
Pagi ini tampak Vivian sedang terburu-buru. Ia sudah sedikit kesiangan karena tafi malam ia mengerjakan desain rumah yang diinginkan oleh Tuan Wang sampai larut malam.
"Ah ya ampun, kenapa Ray tidak membangunkan ku?" Ia bergerutu saat sedang menyiapkan semua berkas dan hasil desain nya.
Raymond sudah terlebih dahulu pergi ke kantor nya. Setelah siap Vivian pun langsung berlari menuju mobilnya.
"Nona makan lah sesuatu sebelum pergi bekerja." Usul Dream saat Vivian sedang mengganti sendal rumah nya dengan salah satu high heels nya.
"Tidak. Aku sudah sangat terlambat." Ucap Vivian lalu melenggang pergi.
Ia akan meeting dan bertemu Tuan Wang beserta istri nya di salah satu cafe hotel bintang lima di kota itu. Tuan Wang dan istri nya yang mengusulkan nya.
"Hah, syukurlah aku belum terlambat." Ucap Vivian pada dirinya saat ia belum mendapati keberadaan Tuan Wang beserta istri nya di cafe hotel itu.
Ia kemudian duduk dan sambil menunggu ia kembali memeriksa berkas yang ia bawa. Ketika sedang asyik memeriksa tiba-tiba seorang pelayan datang membawa sepotong Cake Strawberry dan Milk Tea hangat untuknya.
"Aku belum memesan apapun nona." Ucap Vivian pada pelayan itu.
"Tadi ada seorang Tuan yang memesannya untuk nona." Pelayan itu menjelaskan.
"Siapa?" tanya Vivian heran.
"Aku tidak tahu nona. Dia hanya memesan ini saat melihat nona datang dan berpesan kepada ku agar membawakan nya pada nona." Jawab pelayan itu menjelaskan kembali.
"Baiklah. Terima kasih." Ucap Vivian sambil mengangguk. Lalu pelayan itu pun beranjak pergi.
"Aneh siapa yang memesan ini untuk ku?" tanya Vivian pada dirinya sendiri. Ponselnya berbunyi dan tentu saja pesan dari Tuan peneror.
"Makan saja sayang. Aku tidak ingin kau sakit. Jangan hanya dilihat." Isi pesan yang Vivian dapatkan kali ini. Vivian menaruh ponsel nya kembali. Ia mencicipi sedikit makanan dan minuman yang ia makan tadi. Tentu saja ia tidak akan langsung menghabiskan nya untuk berjaga-jaga takut makanan atau minuman itu sudah dicampur sesuatu.
"Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain menguntit ku?" tanya Vivian berbicara pada dirinya sendiri merasa heran. Vivian tidak merasa takut, karena selama ini tidak ada hal berlebihan yang mengancam keselamatan nya.
__ADS_1
Tidak lama Tuan Wang dan istri nya pun datang. Vivian langsung berdiri menyambut mereka.
"Maaf nona Xu, kami sedikit terlambat." Ucap Tuan Wang sambil mengulurkan tangannya diikuti istrinya.
"Tidak masalah Tuan Nyonya. Aku juga baru sampai." Ucap Vivian menyambut uluran tangan mereka bergantian.
"Silahkan duduk." Kemudian Vivian mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Tuan ini hasil desain yang Tuan inginkan. Desain yang ku namakan sebagai "Rumah Untuk Berpulang"." Ucap Vivian mulai menjelaskan.
Mereka memulai pembahasan mereka dengan semangat. Sesekali mereka tertawa saling melontarkan candaan lucu. Tuan Wang dan istrinya adalah orang yang ramah dan baik, jadi Vivian sedikit santai menghadapi mereka. Mereka juga bukan tipe orang tua yang cerewet.
"Begitu penjelasan ku." Ucap Vivian mengakhiri penjelasan nya.
"Apa ini benar-benar desain yang kau inginkan nona?" tanya Tuan Wang pada Vivian kini dengan mode serius.
"Tentu saja Tuan. Ini sesuai dengan yang aku inginkan. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa membangun rumah ini untuk ku tempati bersama suami dan anak-anak ku." Ucap Vivian tersenyum.
