
Giandra Otomotif Co Building New York
Gandari menatap Travis bingung. "Mas Travis, bukannya Lukman masih kritis kok aku harus memberikan ijin mencabut alat penopang kehidupannya?"
"Iya lho Vis. Kalau dalam posisi koma, mungkin masuk akal" timpal Abi.
"Karena memang seperti adanya" jawab Travis. "Akibat luka di tubuhnya, lambung robek dan yang aku belum sampaikan kepalanya mengalami benturan keras hingga koma sekarang."
Abi dan Gandari terkejut. "Astaghfirullah. Kok kamu ga bilang, Vis?"
"Ini bilang."
Rasanya Abi ingin melempar kotak bento ke wajah tampan sepupunya.
"Jadi sekarang dalam kondisi koma?" tanya Gandari yang dijawab anggukan Travis.
"Lalu ketiga anaknya kemana?" tanya Abi.
"Ini masih dicari."
Gandari hanya menatap Abi dan Travis bergantian. Hatinya benar-benar rasanya nano-nano.
***
Kediaman Frank Connecticut
Sepulang dari kerja di galeri, Gandari memutuskan untuk pulang ke rumah kedua orangtuanya di Connecticut yang membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan mobil. Gandari tadi sudah meminta ijin pada Abi karena dia ingin menenangkan diri di rumah Jason dan Jennifer.
Abi pun paham kondisi Gandari dan memberikan ijin ke tunangannya dengan catatan harus hati-hati.
Dua setengah jam kemudian setelah melewati macet, Gandari tiba di rumah kedua orangtuanya yang langsung menyambutnya dengan hangat.
***
"Jadi Anggita sudah meninggal bunuh diri?" tanya Jennifer saat mereka makan malam bersama.
"Iya mom. Dia tidak tahan tinggal di penjara seumur hidupnya. Apalagi selama ini dia terbiasa hidup mewah dengan kasur empuk. Sekarang dia harus tinggal di sel sempit dan berbaur dengan orang-orang yang dianggapnya levelnya dibawah dia, membuat Anggita depresi."
Jason menatap putri angkatnya. "Itu namanya hukum tabur tuai. Mungkin yang namanya karma tidak datang langsung seketika tapi apa yang kamu perbuat adalah yang kamu terima."
"Abi gimana Gandari? Apa komentarnya?" tanya Jennifer.
"Mas Abi sih semua tergantung aku. Tapi aku sih berharap agar Lukman bangun dari koma supaya masih diberikan kesempatan untuk bertaubat mom. Dan kalaupun worst scenario harus dilepas alat bantunya, jangan aku yang memberikan ijin. Karena sama saja aku menjadi pembunuh meskipun kemarin aku memang ingin membunuhnya tapi tidak seperti ini jalannya."
"Semoga ketiga anaknya Lukman bisa ditemukan agar kamu tidak terbebani" ucap Jason.
"Aamiin Dad."
***
__ADS_1
Penthouse Keluarga O'Grady Manhattan
Rhett dan Kaia menatap putranya dengan perasaan campur aduk. Bagaimana tidak mendengar cerita Abi soal kondisi ketiga orang yang dipenjara, ketiga anak Anggita menghilang, Anggita bunuh diri dan Gandari yang diminta menjadi orang yang diminta ijin jika harus mencabut alat bantu kehidupan Lukman yang koma, merupakan berita bertubi-tubi membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa.
"Gandari gimana Bi?" tanya Kaia.
"Ndari sih masih bingung dengan banyaknya informasi yang diberikan Travis. Sekarang dia di Connecticut menginap disana sekalian mencari ketenangan bersama kedua orangtuanya."
"Kasihan Gandari. Dikira sudah selesai, ternyata masih ada lanjutannya." Kaia menatap putranya.
"Tapi Anggita tuh pengecut lho Z" celetuk Rhett.
"Kok bisa?" Kaia menatap suaminya.
"Iyalah, kan dia mengambil jalan pintas dengan bunuh diri karena tidak tahan seumur hidup tinggal di penjara. Padahal kalau dia sadar dan tahu maksudnya, Tuhan itu memberikan kesempatan untuk bertaubat karena kesalahannya tapi dia malah mengambil jalan yang paling singkat." Rhett tersenyum ke arah istrinya.
