
"Hai sayang. Aku datang untuk melihat mu." Kalimat pertama Vivian saat ia sudah sampai di rumah sakit dan kini berada di ruang rawat Raymond.
"Apa kau tidak merindukan ku hah? Aku sangat merindukan mu." Ucap Vivian kembali dan meraih tangan Raymond dalam genggaman nya.
"Kau tahu tadi aku bermimpi tentang mu. Kau sangat tampan dengan pakaian serba putih tidak seperti pakaian mu yang biasa kau kenakan. Tapi dalam mimpi itu kau meninggalkan ku sendirian." Vivian menceritakan mimpinya tadi pada Raymond dan tersenyum miris. Tapi tidak ada respon apapun dari Raymond. Sion yang sempat menemani Vivian pun dibuat heran karena Tuan nya tidak menunjukkan reaksi apapun saat Vivian berbicara dengan nya.
"Kapan kau akan sadar Ray? Jika kau tidak segera bangun aku rasa aku akan benar-benar pergi meninggalkan mu. Aku tidak ingin ditinggalkan lagi." Ucap Vivian terisak dan kali ini sukses membuat Raymond bereaksi. Vivian kaget melihat garis pada layar monitor yang menampilkan detak jantung Raymond itu bergerak cepat. Ia ingin berlari keluar dan memanggil dokter namun saat akan melangkah monitor itu kembali normal seperti semula.
"Tenanglah Nona. Tadi itu adalah reaksi yang Tuan Ray tunjukkan saat mendengar perkataan mu." Ucap Sion menjelaskan pada Vivian yang sedang terjadi.
"Apa Ray bisa mendengar perkataan kita sekarang?" tanya Vivian bingung.
"Benar Nona. Tuan bisa mendengar semua percakapan kita, tapi ia hanya akan menunjukkan reaksi untuk kalimat atau perkataan yang mungkin tidak ia sukai." Sion kembali menjelaskan dan Vivian mengangguk tanda ia mengerti. Ia lalu kembali ketempat duduk nya disamping ranjang Raymond.
"Kau tahu Ray, Louise beberapa hari ini selalu memberi ku perhatian lebih. Jika kau tidak segera bangun maka aku mungkin akan benar-benar pergi dengan nya." Vivian sengaja memancing dengan perkataannya dan seperti yang Sion jelaskan Raymond kembali bereaksi.
Sion tersenyum melihat tingkah Tuan dan calon Nyonya nya. Ia lalu melangkah keluar meninggalkan dua sejoli itu dan pergi kearea terbuka untuk merokok. Lalu pandangan nya tertuju pada seorang pria yang sedang mendekat ke ruangan tempat Raymond dirawat. Ia adalah Max. Setelah tahu itu adalah pria yang mereka kenal sebagai Louise, Sion pun kembali sibuk dengan rokok nya.
"Cekrek." Bunyi pintu dibuka dari luar membuat Vivian menoleh.
"Louise." Sapa Vivian saat ia sudah mengetahui siapa yang masuk. Max hanya tersenyum dan berjalan mendekat kearahnya. Hati Max terasa sakit karena lagi-lagi ia harus melihat gadis yang ia cintai menangis untuk laki-laki lain.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Max.
"Aku baik Louise. Bagaimana dengan mu?" Vivian balik bertanya.
__ADS_1
"Aku baik." Jawab Max singkat. Lalu Vivian kembali sibuk dengan Raymond. Max memperhatikan setiap hal yang Vivian lakukan pada Raymond. Mulai dari menggenggam tangan nya, mengelus wajah pucatnya, bahkan mencium kening nya. Semua hal itu tidak luput dari pandangan nya dan membuat hati Max sakit berkali-kali lipat. Rasa nya ia ingin menarik Vivian untuk pergi dari sana jika mungkin.
"Vi aku akan pergi." Ucap Max memecah keheningan. Vivian sedikit kaget mendengarnya.
"Kau akan kemana?" tanya Vivian singkat.
"Entahlah. Tapi yang pasti aku akan pergi jauh dari kota ini." Jawab Max menahan sakit hatinya. Ia benar-benar menahan nya sekuat tenaga agar tidak menyakiti gadis yang ia cintai.
"Tapi kenapa tiba-tiba Louise?" tanya Vivian penasaran.
"Hem, tidak tiba-tiba Vi. Aku sudah memikirkan ini sejak kemarin. Dan menurut ku kepergian ku adalah yang terbaik untuk mu." Ucap Max lirih.
