
"Hei nyonya Lu selamat pagi" ucap Raymond lalu mengecup lembut puncak kepala Vivian ketika ia baru sampai di ruang makan untuk sarapan bersama kekasihnya. Yah, sekarang Vivian sudah resmi menjadi kekasih nya.
"Selamat pagi" balas Vivian sambil tersenyum manis dan menyerahkan dua lembar roti yang sudah diolesi selai untuk Raymond.
"Kau terlihat sangat cantik dengan senyum mu itu Honey" ucap Raymond menggombal sambil mengunyah rotinya tadi.
"Hei, memang biasanya aku tidak cantik?" tanya Vivian dengan nada dibuat kesal.
"Tidak tidak, kau selalu cantik. Bahkan sangat cantik sampai sampai aku tidak sanggup berpaling dari mu" ujar Raymond dengan kagum. Saat ini ia benar benar merasa sangat bahagia, sedikit lagi ia akan memiliki Vivian seutuhnya. Gadis pertama dan satu satu nya yang berhasil merebut hati dan cinta nya.
"Hei, kau akan mengantarkan ku pergi kuliah kan?" tanya Vivian sambil memakan sarapan nya.
"Hem ada apa memang nya?" tanya Raymond
"Tidak, aku kira kau hari ini akan sibuk karena pagi pagi tadi aku melihat Jiro sudah datang" ucap Vivian.
"Ah dia, dia datang untuk meminta solusi. Dia menyukai Dream tapi tidak tahu harus mulai dari mana" ucap Raymond sambil tersenyum dan menekan kata Dream, membuat Dream yang berada tak jauh dari mereka salah tingkah.
"Kau ini jahil sekali" ucap Vivian sambil melempar ringan sapu tangan yang ada di atas meja makan mereka.
"Aku serius Honey" ucap Raymond kali ini sengaja meninggikan Volume suara nya, Dream benar benar salah tingkah dan memilih pergi meninggalkan tuan dan calon nyonya nya. Saat melihat Dream pergi karena salah tingkah, mereka pun tertawa bersama.
"Louise apa aku bisa ikut dengan mu?" tanya Joyce dengan suara lemah sambil menunduk. Ia bukan lagi Joyce yang ceria dan manja seperti biasa. Saat ini yang ada dalam dirinya hanyalah kesedihan dan ketakutan.
"Kau berangkat lah sendiri. Aku masih ada urusan penting" ucap Louise ketus lalu pergi meninggalkan nya. Louise kini membawa Joyce untuk tinggal dengan nya disalah satu rumah yang dimiliki nya. Hal itu ia lakukan hanya agar ia bisa lebih mudah mencapai tujuan nya.
__ADS_1
Joyce langsung berjongkok dan menenggelamkan wajah diantara lututnya lalu menangis tersedu sedu. Ia merasa hancur, hari hari indah nya hilang sudah, rahasia pribadi kehidupannya mulai terbongkar satu persatu. Orang orang yang dulu menatap kagum padanya sekarang justru menatapnya jijik, bahkan ada yang enggan untuk menatapnya.
"Apa ini hukuman ku Tuhan? Apa ini akibat perbuatan ku dua tahun lalu?" gumam Joyce disela sela tangisnya.
"Aku masuk dulu Ray" ucap Vivian lalu memeluk sekilas Raymond, namun ia justru ditahan oleh Raymond saat ia ingin melepaskan pelukan nya. Untung saja mereka masih di dalam mobil.
"Ayolah, kau ini kekasih ku apa tidak ada panggilan yang lebih special? Ketika kau memanggil ku "Ray" itu terdengar seperti Ayah ku yang sedang memanggil ku" gerutu Raymond sambil melepaskan pelukan nya. Vivian hanya tertawa sekilas.
"Kau ingin aku memanggil mu apa?" tanya Vivian kebingungan.
"Bagaimana kalau kau memanggil ku Suami?" usul Raymond tanpa rasa bersalah sambil mengedipkan kedua mata nya lucu.
"Kau ini modus sekali" ujar Vivian menepuk lengan nya lembut membuat Raymond hanya terkekeh.
"Aku akan membukakan nya untuk mu. Mulai detik ini biarkan Tuan Lu yang tidak bisa hidup tanpa mu ini akan melayani mu Nyonya Lu" ucap Raymond sambil mentoel hidung Vivian. Lalu ia segera keluar dari mobil nya dan menuju arah seberang dan membukakan pintu mobilnya untuk Vivian. Ia kemudian mengulurkan tangan nya seperti sedang menjemput tuan putri dari kerajaan dongeng. Vivian menyambut tangan nya diiringi tawa kecil, kekasihnya ini kadang menakutkan tapi bisa juga menjadi semanis ini.
