My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Skripsi dan Star Wars


__ADS_3

Pagi ini Pandu sudah bersiap meninggu panggilan giliran untuk maju sidang skripsi dan wajahnya tampak gelisah menunggu seseorang yang sangat dia tunggu. Hampir tiap detik dirinya memeriksa jam tangannya.


Kemana princess ku?


"Mas Pandu..."


Pandu pun mendongakkan kepalanya.



Yang nungguin



Yang Ditungguin


"Akhirnya datang ju... " suara Pandu menghilang melihat Sarah berdiri di belakang Reana.


"Saya memang bertugas mengawal nona Reana, tuan Pandu" senyum Sarah.


"Oh iya..." senyum Pandu. Di hadapannya tampak Reana hanya mengenakan cardigan warna abu-abu, kaus warna senada, celana warna ungu, sepatu boot dan kalung emas.


Pandu meringis dalam hati. Kamu benar-benar nekad, Ndu! Belum tentu kamu bisa membelikan perhiasan seperti yang dipakai Reana sekarang ini.


"Jam sepuluh kan mas Pandu sidangnya?" tanya Reana lembut sambil duduk di sebelah pria itu.


"Iya..."


"Dewanata!" sebuah suara membuat keduanya menoleh dan tampak seorang pria bule berambut hitam dengan mata biru menghampiri mereka.


"Stanton" sapa Pandu.


"Wah, kemajuan kamu ditemani gadis cantik. Siapa ini? Pacarmu ya? Kalau bukan, boleh dong aku coba dekati" goda pria yang dipanggil Stanton oleh Pandu.


"Dia pacarku jadi jangan coba-coba merebutnya, Stanton!" desis Pandu dengan nada tegas.


"Kok kamu mau sih sama cowok miskin macam Dewanata ini? Sekolah modal beasiswa" kekeh pria itu.


"Berarti Pandu tandanya cerdas, bisa mendapatkan beasiswa" sahut Reana.


"Tapi dia miskin" ledek Stanton.


"Uang bisa dicari tapi orang baik sulit dicari" balas Reana.


"Orang tidak bisa hidup tanpa uang, nona" seringai Stanton.


"Orang juga tidak bisa hidup tenang jika di otaknya hanya berisikan hasutan dan iri dengki" ujar Reana kalem.


"Hah! Cewek naif! Makan tuh cinta! Ini New York, lady. Biaya hidup tinggi! Bisa apa kalian?"


"Bisa hidup, bisa menikmati hidup meskipun hidup biasa saja dan bisa bahagia bersama dengan orang yang dicintai dan mencintai." Reana menatap tajam ke arah Stanton.

__ADS_1


"Kalau kamu sudah tidak betah dengan gaya hidup miskin, cari aku. Akan aku bahagiakan kamu!" Stanton pun tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan Pandu dan Reana.


"Dia siapa sih?" tanya Reana kesal.


"Namanya Richard Stanton, anak seorang hakim di New York dan kabarnya dia masuk NYU karena menyuap tapi entah benar atau tidak, aku tidak tahu, princess."


Reana hanya menatap tajam ke arah pintu keluar dimana Stanton berjalan ke arah sana. Aku harus cari tahu orang menyebalkan itu!


"Pandu Dewanata."


Pandu pun menoleh dan tampak seorang panitia sidang keluar memanggil namanya.


"Semangat!" Reana menepuk bahu Pandu.


"Terimakasih!" Pandu mengambil kedua tangan Reana dan meremasnya pelan lalu berjalan masuk ke dalam ruang sidang skripsi.


Sarah pun akhirnya duduk bersebelahan dengan Reana.


"Nona akan meminta bantuan tuan Bryan Smith?" tanya Sarah ketika melihat Reana mengambil ponselnya.


"Menurutmu?" Reana melirik ke Sarah dengan wajah tersenyum licik.


"Oh my God, nona. Anda benar-benar iseng" kekeh Sarah.


"Baru tahu. Hallo Oom Bryan."


***


Pandu keluar dari ruang sidang dengan wajah puas apalagi dia bisa mempertahankan argumennya dengan dosen penguji yang dikenal killer. Dosen pembimbingnya bahkan ikut keluar sambil menyalami pria itu dan mengatakan untuk menunggu sebentar guna mengetahui berapa nilai dan revisi yang harus dilakukan.


"Bagaimana?" tanya Reana memastikan namun jawaban yang didapat adalah pelukan dari Pandu.


"Lulus princess. Hanya aku belum mengetahui nilainya" bisik Pandu di sisi telinga Reana.


