
Shen dan Sion menikah serentak di tempat, jam, dan hari yang sama sebulan setelah mereka melamar pujaan hati mereka.
Sebulan setelah mereka, tepatnya hari ini Max dan Vanessa melangsungkan pernikahan mereka. Mereka memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan mereka mulai dari upacara pernikahan hingga resepsi, semua digelar di Shanghai.
Raymond tampak bersiap siap dikamar nya dibantu oleh istrinya. Begitupun dengan Jiro yang juga tengah bersiap dibantu istrinya.
Dikamar Ray Vivian.
"Sayang, apa sungguh aku tidak bisa ikut?" Tanya Vivian merengek.
Raymond tidak mengijinkan nya ikut dengan alasan kehamilan nya sudah memasuki bulan ke sembilan. Takut tiba tiba akan melahirkan, apalagi dari pagi beberapa kali Vivian mengeluh merasakan seperti mulas.
"Tidak. Kau dirumah saja ditemani Dream. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku atau Jiro." Jawab Raymond tegas.
"Baiklah baiklah." Vivian pasrah.
"Sampaikan salam dan selamat ku pada Vanessa." Vivian berpesan pada Raymond sambil merapikan dasi kupu kupu milik suaminya.
"Tidak pada Max?" Raymond bertanya jahil menaik turunkan kedua alis nya.
"Kau ini.." Vivian mencubit gemas lengan Raymond, tapi Raymond hanya terkekeh.
Dikamar Jiro Dream
"Hah, menyebalkan sekali. Baru saja bulan lalu Shen dan Sion menikah, sekarang malah Max juga ikutan. Bisa bisa aku bangkrut dan uang ku habis untuk menghadiri acara pernikahan mereka." Jiro menggerutu sambil bersiap.
"Kau tidak boleh begitu sayang. Tidak ada salahnya menghadiri acara pernikahan mereka. Lagi pula mereka adalah orang dekat Tuan Ray dan dirimu kan?" Dream berusaha membujuk suaminya.
Entah kenapa sejak menikah, Jiro terkesan pelit dengan keuangannya untuk orang lain kecuali dirinya dan Dream. Alasannya untuk masa depan keluarga kecilnya. Padahal pendapatan yang ia dapatkan dari pekerjaan nya sebagai Asisten Raymond sangat fantastis, begitupun dengan pendapatan istrinya.
Istrinya memang statusnya hanya sebagai kepala pelayan, tapi ia juga adalah lulusan dari sekolah memasak terbaik di kota itu, karena Raymond tidak main main dalam merekrut karyawan walaupun itu status nya hanya pelayan.
"Tapi sayang kita harus berhemat dan memikirkan masa depan keluarga kecil kita." Ucap Jiro menghentakan kaki nya ke lantai saat Dream sedang merapikan pakaian dan dasi nya.
Dream tidak ingin menjawab, malas dengan rengekan suaminya yang tidak beralasan.
"Sudah. Suami ku yang paling tampan." Ucap Dream memeluk sebentar suaminya.
"Terima kasih sayang." Ucap Jiro mengecup pelan kening istrinya.
"Baiklah aku dan Tuan Ray pergi dulu. Kau jaga Nona Vivian dengan baik. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku atau Tuan Ray. Jika tidak sempat maka segera menyetir dan bawa Nona Vivian ke rumah sakit mengerti?" Jiro memberi pesan panjang lebar pada istrinya.
"Aku mengerti sayang." Ucap Dream sambil menggandeng lengan suaminya dan keluar dari kamar mereka.
Mereka langsung berpapasan dengan Raymond dan Vivian didepan pintu.
"Kau sudah siap payah?" Tanya Raymond iseng.
"Sudah Tuan." Jawab Jiro membusungkan dadanya.
"Haha ayo kita berangkat sekarang." Ucap Raymond.
Mereka pun berangkat setelah masing masing berpamitan pada istri mereka.
Jiro menyetir melajukan mobilnya menuju ke gedung mewah tempat resepsi pernikahan Max Vanessa diadakan.
