My Cold Chef

My Cold Chef
Hukuman Kedua Kalinya


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan Bine?" gumam Karl ketika melihat istrinya -- eh istri? -- sedang mengulurkan tangannya hendak memegang perut roti gembong miliknya.


"Eh? Aku...halu. Kukira tadi roti sobek" cengir Sabine.


Karl membuka mata hijau kebiruannya. "Kalau mau sentuh, sentuh saja Bine. Halal kok."



Sabine menggigit bibir bawahnya dan tampak mata coklatnya tampak berkabut. Karl pun merasa gemas melihat wajah istrinya yang antara penasaran tapi takut-takut.


Karl tiba-tiba menegang ketika jari lentik itu menyusuri roti sobek yang menggoda iman dan imun semua kaum hawa. Bagi Karl, hanya Sabine yang boleh memegang rotinya.


Jari Sabine seperti memiliki hawa panas yang mempengaruhi juniornya yang mulai terbangun dari tidurnya. Karl sedikit menggeram ketika merasakan jari itu semakin intens mengusap setiap bagian roti sobek perutnya.


Sialan! Si junior ikutan bangun.


Wajah Sabine yang mampu membuat semua kaum pria bertraveling termasuk Karl itu membuat suaminya tidak tahan. Pria bertato itu pun langsung menubruk istrinya dan langsung menindihnya.


"Jangan kamu perlihatkan wajah meshummu ke publik, Bine" bisik Karl sembari mencium leher istrinya.


"Wa...jah meshum?" cicit Sabine sambil mengge*linjang merasakan bagaimana lidah Karl bermain di tulang selangka lehernya. "Oh Karl! Lagi! Cium bagian situ" ucapnya sen*sual.


Karl pun melakukan spot yang diminta Sabine dan istrinya itu merasa sensasi yang belum pernah dirasakan.


"Wajahmu melihat roti sobekku itu tampak meshum, sayang" ucap Karl sembari menurun kan lingerie Sabine dan menunjukkan kedua bulatan penuh yang berbentuk sempurna.


"Hah?" Sabine menatap suaminya yang sedang mengagumi pemandangan tepat di matanya.


"Iya, wajahmu meshum menggemaskan." Karl langsung menikmati sumber makanan anaknya kelak, membuat Sabine mendesis nikmat.


Pagi itu Karl dan Sabine menuntaskan acara unboxing mereka yang sempat tertunda akibat si pengantin pria harus mengikuti balapan bersama dengan ipar-ipar durjananya. Karl tak henti-hentinya menciumi wajah dan bibir Sabine setelah istrinya memberikan hartanya yang selama ini dijaganya.


Dan hari ini tampaknya, kedua pengantin itu memutuskan ngumpet di kamar seharian karena Sabine tidak bisa berjalan seperti biasanya.


***


"Kupret tuh bocah Jerman! Malah ngendon di kamar enak-enak sama Sabine!" umpat Arjuna setelah tahu dua orang itu belum keluar kamar sampai sore ini.


"Kayak elu kagak pernah gitu aja Jun" ledek Levi.


"Iya sih" cengir Arjuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sore ini semua pria generasi keempat menikmati acara makan siang yang kesorean karena mereka memilih untuk tidur akibat kelelahan melakukan balapan semalam suntuk.


Para istri mereka beserta dengan mama para kaum pria dan anak-anak memilih untuk berjalan-jalan dan shopping di Dubai. Dan benar, ponsel para kaum suami pun berbunyi dengan banyaknya notifikasi belanja para kaum emak-emak.

__ADS_1


"Astaga Sekar beli tas kok harganya cuma segini sih?" gumam Arjuna sambil menggelengkan kepalanya.


"Lha Yanti beli sepatu harganya juga yang murah. Padahal dia mau habisin duit aku pun tidak apa-apa" timpal Levi.


"Ini lagi. Dasar kembar, seleranya sama tapi cuma warnanya yang beda" ucap Mario sambil menunjukkan tas Hermès yang dibeli oleh Josephine dan Marissa dengan harga yang menurutnya masih murah.


Aidan tersenyum melihat para sepupunya yang heboh melihat para istri berbelanja dengan barang yang menurut mereka terlalu murah.


"Thara beli apa Ai?" tanya Arya saat suara notifikasi bank pun berbunyi di ponsel Aidan.


