My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Pengganggu


__ADS_3

Rajendra menatap sarapan di meja makan dengan wajah lesu. Mata coklatnya tampak ada lingkaran panda membuat Kaia dan Rhett memandangi kasihan remaja itu. Laporan dari dua pengawalnya yang baru pulang hampir tengah malam itu, Kaia dan Rhett pun jadi maklum.


Di meja makan itu hanya ada Kaia, Rhett, Reana dan Rajendra minus Abi yang sudah terbang ke Massachusetts Institute Technology.


"Ndra, beneran kamu kupas kentang lima kilo?" tanya Rhett sambil menggigit ayam goreng Kalasan buatan Kaia dan Reana.


"Beneran Oom. Apa nggak lihat muka aku sudah kayak Mr potato di toy story?" jawab Rajendra sambil manyun.



Mr and Mrs Potato Head


"Sayang, Mrs potatonya di Inggris" ledek Reana.


"Iya lho. Dua Minggu ini aku sampai nggak bisa rutin telpon Aruna gara-gara sudah capek duluan. Benar kata Oom Ai, brutal disana" sahut Rajendra.


"Apa kamu mau pindah kuliah?" tanya Kaia.


"Hohoho, nggak Tante. Cuma segini doang kok nyerah? Bukan tipe Rajendra menyerah di bidang yang memang suka!"


"Bagus! Kalau kamu sudah lelah, bilang sama kami supaya kamu bisa pindah kampus lain." Rhett menatap keponakannya.


***


Rajendra seperti biasa sudah siap di pos nya. Sebagai junior paling bawah, dia bertugas menyiapkan banyak bahan makanan apalagi dia lebih suka praktek daripada teori. Baginya praktek live jauh lebih menyenangkan daripada teori.


Terbiasa dengan sistem masak ala Oma Rain dan Mama Sekar yang selalu bilang 'secukupnya' kalau memasak kecuali kue dan pastry, membuat Rajendra mengandalkan insting dan pengalaman memasaknya dari kecil.


"McCloud!" panggil salah seorang seniornya.


"Yes senior?" Selama masa orientasi satu bulan, Rajendra diharuskan memanggil kakak kelasnya 'senior'.


"Kentang yang kamu kupas semalam, bagus. Tidak menghitam. Good job! Nah, sekarang giliran bawang bombay."



Rajendra menatap horor ke tumpukan bawang Bombay yang dia perkirakan ada tiga kilo. Astaga nagaaaaa! Demi semua penghuni kastil McCloud! Bisa mewek kejer nih aku!


"Baik senior!" Rajendra pun bersiap mengupas bawang Bombay itu. Kemarin kentang, sekarang Bawang Bombay, besok apa? Ekor tauge? Paling malas kalau disuruh motongin ekor tauge. Meskipun tauge disini bersih, tapi ajaran Oma Rain dan Mama Sekar yang selalu memotong buntut tauge dengan tangan sering bikin aku emosi! Apa aku minta tolong mas Abi buat robot pemotong buntut tauge?

__ADS_1


"Ra...Jen...Dra" sebuah suara feminin membuat lamunan plus Omelan Rajendra buyar. Dilihatnya seorang gadis manis seumuran dengannya datang mendekati sambil membawa pisau.


"Siapa kamu?" tanya Rajendra cuek. Sejujurnya dia paling malas menghapal nama orang baru. Kebiasaan yang membuat Sekar dan Arjuna gemas.


"Astaga, Jendra. Masa lupa? Aku Anna, teman seangkatannya kamu. Kita bertemu saat pendaftaran ulang" ucap gadis bernama Anna itu. "Anna Rudd."


"Oh." Rajendra melanjutkan acara pengupasan bawang Bombay, mengacuhkan tatapan Anna.


"Tahu nggak, sekarang kita harus partneran. Ada pengumuman di papan. Hari ini kita tugasnya mengupas bawang Bombay." Anna tetap mengajak Rajendra mengobrol meskipun remaja pria itu cuek dan tetap berkonsentrasi mengupas.


"Kamu orang Inggris kan? Logat kamu paling beda soalnya. Kok kamu nggak ambil kuliah di London sih? Kan disana juga ada kampus bagus, malah jauh-jauh kesini."


Rajendra hanya diam saja mendengarkan celotehan gadis di sebelahnya yang sekarang ikut mengupas bawang Bombay.


