My Cold Chef

My Cold Chef
Membawa Thara ke Mansion Blair


__ADS_3

Arjuna menyusul Aidan yang sedari tadi masih di halaman belakang setelah mengantarkan Dewi Nawangwulan nya, eh... Sekar Larasati masuk ke dalam kamarnya. Putranya Rajendra masih berkutat dengan tugas sekolahnya dan Arjuna menyuruhnya tidur meskipun besok hari Sabtu yang memang sekolah libur.


"Aidan..." panggilnya yang membuat Aidan menoleh sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Ssstttt... Thara tidur."


Arjuna bengong. "Lha kok malah tidur? Terus? Ya dibangunin cumiiii !"


"Kasihan kalau dibangunin..." bisik Aidan.


"Apa iya kamu mau gendong ke kamar tamu? Kalau yakin, ya sana!" balas Arjuna cuek lalu masuk ke dalam rumah.


Aidan masih ragu-ragu dan mempertimbangkan harus bagaimana. Akhirnya Aidan menggoyang bahu Thara sedangkan Cloud si Samoyed ikut terbangun dan mendengking pelan ketika tahu siapa yang datang. Ekor Cloud tampak bergoyang senang.


"Thara.. Tharaaa... Bangun!" panggil Aidan.


Pelan mata hijau Thara terbuka dan menatap Aidan yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Chef Blair..." bisiknya. "Aduh maaf aku ketiduran." Gadis itu pun terbangun lalu mengusap kepala Cloud sayang.


"Ayo pulang!" Aidan pun berjalan menuju ke dalam rumah.


Thara hanya melongo melihat sikap Aidan yang mirip beruang kutub seenaknya. Astagaaaaa! Gadha halus-halusnya!


Thara akhirnya bangun dan melihat Aidan sedang mengobrol dengan Arjuna yang sedang menggendong Rajendra yang mulai mengantuk. Cloud pun mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.


"Hati-hati Ai. Bawa Johnny sebagai pengawal bayangan" ucap Arjuna.


"Oke. Jaga Sekar, tampaknya sebentar lagi bakal brojol anakmu" senyum Aidan sambil mengusap kepala Rajendra yabg sudah terlelap di gendongan sang ayah.


"Absolutely." Arjuna menoleh ke arah Thara. "Ingat ucapanku, hanya hawa dingin Elsa dan Sub-Zero."


Aidan melirik ke Arjuna. "Apaan itu Elsa dan Sub-Zero?"


Arjuna tersenyum smirk. "Hanya istilah yang aku pakai dengan Thara."


Aidan mengedikkan bahunya. "Ayo pulang."


Thara tersenyum ke Arjuna. "Terimakasih Mr McCloud. Salam buat mbak Sekar semoga lahirannya lancar."


"Thanks Thara" jawab Arjuna.


"Bye ganteng" bisik Thara ke Rajendra yang sudah terlelap dengan mulut terbuka.


***


Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan antara Thara dan Aidan sebab keduanya berkutat dengan pikirannya masing-masing. Johnny sendiri mengikuti mobil Aston Martin milik Aidan dari belakang dengan Ducati nya.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam dan Aidan tidak ada keinginan untuk membuka pembicaraan, begitu juga Thara karena dirinya sudah lelah.


Tak lama mereka sampai di sebuah rumah yang mewah meskipun stylenya lama tapi karena terawat dengan baik, membuat rumah itu tetap indah. Aidan memasukkan mobilnya setelah penjaga rumah menyapanya.

__ADS_1



"Ayo masuk!" Aidan membuka pintu penghubung garasi dan rumah sedangkan Thara mengikutinya. Gadis itu terperangah melihat bagaimana mewahnya rumah itu dan yang membuatnya kagum adanya grand piano disana.


"Chef Blair, siapa yang main piano?" tanya Thara ke Aidan.


"Mamiku seorang pianis tapi sayangnya anak-anaknya zero talent di piano. Itu piano yang dibelikan papiku saat mamiku datang ke London" jawab Aidan santai.


"Kamarmu sebelah sini. Ini kamar khusus saudara sepupu cewek kalau datang dan di dalamnya ada baju dan pakaian dalam baru. Sepertinya ukuranmu ada, piyama dan daster juga ada." Aidan menunjukkan kamar yang berada di lantai satu dengan papan nama bertuliskan nama sepupu-sepupunya yang perempuan.


Danisha, Davina, Josephine, Marissa, Keia, Kristal, Sabine


"Daster?" tanya Thara.


