Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Rencana


__ADS_3

"Max, bukan kah hari itu kau mengajak ku ke suatu tempat untuk menyelesaikan sesuatu?" Vanessa bertanya untuk memastikan.


Mereka saat ini sedang makan siang bersama disebuah restoran.


"Hem. Ada apa memang nya?" Max menjawab singkat dan balik bertanya.


"Tidak, aku kira kau lupa." Jawab Vanessa singkat.


"Aku tidak lupa sayang. Hanya saja aku sedang mempersiapkan diri dan segala sesuatu nya." Ucap Max sambil menghapus saos yang menempel di sudut bibir Vanessa dengan jempol nya, lalu memasukan jempol nya beserta bekas saos kedalam mulutnya.


"Memang apa yang kau siapkan?" Vanessa bertanya penasaran.


"Tidak banyak. Aku hanya mempersiapkan diri dan mental untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti." Ucap Max.


"Memang nya apa yang kau ingin lakukan? Melamar ku?" tanya Vanessa asal.


"Salah satu nya. Tapi ada yang lebih penting yang harus ku selesaikan dulu." Ucap Max serius.


"Sayang, apa yang akan kau lakukan jika aku pergi tanpa sempat menikahi mu?" tanya Max tiba tiba.


"Pergi bagaimana maksud mu?" Vanessa balik bertanya bingung.


"Pergi yang benar benar pergi. Meninggal." Max menjelaskan seadanya. Entah kenapa tiba tiba pertanyaan seperti itu meluncur bebas dari bibir nya.


"Maka sebaiknya kau memberi ku seorang bayi lucu, agar aku bisa mengingat mu dan mencintai mu terus tanpa harus bersama pria lain lagi." Vanessa menjawab dengan polos. Tapi ada sesak saat mendengar pertanyaan Max yang entah apa maksud dibalik nya.


Vanessa takut, jika ia kembali gagal membentuk Max dan Max akan kembali pada kehidupan lama nya.


"Haha itu tidak mungkin sayang. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu untuk mengurus anak kita sendirian. Itu sangat melelahkan." Ucap Max tertawa kecil. Namun ada rasa sakit dibalik tawa nya. Ia tidak menyangka cinta Vanessa sebesar itu untuk nya.


Ia benar benar tidak akan sanggup kehilangan perempuan ini lagi.


"Maka dari itu jangan tinggalkan aku." Pinta Vanessa.


Entah kenapa perbincangan mereka malah beralih ke hal hal yang tidak mengenakan.


Hening. Max tidak sanggup menjawab.


"Aku milik mu Max. Kau harus ingat itu. Sekalipun kau tiada duluan, aku tetap milik mu. Jangan berharap aku akan hidup bersama pria lain selain dirimu." Ucap Vanessa seolah mengancam.


"Terima kasih sayang." Ucap Max menggenggam sebelah tangan Vanessa diatas meja.


"Max, aku berharap kau tidak akan melakukan hal hal yang aku benci lagi." Vanessa berucap sendu.


"Tidak sayang. Aku sudah berjanji pada mu. Maka aku pasti akan menepati nya. Percaya lah." Ucap Max kini menggenggam erat kedua tangan Vanessa.


Ia sangat takut bila Vanessa akan kecewa pada dirinya dan meninggalkan nya. Seorang Max psikopat gila, dan penggila wanita kini takluk pada seorang Vanessa. Tak jarang ia memaksa Vanessa untuk selalu menemani nya kemana pun ia pergi dan apapun yang ia lakukan.


"Aku percaya Max." Ucap Vanessa tulus dan tersenyum manis.


"Hentikan adegan menjijikan itu." Tiba tiba terdengar suara seorang pria disamping mereka.


Mereka menoleh dan ternyata ...

__ADS_1


"Rex?" Mereka menyebut nama Rex bersamaan.


"Apa?" tanya Rex menaikkan bahu nya.


"Kenapa kau disini?" Tanya Vanessa.


"Mengintai kalian." Rex menjawab dengan santai.


"Gila." Kini Max yang menggerutu.


"Haha aku gila. Tapi aku tidak tunduk pada satu wanita." Rex mengejek kakak nya.


"Sial." Umpat Max melempar gulungan tissu pada adik nya.


"Wajar saja kau tidak tunduk pada satu wanita. Karena sampai sekarang pun kau tidak punya seorang wanita yang mencintai mu atau kau cintai." Kini Vanessa yang berkata untuk membela kekasihnya.


"Kau ... " Rex tidak dapat melanjutkan perkataannya sambil menunjuk wajah Vanessa geram.


"Persetan dengan itu. Akhh." Rex kesal dan berteriak frustasi membuat beberapa orang yang sedang makan direstoran itu menatap nya jengah. Mengganggu kedamaian orang, begitu pikir mereka.


Max dan Vanessa hanya tertawa tanpa rasa bersalah. Sejak mereka kembali bersama dan selalu romantis, Rex selalu iri bukan karena menyukai Vanessa. Tapi jiwa lajang nya meronta ingin segera pensiun.


"Aku lapar. Traktir aku makan. Aku sudah tidak punya uang." Pinta Rex pada kakaknya memelas. Padahal itu hanya akal busuk nya agar makan gratis.


"Duduklah dan pesan yang kau inginkan. Aku sedang baik hati hari ini." Ucap Max menendang pelan kursi disamping nya agar Rex duduk.