"Dia pasti tidak kebayang setiap hari, 24 jam, seumur hidup berada di penjara dan bisa membuatnya gila" gumam Kaia.
"Makanya aku bilang dia mengambil jalan pintas" sahut Rhett.
Abi hanya terdiam mendengarkan percakapan kedua orangtuanya. Anggita memang pengecut!
***
PRC Group Building Manhattan
Reana dan Pandu datang ke kantor berbarengan dengan Abi yang baru saja sampai.
"Lagi suntuk!" sahut Abi. "Mau ke ruangan mu saja."
"Oom Levi nggak cariin mas Abi nanti?" Reana langsung menggandeng Abi dan Pandu bersamaan masuk ke lift dari parkiran.
"Udah bilang sama Oom Levi kalau aku mau kemari."
"Ada masalah apa Bi?" tanya Pandu.
"Gandari."
Reana menatap horor ke Abi. "Jangan bilang dia membatalkan pertunangan kalian gara-gara cincin gelinding terus membuat dia tidak yakin sama mas Abi."
Abi melotot mendengar analogi adiknya. "Enak saja! Doamu kok jelek sih?"
Reana tertawa. "Lha Wis, mas Abi ya ngunu. Aneh-aneh wae pas lamaran kok isi cincinnya gelinding."
Pandu hanya tersenyum melihat keributan kedua saudara kembar itu.
"Apa kasus keluarga Gandari belum selesai, Bi?" Pandu menengahi keduanya.
Suara pintu lift terbuka dan mereka sampai di lantai tempat ruangan Reana bekerja.
__ADS_1
"Kita cerita di ruanganmu saja ya dik."
Pandu tahu iparnya sedang galau tapi dia tidak mau membuat Abi tidak nyaman. "Aku ada di ruangan ibu ya sayang." Pandu lalu mencium kening dan bibir Reana lalu berjalan menuju ruangan Kaia setelah berpamitan dengan Abi.
"Yuk mas. Ke ruanganku." Reana pun lalu membuka tempat kerjanya.
***
"Bunuh diri? Astaghfirullah Al Adzim... Terus sekarang Lukman nya koma?" Mata biru Reana membelalak mendengar cerita Abi.
"Iya dan yang menjadi beban Ndari adalah dia ditunjuk oleh dokter jika sewaktu-waktu mereka sudah hands up dengan kondisi komanya Lukman."
"Terus mas, yang membiayai Lukman siapa? Itu butuh biaya tidak sedikit lho" celetuk Reana.
"Travis sudah mengurus asuransi milik Lukman melalui pak Rahman. Jadi sudah tercover lagipula negara juga membiayai karena ini insiden yang sudah diperhitungkan kemungkinan besar akan terjadi."
"Anak-anaknya tidak tahu kemana ya mas?"
Abi menggelengkan kepalanya. "Pihak kepolisian Purworejo tidak menemukan mereka. Kemungkinan sudah pindah lagi dan biarkan aparat sana yang mencari."
Reana memegang tangan Abi. "Aku yakin Gandari bisa menghadapi masalah ini dengan kepala dingin."
"Tapi kan kasihan, dik. Ndari jadi terbebani."
"Mas, itu memang sudah jalannya." Reana menatap lembut ke kembarannya.
Abi langsung memeluk adiknya. "Hu um. Bagaimana kamu dengan Pandu? Baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah. Mas Pandu dan aku baik-baik saja meskipun kami belum dikaruniai anak."
"Sabar. Kan kita tahu masalahnya dimana dan itu bukan kesalahan kamu. Lagipula, Allah itu akan memberikan rejeki tepat pada waktunya. Mungkin sekarang kamu dan Pandu belum diberi anak karena kalian masih disuruh pacaran legal gara-gara dipisahkan mami dulu" kekeh Abi.
"Hahahaha... Benar itu mas. Pacaran legal" cengir Reana. "Itu jauh lebih nikmat mas. Pacaran kebablasan tapi ada surat nikah."
"Menyenangkan ya dik?" tanya Abi.
"Sangat mas! Nanti mas Abi merasakan sendiri sama Gandari." Reana menepuk paha Abi. "Sudah jangan galau. Masa Andrew Abiyasa Blair O'Grady jadi gampang galau begini? Gak cocok sama perawakan mas" gelak Reana.
"Sialan kamu!" sungut Abi sambil tersenyum.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Yang nunggu Leia, belum lolos euy
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️