
Bara menatap pria berwajah sendu namun sorot matanya menunjukkan kecerdasan dan ketabahan hati dengan perasaan geli. Jahat ih si Kaia! Main kirim ke Surabaya saja nih bocah.
***
"Assalamualaikum Kaia" ucap Bara.
"Wa'alaikum mas Bara. Ada kabar apa?" jawab Kaia.
"Pandu disini benar-benar seperti Shailendra di PRC dan MB Enterprise."
"He's good, huh?" kekeh Kaia.
"Yes. Bocah itu lurus dan untuk ukuran jaman sekarang itu langka" ucap Bara sambil berjalan menuju ruangannya setelah keluar dari lift.
"Kirim dia ke Surabaya."
"Hah?" Bara menghentikan langkahnya. "Kai, are you sure ?"
"Kirim Pandu ke Surabaya, suruh dia beresin kekacauan disana!" ucap Kaia final. "Aku atau Levi yang akan kesana Minggu depan."
"You've got be kidding me!" kekeh Bara.
"Ujian mental dia, bro."
"Astaga Kaia. Jahatnya dirimu."
"Jika dia bisa membereskan Surabaya, baru aku yakin dia bisa tahan banting di New York."
Bara tertawa. "Kamu benar-benar deh!"
"Hei, dia mau anakku dan aku ingin mengujinya." Suara tawa Kaia terdengar di seberang.
***
"Semua data di Surabaya akan diemailkan kepadamu. Kamu pelajari karena Minggu depan kamu sudah harus berangkat ke Surabaya."
Pandu tersentak. "Mi...Minggu depan?"
"Iya Ndu. Kenapa?"
"Tidak apa-apa pak Bara." Ya Allah, gini amat ya nasib long distance relationship yang semakin long long faraway.
"Saya minta selain kamu mempelajari Giandra Otomotif Co Surabaya, kamu juga segera cari apartemen disana."
"Baik pak Bara."
***
Pandu masuk ke bilik kerjanya dengan wajah lesu dan membuat banyak orang yang satu ruangan dengannya menatapnya dengan penuh tanya.
"Kenapa lu Ndu?" tanya Marwan, salah satu marketing disana.
"Tidak apa-apa" jawab Pandu pelan.
"Kamu dimarahi sama pak Bara?"
Pandu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lha terus?"
"Gue dipindah Wan" jawab Pandu.
"Kemana?"
"Surabaya."
Sontak semua orang yang disana langsung heboh. Pandu memandang rekan-rekannya dengan tatapan bingung. Memang ada apa dengan kota Surabaya?
"Lho kok kalian heboh?" tanya Pandu.
"Ndu, Surabaya orangnya isinya mbalelo Kabeh!" ucap Marwan.
"Mbalelo itu apa?" Pandu semakin bingung.
"Mbalelo tukang bantah, tukang ngeyel tapi salah! Aku pernah tuh dikirim ke Surabaya urusan marketing. Wuiiihhh nganti gelut aku! Arek-arek e kuwii ga iso diajak ngomong enak. Ngajak padhu ( ribut ) terus!" ucap Marwan.
"Wan, gue tahu lu orang Jawa tapi jangan diomongin disini. Gue kagak ngarti!" celetuk salah seorang rekan di satu ruangan itu.
Marwan mendecih. "Googling lah! Susah amat lu!" ucapnya cuek.
Pandu hanya terdiam mendengar cerita Marwan. Memang di Surabaya sebegitu kacaunya?
***
"Nakal lu Kai!" kekeh Levi ketika mendengar rencana Kaia mengirim Pandu ke Surabaya.
"Aku pengen tahu bagaimana anak itu bisa membereskan Surabaya sebelum dia aku nilai pantas untuk kembali ke New York" ucap Kaia.
Pagi ini Levi mendatangi ruangan Kaia setelah semalam mendengar dari Bara kalau dia akan mengirim Pandu ke Surabaya.
"Karena aku ingin siapa yang mendekati anakku memang pantas mendapatkan Reana."
"Kai, bukannya kalian, maksud aku, kamu dan Rhett sudah menyetujui? Shailendra saja yang masih kekeuh menolak hubungan mereka berdua."
"Aku memang ingin memplot Pandu menjadi asisten ku besok. Makanya aku ingin lihat, sampai sejauh mana kemampuannya." Kaia tersenyum ke arah sepupunya.
"Rupanya kamu sama jahilnya dengan ku" kekeh Levi.
"Kalau tidak begitu, nggak mungkin dong kita sepupu?" kerling Kaia sambil tertawa.
"Karepmu, Kai."
***
Reana meradang mendengar Pandu akan dikirim ke Surabaya oleh sang mama. Gadis yang memiliki rambut pirang dan bermata biru sama dengan sang mama langsung mendatangi ruang kerja Kaia di penthouse.
