My Cold Chef

My Cold Chef
Menengok Sekar dan Rama


__ADS_3

Ja'far mengumpat dengan semua bahasa kasar setelah mengetahui bahwa Thara disembunyikan oleh Aidan Blair. Salah seorang anak buahnya yang menunggu di depan rumah Arjuna McCloud berhasil mendapatkan foto Thara dari jarak jauh saat masuk ke mobil Aidan.


"Sialan baji*Ngan itu! Dia bilang tidak tahu! Brengsek!" umpat Ja'far.


Suara ponselnya berbunyi dan Ja'far melihat siapa yang menelpon.


"Ya Abdullah?"


"..."


"Jadi dia sendiri di mansion Blair?"


" ... "


"Bagus! Kita tunggu saat penjaga lengah."


***


Aidan kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu melihat keponakannya lagi. Rama campuran Arjuna dan Elang namun menurut Aidan, bayi itu mirip opanya.


Dilihatnya Thara sedang melakukan video call dengan Rahma. Aidan membiarkan keduanya mengobrol karena Abian memang tidak mengijinkan Rahma keluar-keluar tanpa pengawalan dirinya.


"Mr Blair" panggil Johnny.


"Yes Johnny."



Johnny


"Bisa bicara sebentar?" pinta pria itu.


"Oke, Johnny. Kita ke ruang kerja Opa."


***


"Ada apa John?" tanya Aidan setelah keduanya berada di dalam ruang kerja milik Edward Blair.


"Ada yang mengintai kita, Sir" ucap Johnny sambil menyerahkan foto seorang pria berdarah timur tengah dengan kamer DSLR berlensa canggih jarak jauh.


Rahang Aidan mengeras. "Kurang ajar! Kapan ini John?"


"Semalam Sir. Kamera CCTV menangkap dia saat kita pulang dari rumah tuan Arjuna."


"Minta para pengawal lebih waspada. Aku tidak mau ada insiden internasional dulu karena aku sudah berjanji dengan Uncle George."


"Sementara kita slow dulu sir?" Aidan mengangguk. "Baik Sir. Saya tidak kebayang kalau terjadi gegeran, bisa dideportasi nanti kita" kekeh Johnny.


"Iyes John. Selama mereka baru berani seperti ini, aku tidak akan mengambil tindakan dulu. Kita lihat dulu sejauh mana mereka akan mengambil langkah. Tetap waspada dan tingkatkan pengawalan Thara karena Rahma lebih aman bersama dengan Oom Abian dan Bryan."


"Benar Sir. Saya sudah antisipasi menambah tiga pengawal lagi untuk nona Thara" jawab Johnny.


"Oke John. Terimakasih" ucap Aidan tulus.


"Sudah menjadi tugas saya, Sir."


***


"Jadi tuan Abian menawarkan kamu operasi plastik untuk menghilangkan bekas siraman air keras di wajahmu?" tanya Thara.


"Iya princess. Tuan Abian menawarkan untuk operasi di Amerika atau Jepang jika semua sudah selesai."

__ADS_1


"Lalu, kamu bagaimana? Apakah menyetujui?"


Rahma tampak tersipu. "Saya bilang iya, princess. Bagaimana pun, mendapatkan tawaran seperti itu bagaikan mendapatkan berkah. Apalagi tuan Abian bilang wajah saya masih bisa diselamatkan."


Thara tersenyum. "Syukurlah Rahma. Semoga permasalahan ku cepat selesai. Jadi kamu segera menjalani operasi plastik itu."


"Aamiin, princess."


Thara menatap usil ke Rahma. "Apakah kamu menyukai tuan Abian?"


Wajah Rahma memerah. "Saya hanya mengangumi seperti ayah saya sendiri princess, bukan menyukai seperti wanita ke pria."


"Tapi setahuku dari Mr Blair, Mr Smith itu duda lho" kekeh Thara yang tanpa tahu Aidan dan Johnny sudah selesai di ruang kerja. Keduanya tidak paham bahasa Arab jadi tidak mengerti apa dan siapa yang dibicarakan, hanya mendengar 'Abian', 'Mr. Blair' dan 'Mr Smith'.


Gue dighibah apalagi sih? Aidan menggelengkan kepalanya.


"Sir, saya kembali ke rumah penjaga dulu" pamit Johnny.


"Oke John. Tetap waspada ya" ucap Aidan.


Johnny mengangguk lalu keluar rumah menuju rumah penjaga yang berada di depan.


