
MB Enterprise Manhattan New York
Abi menatap layar MacBook ny dengan perasaan galau. Percakapannya dengan Gandari kemarin membuatnya berpikir apalagi pagi ini dirinya berhasil mendapatkan gambar rumah milik orangtua gadis itu yang termasuk di daerah atas Semarang. Rumah yang cukup bagus meskipun termasuk rumah lama tapi luas tanah sekitar 300 meter di Semarang Selatan memang harganya semakin naik.
"Haaaaahhh! Menyebalkan!" umpatnya. "Masa minta bantuan Oom Iwan?"
Abi bingung kalau minta tolong Oomnya nanti laporan ke mami. Bisa diomelin nanti. Kalau ke Semarang sendiri... alasannya apa? Apa ke solo
saja ya?
Cucu Duncan Blair itu menyeringai licik. Bi Abi, percuma kamu cumlaude di MIT kalau elu kagak bisa mikir dan licik.
***
Kaia mendelik ketika Abi meminta ijin pergi ke Solo seminggu. Tidak ada angin, hujan atau topan badai ada apa anak sulungnya ke Solo.
"Ngapain?" tanya Kaia.
"Kangen gudeg adem ayem" jawab Abi cuek.
"Astaghfirullah! Kamu macam Oom Levi mu saja pas Tante Yanti hamil Hoshi. Kamu hamilin anak orang mana?"
Abi menganga. "Astaghfirullah mamiii! Ini masih belum diapa-apain kok malah mikir hamilin anak orang sih!" protes Abi tidak terima. "Masih orisinil mami! Masih pure!"
Kaia terbahak. "Percaya. Tapi kamu ya aneh sih Bi. Tiba-tiba kok pengen gudeg adem ayem." Kaia memicingkan matanya. "Kamu tidak mau kepo soal rumah Gandari di Semarang kan?"
Abi hanya mengusap tengkuknya ketahuan misinya oleh sang mami.
"Bi, mami tahu kamu paling tidak suka ada orang yang serakah tapi kamu bukan apa-apanya Gandari meskipun mami tahu kamu mulai tertarik dengan anak cantik itu."
Abi hanya terdiam.
"Bi, tidak semuanya harus kamu selesaikan olehmu. Memangnya kalau kamu bisa ambil alih rumah milik Gandari, gadis itu tidak tersinggung? Beda ceritanya jika dia memang butuh bantuan kamu."
Diam - diam Abi membenarkan ucapan maminya. Iya kalau Gandari bisa menerima tapi kalau tidak. Bakalan dibenci seumur hidup dong!
"Bi, kalau memang kamu mau membantu, ngomong baik-baik sama Gandari. Apapun keputusan anak itu, kamu harus menghormatinya. Bukan kamu paksa terus. Mami tahu kamu panasan tapi tidak semua harus sesuai karepnya kamu." Kaia menatap putranya yabg semakin mirip dengan sang Papi Duncan.
"Iya mi." Abi hanya menghela nafas panjang.
***
Abi menunggu Gandari di museum of modern art dan dia sudah menghubungi gadis cantik itu. Tak lama Gandari pun datang dan memberikan senyuman kepada Abi yang hanya terkesima.
"Maaf, nunggu lama ya mas?" tanya Gandari.
"Nggak juga. Kamu kesini naik mobil sendiri atau taksi?"
"Aku tadi naik Uber mas. Kesiangan bangun. Nggak tahu tadi habis subuhan kok ngantuk... eh kebablasan tidur deh" kekeh Gandari.
"Ya udah, yuk aku ajak makan malam sekalian" Abi menghela punggung Gandari. "Nanti sekalian aku antar pulang ke apartemen."
__ADS_1
"Nggak repotin mas Abi?" Gandari mendongak ke wajah tampan Abi.
"Nggak lah! Wong sudah diniatin" cengir Abi sambil membukakan pintu mobil Range Rover nya.
***
RR's Meal Hell's Kitchen
Rajendra menatap tidak percaya melihat sepupunya Abi datang bersama dengan seorang wanita asing. Rajendra belum pernah bertemu dengannya dan Abi dikenal paling jarang pergi berdua dengan seorang wanita selain sepupunya.
"Apa hal ini? Tumben bawa cewek" goda Rajendra.
"Shut up Jendra. Gandari ini sepupu aku, Rajendra McCloud pemilik RR's Meal America Region. Jendra, ini Gandari Pramudhita, direktur Museum Of Modern Art di Manhattan." Abi memperkenalkan keduanya.
