
Mansion Blair, Jakarta Indonesia
"Bro, bagaimana penyelidikan soal kunci - kunci dan list yang diberikan oleh mamanya Gandari? Sudah terbukti valid?" tanya Abi.
"Masalahnya Bi, yang di bank harus Gandari sendiri yang membuktikan bahwa dirinya memegang kuncinya. Dan pengacara papanya sudah ditahan oleh anak buahku agar besok kita tiba di Semarang, dia tidak melaporkan ke Lukman."
"Berarti pengacara itu tahu semuanya?" desis Abi.
"Looks like begitu Bi. Jadi kalau kamu mau hajar, tahan dulu! Simpan tenaga kamu" kekeh Travis. "Kamu tuh sama saja sama Tante Kaia. Panasan!"
"Lha aku anaknya! Wajar lah" gelak Abi.
***
Malam ini meja makan keluarga Blair kedatangan tamu dan Travis sebagai tuan rumah yang baik menjamu para tamu merangkap kliennya.
"Maaf kalian saya bawa kemari bukannya hotel. Pertama, praktis apalagi kamar disini banyak sebab besok kita terbang ke Semarang. Kedua, kita bisa berdiskusi sebelum terbang." Travis menatap ketiga orang disana.
"Travis, boleh kah kami memanggil begitu?" tanya Jennifer.
"Silahkan Mrs Frank."
"Apa yang kamu ketahui dari rumah Gandari?"
Travis membuka map yang dibawanya dari ruang kerjanya tadi. "Rumah Kawi? Hasil penyelidikan anak buah saya dua hari ini, sertifikat rumah Kawi yang asli tidak ditemukan tapi dua tahun setelah kedua orang tua Gandari meninggal, terbit sertifikat rumah itu dengan atas nama Lukman Kristiawan."
"Kok bisa?" seru Jason Frank.
"Bisa jika mantan suami si janda yang dikawin Lukman adalah pegawai BPN . Jadi terbitlah surat aspal, asli tapi palsu itu."
Gandari tampak kesal dan terlihat bagaimana gadis itu mengepalkan tangannya di atas meja makan.
"Mas Travis, saya tidak bondo ( serakah - Jawa ) dan jika Oom Lukman minta baik-baik, akan berbeda tapi jika seperti ini, saya tidak ridho dunia akhirat apalagi jika terkait dengan kecelakaan kedua orangtua saya. Mendengar kemarin mas Abi bilang kalau melihat bagaimana mama saya mempersiapkan semuanya, bukan tidak mungkin kecelakaan kami itu disengaja" ucap Gandari.
"Sayangnya kasus ini terjadi 12 tahun lalu dan agak sedikit sulit untuk meminta rekaman CCTV saking lamanya" gumam Travis.
"Bro, apa Oom Bryan tidak bisa mencarinya?" tanya Abi.
"Masalahnya, Oom Bryan dengan tim nya sedang dicangking oleh FBI buat membantu tim BAU dan NYPD untuk mencari pembunuh berantai" jawab Travis.
"Gimana kalau Benji? Kan dia juga jago hacking?" celetuk Abi menyebutkan putra Bryan Smith, Benjiro.
"Anak itu sekarang kelas berapa? SMP atau SMA ya? Saking seringnya loncat kelas" kekeh Travis. "Coba saja kita hubungi Benji. Pasti semangat dia."
"Besok kita berangkat jam berapa?" tanya Jennifer Frank.
"Kita berangkat agak siang saja karena kami harus mempersiapkan semuanya dulu." Travis menatap ketiganya.
***
New York USA morning
Benji memainkan pensilnya diatas bibir sambil manyun karena bosan dengan pelajaran kalkulus. Bukan karena dia tidak bisa tapi dia bosan karena rumus ini sudah dipelajarinya sejak usia tujuh tahun akibat bergaul dengan Abi, Hoshi dan ayahnya Bryan.
__ADS_1
Mata abu-abu kebiruan Benji tampak melamun ke arah jendela. Remaja tampan itu sengaja mengambil kelas weekend yang online agar cepat lulus dan masuk MIT seperti keinginannya.
PING!
Mata Benji tampak membelalak saat tahu siapa yang mengirimkan pesan. Buru-buru remaja itu mematikan speaker dan layar zoomnya agar dia bisa leluasa menerima telpon setelah mengirimkan pesan kepada lawan bicaranya.
