Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
ROL 3 - Berbeda Karakter


__ADS_3

"Rai, dari mana saja?" Raymond bertanya pada putranya yang baru tampak batang hidungnya menjelang siang hari.


Raymond sedang duduk dan bersantai di ruang keluarga nya, karena ini adalah akhir pekan.


"Tadi malam aku menginap di apartemen Emily Pa." Raiyan menjawab jujur sambil duduk di samping Ayahnya.


"Kau ini, jangan menjalani hubungan yang kau sendiri tidak tahu akan dibawa kemana nantinya." Raymond kembali menasehati putranya.


"Haha santai saja Pa. Aku bermain aman. Lagi pula dia juga menginginkan nya." Ucap Raiyan sambil memasukkan potongan apel yang ada diatas meja kedalam mulut nya.


Raymond tahu putranya ini agak susah di atur jika menyangkut pergaulan, apalagi jika menyangkut Emily, sudah sejauh apa hubungan mereka, Raymond sudah bisa menebak nya.


"Kau itu tidak mencintai nya, tapi kenapa kau masih mengulang perbuatan mu berulang kali padanya?" Kini Vivian yang bersuara, sambil berjalan dari arah dapur.


"Mama." Raiyan berdiri dan menyambut makanan ringan yang dibawa oleh Vivian.


"Entahlah. Tapi kami sama sama menginginkan nya. Dan sangat sulit melepaskan diri dari jerat Emily." Raiyan berkata jujur.


Terhadap keluarga nya, Raiyan memang selalu terbuka tidak peduli dalam hal apapun.


"Hah, sangat susah di atur." Raymond menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan memijat pangkal hidungnya.


"Aku masih muda Pa. Lagi pula Emily tidak keberatan." Raiyan berusaha membela diri.


"Anak nakal." Vivian memukul pundak putra sulung nya itu cukup kuat.


"Mama ku yang tercantik dan terbaik ini ternyata kalau sudah memukul sakit juga yah." Raiyan berpura pura kesakitan sambil menggosok tempat yang terkena pukulan Ibunya tadi sambil tersenyum jahil.


"Hoam..selamat pagi semua." Ayvin yang baru keluar dari kamar pun bergabung dengan kedua orang tua nya dan juga kakaknya. Ia duduk di samping kakak nya.


"Selamat pagi." Raiyan merangkul leher adik nya dan mengacak rambut Ayvin hingga berantakan.


Ayvin tidak marah, begitu memang kedekatan mereka. Raymond dan Vivian hanya terkekeh melihat tingkah kedua putranya yang sangat berbeda.


"Vin, apa ada yang menganggu mu akhir akhir ini?" Raiyan bertanya khawatir, padahal ia tahu adiknya jago bela diri.


"Tidak. Mana ada yang berani menganggu ku." Ayvin menjawab bangga sambil mengunyah kue kering di mulut nya. Raiyan tahu adiknya tidak berbohong.


"Vin, bagaimana jika kita pergi bersenang senang hari ini? Lusa kan kau sudah menghadapi ujian akhir." Raiyan memberi usul pada adiknya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak benar benar menghabiskan waktu nya dengan adik tersayang nya.


"Besok saja kak. Besok kan masih ada waktu. Hari ini aku harus menyelesaikan lukisan ku untuk acara pameran minggu depan." Ayvin berucap serius.


"Wah, anak Papa ini sungguh luar biasa." Raymond memuji putra bungsu nya.


"Terima kasih Pa." Ayvin tersenyum malu malu.

__ADS_1


"Mama, lihatlah. Papa selalu saja memuji adik." Raiyan pura pura merengek lalu berpindah duduk di samping Vivian dan memeluk manja pada Ibunya. Ia tidak benar benar marah ataupun iri karena bakat mereka berbeda.


"Kau ini. Adik mu memang yang terbaik kan?" Vivian sengaja mengejek putra sulung nya itu yang memang lebih manja saat bersama nya.


Bagi Raiyan, Ibunya adalah nyawanya. Siapapun yang berani menyakiti Ibunya baik itu dimasa sekarang ataupun masa lalu, tidak akan pernah ia ampuni.


"Paman Jiro, bibi Dream." Raiyan memanggil Jiro dan Dream yang baru pulang entah dari mana.


Jiro dan Dream ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Dero sudah pulang?" Jiro bertanya menatap curiga pada Raiyan.


"Aku tidak pulang bersama nya. Tadi malam aku menginap di apartemen Emily." Raiyan menjawab jujur.


