My Cold Chef

My Cold Chef
Jika itu Menimpa Cucu Anda, Apa Yang akan Anda Lakukan?


__ADS_3

"Neil Blair" bisik Hamid. Dia tidak menyangka bahwa omongan Duncan Blair memanggil Neil Blair menjadi kenyataan.


"Kita ketemu lagi ya Hamid" seringai Neil Blair. "Tenang, Najwa berada di tempat yang aman jadi semua catatan kejahatan mu sudah aku simpan rapi. Itu baru dari Najwa saja, belum para gundikmu yang kamu siksa jika bosan."


"Neil, what's going on?" tanya Duncan.


"Akan aku jelaskan nanti." Neil mengangguk ke arah sepupunya. "So, aku tidak perlu basa basi karena mau kamu elak bagaimana pun, semua bukti kejahatan sudah diketahui pihak kepolisian dan khayalak. Jadi, langsung saja. Kamu tanda tangani semua pengalihan aset Al Azzam kembali ke pemiliknya yang sah sebelum kamu disidang dengan hukuman yang kita tahu seperti apa." Neil menatap tajam. "Sign it! All of it!"


Hamid menatap lemas ke semua berkas pengalihan aset yang selama ini dia dan kedua anaknya kuasai.


"Kamu sudah terlalu kenyang hampir 30 tahun kau kuasai. Tidak ada pesta yang tidak bubar, Hamid." Hasyim menatap tajam ke saudara angkatnya. "Kamu benar-benar son of the B1tch! Dulu aku mungkin tidak berdaya melawanmu dengan propaganda ke semua kepala suku. Tapi kini, kamu berurusan dengan keluarga yang salah!"


"Kami tidak akan berbuat brutal seperti kemarin jika kalian tidak memulai. Kedua anakmu pantas mendapatkan hukumannya mengingat kejahatan keduanya mungkin membuat Cairo Museum penuh dengan catatan!" timpal Neil. "Kalau kamu berpikir kamu sudah mampu berkuasa seperti mafia, pikir ulang. Siapa yang lebih mafia darimu?"


Hamid hanya bisa terdiam. Dia sudah kalah, sudah kehilangan segalanya. Hamid selalu menganggap dengan menyingkirkan Hasyim dan istrinya, akan beres semua. Ternyata tidak ada yang abadi...


Takkan selamanya tanganku mendekapmu


Takkan selamanya raga ini menjagamu


Jiwa yang lama segera pergi


Bersiaplah para pengganti


Tak ada yang abadi


***


Thara sudah mulai tampak semangat lagi, apalagi dirinya mengetahui kedua orangtua kandungnya masih hidup semua membuat hatinya merasa tenang. Aisyah tidak bergeming dari kamar Thara dan selalu mendampinginya seolah ingin menggantikan waktu yang hilang selama 23 tahun.


Rajendra sekarang kedatangan Oma Fatimah yang mengingatkan dirinya ke Oma Rain. Bocah tampan itu lebih semangat mendengarkan Tante Sabine nya yang memiliki senjata sniper dan Arjuna merutuki Arya yang main pamer ke kakak Rama itu.


"Aryaaaa! Jendra biar konseling dulu! Jangan kamu kompori dong!" keluh Arjuna kesal.


"Wong Jendranya B Ajah tuh! Memang cocok jadi cucunya Oom Jeremy!" kekeh Arya tanpa beban.


"Dia masih lima tahun! Lima tahun!" sarkasme Arjuna.

__ADS_1


"Kita umur lima ngapain? Udah ke Dojo kan?" balas Arya cuek.


"Tapi kan tidak melihat pembunuhan di depan mata, cumiiii !"


Fatimah Al Jordan dan Rajendra hanya menatap kedua sepupu itu dengan tertawa geli.


"Jendra, apa papamu dengan semua Oom kamu kalau bertemu juga ribut seperti ini?" tanya Fatimah lembut.


"Jangan dipisahkan Oma, papa kalau ketemu Oom Arya, Oom Levi dan Oom Fuji... kacau!" gelak Rajendra.


Sabine yang ikut menemani sang mama sedang memberikan konseling, ikut tertawa melihat kedua sepupu tampannya ribut sendiri.


"Tante Sabine" panggil Rajendra.


"Gimana ganteng?" tanya Sabine sambil mengusap kepala Rajendra.


"Kalau Jendra sudah besar, diajari ya jadi sniper" cengir bocah itu tanpa dosa.