"Lingerie batik" sahut Aidan cuek. Sampai detik ini dia tidak paham kenapa mami dan kakaknya penggemar berat daster sampai pesan ke Danisha atau Tante Savitri buat membelikan daster banyak setiap enam bulan sekali kalau mereka tidak sempat ke Solo.


Thara hanya ber 'oh' ria sebab dia tidak terlalu paham tentang Indonesia meskipun dia tahu memiliki darah Indonesia.


"Aku tidur dulu. Selamat malam." Aidan pun naik ke lantai dua masuk ke master bedroom yang dulunya kamar Edward dan Yuna Blair.


Thara pun masuk ke dalam kamar yang tampak tertata rapih dengan nuansa pink muda. Sebuah kasur ukuran queen size, tv dan iMac terdapat disana. Thara melihat foto-foto para gadis-gadis dengan berbagai wajah yang paripurna dan sebagian besar tampak bule.



Ya ampun semua sepupunya Aidan cantik-cantik. Thara memang baru bertemu dengan Sekar dan Sabine yang notabene adalah ipar dan baru kali ini dia melihat sepupu kandung Aidan.


Thara membaca nama-nama di bawah pigura itu.


Thara meletakkan kembali pigura itu lalu menuju walk in closet dan terkejut melihat dalamnya.


"Oh my God!" Meskipun dia tinggal di istana, tidak seperti ini walk in closet disini.



Thara melihat banyak baju baru, tas branded dan sepatu bermerk terkenal. Mata hijau nya tertuju pada sebuah lemari yang bertuliskan 'daster' dan Thara membukanya.


"Oh ini yang namanya daster?" senyum Thara.


***


Aidan terbangun ketika suara ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Pria itu mengambil ponselnya dari nakas dan mengangkatnya.


"Halo ..." sapanya dengan suara parau.


"Ai ! Sekar mau melahirkan dan Jendra belum sempat makan. Tolong ya! Oh papa dan mamaku juga ada!" seru Arjuna panik.


"Kamu dimana?" tanya Aidan dengan mata terbuka lebar dan diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Portland! Tolong ya Ai! Thanks!" Arjuna pun memutuskan hubungannya.


"Lha si kampret malah matiin panggilannya?" Aidan menghela nafas panjang. Pria itu pun bangun dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah segar dan rapi, Aidan pun turun menuju lantai satu dan melihat Thara asyik membuat sarapan.

__ADS_1


"Selamat pagi" sapa Thara.


"Pagi. Buat apa?"


"Sarapan Dubai" jawab Thara yang meletakkan piring yang berisi sosis, dua sunny side up, kacang merah, kentang dan beberapa olive. "Dapurmu lengkap jadi aku senang membuatnya."



Aidan pun duduk dan Thara mengikutinya di hadapan pria itu.


"Sekar mau melahirkan dan aku harap kamu membantuku membuat bento buat Rajendra, Oom Jeremy dan Tante Rain. Sekalian buat Juna juga."


Thara terkejut. "Mbak Sekar mau melahirkan? Wah! Anaknya laki-laki katanya."


Aidan mengangguk. "Ayo, selesaikan sarapannya. Kita segera membuat bento."


***


Dua jam kemudian Aidan sampai di Portland Hospital dan langsung disambut Rajendra.


"Oom Aaiiiii!" serunya sambil memeluk Aidan.


"Duh yang mau jadi Abang" senyum Aidan lalu sembari menggandeng Rajendra, Aidan menghampiri Elang dan Rain yang tampak harap-harap cemas menunggu kelahiran cucu keduanya.


"Tenang Tante, Sekar kuat kok" ucap Aidan menenangkan Rain yang sedikit parno mengingat dulu dia sempat koma saat melahirkan Arjuna.


"Itulah yang Oom bilang tapi Tante mu memang begitu" senyum Elang lembut ke Rain.


Tak lama Arjuna keluar dengan tampang berantakan bahkan tangannya tampak bekas cakaran dari Sekar.


"Sekar lupa potong kuku, Juna?" ledek Aidan.


"Kayaknya" gelak Arjuna sambil melihat hasil karya cakaran istrinya.


"Gimana boy?" tanya Elang.


"Alhamdulillah, baby boy, sehat, lengkap, panjang 52cm berat 3,8kg. Sekar dan boy sehat semua."


"Alhamdulillah."


"Namanya siapa?" tanya Rain.


"Rama Altamis Samudera McCloud."


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2