
The Museum Of Modern Art Manhattan New York
Kaia mengikuti Gandari menuju ke ruangan yang semalam didatangi oleh Abi dan ketika mereka semua di dalam, ibu dua anak itu menatap foto Yuna Pratomo dengan mata berkaca-kaca.
"Oma..." bisik Kaia yang langsung dipeluk oleh Rhett karena tahu bagaimana dekatnya Kaia dan Yuna dulu. "Ya ampun, Oma cantik sekali Rhett. Ini sepertinya pas Daddy remaja ya kalau dilihat usianya saat di foto."
"Miss Yuna Pratomo menjabat menjadi direktur museum ini dari tahun... sampai tahun... " ucap Gandari.
Kaia tersenyum. "Pas Daddy umur 15 tahun itu Oma menjadi direktur disini. Kok aku tidak tahu ya?"
"Mungkin Daddy lupa, Z. Kan itu sudah lama sekali" balas Rhett sambil mencium pelipis Kaia. "Omamu memang cantik sekali."
"Gitu dulu Opa masih galau antara milih Oma atau Porsche nya" sungut Kaia kesal jika mengingat cerita keabsurdan hubungan Edward dan Yuna.
"Mari, saya perlihatkan log kerja Miss Yuna selama menjadi direktur disini" ajak Gandari ke sebuah ruangan seperti ruang pertemuan namun isinya semua katalog para direktur museum itu.
"Princess, Oma buyutmu cantik sekali" komentar Pandu.
"Cantik memang tapi mulutnya pedas. Opa saja kalah kalau ribut dengan Oma" kekeh Reana teringat video keluarga saat mereka merayakan ulang tahun Kaia yang kelima bersama Ogan Abi dan Necan Dara yang ada hanyalah kekacauan seperti biasa.
Kaia dan Rhett tampak asyik membaca log dan berkas - berkas saat Yuna menjadi direktur serta beberapa pekerjaan nya sebagai kurator museum. Seolah sang Oma berada bersamanya sekarang dan Kaia seperti berusia remaja lagi.
"Gandari" panggil Kaia.
"Yes Mrs O'Grady?"
"Bolehkah aku dokumentasi pekerjaan Oma? Hendak aku perlihatkan kepada Papi Duncan? Papi pasti senang melihat pekerjaan mommynya."
"Silahkan ma'am. Saya yakin Mr Blair pasti senang melihat pekerjaan Miss Yuna."
"Terima kasih Gandari." Kaia pun asyik memotret lalu melakukan panggilan video dengan Duncan dan Rhea membuat semua orang disana memilih menyingkir, meninggalkan Kaia bernostalgia dengan kedua orangtuanya.
"Kita keluar dulu saja, biarkan Mrs O'Grady menikmati momentnya" bisik Gandari yang dijawab anggukan Abi, Reana dan Pandu.
"Mami, kami keluar dulu ya" pamit Reana.
__ADS_1
"Nanti anda bisa keluar langsung saja tak apa karena pintunya terkunci otomatis nanti" timpal Gandari.
"Oke" sahut Kaia dengan mata memerah menahan haru melihat pekerjaan Yuna yang masih tersusun rapi di log dan kotak-kotak bertuliskan 'Yuna Pratomo'.
Keempat orang itu pun keluar dari ruang khusus staf dan menuju ruang pamer museum.
"Apakah disini ada cafetaria?" tanya Pandu.
"Ada Mr Dewanata. Cafetaria berada di samping sebelah sana" jawab Gandari.
"Kita tunggu di cafe saja gimana Bi?" tanya Pandu.
"Kalian kesana saja dulu, aku ingin keliling museum dengan Gandari. Bukankah semalam anda hendak mengajak saya melihat pameran?" Abi menoleh ke arah gadis itu.
"Oh mas Abi jadi mau lihat-lihat lukisan dan art lainnya meskipun tidak paham?" senyum Gandari yang membuat Abi terpesona.
Sikap Abi yang tidak biasa itu membuat Reana tersenyum tipis. Kamu sudah mulai tertarik ya mas sama Gandari tapi tidak menyadarinya.
Pandu pun melihat Abi yang berbeda hanya memberikan kode kepada istrinya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Aku dan Reana ke cafe dulu ya. Kalian nyusul saja nanti" ucap Pandu membuat Abi dan Gandari mengangguk. "Yuk, princess." Pandu menghela istrinya yang hanya memberikan wajah lucu ke Abi yang merupakan kode tersendiri bagi keduanya.
