Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 10 - Target Sasaran


__ADS_3

~~ Yuk, mampir juga di karya ku yang judulnya " Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) " atau kalian bisa langsung klik di bio aku aja yah. Tinggalkan jejak komentar dan like.~~


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


.


"Ini yang kau inginkan." Ucap Vion dengan malas menyerahkan sebuah map berisi segala informasi tentang Max.


Raiyan segera menerima dengan kasar dan membuka nya lalu membaca nya.


Kening nya berkerut seperti bingung.


"Hanya ini?" Tanya Raiyan dingin.


"Ada lagi tentang putrinya. Tapi dia melindungi informasi pribadi putrinya dengan sangat ketat. Aku tidak mampu mendapatkan informasi itu." Ucap Vion lalu meraih kubik diatas meja Raiyan dan memainkan nya.


Mereka kini sedang berada di markas pertemuan khusus yang dibangun oleh Raiyan hanya untuk mereka berempat.


"Sepertinya menarik jika aku menggunakan putrinya sebagai target sasaran ku." Ucap Raiyan menyeringai.


"Ya ampun Rai, kau yang benar saja. Baru saja Emily mati konyol ditangan mu, sekarang kau ingin mencari tumbal baru lagi?" Vion bertanya tidak percaya.


"Kali ini aku tidak akan menghabisi perempuan itu. Aku akan memperlakukan baik, seperti apa yang sudah Ayahnya lakukan pada Ibuku." Ucap Raiyan mengibas map yang ia cengkeram erat.


"Aku akan mencari sendiri data perempuan itu." Ucapnya lagi yang membuat Vion merasa lega.


"Satu lagi Rai, aku hanya dapat informasi kalau dia saat ini adalah seorang model yang cukup terkenal di Jepang." Ucap Vion saat teringat informasi yang dia dapatkan.


"Model yah? Bukankah kau dan Vynshen berencana ingin membuka perusahaan agensi yang menaungi para model?" Tanya Raiyan.


Vion mengangguk.


"Lakukan saja. Aku akan berikan dana sebanyak yang kau inginkan. Setelah aku mendapatkan data perempuan itu, aku ingin kau merekrut nya menjadi model utama di perusahaan mu. Tidak peduli bagaimana pun cara nya." Titah Raiyan tegas.


Vion hanya bisa mengangguk kepalanya. Tidak mungkin menolak, sedangkan Raiyan ingin membantu mewujudkan impian nya dan Vynshen, walaupun punya tujuan tersendiri.


"Tapi bagaimana kau akan menemukan nya? Kau akan pergi ke Jepang?" Tanya Vion lugu.


"Pakai otak." Ucap Raiyan ketus lalu pergi


"Astaga, apakah aku tidak bekerja menggunakan otak selama ini? Lalu bagaimana aku bisa dengan cepat mendapatkan yang dia inginkan?" Gerutu Vion.


#####


Di Jepang.


"Nes, kau masih sibuk besok?" Vanessa bertanya pada putrinya dan Max.

__ADS_1


Mereka sedang makan malam bersama saat ini.


"Hem. Axnes masih banyak sekali jadwal photo shoot Ma." ujar Axnes.


Axnes ialah putri tunggal buah cinta Max dan Vanessa. Usia nya hanya berbeda satu tahun dari Raiyan.


Dari kecil Axnes mempunyai impian ingin menjadi model. Maka saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas tahun pertama, ia berusaha mewujudkan impian nya dan berhasil hingga saat ini.


Max menjaga nya dengan sangat ketat, takut jika suatu hari ia mendapat karma melalui putri nya.


"Nes, sesekali istirahat tidak ada salahnya." Kini Max yang bersuara.


"Tidak Pa. Papa tahu sendiri kan dunia modelling itu tidak bisa selamanya. Jangan tua, jika suatu hari nanti Axnes menikah dan punya anak, pasti mereka akan berpikir dua kali untuk menggunakan Axnes lagi." Ucap Axnes.


Axnes sangat keras kepala seperti Ibunya.


