Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?

Mr. Mafia Or Mr. Psychopath ?
Louise Jiang


__ADS_3

"Haachim...Hachim" terdengar suara bersin secara bergantian, mereka adalah Raymond dan Vivian. Yang pagi ini saat bangun tidur langsung terserang demam dan flu.


"Semua gara gara dirimu. Kalau saja kau tidak menarik ku untuk bermain hujan maka aku tidak perlu seperti ini" ucap Raymond kesal kepada Vivian.


"Hah kau juga senang ikut bermain dengan ku" timpal Vivian tak mau kalah.


"Awas saja kau, setelah aku sembuh aku pastikan akan menghukum mu" ucap Raymond mengancam.


"Aku tidak takut padamu Blek" jawab Vivian sambil menjulurkan lidahnya pada Raymond. Raymond seketika merasa hilang sudah wibawa nya sebagai seorang Ketua Mafia, tapi bukankah Vivian memang belum tahu tentang jati dirinya itu.


"Sudah lah Tuan dan Nyonya jangan bertengkar seperti itu. Kalian akan membuat bayi kalian ketakutan" ujar Shen yang tengah memeriksa mereka disela sela pertengkaran mereka.


"Diam kau" ucap Raymond menendang Shen geram dengan salah satu tangannya membuat Shen langsung mengelak.


"Kalian tidak apa apa. Hanya demam dan flu biasa saja. Minum obat yang aku berikan jangan lupa untuk istirahat. Serta jangan berhubungan dulu jika tidak ingin keadaan kalian tambah parah" ucap Shen menjelaskan keadaan mereka dan memelankan suaranya pada kalimat terakhir.


"Sial kau" ucap Raymond kesal kembali menendangkan kakinya pada Shen dan kali ini tidak berhasil dielak oleh Shen. Sedangkan Vivian hanya menunduk malu karena kata kata Shen. Walaupun ia tahu Shen hanya bercanda tapi tetap saja ia sangat malu.


"Haha ya sudah aku pergi dulu. Resep nya akan aku berikan pada Jiro" ucap Shen beranjak meninggalkan mereka.


"Suami Istri payah, sekali sakit dua dua nya. Bagaimana mereka akan melayani satu sama lain kalau sama sama sakit begini?" gerutu Shen sengaja dengan suara yang masih dapat didengar oleh mereka.


"BUKK" satu bantal melayang dikepala Shen dan kali ini pelaku nya adalah Vivian. Membuat langkah Shen terhenti menoleh padanya dengan tatapan bertanya seolah tidak tahu apa salahnya. Vivian hanya menatapnya kesal.


"Hahaha kau memang pelempar yang hebat honey" ucap Raymond memuji Vivian saat ia melihat bantal yang dilempar Vivian tepat mengenai kepala Shen.


"Aneh" gerutu Shen seolah tidak ada yang salah dengan kalimatnya lalu berbalik pergi meninggalkan mereka.


Vivian pun bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kamar, namun langkahnya terhenti mendengar pertanyaan Raymond.


"Kau mau kemana Honey?" tanya Raymond


"Aku harus ke kampus hari ini. Ada mata kuliah penting yang harus aku ikuti" jawab Vivian tanpa membalikkan badan nya atupun menoleh kearah Raymond.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mengantar mu" ucap Raymond lalu beranjak mendekati Vivian.


"Tidak perlu kau istirahat saja. Biar nanti Jiro yang mengantar ku" ucap Vivian menolak usul Raymond.


"Hem baiklah" timpal Raymond yang lalu memeluk Vivian.


"Sangat nyaman" gumam Raymond yang masih dapat didengar oleh Vivian. Vivian lantas membalas pelukan Raymond karena ia pun merasakan hal yang sama. Entah Vivian sudah jatuh cinta atau tidak tapi yang pasti dia sekarang merasa sangat nyaman dengan perlakuan manis Raymond.


