
Keesokan harinya rombongan Tokyo dan Jakarta pulang karena pasangan masing-masing sudah ribut kenapa para pria lama sekali pulangnya.
Joshua bersama kedua menantunya, Mario dan Marco Bianchi serta iparnya Masayuki kembali pagi ini, begitu juga dengan rombongan Jakarta, Gozali, Arya dan Iwan.
Kai Al Jordan yang mengantarkan mereka semua ke bandara merasa sepi setelah hampir dua Minggu mereka berada di Dubai.
"Sering-sering ke Dubai lah kalian itu" ucap Kai yang ditemani Reyhan, sang anak.
"Kapan-kapan kita akan kesini lagi tapi dalam rangka liburan. Tampaknya Miki dan kedua anakku beserta cucuku akan liburan sekolah disini" ucap Joshua.
"Cucumu itu Joey dan Luca ya Josh?" tanya Kai.
"Yes. Joey anaknya Josephine dan Mario, Luca anaknya Marissa dan Marco" jawab Joshua.
"Lihat Jeremy, kamu, Duncan sudah punya cucu, rasanya aku ingin segera punya cucu tapi Reyhan masih demen cari minyak bukan cari calon istri" sindir Kai ke putranya.
"Yah, papa mulai lagi! Pa, aku masih 25 tahun, santai sajalah!" ucap Reyhan sambil manyun.
"Namanya jodoh kita tidak tahu kapan akan hadir" senyum Joshua sok bijak.
"Lebay lu, Josh. Mentang-mentang dulu jodoh lu depan mata" gelak Kai.
"Lho memang Oom Joshua sama Tante Miki dijodohkan?" tanya Reyhan bingung.
"Nggak, tapi Oom Joshua mu sampai menunggu 15 tahun buat melamar Tante Miki yang udah ditaksirnya sejak Oom mu usia sepuluh tahun" kekeh Kai.
"Oom berpikir kalau tidak saat itu juga melamar Tante Miki, bakalan kehilangan." Joshua tersenyum.
"Memang keluarga kita hobinya nekad-nekad kalau udah jatuh cinta" sahut Gozali.
"Dia mah pakai acara drama Korea abal-abal" kekeh Joshua ke Gozali.
"Eiji tuh yang bikin perkara."
"Untung Eiji nggak ikut kemari, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau duo bapak sama anak itu sama-sama semangatnya menghancurkan semuanya." Kai tertawa kecil.
"Rusuh kalau si pianis lebay itu ikutan. Untung dia lagi konser keliling dunia jadi tidak bisa datang" cengir Joshua.
***
Thara, Sabine, Aisyah dan Rajendra tampak asyik membuat roti canai dan kari kambing bersama Fatimah dan Tamara. Karena hari ini hari Sabtu, para pria pun berada di rumah kecuali Kai dan Reyhan yang sedang mengantar rombongan Tokyo dan Jakarta.
"Rotinya begini ya Oma?" tanya Rajendra ke Tamara dan Fatimah.
"Benar. Wah Rajendra pintar ih" puji Fatimah.
Bocah tampan itu tersenyum lebar.
"Benar-benar Cicitnya Opa Ryu Reeves" kekeh Sabine. "Gimana perasaanmu Thara? Much better?"
"Alhamdulillah. Sudah lega dan tenang apalagi tahu Abah dan Umi masih hidup semua."
"Bersyukur kamu dan Rajendra selamat semuanya" timpal Tamara.
"Iya, Alhamdulillah Tante."
***
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Para pria klan Pratomo yang sedang berkumpul di ruang tengah yang luas itu pun menoleh dan melihat Alex Ghaidan berdiri disana sembari membawa tas ransel dan tabung yang berisikan gambar blueprint istana Al Azzam.
"Wa'alaikum salam" sapa semua orang disana kecuali Karl yang menatap sebal ke pria berdarah Arab itu.
"Masuk Lex. Ada apa nih?" tanya Senna.
"Ini Sir, saya barusan dari lokasi ada yang mau saya pastikan kembali ke tuan Al Azzam." Alex pun masuk ke dalam ruang tengah.
Aidan dan Arjuna hanya melirik ke arah Karl yang hanya memasang wajah datar cenderung kesal.
"Kita ke ruangan kerja saja Lex. Mari pak Hasyim" ajak Senna ke Hasyim Al Azzam.
Ketiga pria itu pun masuk ke dalam ruang kerja Senna meninggalkan para klan Pratomo yang tersisa.
"Rivalmu datang tuh, Karl" goda Aidan.
