
Aidan merasakan bibir bewarna peach itu menempel di bibirnya dan perlahan mengecupnya. Setelahnya Thara menjauhkan bibirnya dari bibir Aidan.
"Kamu kira setelah main cium yang hanya ada di dorama Jepang itu, kamu bisa seenaknya saja pergi? Tidak semudah itu Thara!" Aidan menarik Thara dan memeluknya membuat gadis itu terpekik pelan. Tangan Aidan menahan tengkuk Thara.
"Aidan! Apa yang kamu laku---"
Bibir Aidan lalu Melu*mat bibir Thara dan gadis itu seperti mendengar suara geraman kesal Aidan.
"Buka mulut mu!" Thara pun refleks membuka mulutnya dan membuat Aidan semakin bebas mengeksplorasi bibir dan lidahnya. Tangan Aidan yang bebas, mengelus apa saja yang bisa dielus dan Thara bisa merasakan cengkraman tangan besar itu di bo*kongnya yang padat.
Entah berapa lama mereka saling berpagutan hingga Aidan melepaskan Thara dan gadis itu sedikit terhuyung. Wajah sayu Thara berbanding terbalik dengan wajah penuh kemenangan Aidan.
"Jangan berani-berani melangkahi wewenang aku, princess Thara Azalea Al Azzam. Karena ini baru awal hukuman yang kamu terima. Dan jika kamu ulangi lagi, hukumanmu akan lebih dari ini. Aku tidak peduli kamu seorang princess atau bukan tapi orang itu harus ada etikanya" bisik Aidan dingin yang membuat gadis itu merinding.
Setelahnya Aidan pergi meninggalkan Thara yang masih mematung. Gadis itu sedikit terlonjak ketika Aidan menutup pintu ruang kerjanya dengan keras.
Thara menyentuh bibirnya yang terasa bengkak akibat Luma*Tan dan gigitan kecil dari Aidan. Maksud hati hendak membuat Aidan luluh tapi malah dirinya yang kena. Pria itu benar-benar... hot.
Seketika wajah Thara memucat. Hukumanmu akan lebih dari ini. Apa maksudnya? Thara menutup wajahnya. Jangan bilang... Ya Tuhan! Aku membuat beruang kutub jadi beruang Grizzly!
***
Aidan menjalankan Range Rover nya menuju pinggiran kota London dengan kecepatan penuh. Otak dan hatinya sangat kacau, apalagi yang dibawah tiba-tiba main berdiri tanpa permisi. Beruntung saat tadi dirinya keluar, masih mengenakan mantel tebal jadi tidak terlihat kalau adik kecil nya sudah mendesak minta dibebaskan.
Pria itu memilih masuk ke dalam mobilnya sambil mengalihkan perhatiannya ke jalan sembari menunggu adik kecilnya bobok manis lagi.
Brengsek gadis itu! Beraninya main cium! Sialan, bibirnya enak juga! Aidan mengacak rambutnya kasar. Sialan! Sialaaaannn!
Aidan sampai di sebuah gedung milik keluarga Blair turun temurun dan segera masuk setelah memencet tombol pagar. Pagar besar itu pun terbuka dan Range Rover hitam itu pun masuk.
Seorang pria paruh baya datang menghampiri Aidan. "Mr Blair. Tumben kemari bukan di hari Minggu."
"Aku lagi suntuk, Harry. Tolong siapkan kopi dan air mineral yang banyak."
"Baik Sir."
Aidan masuk ke dalam bangunan yang merupakan tempat latihan menembak bagi para anak buah Duncan McGregor, opa buyut Aidan. Setelah membuka lemari khusus, Aidan mulai mengambil beberapa senjata api beserta magazine dan pelurunya. Setelah mengisi semuanya baik Glock, SIG, MP5, PPK dan Baretta, Aidan mulai memasang kertas target.
Suara tembakan mulai terdengar dari gedung yang ditemukan Arjuna beberapa tahun lalu dan direnovasi oleh Kaia, kakaknya. Harry sang penjaga hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tahu jika Aidan seperti itu pasti sedang kesal tingkat tinggi.
***
Sabine terbangun dengan badan pegal-pegal dan terkejut ketika melihat Karl sudah duduk manis di pinggir tempat tidurnya dengan wajah menggoda.
__ADS_1
"Selamat pagi. Kopi?" Karl menawarkan secangkir kopi yang masih mengepul asapnya.
