My Cold Chef

My Cold Chef
Masa Lalu Yang Terucap


__ADS_3

Aidan melihat Thara sedang asyik mempelajari seorang chef dari Jepang yang terkenal dengan ide-ide wagashinya melalui iMac nya. Gadis itu tampak serius menonton channel YouTube tentang chef berumur itu.


Tanpa disadari Thara, pria itu berdiri di belakangnya ikut memperhatikan proses pembuatannya. Aidan memperhatikan tangan lentik Thara ikut membuat model dan sesekali dia menggambar diatas kertas.


Aidan akhirnya memutuskan naik ke tempat tidur membiarkan istrinya asyik sendiri dengan pastry nya. Tak lama, pria itu terlelap meninggalkan istrinya.


Satu jam kemudian setelah acara itu selesai, Thara mematikan iMac nya dan mulai ritual malamnya. Dia melihat suaminya sudah terlelap dan gadis itu pun mematikan lampu kamarnya menjadi lampu temaram.


Thara pun naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya. Malam ini dia hanya memakai tank top dan celana pendek. Sebelum terlelap, dia melihat Aidan tertidur lagi-lagi pria itu tidur tanpa mengenakan baju.


Thara pun membalikkan tubuhnya dan tidur memunggungi suaminya. Iya bener bodi nya Aidan bagus tapi kan nggak dipajang juga! Thara merutuk kebiasaan Aidan yang menurutnya membuat pria itu pasti cari yang hangat-hangat. Memang benar tubuh manusia memancarkan suhu hangat tapi pakai baju kan bikin hangat juga.


Lelah ngedumel, akhirnya Thara pun terlelap.


***


Thara terbangun ketika mendengar suara adzan subuh di telinganya. Matanya mengerjap sembari dirinya menyatukan nyawanya. Wait! Ini apaan?


Thara menunduk dan melihat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dan hembusan nafas hangat terasa di tengkuknya.


Lagiiii? Thara mendengus sebal. Bukan aku yang main peluk ya!


"Aidaann! Bangun!" panggil Thara sambil menepuk tangan kekar di perutnya.


"Sebentar... lagi... G" gumam Aidan di tengkuk Thara.


'G?' Siapa lagi itu?


"G? Ai, bangun.. " ucap Thara lagi.


"Kamu kok cerewet sih Ghania..."


Tubuh Thara terasa membeku. Aidan masih menyukai ibu Aruna? Hubungan mereka sejauh apa? Thara tidak memungkiri bahwa dirinya belum seutuhnya bisa menerima Aidan tapi mendengar pria itu menyebutkan nama wanita lain yang sudah menikah sekian tahun lalu, tentu saja membuat hatinya sakit.


Kita baru menikah tiga hari tapi kamu sudah memanggil nama wanita lain.


Thara melepaskan diri dari pelukan Aidan yang sedikit mengendur dan berdiri melihat wajah suaminya yang tidur tengkurap dengan wajah tampannya menghadap ke arah gadis itu.



Kamu benar-benar mencintai Ghania ya? Bahkan ketika mendengar dia datang, kamu seperti hendak bertemu kekasihmu.


Thara mengingat saat Rajendra sakit dan Aidan mendengar nama ibu Aruna adalah Ghania, pria itu langsung sumringah dan semangat hingga terburu-buru turun ke lantai satu.


Kamu memang bisa bersikap gentleman tapi perasaan tidak bisa kamu hilangkan.


Aidan membuka mata birunya dan pemandangan yang dia lihat adalah wajah Thara dan matanya yang menatap sendu ke arahnya.


"Morning... " sapanya.

__ADS_1


"Morning" sapa Thara dingin. "Ngimpi sama Ghania apa, Ai?"


Mata biru Aidan terbelalak. "Ngimpi apa Thara?" Nyawanya kini benar-benar menyatu dengan sempurna setelah mendengar ucapan istrinya. "Apa hubungannya dengan Ghania?"


"Kamu mengigau Ai dan kamu menggumam 'sebentar lagi G' , 'kamu kok cerewet sekali Ghania' ... Masih dibilang tidak ada hubungannya dengan Ghania?"


Aidan mendudukkan tubuhnya dan menatap Thara bingung. "Memang aku bilang begitu?"


Thara menatap Aidan kesal. "Sampai sejauh mana hubungan kamu dengan Ghania sebelumnya Ai? Kita menikah memang karena terpaksa tapi aku tidak ingin ada duri dalam daging di pernikahan ini. Apa kamu masih mencintai Ghania, Ai? Jujur padaku."