"Suatu kehormatan bisa bertemu salah satu chef terkenal" senyum Gandari.
"Thanks Gandari. It's okay kan aku panggil begitu? Kamu bisa manggil saya Jendra" balas ayah satu anak itu.
"It's okay, mas Jendra. Tak apa kan saya panggil mas Jendra? Soalnya buat orang Indonesia, agak kagok kalau panggil nama langsung ya" senyum Gandari.
"Adabnya begitu kan Ndari" timpal Abi yang membuat Rajendra melongo.
"Ndari?" tanya Rajendra.
"Lho paling enak kan manggilnya begitu kan?" Abi menatap Rajendra bingung.
"Iyain ajah lah biar cepet!"
"Kalian mau ke VIP room atau mau disini?" tanya Rajendra.
"Sini saja tak apa kan Ndari?" tanya Abi.
"Tak apa." Gandari duduk setelah Abi menarik kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk. "Terimakasih."
"Kalian pesan apa?" tanya Rajendra.
"Seperti biasa, Jendra. Menu yang ada hari ini" jawab Abi.
"Ok. Aku tinggal dulu ya Gandari" pamit Rajendra. "Bi. Good luck." Rajendra menepuk bahu Abi.
***
"Aku kaget ketika mas Abi ngajak kemari. Kan buat masuk sini saja harus waiting list sampai beberapa Minggu" bisik Gandari sambil melihat sekelilingnya yang merupakan para orang-orang terkenal dan selebritis. Bahkan tadi mereka masuk saja, Abi menyapa beberapa kenalannya dan Gandari juga bertemu dengan para kliennya.
"Khusus klan Pratomo, ada perkecualian. Kami bahkan punya ruangan tersendiri untuk kumpul keluarga dan khusus hanya Keluarga."
Gandari mengangguk paham. "Makanya tadi mas Jendra menawarkan disini atau VIP karena aku bukan anggota keluarga?"
"Bisa dikatakan begitu." Belum saja Ndari.
Gandari tersenyum tanpa merasa tersinggung karena tahu keluarga orang kaya punya aturan tersendiri. "Mas Abi minta bertemu dengan aku dalam rangka apa? Aku yakin bukan karena lukisan atau barang seni lainnya kan?"
__ADS_1
Abi hanya mengeluarkan ipadnya dan menunjukkan sebuah gambar rumah. Gandari terkejut melihat bagaimana rumah miliknya sudah berubah.
"I...ini?" Gandari menatap wajah Abi. "Mas Abi?"
"Aku sudah mendapatkan lokasi rumah kamu dan sekarang posisi rumah itu hendak dijual. Terserah kamu mau gimana. Kalau mau perhitungan dengan paman kamu, aku akan senang hati membantu."
"Dijual? Dijual? Setelah hampir 15 tahun direbut? Tidak bisa !" nada suara Gandari mulai meninggi. "Mereka tidak ada hak!"
"Apa kamu punya sertifikat yang asli?" tanya Abi. "Mungkin kamu masih SD jadi tidak paham."
Gandari tampak berpikir. "Mas, sebelum kami pergi, mama aku sempat menitipkan banyak kunci ke aku..."
"Dimana sekarang kunci-kunci itu?" Mata coklat Abi tampak antusias.
"Disimpan mommy Jen karena menurut mommy, sebelum aku pingsan, sempat bilang kunci. Dan itu ada dalam satu tas. Aku sampai lupa akan hal itu jika mas Abi tidak bil... Apakah ada yang disimpan mana aku?" Wajah Gandari tampak penasaran.
"Sekarang mommy Jen dimana?" tanya Abi.
"Di Connecticut. Kan Daddy Jason dan mommy Jen dosen di Yale" jawab Gandari.
"Bagaimana? Kamu mau rebut kembali rumah peninggalan kedua orang tua kamu? Jika butuh pengacara, sepupu aku Travis Blair bisa bantu."
Gandari menatap Abi bingung. "Kenapa mas Abi berbaik hati mau membantu aku? Padahal kita baru kenal."
"Entahlah tapi aku memang ingin membantu kamu. Lagipula, aku tidak suka dengan orang-orang serakah apalagi keponakan sendiri yang yatim piatu! Kan bajing loncat!" gerutu Abi.
Gandari hanya tersenyum. "Terimakasih. Dan mungkin ini waktunya aku mengambil kembali milik aku."
"Good girl!"
Ojo judes judes tho mas...
Misi mengambil rumah dimulai
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf aku tadi ngelayat dulu
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1