"So, mas Abi mau lihat apa? Lukisan? Sculpture?" tawar Gandari.
"Apa saja sambil ngobrol" ajak Abi yang menghela punggung Gandari.
Keduanya pun menuju ruang lukisan yang tadi dikomentari Abi dengan lukisan telur asin dengan titik hitam.
"Aku tidak paham ini maksudnya apa?" tunjuk Abi ke lukisan itu.
"Maksudnya meskipun hari begitu biru, pasti ada titik hitam yang membuat kita meninggalkan jejak. Tidak semua hari akan selalu baik atau lancar terus karena pasti ada halangannya entah kecil ataupun besar. Pelukisnya hendak memperlihatkan ini pikirannya."
"Kenapa tidak seperti Van Gogh atau Basuki Abdullah yang lebih indah dinikmati karyanya. Ini seperti satu kaleng cat tosca diguyur tinggal dikasih titik hitam. Selesai! Seninya dimana coba?" sungut Abi.
Gandari tertawa cekikikan. "Mas Abi benar-benar tuna seni ya?"
__ADS_1
"Sesuatu yang tidak make sense, bikin penuh otak saja!"
Gandari hanya tersenyum.
"Gandari itu adalah ibu para Kurawa karena menikah dengan raja Dretarastra dan Dretarastra adalah kakak Pandu" gumam Abi.
"Mas Abi tahu perwayangan Mahabarata dan Ramayana juga?" tanya Gandari. "Tapi mas, jika suatu saat aku menikah, aku tidak mau punya anak 100 !"
Abi terbahak. "Yang ada rahim kamu rusak hamil segitu banyak! Kan kamu tahu sendiri darimana Kurawa itu berasal? Berasal dari bongkahan daging yang keluar dan oleh Begawan Abiyasa , daging itu dipotong-potong menjadi seratus lalu dimasukkan ke dalam guci yang dikubur selama setahun baru setelah digali sudah ada anak disana. Tapi ada juga yang menceritakan bahwa saat melahirkan, Gandari menendang daging itu hingga terpecah menjadi seratus yang kemudian ditutup dengan daun jati atau daun pisang aku lupa. Keesokan harinya, daging-daging itu sudah menjadi bayi cikal bakal Kurawa. See, bahkan nama kita berdua related lho, Gandari" senyum Abi.
Gandari terkejut bagaimana Abi dengan santainya menceritakan tentang tokoh perwayangan yang sama dengan namanya. Pengetahuan pria tinggi besar soal perwayangan ternyata mengagumkan karena banyak orang yang tidak mau membaca cerita itu.
"Aku sangat suka cerita perwayangan. Bahkan aku punya koleksi bukunya. Apakah kamu tahu, Ogan buyutku bernama Abimanyu Giandra yang menikah dengan Necan Adara Utari. Jika dilihat keduanya nama dari tokoh perwayangan dan mereka adalah sepasang suami istri di Mahabarata dan itu terjadi di dunia nyata. Untung anaknya tidak diberi nama Parikesit."
Gandari terperangah mendengar silsilah keluarga Abi. Dan memang di Mahabarata Abimanyu menikah dengan Dewi Utari.
"Ternyata di dunia nyata ya Abimanyu itu jodohnya dengan Dewi Utari. Tampaknya keluarga mas Abi itu kental sekali budaya Jawanya" komentar Gandari.
"Kami casing bule, pola pikir didikan barat, tapi pola asuh didikan Jawa. Kamu tahu, terkadang keluarga ku kalau kumpul meskipun berbagai bangsa dengan fisik campur aduk bule dan Asia, terkadang kalau ngobrol masih pakai bahasa Jawa dengan aksen aneh gitu" gelak Abi.
"Mr Dewanata itu Jawa kan?" tanya Gandari.
"Yup, Pandu orang Jawa. Oma ku, Rhea Blair Jawa Solo dan keluarga aku banyak yang tinggal di Jakarta serta ada di Solo."
Tak terasa keduanya berjalan hingga ke lukisan Van Gogh yang dipamerkan semalam.
"Setidaknya aku lebih bisa menangkap suasana cafe yang hendak disampaikan oleh Van Gogh daripada lukisan telor asin itu" celetuk Abi yang membuat Gandari tertawa lagi.
Pria satu ini memang berbeda.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️