__ADS_1
"Waw, ini mewah sekali." Ucap Jiro terkagum dengan tempat resepsi pernikahan Max Vanessa seolah baru pertama kali dirinya melihat gedung mewah seperti itu.
Raymond tidak menghiraukan nya dan segera berjalan masuk. Jiro yang tersadar akhirnya dengan cepat mengejar langkah Raymond.
"Ayah." Raymond menyapa dan memeluk Ayahnya yang sudah dari tadi menunggu nya didepan pintu masuk.
"Apa kabar Ray? Bagaimana kabar menantu dan cucu ku?" Tanya Harley membalas pelukan putranya.
"Mereka baik Ayah." Ucap Raymond, sedangkan Jiro hanya membungkuk memberi hormat.
"Ayo kita masuk saja." Raymond merangkul Ayahnya dan berjalan masuk kedalam gedung diikuti Jiro.
"Tuan Ray, Ray." Sion san Shen kompak menyapa Raymond dan menghampiri mereka dengan menggandeng mesra istri istri mereka.
"Rakus sekali kalian sampai datang seawal ini untuk menghabiskan makanan Max." Jiro menyindir kedua sahabat nya.
"Kami rakus. Tapi setidaknya kami tidak akan kesepian malam ini." Ucap Shen merangkul pinggang istrinya dan diikuti Sion.
"Menyebalkan." Gerutu Jiro, sedangkan Raymond dan Harley hanya tertawa.
Mereka pun berjalan semakin kedalam gedung untuk mencari keberadaan Max Vanessa. Acara pernikahan mereka bertema bebas, jadi Max dan Vanessa tidak berdiam di satu tempat untuk menyalami tamu mereka.
Mereka bisa dengan bebas berjalan menghampiri tamu mereka.
"Hei. Selamat." Ucap Raymond jutek pada Max.
"Terima kasih Ray." Ucap Max tulus lalu merangkul Raymond dan Raymond hanya membalas dengan menepuk punggung Max dengan satu tangan nya.
"Selamat Vanessa. Aku tidak percaya wanita aneh seperti mu bisa menaklukkan iblis jahat seperti Max." Ucap Shen menyalami Vanessa.
Vanessa membalas salaman nya dengan tersenyum.
"Selamat untuk pernikahan mu nak. Jadi suami dan Ayah yang baik kelak." Harley menasehati putra angkat nya itu.
"Baik Ayah." Ucap Max.
Mereka pun mengikuti setiap tahapan resepsi pernikahan Max Vanessa dengan penuh kebahagiaan.
#####
"Dream, perut ku tidak nyaman sekali. Rasanya bayiku seperti akan keluar." Keluh Vivian yang sedang duduk diruang keluarga bersama Dream.
"Sepertinya kau akan melahirkan Nona. Kau tunggu sebentar, aku akan mengambilkan perlengkapan mu dan kita segera kerumah sakit." Ucap Dream lalu bergegas naik ke kamar Vivian dan mengambil perlengkapan yang akan diperlukan Vivian, kemudian meraih kunci mobil suaminya dan dompet dan apa saja yang menurutnya akan berguna.
Setelah itu, dengan cepat ia memapah Vivian memasuki mobil. Dengan secepat kilat ia mengendarai mobil nya menuju ke rumah sakit. Ia tidak menghubungi Jiro ataupun Raymond karena yang terpenting saat ini adalah Vivian dan bayi nya. Menghubungi mereka bisa nanti.
Setelah sampai di rumah sakit, secepat kilat Dream memapah Vivian dan mendudukan Vivian diatas kursi roda kemudian mendorong Vivian menuju ke ruang pemeriksaan persalinan.
"Dokter Jen, segera tangani Nona Vivian." Titah Dream. Mereka memang pergi ke rumah sakit tempat dokter Jen.
"Baiklah. Kau segera hubungi suaminya. Proses persalinan sebaiknya didampingi oleh suaminya." Ucap dokter Jen memberi saran.
