Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 32 - Demi Putri mu.


__ADS_3

"Sayang, ayo bangun. Kita harus segera berangkat ke bandara." Ucap Raiyan membangunkan kekasihnya perlahan.


"Kau pergi saja sendiri. Aku tidak mahu." Ucap Axnes ketus dan menarik selimut menutupi seluruh tubuh polos nya.


Raiyan tersenyum, ide licik terlintas di otak nya.


"Sayang, ayolah bangun. Kita harus segera berangkat agar bisa cepat merundingkan tanggal pernikahan dengan Papa mu." Raiyan masih membujuk dan sedikit menggoyangkan tubuh kekasihnya.


"Kau saja yang menikah. Aku tidak sudi." Ucap Axnes masih ketus.


"Benarkah?" Tanya Raiyan menarik kuat selimut Axnes.


Seketika Axnes menutupi bagian pentingnya dengan tangan nya.


Raiyan naik keatas ranjang, lalu berpura pura membuka kancing kemeja nya karena memang Raiyan sudah rapi.


"Ka kau mau apa?" Tanya Axnes gelagapan.


"Aku ingin menabur benih lagi." Ucap Raiyan tersenyum sinis.


"Jangan bercanda." Ucap Axnes berusaha menghindar.


Raiyan memang sengaja membiarkan diri nya menghindar.


"Tidak, aku tidak bercanda. Bukankah kemarin kau juga merasakan nikmatnya." Ucap Raiyan lagi.


Ia terlalu sengaja melepas kancing kemeja nya dengan sangat perlahan.


"Aku tidak mau Rai." Ucap Axnes ketakutan dan terus menghindar.


"Kau tidak berhak menolak Axnes, nikmati saja. Semakin banyak aku menabur benih, maka semakin cepat kau akan hamil. Setelah itu kau tidak punya alasan untuk menolak menikah dengan ku. Papa mu juga pasti akan menuntut pertanggungjawaban dari ku." Ucap Raiyan menyeringai.


Bughh


Axnes terjatuh dari atas ranjang.


Raiyan sigap turun kebawah dan mengungkung nya.


"Aku mohon jangan Rai." Pinta Axnes menggeleng ketakutan. Air mata nya juga menetes.


Raiyan semakin mendekatkan wajahnya pada kekasihnya hingga akhirnya.


"Segeralah bersiap, atau aku akan menikahi mu tanpa kehadiran orang tua mu." Ucap Raiyan tepat di telinga Axnes dengan suara sensual.


Lalu ia bangkit dan merapikan pakaiannya kembali.


Axnes membuka matanya dan menatap benci pada nya.


Ia pun segera bangkit dari posisinya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Sial, apa setelah aku tertidur dia diam diam mengulangi nya lagi?" Batin Axnes saat merasakan bagian pribadinya sangat nyeri.


Tak lama kemudian ia pun selesai dengan handuk melingkar sempurna di tubuhnya.


"Pakaian mu sudah aku siapkan." Ucap Raiyan saat ia melihat Axnes hendak mengambil pakaian dari lemari.


Axnes menghela nafas kesal.


Ia kemudian memakai pakaian yang sudah disiapkan Raiyan.


"Rai ... " Axnes memanggil nya dengan suara bergetar.


"Jangan takut seperti itu sayang. Aku tidak akan menyakiti mu selama kau bersikap manis dan menurut." Ucap Raiyan terus memperhatikan setiap pergerakan Axnes.


"Apa kau semalam mengulangi nya sendirian saat aku tertidur?" Tanya Axnes dengan ragu.


Raiyan bingung.


"Kenapa memang?" Tanya Raiyan.

__ADS_1


"Milikku terasa nyeri." Ucap Axnes pelan dan menunduk.


Raiyan seketika merasa bersalah sudah membuat kekasihnya sakit.


Wajar saja, kekasihnya tidak begitu siap walaupun memang Raiyan memberinya rangsangan.


Raiyan kemudian turun dari ranjang nya dan memeluk kekasihnya.


"Maafkan aku. Aku sudah membuat mu sakit." Ucap Raiyan merasa bersalah.


Axnes diam.


"Aku mohon, jangan pernah lagi ragu padaku dan berpikir untuk meninggalkan ku." Pinta Raiyan sendu.


"Maafkan aku Rai. Aku yang terlalu gegabah dan tidak bisa menanggapi masalah dengan dewasa." Ucap Axnes membalas pelukan Raiyan.


"Em..kita sama sama salah dalam hal ini. Andai saja aku punya keberanian untuk menceritakan semua nya dari awal. Mungkin kita tidak akan seperti ini." Ucap Raiyan.


"Em..apa orang tua mu masih bisa menerima ku setelah tahu identitas ku?" Tanya Axnes ragu.


"Bisa sayang. Sungguh mereka sudah memaafkan Papa mu bahkan sebelum aku lahir. Hanya saja, aku yang terlalu emosi mendengar Mama ku susah disakiti dan direndahkan begitu. Tapi setelah mengenal mu lebih jauh, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri semua kebencian ku dan merubahnya menjadi cinta." Ucap Raiyan bersungguh sungguh.


Axnes hanya mengangguk.


"Jadi? Kau masih mau kan menikah dengan ku?" Tanya Raiyan ragu.


"Tidak mau pun aku tidak bisa menolak lagi. Kau sudah mengambil semuanya dari ku." Ucap Axnes ketus.


Raiyan terkekeh.


