My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Rindu itu Menyiksa


__ADS_3

Tiga bulan memendam rindu ternyata benar-benar menyiksa Pandu. Perbedaan jam antara Jakarta dan New York yang 11 jam membuat kacau ritme komunikasi dirinya dan Reana. Pandu baru masuk rumah jam sepuluh malam, Reana sudah di ruang kuliah.


Pandu pagi sudah bersiap untuk ke kantor, Reana baru makan malam. Pandu makan siang, Reana sudah tidur. Hingga puncaknya keduanya baru bisa berkomunikasi di hari Sabtu ini. Pandu yang memang libur menelpon gadisnya di jam sembilan pagi dengan asumsi sudah selesai makan malam bersama keluarga O'Grady.


"Assalamualaikum mas Pandu" sapa Reana.


"Wa'alaikum salam princess. Ternyata long distance relationship itu melelahkan."


Reana tertawa. "Ujian hubungan juga mas."


"Kamu dewasa sekali?" goda Pandu mendengar ucapan Reana.


"Harus mas karena berpacaran dengan pria yang lima tahun lebih tua dari aku."


"Tidak harus princess. Just be yourself. Aku malah suka kalau kamu cerita macam anak remaja gitu. Sesuai dengan umurmu saja, sayang."


"Tapi mas..."


"Kalau mau dewasa itu pada saat kamu dituntut untuk menjadi dewasa. Saat ini kan tidak perlu. Ada cerita apa?"


Reana menceritakan kehidupan di kampus, lalu Rajendra yang diangkat menjadi demi chef oleh Giancarlo Bouloud. Abi yang berantem dengan teman kuliahnya karena hendak menjebak dia di acara pesta minum.


"Kalian kan memang keluarga bersih jadi tidak mungkin mau ikut pesta seperti itu."


"Meskipun Abi sudah kuliah tapi usianya kan masih di bawah umur."


"Kalian terlalu cepat masuk kuliah sih" kekeh Pandu.


"Ya maaf kalau kami diberikan otak cerdas" balas Reana.


Pandu terbahak. "Cewek cerdas dan pintar itu seksih. Aku lebih suka melihat cewek seperti daripada fisik bagus tapi otaknya kosong. Bikin males."


"Tipenya mas Pandu begitu?"


"Tipeku itu kamu, princess. Aku akui awal fisikmu tapi begitu aku tahu kamu memang cerdas, itu yang membuat aku jatuh cinta padamu."


"Bukan karena aku cucu Duncan Blair?"


"Itu kebetulan saja. Bisa jadi kita bertemu dengan situasi berbeda tapi kalau memang sudah digariskan takdir bahwa kita bertemu dan berjodoh tetap saja akan bersama.."


"Apakah pegawai di Giandra Otomotif Co cantik-cantik?" tanya Reana dengan nada sedikit cemburu.


"Are you jealous princess?" goda Pandu.


"Munafik kalau aku bilang aku tidak jealous. Secara kamu good looking, mas."


"I'm not good looking, Princess" kekeh Pandu.


"Yes you are."


Pandu tergelak. "Really?"


"Buat aku, kamu paling tampan."


"Bukankah sepupu-sepupumu tampan semua?"


"Heeeiii, they are my cousins and brothers not my boyfriend."


Pandu tertawa lagi. "I miss you princess."


"Miss you too."

__ADS_1


***


Rajendra tertawa terbahak-bahak melihat wajah manyun Aruna. Gadisnya makin cemberut karena acara curhatnya malah diketawain oleh kekasihnya.


"Rajendra! Aku serius marah!" seru Aruna dari layar monitor.


"Tapi aku serius geli, Runa. Membayangkan temen satu kelompok mu bikin blueprint kacau karena tidak tahu arah horizontal dan vertikal" gelak Rajendra. "Kok bisa sih lolos masuk arsitektur?"


"Itu tuh yang bikin aku bingung. Gemes aku, Jendra. Rasanya pengen aku tendang dari kelompok aku!"


"Harusnya kamu terapi bagaimana menghapalkan mana horizontal dan vertikal."


"Sudah Jendra. Sampai aku tempel di meja arsiteknya dia! Tapi tetap saja salah!"


Rajendra semakin terbahak. "Wah kacau temanmu itu."


"Aku keluarkan saja ya dari kelompok aku. Soalnya gara-gara dia, desain kami terhambat."


"Kamu omongin baik-baik dulu, sayang. Jangan sampai dia nanti tersinggung."


