My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Reana dan Pandu


__ADS_3

Rajendra masuk ke ruang praktek dengan gayanya yang cuek, sebodo amat dan kacamata kuda. Baginya, dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pendidikannya dan bekerja di RR's Meal dari bawah entah cabang Manchester atau Dubai atau mana saja lah negara yang ada RR's Meal agar dia bisa tahu jeroannya.


Target Rajendra, usia 22 tahun dia akan meminang Aruna. Tekad yang sudah dia susun sejak setahun lalu. Rajendra mirip dengan sang papa, jika sudah punya tujuan, dia akan berusaha mewujudkannya.


"McCloud!"


Rajendra menoleh setelah meletakkan tasnya.


"Weasley. Apa hal?" tanya Rajendra dingin.


"Apa gadis berhijab itu kekasihmu?"


Rajendra mengangkat alisnya sebelah. "Bukan, calon istri aku."


"Are you sure?" tanya Harry Weasley terkejut. "Kamu belum 17 tahun."


"So? Bahkan di Amerika sendiri, anak umur 14 tahun sudah hamil dan punya anak. Ibumu juga kan Weasley? Usia 17 sudah melahirkan kamu."


Harry diam saja mendengar perkataan Rajendra yang memang benar bahwa ayah ibunya married by accident disaat mereka berdua masih SMA dan kuliah.


"Setidaknya aku berusaha melakukan semuanya sesuai dengan aturan bukan seenaknya." Rajendra tahu kenapa dulu ayahnya dan ibu kandungnya bisa menghasilkan dirinya tapi dia tidak menjudge keduanya karena itu adalah kecelakaan. Justru karena itu, Rajendra bertekad untuk tidak mengalami kejadian seperti Arjuna.


"Apa kamu tahu Anna Rudd sangat ingin mendapatkan dirimu?" ucap Harry.


"Karena aku setiap hari diantar jemput Range Rover jadi dikira aku auto kaya gitu? Itu bukan milikku tapi milik Oom dan Tante ku. Aku hanya menumpang disini."


Harry terbahak. "Kamu tidak kaya disini, tapi kamu sangat kaya di London."


"Apakah kamu mengetahui sesuatu, Weasley?"


"Aku tahu siapa keluargamu, McCloud. Dan aku sendiri tidak akan berani mengganggu kamu lagi..." Harry berbisik di sisi telinga Rajendra. "Opamu adalah mantan seorang mafia, ayahmu adalah Arjuna McCloud, pemilik MCC custom dan Oom mu adalah Aidan Blair."


Rajendra menatap datar ke Harry.


"Benar kan?" seringai Harry. "Makanya aku mundur daripada nyawaku taruhannya."


Rajendra terbahak. "Keluarga ku tidak akan bertindak jika tidak disenggol. Lagipula, Weasley, aku tidak perlu keluargaku untuk menghajar dirimu. Cukup aku saja."


***


Reana keluar kampus dan menanti pengawalnya datang menjemputnya. Kaia dan Rhett memang sangat ketat dalam menjaga si kembar bahkan Abi sendiri juga mendapatkan pengawal bayangan sendiri.


Ketika dia sedang berada di sebuah cafe dekat dengan kampusnya tempat biasa menunggu pengawalnya menjemput, tiba-tiba jantung Reana berdegup kencang melihat seorang pria Asia putih dan tinggi masuk ke dalam cafe.


Pipi Reana terasa memerah mengetahui siapa yang datang dan buru-buru menyembunyikan wajahnya dari balik buku kuliahnya yang tebal.


"Princess" sapa pria itu dengan nada geli melihat pola tingkah Reana.


Wajah cantik itu mendongak dan memberikan senyum manis.

__ADS_1


"Mas Pandu."


"Boleh duduk?" tanya Pandu yang pagi itu mengenakan kemeja putih.


"Boleh." Pandu pun duduk di hadapan Reana.


"Apa kabar, princess?" sapa Pandu lembut.


"Baik. Kok tahu aku disini?" tanya Reana.


"Aku sengaja menunggu mu keluar kampus."


"Mas Pandu nggak kuliah?" tanya Reana.


"Aku kan tinggal sidang skripsi Minggu depan jadi banyak waktu luang." Seorang pelayan mendatangi Pandu dan pria itu memesan es cappucino dan sandwich.


"Oh tinggal skripsi" gumam Reana.


Pandu tersenyum. "Bagaimana kuliah mu?"


"Beginilah" Reana menunjukkan beberapa buku tebal yang memang dia bawa. Meskipun dia bisa mencari melalui iPad tapi Reana sangat suka buku. Baginya membaca buku tidak membuat matanya letih dibandingkan dengan membaca melalui iPad.