"Dan lagi, minggu depan agensi ku akan mengajak kami untuk kunjungan perusahaan ke Shanghai. Jadi aku harus segera bisa menyelesaikan pekerjaan aku tidak terbengkalai." Ucap Axnes lagi.


Axnes benar benar pekerja keras. Ia tidak ingin hanya menadah tangan pada orang tua nya.


"Kau ini nes, harus ingat untuk jaga kesehatan mu."


"Paman Rex." Ucap Axnes tersenyum manis.


"Kasihan Papa Mama mu, susah payah membesarkan mu dan kau malah sibuk dengan dunia mu." Rex menasehati keponakan nya.


"Paman hanya bisa menasehati ku. Paman saja sudah setua itu tapi masih tidak menemukan pendamping." Axnes mengejek paman nya.


Rex memang memutuskan untuk tidak menikah, dan menjadikan keponakannya pewaris nya.


"Masih berfungsi?" Max menyindir adik nya.


"Haha aku sudah tidak peduli akan hal itu kak." Rex menjawab jujur.


Sejak Max kembali bersama Vanessa, Rex tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita manapun. Ia memilih untuk sendiri.


Tidak ingin terikat, apalagi melihat Max yang selalu menjadi budak cinta untuk Vanessa. Rex merasa jijik sendiri.


"Nes, tadi paman dengar kau akan pergi ke Shanghai?" Rex bertanya memastikan.


"Benar. Apa paman mau aku carikan kekasih?" Axnes mengejek paman nya.


"Tidak perlu. Sebaiknya kau saja yang mencari kekasih." Ucap Rex menyarankan pada keponakannya.


"Aku nanti nanti saja paman. Aku ini masih muda." Ucap Axnes.


"Terserah saja. Tapi ingat jangan mencari pria yang seperti Papa mu. Menjijikkan." Ucap Rex terkekeh.


"Aku justru ingin pria yang seperti Papa. Papa begitu mencintai Mama." Ucap Axnes memuji kedua orang tua nya.


Yang dipuji langsung tersenyum bahagia dab beradegan romantis.


"Lihatlah. Kau lihat, betapa menjijikkan nya mereka. Sudah tua saja masih seperti itu." Ucap Rex merutuki kakak dan kakak ipar nya.

__ADS_1


"Itu karena mereka saling mencintai paman." Axnes membela orang tua nya.


"Terserah kau saja." Rex kemudian keluar meninggalkan mereka.


#####


"Aku ingin kau melacak informasi tentang putri Max Jiang yang saat ini merupakan salah satu model terkenal di Jepang." Ucap Raiyan melalui panggilan telepon pada seseorang.


......


"Aku ingin satu jam lagi kau sudah mengirimkan nya pada ku." Titah Raiyan.


.......


Panggilan pun berakhir.


Raiyan dengan setia menunggu informasi dari informannya.


Seperti yang dijanjikan, tepat satu jam kemudian sang informan kembali menghubungi Raiyan.


"Bagaimana?" Tanya Raiyan saat menjawab panggilan nya.


......


"Kau yakin?" Tanya nya lagi.


......


"Haha baiklah. Aku pasti akan menyambutnya dengan baik." Ucap Raiyan tertawa kecil.


......


"Baik. Kau sudah bekerja dengan baik." Ucap Raiyan memuji informannya.


Panggilan kembali berakhir.


"Axnes Jiang. Aku harap kau seindah nama mu agar aku tidak menyesal saat menikmati mu." Ucap Raiyan menyeringai.


Raiyan benar benar tidak ingin mengubah keputusan nya untuk menghukum Max.


Bahkan ia memutuskan untuk tinggal di luar rumah orang tua nya.


Panggilan dari orang tua nya pun enggan untuk ia jawab.


Raiyan sekarang tampak seperti Max yang dulu, yang penuh obsesi untuk menuntaskan hasrat nya. Menghukum orang yang sudah bersalah lewat orang yang tidak berdosa.


Entah apa saja rencana yang sudah ia susun untuk menjebak Axnes.


...~ To Be Continue ~...


******


Jempol dan komentar nya jangan lupa.

__ADS_1


Makasih sayang2 ku yang masih setia.


__ADS_2