Reana yang awalnya bingung akhirnya membalas pelukan Pandu. "I know you can."


"Thank you" bisik Pandu lagi sembari mencium pipi kiri Reana yang membuat gadis itu terkejut.


"Sorry princess...aku terlalu excited" ucap Pandu menatap wajah cantik Reana.


Gadis itu hanya tersenyum manis.


***


Rajendra sekarang berada di bandara JFK untuk mengantarkan keluarga Lewis yang pulang ke London. Awalnya Arjuna menawarkan untuk pulang bersama pada hari Rabu namun Aksara mengatakan bahwa dirinya sudah ada janji dengan Mentri Perdagangan Inggris.


Tampak Arjuna dan Aksara masih asyik berbincang karena pesawat yang akan membawa mereka masih berangkat dua jam lagi namun keluarga McCloud dan Lewis sudah berangkat awal karena tahu hari Senin, New York gila-gilaan macetnya.


"Kamu jangan aneh-aneh Jendra disini. Kan aku harus pulang ke London" ucap Aruna sambil menatap tajam ke Rajendra.


"Bukannya yang aneh-aneh itu kamu? Sukanya menghajar orang" kekeh Rajendra sambil menatap geli kekasihnya.

__ADS_1


"Habis, aku kesal sama orang yang tidak bisa diajak kerjasama dan otaknya mlengse!"


"Runa, tidak semua itu harus sesuai dengan apa keinginan kamu. Kapasitas otak mereka itu berbeda-beda, tidak ada yang sama. Jadi jika ada yang tidak fokus, bisa saja dia kecapekan mengambil kerja paruh waktu atau ada masalah keluarga, kan kita tidak tahu. Tidak semua teman-teman kamu itu dari keluarga harmonis seperti kita."


Aruna terdiam mendengarkan perkataan Rajendra.


"Jika teman-teman kelompok belajar kamu ada kesulitan, ada baiknya kamu membantu tapi jika mereka menikung kamu dari belakang, baru kamu hajar tapi yang elegan bahkan bisa saja tidak memakai otot tapi pakai otak dan strategi. Justru membalas perbuatan orang dengan cara elegan jauh lebih nyesek daripada dengan otot."


"Seperti kamu membalas orang-orang yang mengacaukan masakanmu?"


"Betul. Endingnya mereka jadi berpikir ulang untuk mengerjai diriku karena aku membalasnya dua kali lebih jahat dari mereka" gelak Rajendra. "Sebenarnya nggak bagus sih tapi dengan begitu aku bisa terbebas dari Bullyan dan perusakan hasil masakan aku."


"Kamu itu pendendam deh!" kekeh Aruna.


"Bukan pendendam, Runa tapi realistis. Kasarannya aku tidak pernah jahatin mereka tapi merekalah yang memancing dark side aku padahal I'm a good Jedi. Luke Skywalker bisa berubah jadi Darth Vader kalau dinakalin. Iya nggak?"


Aruna melongo. "Malah bawa-bawa Star Wars."


"Lho kamu nonton Star Wars kan? Anakin Skywalker tidak bakalan berubah jadi Darth Vader kalau tidak ada kompor bleduk. Sama saja, aku juga tidak akan berbuat seperti jika tidak ada triggernya."


Rama yang mendengar percakapan kakak dan kekasihnya itu hanya mengangguk. "Bener itu mbak Runa. Mas Jendra itu tipe kalem kayak lelembut tapi kalau udah marah kayak gondoruwo."


Rajendra mendelik. "Apa Rama? Kok kamu samain mas Jendra kayak makhluk seram begitu?"


"Kan perumpamaan aja mas" cengir Rama dengan wajah usil.


"Iiiihhh kamu nyebelin!" Rajendra lalu memiting leher Rama lalu mengacak-acak rambutnya.


"Mas Jendra jahaaatt!" teriak Rama yang membuat Aruna cekikikan.


"Makanya jangan ngatain mas mu ini gondoruwo!" cebik Rajendra yang melepaskan pitingannya.


Suara pengumuman untuk penumpang ke London agar segera masuk ke ruang keberangkatan membuat keluarga Lewis itu berpamitan dengan keluarga McCloud.


Rajendra memberanikan diri memeluk Aruna meskipun Aksara dan Arjuna melotot.


"Kami pulang dulu. Sampai bertemu di London" pamit Ghania.


"Aruna!" panggil Rajendra sebelum gadis remaja itu masuk.


"Apa?"


"May the Force Be With You!" ucap Rajendra.


Aksara hanya menatap Rajendra geli. "Rajendra kebanyakan nonton Star Wars" kekehnya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2