Dream mengangguk dan segera menjauh untuk menelpon Raymond. Sedangkan dokter Jen segera masuk ke ruang pemeriksaan sebelum ke ruang bersalin.
"Halo, ada apa?" Tanya Raymond dari balik telepon.
__ADS_1
"Tuan, datang ke rumah sakit sekarang. Nona Vivian akan melahirkan." Ucap Dream.
Panggilan langsung dimatikan sepihak, membuat Dream ingin mengumpat jika bukan atasannya. Dream menunggu dengan cemas di luar ruangan.
"Dokter, bagaimana keadaan Nona Vivian?" Dream bertanya cemas saat melihat Dokter Jen keluar dari ruangan pemeriksaan bersama dengan dua perawat yang mendorong brankar dengan Vivian terbaring diatas nya.
"Kondisi Nyonya Lu stabil, dan masih pembukaan dua. Karena ini anak pertama mungkin akan memerlukan waktu cukup lama hingga Nyonya Lu siap melahirkan." Ucap Dokter Jen menjelaskan.
Dream mengangguk mengerti.
"Dream bagaimana?" Raymond berteriak memanggil Dream sambil berlari mendekat.
Kemudian Dokter Jen yang menjelaskan sesuai yang ia jelaskan pada Dream tadi.
"Apa bisa aku menemani nya dok?" Raymond bertanya khawatir.
"Itu akan lebih baik." Ucap Dokter Jen mengijinkan.
Akhirnya Dokter Jen menuntun Raymond menuju ruang persalinan diikuti Dream, Jiro, Sion, Vio, Shen, dan Ivy serta Harley dibelakang.
Menunggu cukup lama hingga akhirnya Vivian siap melahirkan. Raymond merelakan dirinya di cengkeram kuat oleh istrinya saat proses mengejan. Vivian melahirkan dengan normal. Bersyukur nya persalinan Vivian tidak seheboh wanita melahirkan pada umumnya yang sampai bisa mencakar atau menarik pakaian suaminya hingga sobek.
Oeek Oeek
Cukup lama hingga akhirnya bayi mereka lahir. Segera dokter menempelkan bayi mungil mereka di atas dada Vivian. Raymond dipersilahkan keluar sejenak untuk proses penanganan berikut nya.
"Hahaha." Ketiga anak buah laknat nya tertawa terbahak bahak melihat kondisi nya yang sedikit kacau.
Raymond tidak marah, ia justru menitikkan air mata bahagia dan memeluk erat Ayahnya.
"Ayah, aku sekarang menjadi seorang Ayah." Ucap Raymond terharu.
"Selamat nak. Selamat. Jadilah Ayah yang baik dan didik putra mu dengan baik juga." Ucap Harley memberi nasehat pada Raymond.
Ketiga anak buah laknat nya diam mematung, bukan takut melainkan terharu dan mereka spontan memeluk istri mereka masing masing.
"Tuan Ray, masuk lah." Ucap Dokter Jen mempersilahkan Raymond untuk masuk setelah Vivian dan bayinya dipindahkan ke ruang perawatan disamping ruang persalinan.
"Terima kasih." Ucap Raymond melepas pelukan nya dari Harley dan berjalan masuk ke ruangan Vivian.
"Ray, lihat putra kita tampan sekali." Ucap Vivian memuji putra kecilnya.
"Kau benar. Dia sangat tampan seperti ku. Hiks." Ucap Raymond percaya diri sambil terisak.
"Jadi kau setuju kita namakan dia Raiyan?" Tanya Vivian meminta persetujuan. Raymond mengangguk, ia kemudian meraih Raiyan kecil didalam gendongan nya.
Sedikit kaku, tapi dengan cepat ia terbiasa.
Harley dan ketiga anak buah Raymond beserta istri mereka masih menunggu di luar dengan perasaan haru.
******
Selamat buat Raymond Vivian sudah manjadi Papa dan Mama.
tinggalkan komentar dan like kalian setiap kali kalian selesai membaca yah.
__ADS_1
Share ke teman teman kalian baik secara offline maupun online juga.
Semangat puasa nya yah.