Rex tersenyum puas. Padahal juga biasa Max selalu mentraktir nya. Dimana pun dan kapan pun itu. Setelah duduk Rex pun segera memesan makanan nya. Setelah selesai ia pun menunggu makanan nya datang sambil bermain ponsel.


"Kenapa kau menanyakan itu?" Max balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu." Ucap Rex jujur.


"Aku tidak tahu. Tapi aku memang berencana untuk kembali kesana sebentar. Ada yang harus aku urus." Max menjawab sambil memandang wajah kekasihnya yang juga memandangi nya.


"Apa?" tanya Rex lagi.


"Hah, nanti saja aku memberi tahu mu jika sudah waktunya." Ucap Max setelah menghela nafas kasar.


"Tapi kau tidak berencana melakukan sesuatu yang buruk lagi kan kak?" tanya Rex sanksi.


"Tidak. Bodoh kau ini. Aku hampir mati kehilangan perempuan yang mencintai ku dan juga di musuhi adik ku karena kebodohan ku. Tidak mungkin aku mengulangi kesalahan yang sama." Ucap Max menepis kecurigaan adiknya.


Vanessa hanya tertawa kecil melihat perdebatan kakak adik itu. Tidak pernah akur tapi saling menyayangi.


"Sebaiknya begitu. Atau kali ini aku akan menikahi Vanessa didepan mata mu." Ancam Rex mengangkat kedua alis nya dan memandangi Vanessa.


Vanessa terkekeh dan memberi jempol pada Rex. Max hanya mendengus kesal. Ingin cemburu tapi bagaimana pun Rex dan Vanessa sudah berteman lebih dulu.


"Setelah ini kau ada kerjaan lagi sayang?" tanya Max penasaran.


"Aku masih ada jadwal konsultasi dengan beberapa pasien. Mungkin akan sampai malam." Vanessa menjawab jujur.


"Bagaimana kalau nanti malam kita main ke Club. Hanya buang bosan. Tidak perlu minum." Ucap Rex memberi ide.

__ADS_1


"Aku setuju." Ucap Vanessa mengangkat jari telunjuk nya.


Mau tidak mau Max hanya mengangguk jika kekasihnya sudah setuju. Kemudian makanan pesanan Rex pun akhirnya datang. Segera Rex memakan nya dengan lahap. Setelah selesai makan, mereka pun beranjak setelah Max selesai membayar.


Max mengantar Vanessa kembali ke rumah sakit tempat ia bekerja, dan Rex kembali ke perusahaan nya. Perusahaan cabang yang Max percayakan pada nya.


"Nanti malam aku menyusul saja." Ucap Vanessa saat hendak turun dari mobil.


"Baiklah." Ucap Max singkat. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Vanessa.


Singkat. Lalu ia melepaskan nya. Vanessa kembali mendekat kepadanya dan berbisik.


"Apa kau ingin lebih sayang?" tanya Vanessa sensual memainkan jari telunjuk nya pada dada bidang Max.


"Aku akan menagih nya nanti sayang. Sekarang bekerja lah dengan baik." Ucap Max mengecup pipi Vanessa.


Vanessa pun turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Max sebelum Max pergi. Segera ia pun masuk dan melanjutkan pekerjaan nya.


Hari tidak terasa sudah berganti menjadi malam.


"Hah, akhirnya selesai juga." Ucap Vanessa merenggangkan otot nya.


"Sebaiknya aku bersiap sekarang." Ucap nya lagi setelah melihat pesan dari Max yang memberitahu bahwa ia dan Rex sudah menunggu di Club.


Segera ia pun melangkah ke kamar mandi yang masih didalam ruangan nya untuk membersihkan diri. Ruangan kerja Vanessa dirumah sakit itu memang mewah, fasilitas cukup lengkap. Bukan hanya ruangan nya, tapi para dokter lain juga.


Setelah selesai mandi, ia pun memilih dress yang akan ia kenakan. Bukan Vanessa nama nya jika tidak memilih yang sexy. Max berulang kali melarang nya tapi dia tidak pernah takut.


Setelah selesai berpakaian dan merias diri, ia pun keluar dan melangkah menuju mobilnya. Setiap orang yang melihat nya tidak peduli pria, wanita, atau anak kecil langsung terpesona.


Segera ia pun melajukan mobilnya menuju ke Club yang sudah disebut Max didalam pesan nya. Setelah sampai, ia pun melangkah dengan percaya diri masuk dan mencari Max. Dentuman musik keras membuat telinga berdengung, beberapa pria mencoba mendekati nya namun tidak dihiraukan nya.


Ia langsung melangkah pasti saat sudah menemukan keberadaan Max. Saat sudah sampai ia tanpa ragu duduk di atas pangkuan kekasihnya dan merangkul mesra leher Max. Vanessa memang lah Vanessa yang selalu menggoda Max duluan.


"Rex dimana?" tanya Vanessa saat tidak melihat keberadaan Rex.


"Dia tadi terpaksa pergi. Ada teman nya yang mengajak nya bertemu." Ucap Max merangkul mesra pinggang kekasihnya.


"Oh." Jawab Vanessa singkat.


Vanessa celingukan melihat sekitar nya dan sedikit menggerakkan badan nya.


"Sayang ... "


***********


Makasih sayang sayang ku yang selalu mendukung dan menunggu update ku.


Mampir juga yuk di karya ku yang judulnya "IF LOVE"


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita nya yah.


Selalu jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan saat bepergian.

__ADS_1


__ADS_2