My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Flashback


__ADS_3

Chapter ini berisikan flashback di Elang Untuk Rain chapter Menekan Ego


Jakarta, beberapa puluh tahun lalu


"Kalian mau apa nih?" tanya Duncan ke Rhea dan Rain. "Aku mau keluar sama Jeremy cari camilan."


"Aku minta Boba bang, 100% cocoa dikasih boba yang pearl hitam ya. Rain mau apa?" tanya Rhea ke calon adik iparnya.


"Aku sama Rhea, bang" ucap Rain lembut ke Duncan.


"Apa mau yang lainnya Rain?" tanya Elang lembut. Rain tersenyum ke arah Elang dan menggelengkan kepalanya. Elang mencium pucuk kepala Rain lembut.


"Yuk berangkat J, aku pengen camilan yang ga bakalan dibuat disini" ajak Duncan usai mencium bibir dan kening Rhea.


"Kalian pada mau kemana?" tanya Abi yang keluar dari ruang kerja bersama Edward setelah mengurus bisnis bersama Javier dan Masayuki.


"Mau beli camilan Pa" jawab Duncan.


"Kemana?" tanya Edward.


"Beli martabak paling" sahut Elang yang tiba-tiba terbayang martabak.


"Yuk Ed, kita ikut mereka beli martabak. Sekalian refreshing habis ngobrol njelimet sama Javier dan Yuki" ajak Abi.


"Hayuk lah! Kita pamit sama istri-istri kita dulu. Memangnya mereka doang yang enak main cium-cium ke pasangan masing-masing?" cebik Edward sambil berjalan menuju kamar Rhea karena Dara dan Yuna sedang mengobrol disana sambil bermain dengan Kaia.


Keempat orang di ruang tengah hanya melongo.


"Bang, yakin mau ajak Daddy dan Papa dalam satu mobil? Serius? Apa nanti kalian nggak darting?" Rhea menatap wajah suaminya yang tampaknya juga bingung.


"Bismillah nggak ya Rey, Abang rada ngeri juga sebenarnya sih..." bisik Duncan sambil nyengir yang langsung mendapat keplakan Rhea.


Elang dan Rain saling berpandangan karena tahu pasti bakalan ramai nanti di dalam mobil.


"D, nanti elu yang nyetir ya. Aku nggak yakin bisa sabar menghadapi dua ayahmu itu" ucap Elang dengan tatapan horor.


Tak lama kedua pria yang mengklaim sebagai Ogan dan Opa itu pun turun dari lantai dua.


"Yuk D, berangkat! Mommymu minta martabak coklat keju kacang!" ajak Edward.


"Mama minta apa?" tanya Duncan sambil mengambil kunci mobil Range Rover milik Abi.


"Mamamu cuma minta martabak telor" jawab Abi. "Rhea, Rain, kita pergi dulu."


"Hati-hati" ucap Rain dan Rhea bersamaan.


"Abang, jangan ngebut ya!" sambung Rhea.


"Yoi. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


***



Di dalam mobil, Duncan bagian menyetir sedangkan Elang duduk di sebelah suami Rhea Giandra. Abi dan Edward duduk di belakang dua pria tampan itu.


"Bi, kayaknya mending martabak Pecenongan deh kalau beli" ucap Edward.


"Enak martabak Betamore lah Ed. Pecenongan tuh menurut ku terlalu tebal, kalau Betamore itu pas tebalnya jadi nggak eneg."


"Idih, harga lebih mahal Pecenongan berarti kan lebih enak rasanya" eyel Edward.


"Aku kasih tahu ya Ed, biarpun harga Betamore lebih murah dari Pecenongan, rasanya lebih enak. Bahan yang mereka pakai juga bagus kok!"


"Ehem. Dad? Pa? Jadinya kita ke martabak mana nih?" tanya Duncan memotong keributan Daddy dan mertuanya.


"Pecenongan!"


"Betamore!"


Elang dan Duncan saling berpandangan. Mulai deh!


"Eerrr Oom Abi, Oom Edward. Martabak telur nya enak mana? Pecenongan atau Betamore?" tanya Elang dengan maksud jika Pecenongan untuk martabak manis, Betamore yang telur.


"Tetap enak Betamore kalau martabak manis, Ed" balas Abi.


"Elu tuh dikasih tahu ngeyel deh Bi!"


"Memangnya elu kagak?" Abi menatap tajam ke mata biru Edward.