"Bang Travis, ada apa?" sapa Benji.
"Kamu sibuk nggak Ben?" tanya Travis.
"Cuma ikut pelajaran kalkulus online. Benji suruh ngapain nih?"
"Ben, cari rekaman CCTV di jalan tol Semarang - Solo km 279 - 234 dong!"
"Mas Abi ?! Kok mas Abi bisa sama bang Travis?" seru Benji.
"Mas Abi mau ngehajar orang! Ben, tolong cariin ya tadi rekaman CCTV nya."
"Oke. Tanggal berapa?" Benji mulai mencatat di atas kertas.
"13 Juni, hari Jumat, 12 tahun lalu."
Benji terdiam. "Friday the 13th."
Abi dan Travis hanya melongo. "Lu kira film horor, Ben?"
"Bukan bang, tapi apa kalian tahu makna Friday the 13th yang selalu jadi bahan kutukan?"
"Apa?"
"Bukan karena setan Jason dan Freddy Krueger joinan Ben?" kekeh Travis.
"Bah, itu mah bisa-bisanya Hollywood saja bang. Aku lebih melihat faktanya."
"Jadi gimana Ben? Bisa nggak?" tanya Abi.
"Aku usahakan ya mas. Moga-moga bisa."
"Thanks Ben."
***
Penthouse O'Grady Manhattan New York
"Jadi mas Abi terbang ke Jakarta buat bantuin Gandari mengambil alih semua aset orang tuanya?" tanya Reana yang menginap di rumah orangtuanya.
"Abi kan panasan. Apalagi setelah dia menyelidiki sendiri, tambah emosi dia" kekeh Rhett.
"Papi, tapi mas Abi tidak pernah seperti ini. Waktu Hoshi ngehajar orang-orang yang ngeroyok Sangaji saja, mas Abi cuek. Atau saat Fayza ribut dengan klien, mas Abi membiarkan Fay menyelesaikan sendiri."
"Re, apa kamu tidak ngeh kalau mas mu itu sudah tertarik dengan Gandari?" Kaia menatap putri cantiknya.
"Re sudah tahu mami tapi apa mas Abi ngeh, itu yang Re ga tahu."
__ADS_1
"Mas mu itu memang mirip sama mamimu ... Zonk soal cinta-cintaan, kalau kamu memang anak papi yang paham soal asmara" gelak Rhett.
"Iiissshhh dasar Rhett Butler !" cebik Kaia sebal.
"Oh come on Z... Siapa yang pingsan mau ijab qobul besoknya?" cengir Rhett sambil memeluk istrinya.
"Mami tuh parah deh" gelak Reana.
"Ngomong-ngomong, Pandu kemana?" tanya Kaia.
"Mas Pandu sedang membeli pizza mami. Aku lagi pengen pizza."
"Kamu ngidam?" tanya Rhett.
"Ndak ya papi. Aku baru saja dapat Minggu kemarin, nggak mungkin lah aku hamil" kekeh Reana santai.
Suara lift pribadi pun berbunyi dan saat pintu terbuka, tampak Pandu membawa dua karton pizza ukuran besar dan kantong lainnya yang Reana tahu pasti berisikan lasagna, chicken wing dan salad salmon.
"Yak makanan sudah siap! Papi, jadi nonton football nggak? Hampir superbowl lho" ucap Pandu.
"Hah? Sekarang ya?" Rhett pun menyalakan tv besarnya. "Sip! Yuk nonton."
Pandu dan Reana pun menata pizza dan makanan lainnya lalu menonton acara olahraga khas Amerika Serikat itu.
"Alamat aku tidur nih nonton football" gumam Kaia.
***
New York Benji's Room
Benji mencari data yang diminta Abi sambil mengunyah pop corn satu bucket ditambah pizza besar satu kotak, sebotol coke dan dua botol air mineral besar.
Briana, sang mommy, selalu menekankan meskipun Benji hobinya makan junk food, air putih tidak boleh tidak diminum. Tak jarang Briana membuatkan infus water buat putra semata wayangnya.
Dan kini dengan santai remaja itu memutar CCTV yang diminta Abi setelah cukup lama dirinya membongkar data dari jasa marga Semarang.
Mata Benji melotot ketika melihat pemandangan di layar MacBooknya.
"Astaga!"
Bonus si Bontot
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa Gaeesss
Happy 77th Independence Day Indonesia! 🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️