
Setelah tiga hari Raymond dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini ia diijinkan pulang oleh dokter yang menangani nya.
Vivian dan Ayvin datang menjemputnya.
"Sayang, apa Ray memberi kabar pada mu?" Tanya Raymond sendu.
"Ya. Tapi dia tidak bertanya tentang mu." Jawab Vivian seadanya.
Vivian sudah tahu permasalahan baru antara suaminya dan putra sulungnya.
Raymond menunduk sedih.
Kedua putranya adalah kebanggaan nya, tapi satu putranya kini memusuhinya karena keteledoran nya sendiri.
"Sudahlah. Papa tidak usah bersedih. Jika kakak tidak ingin menganggap Papa lagi, kan masih ada aku. Aku juga bisa menjadi hebat seperti kakak." Ucap Ayvin menggoda dan memenangkan Ayahnya.
Ayvin dan Vivian sebenarnya sudah mendapatkan kabar baik dari Raiyan bahwa ia akan pulang ke rumah mereka bersama Axnes malam ini. Namun Vivian dan Ayvin diminta merahasiakan dari Raymond.
"Tuan, Nyonya maaf mengganggu. Apa semuanya sudah siap?" Tanya sopir pribadi Raymond yang baru saja sampai untuk menjemput mereka.
"Sudah. Tolong bawa ini. Terima kasih." Ucap Vivian sopan dan mwenyerahkan tas yang berisi semua perlengkapan Raymond.
"Biar Ayvin bantu Pa." Ucap Ayvin memapah Raymond.
"Papa bisa sendiri vin. Kau tenanglah." Ucap Raymond namun tetap merangkul pundak putranya dan menggenggam tangan istrinya.
Mereka keluar beriringan.
"Apa tidak ada yang menjemput ku selain kalian?" Tanya Raymond saat mereka sudah berada di depan depan rumah sakit.
Entah kenapa Raymond hari ini merasa sendu di hatinya.
"Memangnya kau berharap siapa yang datang menjemput mu?" Tanya Vivian iseng.
"Aku sangat berharap Rai dan Axnes juga datang." Ucap Raymond.
"Minta maaf sekali lagi pada putra mu atas kebohongan mu, maka ia akan memaafkan mu. Mungkin." Ucap Vivian tersenyum pada Ayvin.
"Hah, sudahlah. Nanti aku akan mencoba membujuknya." Ucap Raymond lalu masuk ke dalam mobil bagian belakang disusul Vivian, sedangkan Ayvin duduk di depan disamping sopir.
Perlahan sang sopir pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit.
Raymond tidak berbicara apapun sepanjang perjalanan. Ia hanya setia menatao keluar jendela mobil namun tatapan nya kosong.
Vivian membiarkan hal itu. Vivian ingin agar suaminya merenungi kesalahan nya dan lain kali tidak boleh gegabah dan lebih percaya pada bukti yang belum jelas kebenarannya.
"Sayang." Panggil Raymond tiba tiba, namun ia tidak menatap ke arah istrinya.
"Em." Vivian hanya berdehem pelan.
"Aku masih berhutang sesuatu pada mu." Ucap Raymond kini memalingkan wajahnya menatap istrinya.
"Apa?" Tanya Vivian bingung.
"Pelaku pembunuh kedua orang tua mu." Ucap Raymond pelan.
Vivian tidak bersuara dan menunggu Raymond melanjutkan perkataan nya.
"Sudah puluhan tahun dan aku masih tidak bisa menemukan keberadaan nya. Maafkan aku." Ucap Raymond mengenggam tangan istrinya.
Vivian tersenyum dan memeluk suaminya.
__ADS_1
"Aku sudah melupakan itu sayang. Jika kita bisa hidup lebih baik tanpa dendam masa lalu, lantas untuk apa kita masih mengungkitnya?" Ucap Vivian tulus.
"Jadi kau tidak marah pada ku karena aku gagal menemukan mereka?" Tanya Raymond mengusap lembut punggung istrinya.
Vivian menggeleng.
"Tidak sayang. Aku bahkan sudah tidak mengingatnya lagi. Lagipula mungkin saja mereka juga sudah meninggal atau mungkin sudah dipenjarakan atas kasus kesalahan yang lain." Ucap Vivian.
Raymond tersenyum. Raymond merasa sangat bahagia dan beruntung memiliki istri yang pengertian dan tulus seperti Vivian.
"Terima kasih sayang." Ucap Raymond mengecup lembut kening istrinya.
"Ekhem. Papa jika ingin romantis dengan Mama nanti saja, dirumah. Jangan didepan Ayvin. Itu menodai mata polos Ayvin." Ucap Ayvin menggoda kedua orang tua nya.
Raymond dan Vivian tertawa kecil.
"Maka dari itu kau harus mencari seorang kekasih. Agar kau tahu rasanya." Ucap Raymond menggoda putranya.
Ayvin menggeleng.
"Aku tidak mau sekarang Pa. Aku ingin menyelesaikan pendidikan ku dulu. Lalu setelaj itu aku ingin berkeliling dunia dan membangun banyak bangunan atau rumah megah disetiap kota di negara berbeda." Ucap Ayvin penuh semangat.