"Dan untuk pertanyaan mu tadi, jawabannya adalah tidak." Ucap Raiyan sambil melepas pelukan nya.


Axnes menatap terharu pada kekasihnya, ternyata Raiyan tidak sebejat yang ia kira, batinnya.


"Ya sudah, ayo kita harus cepat atau kita akan ketinggalan pesawat." Ucap Raiyan segera bergegas merapikan penampilan Axnes dan menarik nya lembut untuk keluar dari apartemen nya.


"Rai, tidak membawa pakaian?" Tanya Axnes bingung.


"Kita beli di sana saja nanti. Kita sudah sangat terlambat." Ucap nya.


Segera mereka pun bergegas keluar dari apartemen itu dan masuk kedalam mobil yang sudah dipesan Raiyan sebelumnya.


Mobil itupun melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara sesuai pesanan Raiyan.


"Kau sudah mengabari keluarga mu?" Tanya Axnes khawatir.


"Sudah, tadi sebelum aku membangunkan mu." Ucap Raiyan.


Tak lama mereka pun sampai, setelah masuk ke bandara mereka segera bergegas menuju tempat check in.


"Syukur. Hampir saja." Gumam Raiyan, karena mereka adalah yang terakhir check in.


Tak lama setelah itu mereka pun berangkat.


Kurang lebih tiga jam akhirnya mereka mendarat di Tokyo dan kini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Axnes. Mereka menggunakan taxi.


"Sayang, kau tahu ini kali pertama ku ke Jepang." Ucap Raiyan merangkul mesra kekasihnya wajahnya memperhatikan pemandangan diluar jendela mobil.


"Bukankah kau kaya? Harusnya kau bisa banyak berjalan jalan." Ucap Axnes asal.


"Kami memang sering keluar negeri, tapi saat Papa dan Mama mengajak ke Jepang aku selalu menolak." Jelas Raiyan.


"Kenapa?" Tanya Axnes penasaran.


Raiyan hanya mengedikan bahu pertanda ia tidak tahu.


"Dan pertama kali datang aku malah akan melamar wanita ku dihadapan Ayahnya yang awal nya aku benci." Ucap Raiyan tersenyum dan menatap kekasihnya.


"Kau gugup?" Tanya Axnes menunjuk wajah kekasihnya.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak membuat kesalahan mana mungkin aku gugup." Ucap Raiyan santai.


Axnes hanya mencibirkan bibir nya.


Akhirnya mereka kini sampai di depan rumah orang tua Axnes.


"Paman Rex." Axnes berteriak girang dan langsung berlari memeluk Rex yang kalah itu sedang duduk di teras.


Raiyan berjalan pelan mengikuti dari belakang.


"Hei, gadis kecil kenapa pulang tanpa kabar?" Tanya Rex memeluk erat ponakan nya yang sudah seperti putrinya itu.


Axnes hanya terkekeh.


"Paman, kenalkan ini kekasih ku Raiyan, Rai ini paman ku adik Papa." Ucap Axnes memperkenalkan dua pria itu bergantian.


"Rex." "Raiyan." Ucap mereka berdua bergantian saling bersalaman.


"Apa Papa dan Mama ada di rumah?" Tanya Axnes girang.


"Ada. Tapi lebih baik jangan kau ganggu dulu." Ucap Rex pelan.


Axnes menatapnya bingung seolah bertanya kenapa.


"Mereka sedang membuat adik untuk mu." Ucap Rex setengah berbisik.


Axnes memutar malas matanya.


"Papa, Mama." Axnes malah sengaja berteriak kencang sambil berjalan masuk kedalam rumah diikuti Rex dan Raiyan.


Mereka duduk di ruang keluarga.


Tak lama kemudian dua orang tua itu keluar tergesa gesa.


"Sayang, kenapa pulang tanpa kabar?" Tanya Vanessa segera berlari memeluk putrinya.


Raiyan yang melihat itu jadi merasa bersalah karena sudah merusak kekasihnya sebelum waktunya.


Axnes tidak menjawab, ia kemudian memeluk erat Max.


"Papa, Mama kenalkan ini Raiyan." Ucap Axnes memperkenalkan Raiyan.


"Raiyan?" Gumam Max.


"Aku Raiyan Lu, Paman, Bibi." Ucap Raiyan sedikit membungkuk memperkenalkan diri nya.


"Kau putra Raymond dan Vivian?" Tanya Max tidak percaya.


Raiyan hanya mengangguk.


"Ya ampun, kau sudah dewasa sekali." Ucap Max memeluk Raiyan.


"Kalian duduklah, aku akan mengambil minuman dan camilan." Ucap Vanessa.


"Aku ikut Ma." Pinta Axnes.


Keduanya pun melenggang ke dapur.


"Aku tidak menyangka kau sudah dewasa sekarang. Terakhir aku melihat mu kau benar benar masih bayi. Aku menggendong mu, tapi kau menangis. Sepertinya kau membenci ku saat itu." Ucap Max.


"Saat ini pun aku masih membenci mu paman. Tapi demi putri mu, aku rela melepas kebencian itu." Ucap Raiyan tanpa basa basi.


Max terkejut mendengar nya dan sudah dipastikan alasan apa yang membuat Raiyan membencinya.


"Aku ingin menikah dengan Axnes."


...~ **To Be Continue ~...


******

__ADS_1


Dah dulu. Nanti lanjut lagi.


Like dan komentar. Makasih**.


__ADS_2