"Baiklah nona Vivian. Aku suka desain mu. Boleh aku mendapatkan nya sekarang?" tanya Tuan Wang kepada Vivian. Karena memang dari awal perjanjian mereka adalah Vivian hanya perlu mendesain dan untuk urusan pembangunan Tuan Wang yang akan mengurus sendiri.
"Tentu saja Tuan." Ucap Vivian lalu merapikan semua hasil desain dan berkas-berkas nya untuk diberikan pada Tuan Wang.
"Bayaran nya sudah aku transfer ke rekening mu." Ucap Tuan Wang setelah menerima desain dan berkas-berkas itu. Lalu ia dan istrinya pun beranjak pergi meninggalkan Vivian disana.
Vivian tersenyum senang. Walaupun tidak bisa terlibat dalam proses pembangunan tapi setidaknya dia sudah berhasil menjual hasil desainnya dengan baik. Vivian kembali memakan makanan nya tadi saat dirasa tidak ada yang aneh pada makanannya.
"Ray, Angela." Gumam Vivian saat ia melihat Raymond dan Angela memasuki lobi hotel sambil sesekali tertawa kecil disela-sela obrolan mereka.
"Ada apa mereka kesini?" tanya Vivian penasaran. Ia akhirnya memutuskan untuk mencoba mengejar Raymond yang saat itu sudah masuk kedalam lift bersama Angela. Ia melihat angka pada lift dan ia menggunakan lift disebelah lift uang digunakan oleh Raymond untuk menyusul. Hati nya sangat tidak tenang, pikiran nya sudah memikirkan hal yang buruk.
Saat sudah sampai di lantai yang dituju ia keluar dari lift dan melihat Raymond dan Angela sudah melangkah didepan nya menuju salah satu suite room disana. Ia memutuskan untuk mengikuti mereka diam-diam. Saat sudah di depan pintu, ia melihat Raymond membuka pintu kamar itu menggunakan key card lalu masuk kedalam bersama Angela.
__ADS_1
Namun anehnya adalah Raymond menutup kembali pintu itu namun tidak rapat. Ia pun mencoba melangkah lebih dekat dan berusaha mengintip dari celah yang ada. Ia belum melihat ada pergerakan yang mencurigakan bahkan bayangan Raymond dan juga Angela tidak tampak dari celah pintu.
"Jangan seperti itu posisinya Tuan Lu itu tidak sexy." Ucap Angela dari dalam kamar itu.
"Aku tidak butuh yang sexy karena hasilnya sama saja." Ucap Raymond sambil tertawa kecil.
"Tapi menurutku kesan sexy sangat penting untuk meningkatkan gairah mu." Timpal Angela juga tertawa kecil.
"Aku sudah sangat bergairah saat melihat nya dan bagiku sexy atau pun tidak itu tidak penting. Yang penting adalah siapa yang memakai nya." Ucap Raymond. Lalu kedua nya tertawa bersama.
Vivian sudah sangat marah. Pikiran nya sudah tidak bisa dikendalikan. Tangannya mengepal kuat mendengar setiap percakapan Raymond dan Angela.
"Bajingan. Akan ku pastikan kau menyesali perbuatan mu hari ini. Aku sudah menduga kalau kau tidak sebaik yang kau tunjukkan selama ini di depan ku. Mana ada mafia yang benar-benar hanya setia pada satu perempuan. Semua hanya akting mu saja untuk merayu ku." Gerutu Vivian panjang lebar. Lalu ia menarik nafas panjang dang menghembuskan nya.
Ia langsung mendorong pintu kamar itu dengan cukup kuat dan masuk kedalam.
"Kalian ... "
**********
Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya yah??
Maaf jika membuat kalian panas dingin dan kesal menunggu update nya. Seperti slogan pada sebuah iklan di televisi yang mengatakan Life Is Never Flat, begitu juga dengan cerita yang ingin ku bagikan pada kalian.
Terima kasih selalu setia menunggu kelanjutan cerita ku. Selalu tinggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.
Favorit, Vote, dan rate bintang 5, 4, 3 untuk "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?" ya.
Terima kasih
^^^Salam Semangat.^^^
__ADS_1