
Rajendra menikmati liburan bersama dengan Arjuna, Sekar dan adiknya Rama ke kastil milik Opa Elang dan Oma Rain. Setelah pasukan Husky peliharaan Oma Rain rip, Opa Elang memutuskan memelihara dua ekor anjing German Shepherd yang diberi nama Tintin dan Haddock, serta seekor Belgian Malinois yang diberi nama Thor.
Tintin dan Haddock
Thor
Ketiga anjing yang masih satu rumpun itu menyambut hangat keluarga Rajendra dan seperti biasa, Thor langsung mengambil talinya dan memberikan pada remaja itu untuk minta jalan-jalan.
Dari semua anjing peliharaan Rain, Thor paling dekat dengan Rajendra dan meskipun Rajendra lama tidak pulang, anjing pelacak itu tetap mengingatnya.
"Oma, aku bawa Thor jalan-jalan ya" ucap Rajendra meminta ijin pada omanya.
"Jangan jauh-jauh, Jendra. Seputaran sini saja" balas Elang mewakili Rain karena istrinya sedang di dapur bersama Sekar.
"Njih Opa." Rajendra memasang tali di colar Thor lalu pergi keluar. Arjuna memberikan kode kepada dua pengawal di kastil Elang untuk mengikuti putranya.
Elang hanya tersenyum melihat Arjuna menjadi over protective setelah kasus nyaris ditusuknya Rajendra oleh salah satu teman kuliahnya.
"Rajendra bisa membela dirinya, Juna" ucap Elang menenangkan putranya.
"Tetap saja Dad, Juna khawatir." Arjuna menatap ayahnya yang masih awet tampan meskipun sudah berumur.
"Juna, Jendra anak yang kuat. Berikan kepercayaan kepadanya seperti halnya saat dia mengalami peristiwa penculikan waktu kecil. Dad tidak bilang dia tidak trauma, pasti adalah rasa itu apalagi Jendra masih lima tahun saat itu. Biarkan Jendra menata emosinya dan hatinya agar bisa berkompromi dengan lukanya."
Arjuna terdiam. "Mungkin Dad benar. Aku yang terkadang merasa Jendra masih saja seperti anak kecil yang harus dilindungi sedemikian rupa."
"Perasaan orangtua dimana-mana sama, Juna. Kami saja terkadang masih menganggap kamu masih SMA lho padahal sudah jadi ayah dua anak remaja" kekeh Elang. "Mau kamu sudah nikah punya anak, tetap saja di mata kami, kamu tetap masih kecil."
"Astaga Dad! Ini umur aku sudah kepala empat" sungut Arjuna sebal.
Elang terbahak. "Rasanya baru kemarin Dad melihat mommymu duduk di meja taman sambil membaca buku resep papa Ryu, eh sekarang sudah ada anak dan cucu."
"Time flies so fast Dad."
"Doakan kami sehat dan panjang umur agar bisa melihat Rajendra dan Rama menikah. Supaya hati Dad dan mommymu ayem kalau cucu kami sudah mendapatkan pasangan yang sangat mencintai mereka."
Arjuna memeluk ayahnya. "Aamiin, Dad."
***
"Rajendra!"
Rajendra menghentikan jalannya dan menoleh ke sumber suara dan tampak Aruna turun dari mini Cooper nya yang terparkir di halaman kastil McCloud. Gadis itu terbiasa datang ke kastil hanya untuk memasak atau mengobrol dengan Rain dan Elang di waktu luang jadi semua pengawal hapal dengan Aruna.
"Eh sayangku. Ada apa kemari?" tanya Rajendra tersenyum kepada kekasihnya.
"Mengantarkan sayuran dari kebun buat Oma Rain." Aruna memanggil Kent, tukang kebun kastil untuk membawa beberapa kotak berisikan sayur hasil panen dari kebun keluarga Lewis.
"Astaga, mobilmu dipakai buat bawa sayur begitu sampai kotor begitu" kekeh Rajendra.
"Ah mobil klasik saja kok" senyum Aruna yang memang membawa mini Cooper klasik tahun 70an yang sudah direstorasi di bengkel milik Arjuna.
__ADS_1
Rajendra tersenyum. "Mau ikutan ga?"
"Kemana?" tanya gadis berhijab itu.
"Jalan-jalan sama Thor" Rajendra menunjuk arah anjing bewarna coklat yang duduk manis di sebelahnya.
