
[ Mampir juga di karya ku yang judul nya " Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) " atau kalian bisa langsung klik di bio aku aja. Like dan komentar nya kalo udah mampir yah. ]
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
Pagi pagi sekali Raiyan sudah menunggu di lobi hotel tempat Axnes menginap.
Rencana awal nya adalah mendekati Axnes secara baik baik.
Cukup lama menunggu hingga akhirnya Axnes tampak berjalan hendak keluar dari hotel.
"Axnes." Raiyan berteriak memanggil Axnes sambil berlari kecil menghampiri nya.
"Raiyan?" Tanya Axnes sedikit heran.
"Kenapa pagi pagi sekali kau disini?" Axnes kembali bertanya bingung.
"Um, aku ingin bertemu dengan mu." Ucap Raiyan cengengesan dan sok salah tingkah.
Canggung, Axnes tidak tahu harus menjawab apa.
"Raiyan terima kasih karena sudah membantu ku kemarin." Ucap Axnes canggung.
"Itu bukan apa apa. Santai saja." Raiyan tertawa kecil, salah tingkah.
Mata tajam Raiyan bertemu mata teduh Axnes.
Kedua nya hening.
"Um, Axnes apa nanti malam kau ada acara?" Raiyan kembali bertanya.
"Sebenarnya ada, tapi baru saja dibatalkan. Jadi bisa dibilang tidak ada." Axnes sampai menjawab berbelit.
"Apa kau mau jika aku mengajak mu makan malam nanti?" Tanya Raiyan lagi.
Axnes tampak berpikir.
"Apa tidak masalah?" Tanya Axnes ragu.
Kini Raiyan yang tampak berpikir.
"Oh itu. Tidak tidak masalah. Aku tidak mempunyai kekasih atau teman spesial. Kau tenang saja." Ucap Raiyan menjelaskan status nya.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Axnes.
"Jadi apa aku boleh meminta nomor ponsel mu?" Raiyan bertanya kembali.
"Ini. Tapi aku harap kau menjaga privasi ku." Ucap Axnes sambil menyerahkan ponselnya.
"Tenang saja." Ucap Raiyan santai sambil menekan nomor nya diponsel Axnes lalu menghubungi ponsel nya menggunakan ponsel Axnes.
"Ini. Terima kasih." Ucap Raiyan menyerahkan kembali ponsel Axnes.
"Axnes." Seseorang berteriak memanggil Axnes.
__ADS_1
"Hai." Axnes melambaikan tangannya tersenyum lebar saat melihat ternyata adalah Vynshen.
Vynshen memutuskan mendekati mereka.
"Rai, kau disini juga?" Tanya Vynshen penasaran.
Raiyan tidak menjawab, hanya menatapnya kesal.
"Axnes kau sudah siap?" Tanya Vynshen mengabaikan Raiyan.
"Sudah. Kau akan mengajak ku kemana dulu?" Tanya Axnes kemudian mereka pelan pelan berjalan meninggalkan Raiyan yang kesal.
"Apa apaan? Aku diabaikan begitu saja." Ucap Raiyan kesal.
Raiyan pun pergi dari hotel itu.
"Vyn, kau kenal pada Raiyan?" Tanya Axnes penasaran.
"Dia salah satu sahabat ku." Ucap Vynshen seadanya.
"Oh..tapi sepertinya dia sangat berbeda dari mu." Axnes mencoba membandingkan kedua orang yang memang berbeda itu.
"Berbeda bagaimana?" Tanya Vynshen sengaja.
"Kau terlihat sangat pendiam tapi kau baik. Dia juga sepertinya baik tapi sepertinya dia sedikit kasar." Ucap Axnes.
"Dia bahkan berencana menyakiti mu nes." Batin Vynshen.
"Hem, sebenarnya tidak juga. Jika dengan orang yang dia sayangi, dia sangat hangat dan peduli." Ucap Vynshen apa adanya.
"Ow." Axnes mengangguk pelan.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka. Vynshen kemarin sempat berjanji pada Axnes untuk membawanya jalan jalan.
"Hei bung ada apa wajah mu seperti itu?" Tanya Dero iseng saat melihat Raiyan menekuk wajahnya.
"Tidak penting. Bukan urusan mu." Ucap Raiyan ketus.
"Aku tebak, kau pasti ditolak oleh Axnes." Ucap Dero lagi sambil terkekeh.
"Apa aku harus meneruskan dendam ku?" Batin Raiyan dalam hati.
Saat menatap langsung pada mata Axnes tadi seketika rasanya tidak sanggup jika harus menyakiti Axnes.