"Kuy lah! Nanti Jendra SMP, Tante ajarin dengan syarat, sudah ban hitam karate, level dua krav maga dan masuk ranking tiga besar!" ucap Sabine sambil nyengir.


Rajendra melongo. "Haaaahhhh? Duh, kok..."


"Eerrr tapi Tante Sabine jago masak juga kan kata Oma Fatimah?" Rajendra tahu tantenya satu ini juga sama-sama chef seperti Oom Aidannya dan Tante Thara.


"Jadi chef bukan berarti tidak bisa jadi sniper atau jago bela diri. Justru itu salah satu nilai plusnya supaya bisa menjaga diri" ucap Sabine serius.


Rajendra mengangguk. "Jendra, Oma mau tanya. Apa dua hari di rumah sakit, Jendra mimpi buruk nggak?" Fatimah kembali ke topik untuk menkonseling kejiwaan cucunya itu.


"Nggak, Oma. Mungkin karena papa sudah memenuhi janji ke Jendra jadinya Jendra ayem. Oh semalam Oom Johnny datang ke Jendra" ucap bocah Lima tahun itu.


Arjuna dan Arya yang mendengar, langsung menghampiri Rajendra.


"Oom Johnny ngapain, boy?" tanya Arjuna.


"Oom Johnny bilang terima kasih sudah diterima jadi bagian keluarga kita, pa. Sekarang hanya bisa menjaga Jendra dari tempat yang indah."


Tiba-tiba Arjuna, Arya dan Sabine merasa sesak di dadanya.

__ADS_1


***


James Blair yang datang bersama sang Daddy, kini berada di ruang panglima tertinggi kepolisian Dubai untuk membela keluarga besarnya yang berbuat ulah di istana Al Azzam meskipun sudah mengantongi surat kekebalan diplomatik.


Kai Al Jordan, Fuji Al Jordan, Elang McCloud, Rhett O'Grady dan Joshua Akandra datang menghadap ke Jendral Polisi Abdul Dashwan yang memasang wajah garang lengkap dengan kumis melintang ala pak Raden.


Keenam anggota klan Pratomo itu tampak tenang menghadap Jendral Abdul yang didampingi dengan empat orang bawahannya termasuk kapten Ahmed.


"Dokter Fuji Al Jordan, kali ini ulah anda dengan para paman dan sepupu anda benar-benar di luar batas sampai menghancurkan sebuah keluarga yang dihormati di Dubai." Jendral polisi Abdul Dashwan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apakah anda tahu, Sir, kalau Hamid Al Azzam yang selama anda ketahui selama ini adalah bukan pewaris sah kepala klan Al Azzam?" jawab Fuji dingin.


"Seriously?" Jendral polisi Abdul Dashwan menatap Kai Al Jordan sebagai pemimpin kedua klan Al Jordan setelah Senna.


Kai hanya mengangguk. "Ini semua copy berkas yang membuktikan bahwa Hamid Ali Ikhram, nama asli Hamid bukan Al Azzam.." Joshua dan Elang tertawa kecil. "hanyalah anak angkat Hussain Al Azzam."


"Pemimpin sebenarnya adalah Hasyim Al Azzam? Yang sekarang menjadi Hasyim Akbar?" tanya Kapten Ahmad.


"Keduanya, Hasyim dan istrinya Aisyah, hampir dibunuh oleh Hamid, bahkan putri mereka Thara Azalea Al Azzam, diambil paksa oleh istri kedua Hamid, Santhy Indrawan yang juga kakak kandung Aisyah Indrawan. Dan Thara sendiri menjadi korban perko*saan oleh Ja'far hingga hamil." Kai menatap ke semua orang disana.


"Kami sebenarnya tidak akan ikut campur hingga sejauh ini jika cucu saya tidak ikut diculik serta pengawal setia saya dibunuh dihadapan cucu saya dan semua orang di sekolah tempat Rajendra belajar. Orang-orang ini sudah berani menyenggol keluarga kami." Elang menatap tajam Jendral Polisi Abdul Dashwan.


"Tapi Mr. McCloud, anda bisa kan meminta bantuan kami?"


Elang memajukan tubuhnya. "Jika itu menimpa cucu anda, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda juga mau negoisasi?"


Jendral Polisi Abdul Dashwan menelan salivanya. "Saya akan melakukan seperti apa yang anda lakukan Mr McCloud."


Elang tersenyum smirk. "Sudah tahu kan jawabannya?"


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Baru up eui, padahal dah dari pagi aku up


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2