My Cold Chef

My Cold Chef
Hutangku Lunas


__ADS_3

When the lights started out, they don't know what they heard


Strike the match, play it loud, giving love to the world


We'll be raising our hands, shining up to the sky


'


Cause we got the fire, fire, fire


Yeah, we got the fire, fire, fire


And we gonna let it burn, burn, burn, burn


We gonna let it burn, burn, burn, burn


Gonna let it burn, burn, burn, burn


We gonna let it burn, burn, burn, burn


Kaia dan Rhett membersihkan beberapa pengawal yang menjaga Harem. Mereka melihat banyak wanita disana dengan wajah ketakutan.


"Kalian mau kabur?" tanya Kaia. Melihat dua orang sepasang suami istri bermata biru tertutup sorban itu membuat para wanita mengangguk.


"Follow us!" Rhett memberikan kode kepada sepuluh wanita itu untuk mengikuti mereka. Di depan pintu sudah ada Iwan dan Fuji.


"Kalian lewat pintu itu dan disana sudah ada pihak kepolisian Dubai" ucap Fuji menggunakan bahasa Arab. Di depan pintu belakang berdiri beberapa anggota kepolisian disana.


Para wanita yang ditahan di Harem lalu berlari menuju pintu yang selama ini dikunci dan sudah dirusak oleh Iwan.


"Sejak kapan kamu memanggil polisi? Apakah mereka akan ikut bertempur?" tanya Rhett.


"Jangan bilang aku cucu Opa Akira Al Jordan kalau tidak bisa mempengaruhi kepolisian Dubai" seringai Fuji.


"Kayaknya ada udang dibalik gimbal deh" gumam Iwan.


"Yoooiiii! Panglima tertinggi kepolisian Dubai adalah pasienku" kekeh Fuji. "Nggak mau bantu, ring jantung nya aku cabut!"


Kaia dan Rhett hanya menggelengkan kepalanya. Sekali punya darah mafia, tetap saja mafia.


***


Arjuna dan Aidan berhasil masuk melalui tembok timur setelah Arya menghabisi para pengawal yang berjaga disana. Kedua pria tampan itu tampak memegang Glock dengan berbagai senjata terdapat di pinggang dan sepatu bootnya. Di punggung keduanya tersampir MP5.


Mereka mencari kamar Thara melalui panduan Abian di earpiece masing-masing.

__ADS_1


"Semua pelayan sudah keluar dari istana. Pengawal sudah bisa ditahan oleh kepolisian Dubai, yang masih hidup. Yang tewas yaaaa mau gimana" ucap Karl.


"Istana kosong?" tanya Arjuna sambil menyusuri lorong menuju kamar Thara.


"Tinggal yang di ruang depan menghadapi ayah kita semua" ucap Bryan.


"Si Bhizad sama Ja'far dimana?" tanya Aidan.


"Ja'far maju bersama Hamid menghadapi Oom Jeremy dan Oom Duncan, Bhizad... Aku tidak menemukannya." Abian yang menjawab.


Tiba-tiba terdengar suara jeritan Rajendra dan Thara. Aidan dan Arjuna pun berlari menuju kamar Thara dan disana dua pengawal yang menembak Johnny berdiri di depan pintu besar. Tanpa ampun, Arjuna menembaknya dengan Glocknya tepat di kepala masing-masing pengawal itu. Merasa belum puas, Arjuna menembaknya di bagian dada tepat di jantung.


Aidan langsung mendobrak pintu dan tampak Thara ditindih oleh Bhizad sedangkan Rajendra mencoba menarik pria itu agar tidak mengga*gahi tante Tharanya. Sebuah pukulan terkena di wajah Rajendra hingga bocah itu terjengkang.


"RAJENDRA!" teriak Arjuna emosi.


Bhizad yang mendengar teriakan Arjuna pun menoleh dan tanpa ampun Aidan menembaknya tepat di kepala dan Bhizad pun terjatuh diatas tempat tidur. Thara berteriak histeris melihat wajah Bhizad yang tidak bernyawa dengan darah mengalir dari kepalanya.


Aidan segera menarik Thara dan memeluknya sedangkan Rajendra langsung dipeluk oleh Arjuna. Pipi bocah tampan itu tampak membiru terkena pukulan.


"Jendra! Jendra! Ini papa, boy! Nathan! Fuji! Tolong! Jendra kena pukul!" teriak Arjuna panik sambil memangku putra sulungnya dan mengusap wajah tampan yang mirip dengannya.