Sabine langsung terduduk. "Bagaimana kamu bisa masuk?"
Karl melirik ke baju yang dikenakan Sabine membuat gadis itu melirik ke bawah. Tampak kaos kebesarannya menempel di dadanya. dan menunjukkan dua gundukannya yang tanpa tertutup apapun.
Wajah Sabine memerah dan hendak memukul Karl namun pria itu berteriak.
"Jangan pukul orang yang membawa kopi! Tumpah nanti!"
Sabine pun bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Karl pun duduk di sofa dan meletakkan dua mug kopi itu diatas meja tamu.
Tak lama Sabine pun keluar mengenakan kaos hitam dan wajahnya tampak kesal. Bagaimana pria ini bisa seenaknya masuk! Sudah tahu ini hari libur aku!
"Heh bocah Jerman! Ngapain kamu masuk ke apartemen aku!"
"Mengantarkan kopi padamu" senyum Karl. Pagi ini pria berdarah Jerman itu hanya mengenakan kaos putih memperlihatkan tattoonya. "Kopi, Bine?"
"Oh Bine, aku sudah menghubungi Oom Senna dan dia mengijinkan aku menikahi dirimu" ucap Karl santai yang membuat Sabine melongo.
"Memang apa yang kamu bilang ke papa sampai papa ijinkan kamu menikahi diriku?" Sabine menatap mata hijau pria itu.
"Aku bilang aku sudah berbuat jauh padamu dan tidak mau kamu menikah dalam keadaan hamil nanti" jawab Karl kalem yang membuat Sabine tersedak kopinya.
Melihat Sabine batuk-batuk, Karl meletakkan mugnya dan mengambil mug kopi gadis itu. Pelan dia menepuk punggung feminin itu.
"Are you fu(king idiot! Papa bisa membunuhmu!" Sabine berteriak. "Kita tidak pernah tidur bersama!"
"Well, itu alasan yang paling masuk akal kan, Bine?" cengir Karl.
Keduanya memang melakukan ciuman panas di mobil dan Karl melamar Sabine di dalam mobil namun gadis itu langsung meninjunya dan keluar dari dalam mobil mewah Karl.
"Kapan aku tidur denganmu!"
"Kalau sudah menikah nanti" sahut Karl kalem.
"Ya Tuhan! Kamu belum mualaf! Papa tidak bisa menolerir..." suara Sabine menghilang ketika bibir Karl menutup bibirnya.
__ADS_1
"Aku akan pergi sebulan ke Dubai dan belajar dengan Oom Senna." Karl menatap Sabine dengan tatapan serius penuh cinta. "I'll do anything for you Bine. Anything asal jangan suruh aku terjun ke dalam sumur."
"Kenapa? Padahal itu yang terlintas di otakku pertama" seringai Sabine.
"Aku bisa menjadi Sadako nanti" sungut Karl. "Masa rambutku jadi panjang?"
Sabine terbahak. Meskipun dirinya belum ada rasa cinta sebesar Karl kepadanya, namun Sabine merasakan nyaman dalam pelukan pria Jerman itu. Ada rasa aman dan tidak takut, tidak seperti saat dia bersama dengan pria lain diluar sepupunya.
"Wait for me, Bine." Karl mencium kening Sabine.
"Wait! Bagaimana kamu bisa masuk ke apartemen ku?"
Karl tersenyum licik. "Sayang, apa kamu lupa kamu tidur dimana? Ini apartemen milik PRC group, jadi tentu saja aku tahu password nya."
"Damn! Harusnya aku ke Savoy saja atau ke kastil Oom Elang biar kamu tidak seenaknya masuk kemari!" Sabine pun berdiri melepaskan diri dari Kungkungan Karl.
"Kamu mau kemana?" tanya Karl.
"Masak lah! Aku lapar!"
"Biar aku yang masak" pinta Karl sambil membuka kaosnya.
"Ka...kamu mau apa?" cicit Sabine dengan mata melotot melihat tubuh topless Karl.
"Masak."
"Pakai baju kenapa?" desis Sabine yang susah payah menelan salivanya.
"Biar kamu jatuh cinta padaku" cengir Karl sembari mengambil wajan.
Sabine hanya bisa menutup wajahnya. Brengseeeekkkk! Aku kan jadi tergoda!
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1