"Sudah! Gini saja! Martabak manis beli di Betamore, maratabak telur titipan mama Dara ke Pecenongan ! Asal Daddy dan papa tahu, kami harus membelikan minuman Boba buat Rey dan Rain ! Sudah, manut Duncan sekarang!" bentak Duncan yang kesal mendengar keributan kedua orangtuanya di belakang.


Elang hanya tersenyum smirk mendengar calon iparnya ngamuk. ( sifat Duncan nurun ke Abiyasa, sang cucu ).


"Kamu berani bentak Daddy D?" pendelik Edward.


"Beranilah! Kalian berdua itu, For God's sake, sudah jadi Ogan dan Opa, kok ya masih saja macam jaman Ghani belum brojol saja!" omel Duncan.


Abi dan Edward menatap pria yang cemberut sambil menyetir. Bayangan bocah umur tiga tahun, nangis kejer saat tahu Dara hamil Ghani membuat kedua opa itu tersenyum.


"Bi, ingat saat Dara tujuh bulanan terus Duncan tahu dia hamil Ghani..."


"Dan ada yang nangis kejer" gelak Abi.


Kedua Opa itu terbahak sedangkan Duncan hanya manyun setiap aib itu dibongkar.


"Kamu tahu Jeremy, Duncan waktu itu berharap kalau Dara hamilnya perempuan. Eh malah hamil Ghani" kekeh Edward.

__ADS_1


"Makanya pas Dara hamil lagi, si besan durjana ini dan anaknya itu langsung main klaim bakalan jadi menantu dan suami Rhea. Padahal Rhea itu belum brojol, masih dalam perut Adara" sambung Abi.


"Dan elu juga awalnya nolak gue jadi besan lu kan?" kekeh Edward.


"Siapa yang ga sebel? Tiap saat ribut saja elu sama Duncan. 'Bi, pokoknya anak elu buat Duncan '. 'Awas kalau anak lu jodohnya orang lain!'. Eh Ed, yang namanya jodoh itu bukan dipaksakan tapi perkecualian elu sama Duncan. Namanya jodoh maksa!" sungut Abi.


"Tapi kan memang terbukti D sama Rhea jodoh" balas Edward. "Tuh hasilnya Kaia yang menggemaskan. Bagus kan bibit unggul keluarga Blair?"


"Memangnya bibitnya cuma dari keluarga Blair? Keluarga Giandra nggak ada andil? Rhea yang bawa Kaia sembilan bulan Edwaaarrdd!" pendelik Abi.


"Ya Allah, gelut lagi?" keluh Duncan sedangkan Elang hanya bisa menepuk bahu pria bertubuh besar itu.


"Nasibmu D" ujar Elang dengan gaya prihatin.


"Brengsek kau, J!"


***


Present Day


Rhea dan Rain tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Duncan dan Elang.


"Rukun sepuluh detik, ribut sak lawase" keluh Duncan. "Tapi itu yang ngangenin."


"Dan akhirnya masing-masing beli martabak sesuai dengan favoritnya sampai - sampai kita mblenger ya Rain" gelak Rhea.


"Dan julidnya pun masih berlanjut di meja makan dengan masing-masing menganggap martabaknya paling enak" kekeh Rain.


"Sampai-sampai akhirnya Tante Dara dan Tante Yuna menjewer pasangan masing-masing. Tapi mereka berempat itu memang paling heboh kalau sudah kumpul ya?" sahut Elang.


"Ingat saat kalian menikah? Bagaimana Rusuhnya Generasi kedua? Oom Manggala yang seenaknya main peluk budhe Nabila sampai pakdhe Mike ribut sama Oom Mangga itu. Terus Oom Sean dan Oom Brandon ribut dengan Tante Vivienne..." Wajah Duncan menjadi sendu.


"Aku kangen mereka semua bang" ucap Rhea dengan sedikit terisak.


"Kita semua Rey. Yang hanya bisa kita ingat hanya rekaman video saat kita kumpul bareng. Apa kalian masih menyimpan video pernikahan kalian?" Duncan menatap Elang dan Rain.


"Masihlah. Bahkan semua video keluarga kita, aku simpan di folder dan cloud, karena hanya itu kenangan yang kita punya selain album foto" jawab Elang.


"Kalau mau lihat, ayo. Tapi siap - siap tissue ya..." senyum Rain.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2