"Baiklah, kau siap siap dulu nanti aku akan sampaikan pada Jiro saat dia sudah kembali nanti" ucap Raymond setelah melepaskan pelukan nya. Vivian pun langsung beranjak kekamarnya untuk bersiap siap. Raymond lalu kembali duduk di sofa ruang utama tempat ia dan Vivian duduk tadi.


"Tap tap tap" terdengar suara langkah kaki Vivian menuruni tangga tergesa gesa. Raymond yang melihat itu dengan sigap berlari kearah Vivian untuk menyambutnya.


"Hei hati hati kau bisa terluka" ucap Raymond saat sudah mendapatkan tangan Vivian dalam genggaman nya.


"Aku bukan perempuan hamil yang harus kau perhatikan dengan sangat posesif seperti itu Ray" ucap Vivian mengikuti langkah Raymond yang menggandeng tangan nya berjalan keluar, karena Jiro sudah menunggu didalam mobil.


"Tapi nanti kau akan mengandung anak ku. Maka dari sekarang belajar lah untuk hati hati" ucap Raymond sangat manis membuat Vivian menunduk malu lalu memberikan tinju di dada bidang Raymond. Raymond tidak merasakan sakit karena memang tinju yang diberikan Vivian tidak kuat.


"CUP" ia melayangkan satu kecupan di pipi Raymond dan langsung masuk ke mobil membuat Raymond tersenyum.


"Hati hati" ucap Raymond singkat. Lalu Jiro pun melajukan mobilnya dan Raymond melambaikan tangan pada Vivian. Setelah itu ia pun kembali kedalam mansion untuk istirahat. Namun saat ia hendak berbaring di sofa, gerakan nya terhenti oleh suara Pengawalnya.


"Ada apa Sion?" tanya Raymond dingin sangat berbeda dengan yang tadi saat ia bersama dengan Vivian.


"Tuan orang yang kau suruh aku selidiki itu bernama Louise Jiang, dia merupakan salah satu pengusaha yang cukup sukses saat ini dan juga ia terlibat dalam perdagangan illegal tuan. Sekarang ia juga salah satu Dosen di Universitas tempat nona Vivian kuliah. Ia mampu membangun usaha nya dalam waktu belum genap dua tahun karena mendapatkan suntikan dana dari Tuan Besar Harley" ucap Sion pengawal kepercayan Raymond yang setiap kali dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkan nya dengan mudah. Waktu melihat Louise kemarin ia langsung meminta Sion untuk menyelidiki nya.


"Apa kau bilang? Ayah ku memberikan suntikan dana untuk nya?" tanya Raymond tidak percaya dengan apa yang ia dengar tapi ia tahu bahwa Sion tidak pernah salah dalam mendapatkan informasi.


"Benar Tuan. Tapi aku kurang tahu alasan Tuan Besar Harley memberikan suntikan dana kepadanya dan dari mana Tuan Besar Harley mengenalnya" lanjut Sion menjelaskan.


"Baiklah, itu serahkan saja kepada ku. Kau bisa pergi sekarang" ucap Raymond menyuruh Sion pergi dan dibalas anggukan dari Sion, lalu beranjak meninggalkan nya.


Raymond lalu meraih ponselnya dan menghubungi Ayahnya. Dalam dering ketiga panggilan lansung diangkat oleh Ayahnya.

__ADS_1


"Ada apa anak nakal kau menganggu liburan ku saja" ucap Harley dari seberang telfon dengan nada yang dibuat kesal padahal ia sangat senang mendapatkan panggilan dari putra tercintanya.


"Oh ayolah apa ayah sedang bersenang senang dengan para wanita?" tanya Raymond iseng padahal ia tahu ayahnya tidak akan melakukan itu


"Bocah nakal kau ingin merasakan tinju dari Ayah tua mu ini hah?" balas Harley pada putranya. dan dibalas suara tawa dari Raymond. Raymond menjadi pria yang sangat manis jika sudah bersama dengan ayahnya dan Vivian.


