
Shailendra menatap ke kedua orang yang sudah berusia lanjut tapi masih tampak sehat dan bersemangat. Dirinya merasa iri melihat kemesraan Duncan dan Rhea yang tetap awet meskipun usia tidak muda lagi.
"Kamu boleh bertanya pada Levi, siapa orang tua Yanti kalau tidak percaya" senyum Duncan.
"Kita sebagai orangtua hanya mendukung keinginan baik anak dan kebetulan Pandu jatuh cinta dengan Reana, begitu juga sebaliknya. Dan boleh aku bilang mereka berdua sama-sama beruntung saling dipertemukan dengan pasangan yang sama-sama saling mencintai. Dengar Shailendra, Reana adalah keturunan Blair dan jika seorang Blair sudah jatuh cinta, dia akan mencintai sepenuh hati. Seperti Bang Duncan ke aku" senyum Rhea sambil menepuk paha suaminya.
"Saya... saya merasa malu menyamakan keluarga pak Duncan dengan... kejadian yang saya alami. Saya minta maaf, pak Duncan, Bu Rhea."
Duncan tersenyum bijak. "Wajar karena kamu sendiri yang mengalaminya dan berbekas hingga ibumu mengalami stroke. Saya tidak menyalahkan karena itu peristiwa yang menyakitkan hati. Tapi, jangan sama ratakan semua keluarga Sultan seperti mantanmu itu."
"Apa yang terjadi pada keluarga mantanmu?" tanya Rhea penasaran.
"Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun, perusahaannya gulung tikar dan mereka semua pindah dari Jakarta. Saya tidak tahu lagi kabar mereka."
Duncan mengangguk. "Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Karena itulah kita jangan sekali-kali menyakiti perasaan orang lain."
Shailendra mengangguk.
***
Surabaya, Jawa Timur Indonesia
Pandu masih berada di kantor untuk lembur karena banyak klien yang menginginkan serba cepat serba eksklusif jadi dirinya pun tinggal disana sembari menemani para pegawainya yang lembur. Bagaimana pun, Pandu ingin mereka bekerja serius supaya kwalitas pekerjaan mereka sesuai dengan standar Giandra Otomotif Co.
Ketika dirinya sedang memeriksa berkas - berkas para klien, ponselnya berbunyi dan wajah pria itu sedikit mengeras ketika mengetahui siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum bapak" sapa Pandu setelah deringan ke tujuh.
"Wa'alaikum salam Ndu. Kamu dimana?"
"Aku masih di kantor. Lembur. Ada apa pak?" tanya Pandu dengan nada dingin.
"Apa kamu tahu bapak tadi dipanggil pak Duncan dan Bu Rhea?"
Pandu terkejut. "Kenapa bapak dipanggil Pak Duncan dan Bu Rhea?"
"Soal kamu."
Bahu Pandu pun melorot. "Apa kata mereka?"
"Mereka mempertanyakan kenapa bapak tidak merestui hubunganmu dengan Reana."
"Lalu? Apa alasan bapak ke pak Duncan dan Bu Rhea?" Pandu merasa kesal dengan bapaknya yang tidak memberikan alasan mengapa dia melarang Pandu dengan Reana.
"Ndu, bapak mau cerita kenapa bapak melarang hubungan kamu." Shailendra pun menceritakan apa yang dia ceritakan pada Duncan dan Rhea tadi.
"Ya Allah pak, keluarga Reana tidak seperti itu! Mereka memang Sultan tapi mereka keluarga yang humble. Jangan disamaratakan pak. Tapi itu yang terjadi kenapa almarhum Eyang putri terkena stroke?" ucap Pandu.
__ADS_1
"Iya Ndu, eyang putrimu sakit hati dihina sedemikian rupa hingga terkena stroke. Dan bapak dendam sekali dengan keluarga itu."
"Apakah bapak masih dendam sekarang?" tanya Pandu.
"Tidak, nak. Karena mereka sudah mendapatkan hasilnya."
"Apakah bapak merestui aku dan Reana?" tanya Pandu ragu-ragu.
"Bapak restui kamu Ndu. Ingat pesan bapak, jangan kamu sia-siakan Reana."
"Alhamdulillah bapak merestui kami dan Insyaallah tidak pak karena Reana adalah princess aku."
"Maafkan bapak yang sudah keras padamu."