"Maksud mu apa?" tanya Vivian bingung. Namun Max hanya tersenyum dan membawa Vivian kedalam pelukan nya.
"Aku minta maaf mewakili adik ku Rex. Maaf jika dia sudah membuat mu takut dan menyakiti mu." pinta Max pada Vivian. Vivian membalas pelukan Max membuat Max merasa sangat nyaman.
"Berjanji lah kau akan selalu bahagia saat aku tidak disini." Max meminta pada Vivian dan dibalas deheman oleh Vivian. Max semakin mengeratkan pelukan nya. Namun tiba-tiba ia melepas pelukan nya dan bergegas keluar. Vivian tidak mengejarnya.
Didepan pintu Max berjongkok menenggelamkan wajah nya diantara lututnya. Ia terisak menahan sakit. Tangannya memukul lantai dingin rumah sakit seolah ingin menyalurkan sakitnya. Ia terus memukuli lantai dan sesekali dirinya hingga buku-buku jari nya mulai luka.
"Hei kau kenapa?" tanya Sion yang sempat memperhatikan perilaku aneh dari Max. Bukannya menjawab Max malah pergi meninggalkan Sion. Sion hanya menatapnya heran. Max secepat mungkin memasuki mobil nya dan mengunci nya. Dimobil ia benar-benar menangis. Tangis seorang pria yang sedang merasakan patah hati. Ia memukuli setir mobil nya beberapa kali.
"Kau harus bahagia Vi. Jika kepergian ku adalah kebahagiaan mu maka akan aku lakukan walau rasanya sangat sakit. Aku pergi agar kau bahagia Vi, tapi aku akan tetap menyelesaikan tugas ku. Membayarkan dendam ku pada dia yang sudah menghancurkan kebahagiaan mu dua tahun lalu. Jika bukan sekarang maka nanti tetap akan ku bayarkan." Ucap Max mencengkeram erat setir mobil nya. Baginya saat ini pergi adalah keputusan yang tepat. Ia memutuskan pergi bahkan saat ia belum memberi tahukan jati diri nya pada Vivian.
Hari sudah larut. Vivian memilih untuk menginap dirumah sakit. Jiro menggantikan Sion menjaganya. Vivian masih tersadar dan setia memandangi wajah pucat kekasihnya. Tidak lupa ia menggenggam erat tangan nya.
__ADS_1
Tiba-tiba ia merasakan tangan Raymond bergerak dalam genggaman nya. Ia terkejut dan untuk memastikan nya ia kemudian melepaskan genggaman nya. Dan ternyata benar jari-jari Raymond mulai bergerak tanda kalau ia mulai mendapatkan kesadaran nya.
"Jiro panggil dokter Shen." Ucap Vivian saat sudah berada di depan pintu. Tanpa bertanya Jiro segera melaksanakan perintah Vivian. Ia berpikir kalau Tuan nya kritis lagi. Tidak sampai sepuluh menit Jiro sudah kembali bersama dokter Shen.
"Ada apa?" tanya dokter Shen pada Vivian.
"Tadi, tadi tangan nya sudah bergerak." Ucap Vivian sedikit gagap. Ia senang tapi juga khawatir karena takut apa yang dipikirkan nya tidak terjadi. Shen segera memeriksa kondisi Raymond. Ketika selesai diperiksa tiba-tiba Raymond membuka matanya perlahan.
Semua yang ada di ruangan itu kaget sekaligus bahagia melihat Raymond sudah siuman.
"Apa kau baik-baik saja sayang? Mana yang sakit?" tanya Vivian khawatir.
"Benar Tuan. Jika ada yang tidak nyaman dengan tubuh mu segera beritahu Shen, biar dia segera menangani mu." Timpal Jiro tak kalah khawatir.
"Benar Ray. Bagian mana yang tidak nyaman? Segera beritahu aku." kini Shen menimpali.
"Kalian siapa?" hanya itu kalimat pertama yang ia ucapkan membuat mereka bertiga saling berpandangan heran.
***********
***Selalu ku ucapkan terimakasih banyak untuk para reader yang selalu setia dengan "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?"
Dukungan kalian selalu berarti untuk. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan komentar berupa kritik atau saran yang membangun dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.
Jika berkenan berikan juga sedikit hadiah, tip dan juga vote nya.
__ADS_1
Follow IG ku @zml1104***_