Aidan memandang wajah Thara. "Ya, aku masih mencintai Ghania hingga detik ini. Apa itu sudah menjawab pertanyaan mu?" Pria itu pun bangun dari tempat tidur dan berdiri di hadapan istrinya.


"Dan aku paling tidak suka, bangun tidur langsung diberikan pertanyaan yang membuat mood jelek, Thara. Kalau kamu sudah tahu jawabannya, apa hasilnya? Lega atau malah sakit?" Aidan pun berlalu dari Thara lalu menuju kamar mandi dan pintunya pun dibanting dengan keras membuat gadis itu terlonjak.


Ya Allah, apa aku salah?


***


Aidan mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air dingin. Otaknya benar-benar panas setelah Thara menanyakan sesuatu yang membuatnya tensi naik.


Apa aku mengigau sedemikian rupa? Ya ampun Aidan!


Tidak dipungkiri oleh Aidan, Ghani adalah cinta pertamanya dan satu-satunya wanita yang membuatnya terpaku.


***


Tujuh Tahun Lalu


Pria berusia 19 tahun itu memang berencana untuk menjatuhkan bom di restauran RR's Meal milik Opanya, Ryu Reeves secepatnya dan dia tidak sabar untuk merombak semuanya.


Akibat kesibukannya hampir setahun belakangan ini, Aidan sampai tidak memperhatikan sekelilingnya karena dirinya sangat fokus dengan semua tujuan dan ambisinya sampai dia melihat sebuah coffe shop kecil yang letaknya tersembunyi.


Pria itu menghentikan langkahnya dan menuju ke coffee shop itu. Selama Aidan bekerja di West End, dia memang selalu berjalan kaki tapi entah kenapa baru kali ini dia memperhatikan sekitarnya karena biasanya dia langsung pulang untuk tidur karena tubuhnya lelah.



Tempatnya kecil tapi tampak artistik.


Aidan pun menghampiri dan tampak dua orang disana sedang menyiapkan pesanan. Salah seorang adalah gadis berhijab yang wajahnya tampak tidak ada lelah padahal sudah masuk jam sebelas malam.


"Pesanannya sudah siap semua, Rich?" suara gadis itu terdengar merdu.


"Sudah G. Aku antar dulu ya" ucap pria yang dipanggil 'Rich'. "Kalau ada apa-apa, telpon polisi."


Gadis berhijab itu tertawa yang menurut Aidan seperti suara lonceng yang merdu.


"Tenang saja Rich. Sudah, kamu antar dulu." Pria bernama Rich itu meletakkan bungkusan kopi itu didalam keranjang Vespanya.


__ADS_1


"Aku pergi dulu G. Eh ada pelanggan. Silahkan" pria bernama Rich itu melihat ke arah Aidan. "Ada teman saya kok disana" ucapnya sambil naik ke atas Vespanya dan berangkat mengantarkan pesanan.


Aidan pun menghampiri cafe imut tersebut dan melihat si gadis berhijab sedang mencuci beberapa gelas dan sendok disana.


"Assalamualaikum" sapa Aidan.


"Wa'alaikum salam" balas gadis itu sambil berbalik. "Wah, Alhamdulillah ada yang datang."


Aidan terpana melihat wajah cantik di hadapannya yang memberikan senyum manis menenangkan.


"Anda mau pesan apa tuan?" tanya gadis itu menatap Aidan.


"Ehem... cappucino dengan dua sendok teh gula, pakai krim kental tiga sendok teh plus bubuk choco di atasnya."


Gadis itu mengangguk dan tak lama jadilah cappucino pesanan Aidan.



"Gorgeous" puji Aidan. Sebagai chef profesional, pria itu tahu makanan dan minuman enak atau tidak.


"Terimakasih" ucap gadis itu sambil tersenyum dan Aidan terpana untuk kesekian kalinya.


"Namaku Aidan Richard. Kamu?" Aidan mengulurkan tangannya dan disambut gadis itu hanya ujung jarinya dengan jarinya.


"Ghania Andhara."


"Kamu orang Indonesia?" tanya Aidan dengan bahasa Indonesia yang membuat gadis itu terkejut.


"Iya. Kok anda bisa berbahasa Indonesia?" Ghania membalas dengan bahasa Indonesia juga.


"Mamiku orang Solo, Indonesia. Papiku orang Inggris tapi gen ku lebih kuat bulenya" senyum Aidan.


"Alhamdulillah ada orang sekampung meskipun casingnya tidak meyakinkan" kekeh Ghania.


"Lho kamu memang orang mana?"


"Aku juga wong Solo lho" senyum Ghania manis.


Aidan tersenyum lebar.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1



Visualnya Ghania dan Aksara Lewis


__ADS_2