."
"Susul aku jika kau sudah menyelesaikan semuanya disini."
********
Makasih buat yang sudah setia menunggu dan mendukung ku.
Jangan lupa tinggalkan kritik, saran, like, vote, dan favorit cerita ku yah.
Mampir juga dan ramaikan karya ku yang judul nya " IF LOVE " yuk.
Selalu jaga kesehatan kalian yah.
__ADS_1