Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Berhasil


__ADS_3

"BRAKK." Bunyi pintu apartemen Max dibuka secara paksa. Namun hal itu tidak membuat nya berhenti mencumbu tubuh Vivian.


"LOUISE" Raymond meneriakan nama nya saat memasuki apartemen Max. Namun Max hanya berseringai dan terus mencumbu Vivian. Merasa tidak mendapat jawaban Raymond pun langsung menerobos kedalam kamarnya.


DOORRR


Satu tembakan Raymond lepaskan dan mengenai pundak nya, membuat ia tumbang dalam keadaan menindih Vivian. Raymond dengan sigap mendekati mereka disamping ranjang nya dan menendang tubuh Max hingga terjatuh kebawah.


Dengan segera Raymond membuka jasnya dan menutupi tubuh Vivian yang hanya ditutupi oleh pakaian dalam nya. Ia menggendong Vivian ala bridal style.


"Kalian selesaikan mereka." Raymond memberi perintah kepada tiga bawahan nya yang ia bawa untuk menerobos apartemen Max.


Ia kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat agar tidak banyak orang yang bisa melihat tubuh Vivian. Vivian terisak dan sangat ketakutan.


"Maaf aku terlambat Honey." Ucap Raymond penuh penyesalan dan terus melangkah hingga sampai ke mobilnya. Ia segera mendudukan Vivian didalam mobil nya dan ia masuk ke bagian kemudi.


Dengan segera ia mengemudi kan mobil nya dengan sangat cepat. Lalu tak lama ia pun sampai ke mansion nya. Diangkat nya tubuh lemah Vivian dan segera membawanya kekamar.


Dengan berhati hati ia membaringkan tubuh Vivian lalu memakaikan Vivian pakaian. Vivian masih sadar namun ia seolah tidak dapat berbicara dan hanya mengikuti setiap pergerakan Raymond.


Setelah selesai Raymond lalu menyelimuti nya, dan hendak keluar dari kamar nya. Namun Vivian menahan tangannya membuat ia menoleh dan melihat Vivian. Vivian menggeleng kepalanya pertanda ia tidak ingin ditinggal.


Akhirnya ia kembali dan duduk di samping Vivian. Ia merangkul Vivian dengan posisi ia duduk dan Vivian setengah berbaring. Satu tangannya berusaha meraih ponselnya dan menghubungi Dokter Shen.


"Shen, segera datang ke mansion." Ucap nya saat Shen sudah menjawab panggilan nya.


"Baik." Ucap Shen dari balik panggilan nya. Tidak ada nada bercanda seperti biasa nya karena ia pun sudah mengetahui apa yang terjadi.


Raymond mematikan panggilan nya dan kembali merangkul Vivian. Ia mengusap lembut kepala Vivian hingga akhirnya Vivian terlelap.


"Maafkan aku Honey. Jika saja aku tidak terlambat ... " Ucap Raymond mengecup puncak kepala Vivian. Max memang tidak sempat melakukan hal yang lebih jauh kepada Vivian, tapi tetap saja penyesalan menghantui hati Raymond.


Jika saja saat itu ia tidak mematikan dering ponselnya, mungkin Vivian tidak akan mengalami hal semacam ini. Ia tidak melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Vivian. Vivian bahkan memeluknya sangat erat.


Ia tahu Vivian pasti sangat ketakutan. Bahkan perbuatan nya beberapa tahun lalu kepada Vivian kembali menghantam ingatan nya membuat ia merasa semakin bersalah.


"Maafkan aku." Ucap nya lagi.

__ADS_1


Tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia hanya bisa memberi perintah agar yang mengetuk pintu itu langsung masuk. Ia tidak bisa bergerak karena Vivian memeluknya sangat erat.


"Hei bung." Ternyata yang mengetuk adalah Dokter Shen.


"Periksa Vivian." Ucap Raymond memberi perintah kepada Shen.


"Apa kau meragukan nya?" tanya Shen penasaran. Ia mengira Raymond menyuruh nya untuk memeriksa keperawanan Vivian.


"Bodoh. Aku meminta mu memeriksa keadaan nya. Apa yang kau pikirkan?" Raymond merutuki Shen.


"Baiklah baiklah." Ucap Shen sambil menaruh telapak tangan nya di dada dan menggerakkan nya seolah sedang mendorong sesuatu.


"Tapi bagaimana aku memeriksa nya jika posisi kalian seperti itu?" tanya Shen. Rasanya diantara beberapa orang terdekat Raymond, hanya Shen lah yang suka mengerjai nya tak peduli dalam kondisi apapun.


Raymond akhirnya dengan sangat perlahan dan hati hati melepaskan pelukan Vivian dari tubuhnya dan membaringkan Vivian.