"Kamu tidak apa-apa Thara?" Aidan memindai wajah Thara yang basah dengan air mata, kedua tangannya memegang wajah cantik itu. "Hei! Thara! Thara! Lihat aku! Lihat aku! Ini Aidan! Kamu sudah selamat!"


"Aidan..." cicit Thara dengan mata hijaunya yang tampak tidak fokus. Peristiwa tadi membuatnya syok.


Nathan dan Fuji masuk dan melihat Arjuna memangku Rajendra dengan panik. Dengan cekatan kedua dokter itu memeriksa keponakannya.


"Rajendra tak apa Junjun, cuma memar saja tapi setelah ini bawa ke rumah sakit untuk aku periksa semuanya" ucap Fuji.


"Aku periksa Thara dulu, tampaknya dia syok." Nathan pun menghampiri Thara yang masih dipegang wajahnya oleh Aidan. Mata coklatnya melihat sesosok mayat diatas tempat tidur Thara.


"Siapa yang menembak Bhizad?" tanya Nathan.


"Aku!" ucap Aidan tanpa mengalihkan pandangannya dari Thara.


"Thara aku periksa dulu Ai" Nathan mencoba memegang tangan Thara tapi gadis itu seperti tersentak dan mulai histeris. "Dia benar-benar syok, Ai. Kamu peluk dia supaya tenang. Tampaknya dia tidak apa-apa jika sama kamu."


Pelan Aidan memeluk Thara dan mengusap lembut rambut Thara. Nathan pun melongo. Penguin satu itu bisa lembut juga ya?


Di pelukan Aidan, Thara tampak lebih tenang dan tubuhnya pun melemas. Sejurus kemudian gadis itu pingsan. Aidan pun menggendong Thara sedangkan Arjuna menggendong Rajendra.


Kaia dan Rhett yang melihat keponakannya membiru pipinya, langsung emosi.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Kaia geram.

__ADS_1


"Bhizad tapi sudah masuk neraka. Dikirim Aidan" jawab Fuji.


Kaia tersenyum smirk dan Rhett yang melihat istrinya sudah mulai membuat mata devilnya hanya bisa mengelus bahu wanita cantik itu.


"Janji sama Bara apa? Nggak bikin gosong orang lagi!" ucap Rhett. Kaia menoleh ke arah suaminya.


"Rhett Butler nggak asyik!"


***


Hamid dan Ja'far tidak mengetahui kejadian di area belakang istana karena Senna meminta mereka berunding di sebuah istana kecil yang berada di depan menjauh dari hiruk pikuk aksi para keponakannya dan kepolisian Dubai.


"Thara dan Rajendra selamat. Papa, tolong habisi!" ucap Aidan ke Duncan.


"Bhizad Al Azzam tewas ditembak oleh Ai setelah dia berusaha memper*kosa Thara dan memukul Rajendra" lapor Nathan yang membuat keempat pria itu mengeraskan rahanga masing-masing.


"So, kapan kamu menyerahkan Al Jordan Corp untukku?" ledek Hamid yang diikuti seringai Ja'far.


"Tidak akan pernah aku berikan! Najis dan Haram hukumnya!" ucap Senna sarkasme.


"Kalau begitu, cucumu" Hamid menunjuk ke Elang. "Akan aku gantung di halaman istana!"


"Kamu yang seharusnya aku gantung di depan istanamu seperti halnya Mussolini!" suara dingin Arjuna terdengar di belakang Hamid dan Ja'far serta kesepuluh pengawalnya.


Tampak Arjuna, Kaia, Rhett dan Aidan menodongkan MP5 mereka serta di belakangnya terdapat beberapa anggota kepolisian Dubai.


"Kamu sudah terkepung Hamid! Sudah waktunya kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" Duncan mengeluarkan Glock dari balik jasnya.


Elang pun mengeluarkan Glocknya dan menghampiri Hamid lalu memukulnya dengan gagang senjatanya. "Ini untuk Rajendra!" Kepala Hamid langsung berdarah terkena pukulan Elang.


Dor! Dor! Dor!


Semua orang melihat ke arah Arjuna yang menembak dua orang pengawal yang membunuh Johnny dan Ja'far. Ketiganya langsung tersungkur bersimbah darah.


Hamid pun berteriak histeris melihat putranya mati mengenaskan.


"Hutangku lunas!" ucap Arjuna tenang.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Gimana? Gimana? Kurang kah?


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2