"Tenang saja pak, aku tidak apa-apa. Karena aku adalah anak bapak yang juga sama keras kepalanya" tawa Pandu.
***
New York USA
Reana sedang menanti Sarah seperti biasa ketika ponselnya berbunyi dan wajah cantiknya tersenyum membaca nama yang muncul di layar ponsel.
"Assalamualaikum mas" sapanya lembut.
"Wa'alaikum salam."
"Mas di kantor, nggak pulang semalam."
"Lembur?" tanya Reana.
"Iya. Mas tidur di ruangan mas."
"Berarti pada di kantor semua?"
"Hanya bagian bengkel karena semua mobil harus ready tiga Minggu lagi untuk acara pameran di Surabaya."
"Jangan capek-capek mas" senyum Reana yang melihat Sarah datang. Pengawal wanita itu tahu nonanya sedang menerima telepon hanya duduk di depan Reana lalu bermain dengan ponselnya.
"Princess, ada kabar."
"Apa itu?" tanya Reana penasaran. Semoga percakapan Opa dan Oma bisa membuat bapaknya mas Pandu berubah pikiran.
"Bapak merestui kita, sayang."
"Alhamdulillah" tanpa sadar mata biru Reana berembun.
"Alhamdulillah sayang" suara Pandu terdengar bergetar di telinga Reana. Rupanya mereka berdua sama - sama berharap Shailendra berubah pikiran. "Aku tidak perlu menjadi anak durhaka karena melawan orang tua."
"Iya mas. Aku bersyukur sekali" ucap Reana.
__ADS_1
"Tunggu mas ya. Setelah kontrak mas ke Bu Kaia selesai di Surabaya, mas kembali ke New York, mas akan melamarmu princess."
"Iya mas." Wajah Reana tampak sumringah.
Alhamdulillah.
***
Rajendra menatap tidak percaya bahwa ada salah satu teman chef nya yang berusaha menyelundupkan daging chinchilla ke restauran Giancarlo Bouloud.
Sialan! Baji*Ngan!
Rajendra mengetahui setelah dirinya memeriksa ruang freezer tempat stok bahan makanan disana untuk stock opname dan dirinya melihat sebuah kotak yang tidak biasa ada disana. Begitu dibuka, perut Rajendra serasa mual karena yang dilihatnya adalah chinchilla yang hanya berbentuk daging tapi ujudnya masih utuh.
Pria berusia 19 tahun itu keluar dengan membawa kotak berisikan daging chinchilla dan berteriak siapa yang membawa kotak itu.
"Tidak ada yang ngaku? Dupree!" panggil Rajendra ke kepala keamanan.
"Yes McCloud?"
"Periksa CCTV dan aku akan menelpon FDA SEKARANG!" Rajendra menatap marah ke semua rekan kerjanya.
"Ada apa McCloud?" tanya Giancarlo Bouloud yang mendengar ribut - ribut di dapurnya.
Rajendra tidak menjawab namun menunjukkan kotak itu kepada Giancarlo yang wajahnya seketika mengeras. Sialan! Mereka pun berani masuk sini!
"Siapa yang berani memasukkan ini?" tanya Giancarlo dengan tatapan menusuk satu persatu anak buahnya.
"McCloud!" panggil Dupree.
"Siapa?" tanya Rajendra dan Giancarlo bersamaan. Dupree hanya menunjukkan ponselnya dan Giancarlo menatap tajam salah satu sous chef nya.
"Apa maksudmu Max? Kamu ingin menghancurkan reputasi restauran aku?" tanya Giancarlo ke Max.
"Saya... saya... " Max menatap tajam ke arah Rajendra. "Bagaimana bisa kamu menemukannya?"
Rajendra hanya mentapa dingin ke Max yang termasuk seniornya. "Karena aku teliti dan hapal isi kulkas. Sebagai seorang chef, yang harus kamu kuasai pertama adalah bahan makanan yang kamu punya. Jika kamu menyepelekan itu, kamu bukanlah chef!"
Tak lama FDA pun datang bersama dengan NYPD dan menangkap Max. Giancarlo dan Rajendra pun ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Diam - diam Rajendra mengirimkan pesan ke Opanya, Raymond Ruiz, untuk bisa membantu penyelidikan pemasok bahan makanan dari binatang eksotis yang dilindungi.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1