Thara yang mendengar suara Aidan dan Johnny pun terdiam. "Rahma, aku sudahi dulu ya panggilan videonya. Kita sambung nanti."


"Baik princess. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


***


"Kamu ngobrolin apa sama Rahma?" tanya Aidan dengan nada datar.


"Hanya tawaran tuan Abian untuk mengajak Rahma operasi plastik di wajahnya dan aku mendukung keputusan Rahma menerima tawaran itu."


"Bagaimana mbak Sekar, Mr Blair?" tanya Thara kepo.


"Alhamdulillah selamat semua dan baby-nya boy."


"Bolehkah saya menjenguk?" tanya Thara penuh harap.


"Besok pagi kalau kamu mau ikut."


Thara tersenyum bahagia. "Baik Mr Blair!"


Aidan mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Thara yang sudah terbayang akan menengok bayi tampan itu yang pasti mirip Rajendra.


***


Pagi harinya Thara sudah siap dengan baju perginya yang pagi ini mengenakan jaket wol musim panas dan kaus warna fuschia. Wajahnya dia beri make up yang semakin mempercantik dirinya. Rambut coklat tebalnya dia biarkan tergerai berantakan yang membuatnya fresh.



Aidan yang baru saja turun dari kamarnya, melongo melihat gadis itu duduk di sofa ruang tengah dengan gaya berbeda. Kenapa harus dandan sih?


"Jadi ke rumah sakit kan? Saya sudah membuat camilan dan makanan buat Rajendra" senyum Thara sambil memperlihatkan paper bag berisi kotak makanan. Gadis itu sengaja bangun pagi-pagi demi membuatkan bento lucu untuk bocah tampan itu.


"Kamu buat apa?"


Thara menunjukkan bentonya.


__ADS_1


"Rajendra tampaknya suka Rilakkuma, jadi saya membuatnya" senyum Thara.


Aidan hanya mengangguk dengan muka datar. "Kita sarapan dulu lalu ke rumah sakit." Pria itu lalu menuju ruang makan.


Thara menutup lagi kotak bentonya. Dasar kulkas! Freezer! Beruang kutub! Penguin! Es balok! Gunung Es!



***


Aidan dan Thara sampai di rumah sakit langsung menuju ruang rawat Sekar. Setibanya disana rupanya Rajendra dan Arjuna memilih menginap disana demi menjaga Sekar dan baby Rama.


Rajendra heboh melihat Tante Tharanya datang dan membawakan bento yang berbentuk Rilakkuma sedangkan Arjuna dan Aidan memilih keluar sebab Sekar hendak menyusui Rama.


"Wah Tante! Aku suka banget!" seru bocah itu sambil melihat bentonya.


"Syukurlah!" senyum Thara yang kemudian menghampiri Sekar yang sedang memberikan ASI ke Rama. "Selamat mbak Sekar. Ya ampun baby boynya cakep banget!"


Sekar tersenyum bahagia. "Dan aku cantik sendiri" kekehnya.


"Iya, mama cantik sendiri" sahut Rajendra sambil memakan bentonya.


"Namanya siapa mbak?"


"Rama Altamis Samudera McCloud."


***


"Jadi mereka sudah mulai berani ya Ai?" ucap Arjuna sambil melihat foto-foto yang diberikan Johnnya kepadanya.


"Ya Jun. Cuma aku belum mau melakukan tindakan apapun. Uncle George sudah mengancamku agar tidak ada konflik internasional."


"Ish, Uncle George bisa apa kalau memang akhirnya terjadi konflik? Sudahla, dia diam-diam saja, biar kita yang bekerja."


"Itu yang ingin aku ... kita lakukan tapi selama mereka tidak melakukan apapun, aku diam saja. Kita tidak akan bertindak jika mereka tidak bertindak terlebih dahulu." Aidan menatap sepupunya dengan intens.


"Ai, apakah kamu sudah dengar?" Arjuna menatap Aidan sendu.


"Apa? Aku belum membuka ponselku dari semalam."


"Danisha keguguran."


Aidan terkejut. "Astaghfirullah Al Adzim. Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kenapa?"


"Kata Iwan, Danisha stress berat kehilangan Bara. Janinnya usia hampir delapan Minggu."


Aidan mengusap wajahnya. "Pukulan berat buat Oom Ghani dan Tante Alexandra."


"Makanya Ai, jangan bertindak dulu. Kita jaga kondisi keluarga kita dulu, yang penting Thara kita jaga ketat."


"Iya Jun."


Ya Allah, cobaan berat buat Oom Ghani sekeluarga.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2