Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Maaf


__ADS_3

"Kau sedang apa?" tanya Raymond sambil memeluk pundak Vivian saat ia melihat Vivian sedang sibuk diruang utama disertai kertas berserakan di mana-mana. Ia baru saja pulang dari bertemu ayahnya.


"Akh kau membuat ku kaget saja" ucap Vivian saat mendengar suara Raymond dan merasakan pelukan yang tiba-tiba.


"Kau sedang apa?" Raymond mengulang pertanyaan nya. Masih dengan posisi yang sama sambil menghirup dalam aroma wangi dari leher Vivian. Raymond memang suka memancing diri sendiri.


"Sedang mencari uang" jawab Vivian singkat. Mendengar jawaban Vivian membuat Raymond melepaskan pelukan dan melangkah lalu duduk disamping Vivian.


"Untuk apa? Apa kau pikir aku tidak sanggup menghidupi mu?" tanya Raymond geram. Bayangan Ibu nya yang meninggalkan Ayahnya mulai menghantuinya. Ia kemudian mencengkeram erat dagu Vivian membuat Vivian meringis kesakitan.


"Jangankan untuk menghidupi mu saja, bahkan untuk menghidupi seluruh perempuan di dunia ini aku juga sanggup" ucap Raymond memperkuat cengkeraman nya serta menatap Vivian dengan amarah.


"S..sakit Ray. K..kau menyakiti ku" ucap Vivian terbata sambil berusaha melepaskan cengkeraman Raymond dari dagunya. Bahkan sekarang air mata nya mulai menetes karena rasa sakit yang ia rasakan. Namun Raymond tidak mempedulikan rintihan nya. Dagu Vivian mulai memerah namun hal itu tak bisa membuat Raymond luluh.


"Ini untuk mu. Ini ini dan ini semua untuk mu. Kau bisa pakai sesuka mu. Uang ku tidak akan pernah habis" ucap Raymond seperti orang kesetanan sambil melempar sejumlah uang kas dan beberapa kartu dari dompetnya saat ia sudah melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Vivian.


"Kau gila Ray. Kau gila" ucap Vivian dengan nada tinggi lalu berlari kekamar nya meninggalkan Raymond dengan air mata yang masih mengalir.


"Astaga. Apa yang sudah aku lakukan" ucap Raymond saat baru menyadari perbuatannya sambil menjambak rambut nya dengan kasar. Ia kemudian mencoba mengejar Vivian, namun sayang ia kalah cepat. Saat sampai di depan pintu kamar nya ternyata Vivian sudah menguncinya. Raymond berusaha menggedor pintu kamar nya namun tidak ada jawaban. Ia begitu frustasi, ia mencoba mencari kunci cadangan namun naas kunci cadangan kamarnya itu juga sudah di ambil dan dibawa Vivian kekamar tadi.


"Sial sial sial" ucap Raymond memaki dirinya sambil menendang beberapa kali pintu kamarnya.

__ADS_1


Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Club langganannya tempat ia membuang penat dan Stres. Ia tidak melakukan lebih dari sekedar minum-minum. Mungkin ia akan turun kelantai dansa untuk menari dengan para wanita sexy disana namun itu hanya sekedar menari dan sangat jarang dilakukannya. Melihat mereka saja Raymond sudah jijik. Disinilah ia sekarang di Club "Hell House". Terlihat ia sudah menghabiskan dua botol minuman namun hal itu tak membuat kesadarannya hilang.


Ia masih segar seperti orang yang tidak minum. Namun itu tidak membuatnya menyerah. Ia terus mimum dan minum hingga kini sudah menghabiskan lima botol alkohol. Kesadarannya mulai menurun, namun hal itu tidak membuatnya lemah. Ia lalu beranjak dan melangkah keluar dari Club. Ia lalu mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi dan sangat tidak beraturan, bersyukur jalanan malam itu sangat sepi. Tidak lama ia lalu sampai di mansion nya.


"Honey honey kemarilah aku merindukan mu" teriaknya dengan suara menggema diseluruh mansion membuat beberapa pelayan yang masih terjaga ketakutan.