"Beli lingerie?" ucap Aidan tertahan yang membuat para pria menoleh lalu tertawa terbahak-bahak.


"Bagus Thara! Bikin si beruang kutub ini meleleh!" gelak Levi.


"Enak kan Ai?" ledek Arjuna.


"Woooiii masih banyak jomblowan disini!" protes Bara.


"Makanya segeralah kalian mencari istri! Jangan jajan! Barang otentik jauh lebih legit daripada barang bekas!" ucap Levi tapi setelahnya dia menutup mulutnya. "Astaghfirullah! Ai, maaf. Aku lupa soal Thara."


Aidan tersenyum. "It's okay Vi. Toh itu bukan karena kehendak Thara dan aku sudah menerima dia apa adanya kok. Lagian, punya dia juga masih sempit."


Sontak para pria itu melemparkan bantal dan kacang ke arah Aidan yang berusaha mengelak dari serangan para sepupunya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kalian semalam balapan lagi?"


Tampak di dekat hall masuk halaman belakang, Rhea dan Miki meletakkan tangan di pinggang dengan wajah judes


Apes lagi!


***


Karl dan Sabine menikmati acara gegeran yang kedua kalinya melihat para pria itu kena omel lagi oleh para kaum emak-emak.


"Ma, siapa yang membocorkan? Istri-istri kami tidak ada yang mau cerita ke mama" sungut Levi ke Ayame.


"Istri-istri kalian memang tidak ada yang mengadu kalian tapi pengawal kalian laporan kepada ayah-ayah kalian." Ayame menatap judes ke putranya.


"Dan kali ini kalian dan para kaum ayah kena hukuman semua!" Rhea menatap judes ke Duncan karena semua para ayah seolah mengijinkan mereka balapan, melanggar dari perjanjian.


"Sayang, Rey, mereka balapan di sirkuit bukan di jalanan seperti kemarin" bela Duncan.


"Abang! Tetap saja namanya balapan!" bentak Rhea. "Kalian semua besok harus membersihkan taman dan mansion! Biarkan pelayan libur!"


"Aku setuju Rhea, mereka harus diberi hukuman. Kecuali pengantin baru!" timpal Tamara sambil melotot ke arah Kai dan Reyhan yang manyun.

__ADS_1


Semua para ayah dan anak Lanang protes karena mengingat betapa luasnya halaman dan mansion.


"Mas nggak mau? Tidur diluar! Tidak ada jatah sebulan!" pendelik Alexandra ke Ghani. Suara ramai para pria tampan itu pun memenuhi ruangan tengah yang luas itu.


Karl berbisik ke arah istrinya yang asyik memakan mashed potatoes.


"Aku suka kerusuhan ini" cengirnya.


"Welcome to our gesrek family" seringai Sabine.


***


Pagi ini para ayah dan putra-putra mereka mulai membersihkan mansion dan halaman mansion milik keluarga Al Jordan. Bahkan sang tuan rumah, Senna dan Kai pun tidak luput dari hukuman yang diberikan oleh para istri dan ibu mereka.


"Sayaaaanngg" hampir semua pria merengek ke ibu dan istri masing-masing sedangkan yang direngek sedang asyik menikmati makanan enak dan minuman dingin.


"Yang bersih ya sayang."


"Kalian tuh dah brewokan jadi harus benar-benar bersih."


"Tuh masih ada daun yang belum kesapu."


Para pria itu pun manyun mendapatkan mandor yang tidak bisa mereka lawan. Menjelang jam delapan pagi, para pria mulai gerah dan membuka baju masing-masing yang memamerkan tubuh sempurna dan seksih mereka.


"Ma, ini gimana? Kok pada pamer bodi? Aku kan jadi ngiler lihat bodinya mas Juna" ucap Sekar ke Rain yang juga terpaku melihat tubuh suaminya Elang.


"Wah kacau nih!" gumam Rhea.


"Duh kok ya mas Levi pakai acara buka baju sih?" Yanti memejamkan matanya. Jujur semenjak hamil, hormonnya benar-benar inginnya dijenguk suaminya.


"Sial! Bang Joshua kampret bener !" umpat Miki.


Sedangkan di pihak kaum pria...


Kapokmu kapan, hai istriku.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Visual para kaum pria Pratomo Shirtless nggak aku pajang disini 😁😁😁. Bikin pada traveling brain


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2