Hah


Jiro memejamkan matanya kuat dan menghela nafas kasar. Putranya memang sangat susah di atur. Lebih susah di atur dibandingkan Raiyan. Tidak ada satu pun sifat nya ataupun istrinya dalam diri putranya.


"Sabar paman. Nanti aku akan bantu paman mengajari nya." Raiyan tersenyum manis, masih terus memeluk Ibunya.


"Dream, ayo kita memasak untuk makan siang." Vivian mengajak Dream dan Dream langsung mengikuti.


"Dream, besok Raiyan dan Ayvin ingin jalan jalan. Sebaiknya kalian juga mengajak Dero. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama." Vivian mengusulkan pada Dream sambil berjalan ke dapur.


"Bagaimana dengan perusahaan mu?" Raymond bertanya pada Jiro.


Raymond memberikan dua anak perusahaan nya pada Jiro sebagai balas jasa karena kesetiaan Jiro. Jiro menerima nya dengan paksaan dari Raymond dan Vivian, walau begitu dia masih lebih tetap fokus menjadi Asisten Raymond sampai nanti jika Raiyan yang sudah memimpin.


"Semua nya lancar Tuan." Jiro menjawab seadanya. Pikiran nya kalut memikirkan kelakuan putranya.


"Sudah ku bilang ribuan kali Jiro, jangan memanggil ku Tuan lagi." Raymond berucap kesal. Bawahan kepercayaan nya yang satu ini memang sangat amat terlalu loyal.


"Maaf tu..Ray." Jiro tersenyum kikuk.


"Jika ada masalah katakan saja. Aku akan membantu mu." Raymond kembali berkata.


"Benar paman. Aku siap membantu." Raiyan menimpali.


"Jika kalian mau membantu aku sangat berterima kasih. Tapi aku yakin kalian tidak bisa membantu banyak. Aku saja tidak bisa melakukan dengan baik." Jiro berucap sendu.


Raiyan dan Raymond saling memandang bingung, lalu kembali menatap Jiro.


"Aku sudah lelah mengurusi Dero. Rasanya ingin sekali mengirim nya ke pulau terpencil agar dia bertahan hidup sendirian di sana." Ucap Jiro memelas.


Raiyan dan Raymond menahan tawa.

__ADS_1


Haha


Ayvin yang tidak bisa menahan tawa nya.


"Itu tidak akan bekerja paman." Ucap Ayvin terus terang.


"Makhluk seperti kak Dero mau ditenggelamkan di sungai Amazon juga tidak akan pernah berubah." Ayvin kembali berkata membuat semangat Jiro semakin menurun.


"Ayvin." Raymond menegur putra bungsu nya.


"Sudahlah Jiro. Kita tidak bisa terlalu keras pada mereka. Semakin kau keras, maka mereka akan semakin membangkang." Raymond mencoba menenangkan Jiro.


Hah


"Aku menyesal membesarkan nya. Jika tahu seperti ini, lebih baik aku buang dia pada singa singa mu sebagai makanan dulu." Ucap Jiro kesal.


"Itu sangat kejam Pa." Dero baru saja memasuki rumah.


Jiro menatap putranya marah, tapi putranya santai saja menanggapi nya. Ia malah duduk di samping Ayahnya tanpa rasa bersalah.


"Paman, aku rasa putra mu tertukar dengan putra orang lain saat dirumah sakit. Dia ini pasti putra dari seorang buronan polisi." Ucap Ayvin polos sambil menunjuk Dero.


"Aku memang putra tahanan seorang polisi." Dero menjawab kesal. Raymond dan Raiyan hanya tersenyum melihat pedebatan keduanya.


"Pa, bagaimana jika aku menikah muda?" Dero bertanya tanpa rasa bersalah.


Uhuk uhuk


Jiro tersedak apel yang sedang ia kunyah.


"Kau yang benar saja?" Jiro bertanya serius. Dero mengangguk.


"Terserah mu saja." Jiro pasrah pada putranya.


"Tapi itu tidak akan aku lakukan. Aku tidak ingin kehilangan waktu muda ku tanpa bersenang senang." Ucap Dero bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar nya.


Jiro hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan laknat putranya. Senakal nakalnya Raiyan, dia tidak akan mengerjai kedua orang tua nya seperti itu.


******


Dero memang anak laknat ya. Bapak nya aja dikerjain.


Jangan lupa tinggalkan komentar dan like.


Selamat berpuasa, semoga lancar.

__ADS_1


__ADS_2