"Lakukan tugas mu. Periksa dengan benar atau aku akan menghancurkan rumah sakit mu itu. Payah." Ucap Raymond seolah berat jika harus melepaskan pelukan Vivian.


"Hancurkan saja. Setelah itu aku akan menyuntikkan racun yang akan membuat adik kecil mu tidak dapat berdiri selamanya." Ucap Shen terkekeh. Raymond hanya bisa menahan geram. Mana mungkin ia membiarkan adik kecil nya lumpuh disaat adik kecil nya bahkan belum pernah bertemu rumah nya.


Shen selesai memeriksa keadaan Vivian. Ia kemudian mengemas peralatan nya kembali ke tempat nya.


"Kau tahu kau itu sangat merepotkan ku." Ucap Shen disela sela kegiatan nya. Raymond diam tidak ingin menjawab. Bagaimana ia bisa punya teman yang selalu mengeluh seperti ini saat dimintai tolong.


"Vivian tidak terluka secara fisik. Tapi aku yakin dia pasti terluka secara psikis. Jadi setelah dia terbangun nanti usahakan lah untuk tidak membuatnya bersedih atau melakukan hal yang bisa menyakitinya. Sentuh dia dengan cinta dan penuh kelembutan." Ucap Shen sambil melangkah untuk keluar dari kamar itu.


BuKk


Raymond menendang bokong nya saat ia berjalan melalui Raymond. Ia hanya meringis sambil menggosok bokong nya dengan tangannya. Setelah Shen pergi, Raymond kembali duduk di samping Vivian. mengelus selalu kepala Vivian dan sesekali mengecup nya.


"Dream buatkan sedikit makanan untuk Vivian dan bawa kekamar ku." Ucap Raymond melalui sambungan telepon dikamar nya.


"Baik Tuan." Ucap Dream dan Raymond pun mematikan panggilan nya.


Tidak lama Dream pun selesai membuat makanan. Ia membuat bubur polos dan beberapa sayur kecil untuk Vivian sebagai pelengkap. Saat didepan pintu kamar, ia mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban dan akhirnya ia memutuskan untuk langsung masuk.

__ADS_1


Saat sudah masuk ia hanya tersenyum melihat Raymond yang terlelap disamping Vivian.


"Tuan pasti sangat lelah. Kasian Nona Vivian." Batin nya sambil menata makanan yang ia bawa dengan hati hati agar tidak membangunkan dua sejoli itu. Setelah selesai ia pun keluar dari kamar itu.


"Aku mohon jangan lakukan itu. Jangan Max jangan." Ucap Vivian mengigau. Raymond sontak terbangun saat mendengar suara Vivian. Ia kembali mengelus kepala Vivian seolah memberi ketenangan namun hal itu tidak berhasil.


Vivian semakin meracau tidak jelas. Vivian juga mulai terisak.


"Honey bangunlah." Raymond akhirnya memutuskan untuk membangunkan Vivian dengan menepuk lembut pipinya. Vivian sadar dan langsung memeluk dirinya.


"Aku takut Ray. Jangan tinggalkan aku." Ucap Vivian terisak. Kejadian Max menyiksa nya bahkan terbawa kedalam mimpinya.


"Sstt tenanglah. Aku disini. Jangan takut." Ucap Raymond menenangkan Vivian. Ia mengusap punggung Vivian.


Namun seketika Vivian mendorong tubuh Raymond untuk menjauh. Raymond menatap nya heran.


"Aku kotor Ray. Aku tidak pantas bersama mu. Aku kotor." Ucap Vivian terisak sambil menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya dilututnya. Dipeluk nya erat kedua kakinya.


"Tidak sayang dia tidak merenggut mu. Kalau pun itu sampai terjadi aku akan tetap mencintai mu. Karena itu bukan mau mu." Ucap Raymond berusaha meraih Vivian kedalam pelukan nya.


"Jangan menangis lagi. Aku ada untuk mu. Jangan berpikir yang tidak tidak oke." Raymond berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan kekasihnya.


Vivian tidak menjawab. Ia hanya menangis dan terus menangis hingga akhirnya terlelap lagi.


********


Raymond berhasil menyelamatkan Vivian.


Tapi bagaimana keadaan Max?


Terima kasih untuk setiap dukungan kalian yah.


Jangan bosan bosan untuk terus tinggalkan jejak komentar dan juga like nya setiap kali kalian selesai membaca satu part.


Mampir juga di cerita ku yang judul nya "If Love" (Klik bio ku langsung biar gak bingung yah.)


Favorit, Vote, dan rate bintang 5, 4, 3 untuk kedua cerita ku.

__ADS_1


Salam sayang buat readers semua nya.


__ADS_2