"Kapan ayah pulang?" tanya Raymond kembali serius.


"Satu minggu lagi. Bersabarlah aku tahu kau merindukan ayah tua mu ini" ucap Harley menjawab pertanyaan putranya.


"Baiklah aku tunggu kepulangan ayah. Ada yang ingin aku tanyakan pada ayah" ucap Raymond pada ayahnya yang dibalas deheman dari ayahnya dan langsung menutup panggilan nya. Raymond hanya bisa menggeleng mendapat perlakuan seperti itu dari ayahnya mau marah tidak mungkin karena itu ayah tercinta nya.


"Hei kau kenapa?" tanya Louise khawatir saat melihat Vivian berjalan dengan lemas dan beberapa kali bersin.


"Tidak apa apa. Jangan mengurusi ku" ucap Vivian jutek. Ia benar benar tidak ingin diganggu oleh Louise apalagi setelah ia tahu kalau Raymond sudah mengetahui keberadaan Louise. Ia benar benar tidak ingin membuat masalah yang bisa membuat Raymond marah. Louise bukan nya menuruti malah menarik tangan Vivian untuk ikut bersamanya. Joyce yang melihat itu mengepalkan tangannya kuat menahan amarah dan cemburu.


"Louise lepaskan aku. Kau menyakiti ku" ucap Vivian sambil meronta agar dilepaskan oleh Louise. Namun bukannya melepaskan Louise justru menguatkan cengkeraman tangannya dan terus menarik tangan Vivian. Hingga sampailah ke ruang berobat untuk para mahasiswa mahasiswi yang mungkin sedang sakit atau merasa tidak enak badan agar bisa beristirahat disana. Louise membawa Vivian masuk kedalam ruang itu dan mengunci pintunya.


"Apa yang kau lakukan Louise?" ucap Vivian meneriaki Louise. Namun bukannya takut Louise malah melangkah terus melangkah mendekati Vivian, membuat Vivian juga semakin melangkah mundur hingga akhirnya mentok dengan dinding. Merasa mangsanya tidak ada celah untuk lari Louise menyeringai seram.


"Menurutlah nona kecil jika kau tidak ingin ku lukai" ucap Louise saat ia sudah sangat dekat dengan Vivian dan menahan tangan Vivian diatas kepalanya dengan satu tangan nya. Ia lalu mengecup bibir mungil Vivian, Vivian terbelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan Louise namun entah mengapa ia tidak ingin menolak perlakuan Louise padanya dan ia seperti merindukan Pria itu namun juga tidak membalas perlakuan Louise. Louise melihat Vivian hanya diam lalu menghentikan aksinya dan berbalik membelakangi nya. Tangannya mengepal kuat saat ia menyadari hampir saja ia menyakiti Vivian.


Ia lalu melangkah untuk keluar. Namun langkahnya terhenti saat merasakan pelukan tiba tiba dari belakang badannya. Pelakunya tak lain adalah Vivian. Vivian memeluknya sangat erat seolah sedang menyalurkan Rindu yang selama ini ia pendam.


"Max aku merindukan mu. Jangan pergi lagi aku mohon" ucap Vivian mulai terisak. Namun segera Louise melepaskan tangan Vivian dari perutnya saat mendengar Vivian menganggap nya Max. Ia lalu segera meninggalkan Vivian sendirian disana.


"Max" batin Vivian.


^^^_Terima kasih untuk para reader yang masih setia dengan cerita ku_^^^


^^^_Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik atau saran atau apapun yang ingin kalian sampaikan selama itu membangun yah. Dan juga jangan lupa like nya setiap kali kalian selesai membaca_^^^


..._Serta jangan lupa untuk menekan favorit agar kalian bisa mendapatkan pemberitahuan update nya_...

__ADS_1


__ADS_2