Aruna pun berjongkok. "Kamu kangen ya Thor sama orang satu ini ya?" ucapnya sambil mengusap kepala Thor.
Thor pun menggonggong seolah mengerti ucapan Aruna.
"Gimana? Ikut?" seringai Rajendra.
"Ikut lah!" Aruna pun berdiri lalu keduanya berjalan-jalan bersama Thor dengan kawalan dua pengawal di belakang mereka.
***
Pandu dan Reana kini berada di apartemen pria itu setelah acara makan malam di sebuah restauran daerah Tunjungan.
Reana melihat apartemen milik Pandu yang sederhana bukan yang mewah seperti standard para manager executive. Gadis itu menatap pemandangan dari jendela apartemen yang menunjukkan masih ramainya jalanan kota Surabaya.
"Kamu kenapa princess?" tanya Pandu yang sudah membawa dua cangkir kopi.
"Aku heran sama kamu mas" ucap Reana.
"Kenapa?" Pandu duduk di meja makan.
"Apartemen kamu kok seperti ini?" tanya Reana.
"Memangnya kenapa?"
"Biasa dan sederhana sekali" senyum Reana.
Reana mengelilingi apartemen milik Pandu yang hanya ada foto dirinya dan Pandu
"Yang penting aku ada tempat untuk istirahat dengan tenang dan ada fotomu" senyum Pandu.
Reana tertawa. "Ternyata kamu itu romantis ya mas."
"Baru tahu? Kesini princess" pinta Pandu.
"Ada apa?" tanya Reana.
"Kemari princess."
Reana pun berjalan ke arah Pandu yang sedang duduk. "Ada apa mas?"
Pandu menarik tangan Reana, meraih tengkuknya dan mencium bibirnya.
Reana meresapi cara Pandu mencium bibirnya, betapa perasaan cinta pria itu tersalurkan dari bibirnya. Lama mereka saling berpagutan hingga Reana duduk di pangkuan Pandu.
Pandu melepaskan pagutannya dan memindahkan bibirnya ke sisi rahang gadis itu membuat Reana mendongakkan lehernya.
"Mas... " bisik Reana.
"Apa sayang?" gumam Pandu di ceruk leher gadisnya yang harum bunga lembut.
__ADS_1
"Stop, mas. Ini sudah terlalu jauh" ucap Reana parau.
Pandu menghentikan ciumannya lalu menangkup wajah Reana. "Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, mas."
"Kapan kamu selesai kuliahnya?" tanya Pandu.
"Masih dua tahun lagi. Kenapa mas?"
"Aku akan menghalalkan dirimu setelah kamu lulus terlepas bapakku setuju atau tidak" jawab Pandu tegas.
Reana terharu mendengar ucapan Pandu. "Mas serius?"
Pandu mendelik. "Serius lah sayang. Aku jika melakukan segala itu serius apalagi menyangkut dengan wanita yang aku cintai."
Reana tersenyum lalu memeluk leher Pandu dan mencium ujung hidung pria itu. "Terimakasih, mas. Dan sekarang, tolong aku diantar pulang ke hotel." Reana bangun dari pangkuan Pandu.
"Kamu tidak tidur disini saja?" goda Pandu.
"No, mas. Bahaya !" cebik Reana sambil manyun.
Pandu terbahak lalu bangkit dari kursinya dan memeluk Reana sambil mencium kening gadis itu.
"Berdekatan dengan mu memang berbahaya untuk hati dan juniorku" kekeh Pandu.
"Meshum!" protes Reana sambil memukul dada Pandu pelan.
***
Pagi harinya, bandara Juanda Surabaya
Seorang pria bertubuh tinggi dengan tubuh kekar berjalan menuju pintu kedatangan dengan gaya santainya. Wajah tampannya tertutup dengan kacamata hitam dan dia membawa duffle bag Louis Vuitton menuju ke tempat taksi.
Setelah mendapatkan taksi, pria itu meminta diantarkan ke hotel Mercure. Pria itu lalu mengambil ponselnya dan memencet sebuah nomor.
"Re, kamu di kamar berapa?"
"..."
"Aku sekarang berada di Surabaya dan ini perjalanan ke hotel Mercure."
"..."
"Oke aku kesana."
Pria berambut pirang itu tersenyum smirk dan tidak sabar untuk menemui saudara kembarnya.
***
Yuuuhhuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️