Vivian yang saat itu masih diruang makan dan sedang makan makanan ringannya karena ia sempat merasa lapar tadi pun dibuat sedikit takut mendengar suara Raymond.


"Ada apa dengan nya lagi?" gumam Vivian saat ia mulai menangkap siluet Raymond yang mendekat.


"Disini kau rupanya nona manis. Kemarilah aku merindukan mu" ucap Raymond sambil tersenyum getir dan melambaikan tangannya menyuruh Vivian mendekat. Vivian sedikit ketakutan namun ia mencoba melangkah dengan pelan kearah Raymond. Raymond yang tidak sabar itu lalu mendekati Vivian dengan langkah lebarnya dan menariknya kedalam pelukannya. Ia lalu melepas pelukan nya sejenak dan memandangi wajah Vivian dengan tatapan sayu.


Tiba-tiba ia menciumi bibir mungil Vivian dengan brutal. Vivian tentu saja meronta dan berusaha melepaskan dirinya. Namun Raymond semakin menggila ia kemudian menghentikan ciuman nya dan menarik tangan Vivian lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah memasuki kamarnya dan mengunci pintunya ia mendorong Vivian ke ranjang dan langsung menerkam bibir mungil lagi. Vivian dibuat semakin ketakutan. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk lepas dari kungkungan Raymond namun itu tidak berhasil.


"Ray ku mohon jangan lakukan ini" pinta Vivian dengan suara lemahnya sambil terisak.


Seketika kesadaran Raymond kembali dan ia langsung menghentikan aksi gilanya. Ia lalu bangun dari posisi nya yang tengah menindih Vivian dan duduk ditepi ranjang.


"Akhh" ia berteriak sambil menjambak kasar rambutnya. Lalu ia menoleh melihat Vivian yang meringkuk dengan tubuh gemetar karena ketakutan. Kemudian ia berusaha membawa Vivian kedalam pelukannya.


"Maafkan aku honey. Maafkan aku" ucap Raymond menyesal. Namun Vivian tidak menanggapi nya dan masih menangis terisak.

__ADS_1


"Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan ku tadi. Aku benar-benar minta maaf" ucap Raymond benar-benar merasa bersalah sambil mengecup beberapa kali puncak kepala Vivian. Vivian tetap tidak merespon dan Raymond tidak melepaskan pelukan nya hingga akhirnya Vivian terlelap dalam pelukannya dengan suara isakan yang masih terdengar. Raymond akhirnya menidurkan Vivian dengan benar diranjangnya.


"Maafkan aku" ucap nya lembut dan mencium lembut kening Vivian setelah menyelimuti nya. Ia lalu beranjak meninggalkan Vivian yang sudah tertidur pulas.


~yah, om Harley gak jadi gendong cucu lagi. Hehe~


"Apa rencana mu setelah sembuh nanti Louise" tanya Harley saat ia sudah duduk di sofa yang ada diruang rawat Louise. Setelah bertemu dengan Raymond tadi Harley memang langsung datang kerumah sakit membesuk Louise.


"Entah lah aku belum memikirkan nya tuan. Saat ini aku ingin fokus pada pemulihan ku dulu" jelas Louise.


"Jangan memanggil ku tuan. Panggil saja aku Ayah. Seperti nya usia mu tidak jauh beda dari putra ku" tegas Harley.


"Baiklah tu..Ayah" Ucap Louise.


"Baiklah, jika kau memerlukan sesuatu nanti kau bisa menyampaikan padaku. Ingat aku sekarang Ayah mu bukan lagi orang asing" ucap Harley setelah ia berdiri dari tempat duduknya mendekati Louise lalu menepuk pundak Louise beberapa kali tanpa menunggu respon Loise iapun beranjak meninggalkan nya.


"Aku pasti bisa menemukan mu dan membawa mu kembali ke sisi ku" gumamnya setelah kepergian Harley sambil mengingat seseorang dimasa lalu nya.


^^^~Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan juga like nya yah.^^^


^^^Jangan lupa juga untuk menekan tombol favorit jika readers menyukai cerita ku.~^^^

__ADS_1


...*Terima Kasih*...


__ADS_2