"Shut up Ai!" sahut Karl kesal.
"Karl, boleh Oom kasih saran?" ucap Elang.
"Monggo Oom."
"Jangan kasih kendor buat mendekati Sabine."
Arjuna, Aidan dan Karl melongo.
"Ya ampun Pa, kirain nasehat apaan! Jebule itu doang?" Arjuna memegang pelipisnya.
"Lho bener kan?" seringai Elang. "Buktinya papa sama Mama. Sampai semua keluarga tidak terima papa, tapi papa ngeyel!"
"Iya sih, sampai mama kena tembak, papa juga. Kalian itu benar-benar pasangan gila!" umpat Arjuna.
Aidan hanya tersenyum sedangkan Karl hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia cukup tahu bagaimana keluarga sahabatnya benar-benar gila.
Suara ponsel Arjuna pun berbunyi dan tampak nama 'Sekarku Sayang' muncul di layar.
"Assalamualaikum istriku yang cantiknya paripurna" sapa Arjuna dengan sumringah.
"Wa'alaikum salam. Kapan kalian pulang? Sudah dua Minggu di Dubai lho" suara merdu Sekar terdengar di telinga Arjuna.
"Besok kami pulang. Ini Rajendra lagi belajar membuat roti canai resep otentik Tante Fatimah dan Tante Tamara." Arjuna menatap Elang dan Aidan yang dijawab anggukan tapi tidak dengan Karl.
"Oke. Kami tunggu, sayang" ucap Sekar.
***
"Yuk makan siang" ajak Fatimah kepada para kaum pria disana bertepatan dengan Senna, Hasyim dan Alex selesai berdiskusi.
"Menunya apa sayang?" tanya Senna kepada istrinya.
"Macam-macam tapi roti canai nya yang buat Rajendra" senyum Fatimah.
"Wah hebat" puji Senna.
Kini mereka semua berada di ruang makan dan Sabine duduk diantara Karl dan Alex Ghaidan yang membuat Aidan dan Arjuna tersenyum geli.
Kai dan Reyhan yang baru saja datang setelah mengantarkan rombongan Jakarta dan Tokyo pun ikut bergabung di meja makan.
Reyhan melirik ke kedua sepupunya yang hanya menatap geli ke arah Sabine.
__ADS_1
"Apakah akan ada perang Bharatayudha?" bisik Reyhan yang duduk di sebelah Aidan.
"Kita tunggu saja" seringai Aidan.
Arjuna dan Rajendra yang duduk sebelahan hanya memandang Sabine yang tampak tidak nyaman berada diantara dua pria tampan.
"Menunya banyak banget! Emang habis ini?" komentar Kai.
"Abang, pelayan di rumah kan banyak" Tamara tersenyum.
"Aku lupa" cengir Kai.
***
"Kamu mau maem yang mana, nona Sabine? Aku ambilkan" tawar Alex.
"Thanks Alex tapi aku bisa mengambil sendiri" ucap Sabine sopan. Karl yang mendengar hanya tersenyum tipis.
Kan, ditolak kan?
"Besok kami pulang ya" ucap Elang. "Aku dan Arjuna sudah terlalu lama meninggalkan Rain dan Sekar serta Rama."
"Lho kalian jadi pulang besok?" tanya Senna.
"Iya. Kami rombongan London akan pulang besok, lagipula Rajendra tertinggal lama sekolahnya dan dia sudah rindu dengan teman-temannya" lirik Arjuna ke putranya yang masih lempeng makan nasi biryani dan sate kambing.
"Apakah kamu sudah tidak sabar rindu dengan Aruna?" goda Thara.
Aidan dan Arjuna melongo. "Kamu tahu Aruna?"
Thara mengangguk. "Gadis cilik yang cantik, mengenakan hijab."
Arjuna menoleh ke putranya. "Aruna berhijab boy?"
Rajendra mengangguk.
"Papa jadi penasaran seperti apa sih Aruna?" kekeh Arjuna.
"Memang siapa Aruna?" tanya Reyhan.
"Gebetannya Rajendra. Kalian semua yang dewasa kalah sama anak umur lima tahun yang sudah memantapkan hati" gelak Arjuna durjana.
"Orang dewasa kebanyakan mikir. Suka mah bilang suka aja!" sahut Rajendra songong.
Semua orang disana menatap Arjuna tajam.
"Aku nggak ngajarin!" tukas Arjuna.
***
Yuhuuu Up Siang
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
Maaf telat ... sibuk halal bihalal 😁😁😁🙏🙏🙏