Ayvin memang lebih cuek soal pasangan dan lebih fokus untuk menggapai mimpi nya.
"Itu keren vin. Mama mendukung mu." Ucap Vivian semangat.
"Asal jangan sampai kau benar benar lupa untuk menikah saja nantinya." Ucap Raymond tegas.
Ayvin mengangguk.
Mereka pun kini telah sampai dirumah mereka.
Satu persatu dari mereka langsung turun dari mobil tanpa harus menunggu sang sopir membukakan pintu.
Raymond cukup kaget dan seketika merasa terharu.
"Kalian menyambut ku seolah aku baru selamat dari maut ku." Ucap Raymond menyembunyikan rasa haru nya.
Semuanya tertawa kecil.
"Memangnya bukan yah?" Tanya Sion iseng.
BUKK
Raymond meninju dada Sion membuat Sion mengerang pelan.
"Haha. Sudahlah ayo masuk." Ajak Harley dari belakang mereka semua.
"Ayah? Ayah juga di sini?" Tanya Raymond antusias dan langsung berhambur memeluk Ayahnya.
"Mulai hari ini Ayah akan tinggal di sini dan merepotkan kalian semua. Menantu Ayah dan cucu Ayah yang memaksa Ayah untuk tinggal di sini." Ucap Harley membalas pelukan putranya.
"Terima kasih Ayah. Akhirnya harta ku akan sedikit hemat karena Ayah tidak akan sering sering keluar negeri lagi." Ucap Raymond menggoda Ayahnya sambil melepaskan pelukan nya.
"Anak durhaka." Ucap Harley meninju pelan perut putranya.
Raymond terkekeh.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan sibuk melakukan party untuk menyambut kepulangan Raymond dari rumah sakit.
Setelah cukup lama bergabunh dalam keramaian, Raymond memilih menepi lalu keluar dan memilih untuk duduk di taman depan rumahnya.
__ADS_1
Rasa sepi tetap saja menyelimuti hati Raymond tanpa kehadiran Raiyan.
Ia menengadah menatap langit malam.
Yah, mereka semua berpesta seharian penuh. Bukan pesta yang tidak baik.
Tanpa sadar air mata Raymond mulai meluncur bebas mengingat putra sulungnya. Putra kebanggaan nya walau dengan segala kenakalan nya.
"Papa merindukanmu Rai." Ucap Raymond setia memandang langit.
"Jika merindukan ku, maka peluklah aku." Ucap Raiyan yang berdiri di samping kursi tempat Ayahnya duduk.
Raymond mengira dirinya sedang berhalusinasi.
"Lihatlah. Aku bahkan bisa mendengar suara dingin putra ku saat ini. Sepertinya aku sebentar lagi akan gila." Ucap Raymond lagi.
Raiyan dan Axnes hanya tersenyum melihat tingkah Raymond.
"Ya sudah. Aku menarik kembali ucapan ku. Papa lebih baik gila saja." Ucap Raiyan jahil.
Kali ini Raymond sadar ia tidak sedang berhalusinasi.
Ia menoleh ke asal suara Raiyan.
Matanya membulat mendapati Raiyan sedang berdiri bersama Axnes di samping kursi nya.
"Kami pulang." Ucap Raiyan dingin.
Raymond langsung bangkit dari duduknya dan dan memeluk erat putranya.
"Maafkan Papa Rai. Maafkan Papa sudah membuatmu kecewa." Ucap Raymond terharu.
Raiyan membalas pelukan Ayahnya.
"Aku juga minta maaf Pa. Aku minta maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan. Aku minta maaf atas semua kenakalan ku selama ini." Ucap Raiyan.
"Tidak nak. Papa sudah memaafkan mu sebelum kau memintanya. Papa yang bersalah karena tidak percaya pada mu dan membohongi mu." Ucap Raymond penuh rasa bersalah.
Raymond bahkan terisak.
"Memalukan Pa. Papa sudah tua." Ucap Raiyan sambil melepaskan pelukan nya.
"Anak nakal." Ucap Raymond meninju pelan dada putranya.
"Menantu Papa." Ucap Raymond penuh sayang memeluk menantunya.
Axnes membalas pelukan mertuanya.
"Terima kasih Axnes. Kau sudah membawa perubahan pada Raiyan." Ucap Raymond penuh haru sambil melepaskan pelukan nya.
"Terima kasih juga Pa, karena Papa sudah mempercayakan Raiyan pada ku." Ucap Axnes lalu menggandeng tangan suaminya.
"Ayo masuk ke dalam. Banyak orang gila didalam sana sedang membuat lelucon." Ucap Raymond merangkul putra dan menantunya.
"Pasti Dero gila dan Vion mesum juga ada." Ucap Raiyan terkekeh.
Raymond malah tertawa terbahak mendengar perkataan putranya.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan orang orang didalam rumah dengan penuh kegembiraan.
...~ To Be Continue ~...
__ADS_1
#####
Akhirnya anak sama bapak damai yah.