Pandu melihat buku-buku yang dibawa Reana. "Kamu suka dengan kuliahnya?"


"So far aku menikmati mungkin karena aku sudah terbiasa dengan semua bisnis dari kecil bersama dengan papa." Reana tersenyum teringat dirinya sejak kecil yang kepo dengan isi perusahaan baja milik O'Grady dan Giandra Otomotif Co.


"Jam berapa kamu dijemput?" tanya Pandu. "Terima kasih" ucapnya kepada pelayan yang meletakkan sepiring sandwich dan es cappucino pesanannya.




"Hhhhmmmm, ini enak, princess. Mau? Aku masih ada separo" Pandu menawarkan separo sandwich nya yang masih utuh.


"Nggak, aku sudah makan." Reana menggeleng pelan.


"Oh come on princess, kamu terlalu kurus" senyum Pandu. "Sandwich separo paling hanya menambah 3 ons di badanmu."



Reana mendelik. "Hah?"


"Kalau begini kan enak lihatnya, princess. Jangan kamu sembunyikan wajahmu."


Pipi Reana semakin merona seperti tomat.


***


Anna Rudd menatap tidak percaya melihat Rajendra masih tetap tidak mau memakai pisau pemberiannya. Dibandingkan dengan pisau Musashi yang dipakainya, pisau xinzuo pemberiannya harga lebih mahal dan lebih bagus.

__ADS_1


Bahkan remaja pria itu membawa beberapa pisau yang tampak sudah lama untuk memotong berbagai bahan makanan.


Usai kuliah, Anna pun langsung mengkonfrontasi Rajendra yang berjalan keluar kampus.


"Rajendra!"


Pria itu pun berbalik. Wajahnya tampak datar menatap gadis itu.


"Kenapa kamu tidak pernah memakai pisau pemberianku? Kamu malah memakai pisau lama dan usang!"


Rajendra menatap malas. "Suka-suka aku lah!"


"Pisauku jauh lebih berguna tahu!"


Rajendra hanya tersenyum. "Kamu memang memberikan jadi barang yang diberikan padaku, berarti suka-suka aku kan mau pakai atau tidak. Dan kalau aku tidak mau memakainya, kenapa kamu ribut?"


"Berarti kamu tidak menghargai pemberian ku.". Anna menatap Rajendra dengan mata berkaca-kaca.


"That's why I don't like a drama queen like you. Aku tidak pernah meminta hadiah kepadamu, tapi kamu yang memaksa. Dan sudah aku bilang berkali-kali, aku tidak tertarik padamu karena aku sudah memiliki calon istri." Rajendra berbalik. "Jangan menguji kesabaran ku Anna. Karena aku tidak bisa menjamin keselamatan dirimu dari calon istriku."


Anna menatap Rajendra dengan mata berkilat marah. "Calon istri! Calon istri! Apa sih yang kamu lihat dari dia? Apa seleramu memang yang berhijab gitu? Jika iya, aku akan berhijab!"


Rajendra tertawa miris. "Berhijab bukan hanya sekedar baju atau fashion tapi ada aturannya dan itu tidak mudah. Dan kamu tidak bisa menjalaninya jika kamu bukan seorang muslim. Oh jangan pernah berpikir untuk pindah agama hanya untuk menarik perhatian aku karena agama bukanlah sesuatu yang dibuat mainan."


Anna terdiam. Rajendra memang keras dan kepala batu jika sudah berhubungan dengan prinsip. Gadis itu menatap kepergian Rajendra dengan perasaan campur aduk.


***


Sarah turun untuk menjemput nonanya yang sudah menunggu di cafe langganannya seperti biasa namun pengawal dengan rambut cepak itu terkejut ketika melihat Reana tampak asyik mengobrol dengan seorang pria memakai kemeja putih.


Tumben nona Reana mau berhandai-handai biasanya memilih sendirian.


Sarah pun mendatangi keduanya dan dirinya bisa melihat bagaimana sikap Reana seperti seorang gadis yang jatuh cinta.


Reana melihat pengawal nya datang, tersenyum. "Aku pulang dulu mas. Sarah sudah menjemput aku." Gadis itu membereskan bawaannya. Ketika hendak pergi, tangannya dipegang oleh Pandu.


"Besok aku akan kesini lagi, princess."


Reana hanya mengangguk dengan wajah memerah lalu Pandu melepaskan genggamannya. Gadis itu menghampiri Sarah yang membantu membawakan tas nya yang berisi buku-buku. Reana menoleh ke arah Pandu yang masih memandang dirinya.


Sarah hanya tersenyum tipis. Tampaknya nona Reana benar-benar jatuh cinta dengan pria Asia itu.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2