Setelah Vivian keluar Raymond menutup kembali pintu mobilnya. Ia kemudian mengecup sekilas pipi Vivian membuat wajah Vivian seketika merona malu. Beberapa gadis yang menyaksikan adegan manis itu pun dibuat iri. Mereka juga ingin punya kekasih tampan dan romantis seperti Raymond.
Tidak semua orang seberuntung Vivian wahai para gadis.
"Masuklah. Belajar dengan giat" ujar Raymond memberi semangat pada kekasih nya. Vivian tidak menjawab, hanya mengangguk kemudian langsung berjalan masuk.
Louise yang berdiri tak jauh dari mereka itu sedang menatap tajam kearah mereka, matanya memerah menahan amarah. Tangan nya mengepal kuat hingga membuat urat urat hijau ditangan nya kelihatan jelas. Untuk apa Louise merasa cemburu? Bukankah dirinya dan Vivian tidak punya hubungan apapun? Entahlah, hanya Louise yang bisa menjawabnya. Ia kemudian mengejar Vivian dari belakang, saat sudah mendekati nya ia dengan sigap mencekal pergelangan tangan Vivian membuat Vivian seketika langsung berbalik.
"Kau? ada apa?" tanya Vivian merasa aneh dengan ekspresi Louise yang lain dari biasanya.
__ADS_1
"Siapa pria itu?" tanya Louise dengan amarah seakan ia sudah memergoki kekasihnya yang selingkuh.
"Ray? dia kekasih ku. Lagipula itu tidak ada urusan nya dengan mu" ucap Vivian berusaha melepaskan tangan nya dari cekalan Louise yang mulai menguat.
"Kekasih?? Hahaha" ucap Louise lalu tertawa menggelegar dan melepaskan cekalan tangannya.
"Tidak ada laki laki lain yang boleh menjadi kekasih mu Vivian. Tidak ada satupun yang boleh selain aku" ucap Louise dengan nada tinggi sambil menunjuk diwajah Vivian. Vivian melongo tidak percaya dengan apa yang Louise katakan. Pasalnya selama ini ia dan Louise tidak lebih dari hubungan antara dosen dan mahasiswi.
Vivian yang merasa ngeri dengan tawa dan ekspresi dari Louise pun langsung melangkah untuk pergi meninggalkan nya. Namun lagi lagi tangannya dicekal oleh Louise dan ia ditarik hingga wajahnya menabrak dada bidang Louise. Louise kemudian memegang leher belakang nya dan tiba tiba ia menyatukan bibirnya pada bibir Vivian. Vivian terbelalak tak percaya, ini kedua kalinya Louise melakukan ini pada nya dan kembali ia tidak menolak namun juga tidak membalas. Seketika Vivian tersadar, ia kemudian menggigit kuat bibir Louise hingga membuat Louise yang kesakitan langsung melepaskan dirinya.
Ia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu, lalu ia segera berlari pergi meninggalkan Louise. Louise menghapus darah yang keluar dari bibirnya menggunakan ibu jarinya lalu ia menghisap ibu jarinya yang ada darahnya sambil menyeringai tipis.
"Larilah sekarang Vivian. Larilah sejauh yang kau bisa. Tapi aku akan tetap bisa mendapatkan mu. Kau hanya milikku dan kau hanya boleh memakai nama Jiang diujung nama mu" ucap Louise menekan setiap perkataannya dengan ekspresi dan nada yang sama seram nya.
Tak jauh dari mereka ternyata sedari tadi Joyce memperhatikan mereka, ia mengepalkan tangan nya kuat, air mata sudah membasahi pipinya. Ia tidak terima kalau laki laki yang ia cintai ternyata mencintai mantan sahabatnya.
"Kau hanya milikku Louise. Hanya milikku. akan ku pastikan kau tidak akan bisa bertemu Vivian lagi untuk selamanya. Atau pun kalau kau bertemu dengan nya kau hanya akan memandangnya jijik, lebih menjijikkan dari ku" ujar Joyce dengan seringai tipis dibibirnya saat ia mendapat ide licik untuk memisahkan Louise dan Vivian.
...Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku. Jangan bosan bosan yah....
...Tinggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part....
...Tekan Favorit agar kalian bisa mendapatkan pemberitahuan update episode terbaru....
^^^~Follow IG @zml1104_ ~^^^
__ADS_1