"Mama!" seru Reana kesal.
"Apa sayang?" jawab Kaia kalem karena tahu kalau Pandu pasti sudah berceri pada putrinya kalau dirinya akan dipindahkan ke Surabaya oleh Bara.
"Apa benar mas Pandu akan dipindahkan ke Surabaya?" Mata biru Reana menatap tajam ke Kaia.
Kaia membalas tatapan putrinya dengan santai. "Memang! Mama yang minta Oom Bara mengirimkan Pandu kesana."
"Mama tega! Surabaya itu lagi kacau tapi mana kirim mas Pandu yang masih buta Surabaya kesana!"
__ADS_1
"Andreana Anindita Blair O'Grady. Dengarkan mama. Pandu mama kirim kesana supaya mama bisa menilai apakah dia bisa bekerja dalam tekanan di lingkungan kerja yang keras itu. Kalau Pandu bisa mengatasi masalah di Surabaya, berarti dia bisa menghandle semua masalah di tempat lain."
"Tapi Maaa... Mas Pandu baru mau empat bulan bekerja di Jakarta. Mama tega kirim dia kesana!" Reana tetap tidak setuju dengan keputusan Kaia.
"Reana sayang, siapa yang ingin Pandu masuk Giandra Otomotif Co? Kamu atau Pandu?"
"Mas Pandu ..." ucap Reana pelan.
"Kalau begitu, Pandu sudah tahu dong konsekuensinya! Resiko di pekerjaan itu pasti akan macam-macam. Kamu jangan mencampur adukkan perasaan pribadi kamu dengan profesionalisme pekerjaan. Besok kalau kamu sudah lulus, mama masukkan kamu di Giandra atau PRC atau MB tapi dari bawah juga agar kamu tahu seluk beluk perusahaan bukan langsung duduk sebagai CEO atau Manager." Kaia memandang putrinya serius.
Reana hanya bisa terdiam mendengar ucapan Kaia yang sudah final.
Ya Allah, makin jauh saja jaraknya.
***
Reana menatap pemandangan kota New York dari balkon penthouse nya sambil memeluk kedua kakinya. Mug yang berisi hot choco yang sudah habis sejak tadi masih dipegangnya.
Wajah cantiknya menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka dan tampak sepupu tampannya datang menghampiri. Baju chef-nya sudah terbuka kancingnya menunjukkan kaos hitam yang dipakai di dalamnya.
"Hai, Re" sapa Rajendra. "Suntuk amat!" Putra Arjuna McCloud itu duduk di sebelah Reana.
"Ya ampun Jendra! Kamu bau asap!" hardik Reana sambil memencet hidungnya yang mancung.
"Ya maap. Aku hari ini bagian ngegrill" cengir Rajendra. "Tapi tetap ganteng kan?"
Reana memukul bahu Rajendra. "Narsis!"
"Kayak Daddy" gelaknya. "Kamu kenapa? Menggalau malam-malam diluaran. Soal mas Pandu?"
Reana menatap sendu ke sepupunya. "Mas Pandu dipindah mama ke Surabaya, Jendra."
Rajendra terkejut. "Kenapa? Bukannya mas Pandu harusnya dua tahun di Jakarta ya?" Hari ini dia bisa santai karena besok adalah jadwal liburnya dan menurut rencana, dia akan mengajukan pembuatan SIM internasional di Samsat New York karena dia warga negara Inggris. Rajendra sudah belajar menyetir mobil sejak usia 14 tahun dengan guru ayahnya sendiri dan dirinya termasuk lihai menyetir mobil tapi usianya belum memungkinkan memiliki SIM.
"Kata mama, untuk membuktikan bahwa mas Pandu bisa menghandle situasi sulit. Jika memang mampu, maka mas Pandu akan ditarik lagi ke New York."
"Lho bagus dong Re. Itu tandanya Tante Kaia memberikan kepercayaan pada mas Pandu sama halnya Daddy kasih kepercayaan sama aku untuk mampu menyelesaikan kuliahku disini meskipun aku harus jatuh bangun untuk menghadapi berbagai intrik di dunia kuliner tapi aku yakin aku bisa mengatasinya. Re, Tante Kaia itu juga ingin melihat seperti apa sih pria yang mendekati kamu. Walaupun Oom Rhett dan Tante Kaia setuju kalian berpacaran, bukan berarti mereka mengiyakan begitu saja tapi harus bisa dibuktikan dengan perbuatan di bidang pekerjaan apakah mampu profesional atau tidak" papar Rajendra panjang lebar.
Reana menatap wajah tampan Rajendra yang semakin kelihatan darah timur tengah nya.
"I think you're right, Jendra."
"Of course right lah!" gelak Rajendra.
"Iiissshhh, nyebelin!" Tak urung Reana pun ikut tertawa.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️