"Sudah Jendra. Aku sampai bingung harus berbuat apa."


"Kamu tegasin saja karena jika mempengaruhi nilai kamu, kamu yang rugi."


"Iya sayang. Ohya, selamat ya naik jadi demi chef" senyum Aruna.


"Iya akhirnya. Alhamdulillah" balas Rajendra.


"Jangan bikin malu ya" cengir Aruna.


"Nggak kok sayang, aku hanya malu-maluin" jawab Rajendra cuek.


***


Rhett yang melihat keponakannya setiap pulang dari restauran dengan wajah letih, menawarkan untuk pindah restauran tapi Rajendra menolaknya.


"Nggak Oom. Ini memang kinerja chef seperti itu sama seperti dokter kan?" cengir Rajendra. "Lagipula aku sudah terbiasa di RR's Meal."


"Apa kamu yakin, Jendra?" tanya Rhett.


"Oom, Jendra sudah memutuskan menjadi chef jadi sudah konsekuensinya."


"Oke Jendra. Kalau kamu sudah..."


"Oom stop!" kekeh Rajendra. "I'm big boy. Hanya segini saja kok harus nyerah? Waktu diculik dulu saja aku nggak ada kepikiran menyerah, masa seperti ini kok langsung hands up."


Rhett terbahak teringat saat dirinya dulu ikut acara membebaskan Rajendra dan Thara. "Benar juga Jendra. Kamu sudah kuat dari kecil ya."


"Nah tuh Oom paham. Oom tuh sama ma Daddy, terlalu worry padahal anaknya nggak papa. Trust me. I'm fine."


"Maafkan Oom, Jendra. Sebagai orang tua kan pasti ada perasaan ingin agar anaknya tidak terluka tapi terkadang kita lupa jika anak sudah besar, sudah waktunya untuk belajar kehidupan menjadi dewasa."


"Tak apa Oom, Jendra maklum."


"Sudah, kamu istirahat sekarang."


"Baik Oom. Selamat malam."


"Malam Jendra."


***

__ADS_1


Pandu masuk kantor dengan wajah datar seperti biasa dan membuat banyak karyawan kantor yang wanita berbisik-bisik membicarakan dirinya.


Bara yang datang setelah Pandu yang masuk ke dalam lift mendengar beberapa karyawati nya bergunjing soal Pandu.


"Pandu sombong sekali ya. Kemarin aku ajak makan siang tidak mau."


"Iya lho. Apa dia belok ya?"


Bara tersenyum dalam hati. "Ehem!"


"Eh pak Bara. Selamat pagi pak." Ketiga karyawati disana langsung tampak kikuk kepergok Bara lagi menggosip.


"Pagi-pagi sudah ghibah. Ayo kembali ke ruangan masing-masing!" tegas Bara.


"Baik pak Bara." Ketiga gadis itu langsung membubarkan diri dan menuju ruangan kerja masing-masing.


Bara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dasar cewek! Bara lalu masuk ke dalam lift khususnya dan mengambil ponselnya.


"Assalamualaikum Kaia."


***


Pandu masih berkonsentrasi mengerjakan laporan perbaikan yang diajukan oleh para klien Giandra Otomotif Co untuk mobil-mobil mewah yang ingin divariasi dengan body part yang lebih custom dan lebih mewah ketika ponselnya berbunyi. Tampak nama 'Bara Giandra' disana.


"Selamat pagi pak Bara."


"Pagi Pandu. Kamu ke ruangan saya. Sekarang."


"Baik pak." Pandu pun mematikan ponselnya dan bergegas menuju ruangan Bara.


***


"Pak Bara memanggil saya?" tanya Pandu sopan.


"Iya Pandu. Duduk."


Pandu pun duduk di kursi yang disediakan di depan meja kerja Bara. Tampak foto keluarga Giandra di lemari laci jati diatas nya termasuk foto Abimanyu Giandra dan Ghani Giandra.


"Bagaimana jika kamu saya kirim ke Surabaya untuk menjadi manager marketing disana?" tanya Bara tanpa basa basi.


Pandu tampak terkejut. "Surabaya pak?"


"Iya. Kenapa? Kamu keberatan?"


Pandu hanya terdiam sebab dirinya tidak paham Surabaya.


"Tidak pak. Saya tidak keberatan." Pandu menatap Bara dengan wajah datar.


Bara tersenyum.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Maaf terlambat karena masih urus macam-macam di dunia nyata


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2