"Sudahlah bung. Lupakan saja dendam mu. Kau tahu jika kau menyakiti Axnes hanya karena rasa benci mu pada Ayahnya, sebenarnya kau tidak ada bedanya dengan Ayah nya." Ucap Vion menasehati sahabatnya.
Raiyan terdiam merenungkan kembali kata kata Vion.
"Kau mungkin bisa tidak peduli pada kami atau orang lain. Tapi coba pikirkan paman Raymond, bibi Vivian dan Ayvin. Mereka semua berharap baik pada mu. Mereka tidak ingin kau jadi jahat Rai. Jika mereka tahu Emily mati karena kau yang memaksa, entah akan sehancur apa perasaan mereka. Apalagi sampai kau juga menyakiti Axnes." Dero menimpali.
Disaat seperti ini duo laknat itu sangat bisa diandalkan dalam menasehati walau belum tentu berhasil.
"Hah. Entahlah." Ucap Raiyan lirih.
Ia jelas tidak ingin menyakiti perasaan keluarganya terutama Mamanya, dan sekarang entah kenapa pula senyuman Axnes terus berputar di otak nya.
"Apa Vynshen punya hubungan special dengan Axnes?" Tanya Raiyan tiba tiba.
"Sepertinya belum, tapi akan segera. Jika kau bersaing untuk merebut Axnes aku setuju. Tapi tetaplah bersaing secara sehat dan lupakan saja dendam mu." Vion menjawab.
Hah
__ADS_1
Raiyan menghela nafas kasar.
Dilema.
Antara melanjutkan niat nya atau mendengar saran dari sahabatnya.
Raiyan berbaring di sofa hingga terlelap. Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu nya di markas pertemuan mereka dan tidak pernah pulang ke rumah.
Jika pulang pun, ia akan pulang saat keluarga nya sudah terlelap, dan pergi sebelum keluarga nya bangun.
Tring tring
Ponsel Raiyan berbunyi, membuat ia tersadar dari tidurnya.
"Hallo?" Raiyan menjawab malas panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Um, maaf mengganggu mu Raiyan. Aku hanya ingin bertanya apa makan malam yang kau tawarkan masih berlaku? Maksud ku jika tidak jadi, aku ingin bertemu beberapa teman teman ku. Jadi aku harus memastikan dulu ajakan mu jadi atau tidak sebelum aku memberi mereka jawaban." Axnes bertanya panjang lebar.
Axnes memang tipe yang tidak suka ingkar janji. Jika sudah berjanji dengan satu orang, maka ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menepati nya.
"Jadi. Jadi Axnes. Kau harus menunggu ku." Ucap Raiyan semangat.
Kemudian ia langsung menutup panggilan nya dan segera bersiap siap.
Secepat kilat ia bersiap, mulai dari mandi, berpakaian, dan sebagainya.
Setelah itu dengan cepat ia berlari ke mobilnya dan mengendarai mobil nya dengan kecepatan hampir penuh menuju hotel tempat Axnes menginap.
Saat sudah sampai, rupanya Axnes sudah bersiap dan menunggu di depan lobi hotel nya.
"Axnes." Raiyan memanggil nya dan membuka pintu mobil nya dari dalam.
Axnes tersenyum manis dan masuk kedalam mobilnya.
"Maaf membuat mu menunggu lama." Ucap Raiyan bersalah.
"Tidak. Jangan seperti itu. Aku menunggu tidak lama." Ucap Axnes tidak enak hati.
"Apa kau masih bisa makan makanan berat diwaktu seperti ini?" Tanya Raiyan khawatir.
"Sejujurnya aku memang ingin makan yang sedikit berat malam ini." Ucap Axnes tersenyum kaku dan malu.
"Haha tidak perlu malu. Kau model tapi kau juga manusia yang perlu menikmati hidup juga kan?" Raiyan berucap menenangkan Axnes.
Axnes tersenyum manis.
"Apa kau memang sebaik ini Raiyan? Atau ini hanya kedok mu di awal seperti para pria lain yang coba mendekati ku?" Batin Axnes penasaran.
Raiyan pun segera melajukan mobilnya menuju ke salah satu Restoran Steak terbaik di kota itu.
...~ **To Be Continue ~...
******
Jadi kalian tim mana nih?
Raiyan balas dendam atau Raiyan Vynshen rebutin Axnes.
Mumpung Raiyan lagi bimbang.
Like dan komentar jangan lupa yah.
__ADS_1
Makasih**.