"Katanya kamu anak orang kaya ya? Kenapa nggak ambil perusahaan ayah kamu, malah kuliah di Culinary. Kalau aku jadi kamu, nggak bakalan susah-susah kuliah disini."


Rajendra melirik ke arah gadis di sebelahnya. Tahu apa dia soal passion aku?


"Rajendra, kok kamu diam saja sih?" Anna menoleh ke arah remaja tampan itu.


"Aku kalau bekerja konsentrasi dan diam. Biar cepat selesai." Rajendra terus mengupas bawang dengan cueknya.


"Padahal seru lho bekerja sambil ngobrol. Eh beneran kamu anak orang kaya ya? Soalnya ada teman lihat kamu dijemput oleh dua orang naik Range Rover" ucap Anna lagi.


"Keren lah kalau kamu anak orang kaya. Siapa sih orang tua kamu? Aku penasaran."


Rajendra hanya diam saja. Dirinya paling malas jika ada orang yang kepo dengan kekayaan keluarganya. Hanya orang-orang yang tulus yang melihat siapa dirinya, bukan apa dirinya. Dan itu hanya Aruna Kenes Lewis.


"Rajendra, kamu tuh anaknya siapa? Maksud aku keluarga mana?"


"Aku anaknya papa mamaku. Itu sudah jelas" jawab Rajendra cuek dan tanpa sadar sudah separuh ember dia selesai.


"Keluarga mu maksud aku" cecar Anna lagi.


"Keluargaku? Kenapa kamu ingin tahu siapa keluarga aku? Ada maksud apa kamu?" Rajendra menoleh sembari menyipitkan matanya.


"Kan bisa jadi partner untuk buka restauran kita nanti apalagi kamu punya modal banyak" seringai Anna.


Rajendra melengos. Paling menyebalkan ada orang berpikiran seperti ini.

__ADS_1


"Meskipun aku anak orang kaya, ada kebanggaan tersendiri membangun bisnis dari uang jajanku sendiri bukan mengandalkan orang tuaku. Dan kamu hanya bisa bermimpi akan menjadi partner bisnis kuliner denganku karena aku tidak suka dengan caramu itu." Rajendra berdiri sambil membawa ember berisikan bawang Bombay yang sudah dikupas.


"Hari gini tanpa bantuan orang tua bisa apa? Apalagi kalau orang tuamu kaya, manfaatkanlah! Kekayaan mereka buat siapa sih kalau nggak buat kamu!" ledek Anna.


Rajendra berhenti di depan pintu lalu berbalik. "Jika itu yang ada di pikiran kamu, maka kamu mengajak orang yang salah. Yang kaya adalah orang tuaku, itu pun kalau kamu menganggap orangtuaku kaya. Tapi aku sendiri tidak kaya karena aku belum menghasilkan uang sendiri. Dan aku tidak akan mengandalkan kekayaan orangtuaku. Di keluarga kami, memiliki aturan tersendiri."


"Sombong sekali orang tua kamu!"


Rajendra berbalik. "Kamu mau menghina aku terserah tapi jangan kedua orangtua aku! Tahu apa kamu! Baru dua Minggu sekolah bareng saja kamu sudah berlagak!" Mata coklat Rajendra menatap dingin ke mata biru Anna.


"Rajendra..."


"Kita hanya sekedar teman kuliah tidak lebih!" Rajendra pun keluar dari ruang persiapan dengan wajah kesal.


Anna tersenyum smirk. Lihat saja Rajendra. Aku tahu kamu bukan anak sembarangan. Akan aku buat kamu bertekuk lutut padaku.


***


Lagi-lagi Ian dan Amir melihat wajah Rajendra seperti hendak makan orang. Kalau kemarin macam kentang, hari ini macam habis makan Chili padi satu kwintal.


"Are you okay, tuan?" tanya Ian yang sekarang bagian mengemudi. Jumat ini, Rajendra pulang lebih cepat jam lima sore.


"I'm not okay! Ian, dimana mas Abi kalau berlatih krav maga atau aikido?" tanya Rajendra. Aku harus banting orang ini!


"Tuan mau ke Dojo?" tanya Amir memastikan.


"Iya! Dimana Dojo keluarga Pratomo?"


"Kami antarkan kesana karena para pengawal biasanya berlatih disana" jawab Amir.


"Bagus! Aku lagi mode ingin banting orang!" seringai Rajendra.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf masih slow update, masih remuk nih bodi.


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2