
Aruna bersama orangtuanya masih berada di New York hingga seminggu kedepan. Kemarin saat Aruna berada di mansion Blair, ayahnya mengatakan bahwa kedua orangtuanya mengijinkan dirinya menginap disana sembari memberi tahukan mereka memperpanjang kunjungan ke New York.
"Aruna kuliah di Cambridge?" tanya Rhea saat ketiga cucunya duduk bersama di meja makan.
"Iya Oma, ambil arsitektur."
"Wah bagus dong. Oma kira kamu ambil agriculture karena bisnis papamu" senyum Rhea yang memang sudah tahu siapa Aruna.
"Nggak lah Oma, Aruna lebih suka arsitektur."
"Rey, masih banyak makanan kan?" suara Duncan membuat Rhea menoleh.
"Kenapa bang? Masih banyak ini" jawab Rhea.
"Shailendra dan Pandu biar sekalian makan siang disini. Kan perjalanan dari Staten island lumayan ke Queens."
"Maap merepotkan Mrs Blair" ucap Shailendra Juwono dengan nada tidak enak.
"Ah santai saja. Ayo makan. Ini cucu-cucu pada makan karena memang mereka gampang lapar." Rhea pun. berdiri untuk memanggil pelayan menyiapkan makanan tambahan untuk Duncan dan dua tamunya.
"Monggo pak Shailendra duduk di sebelah saya saja" ucap Rajendra sambil tersenyum.
"Muaturnuwun mas Rajendra. Lho kok saget bahasa Jawa?" Shailendra duduk disebelah Rajendra sedangkan sebelahnya adalah Pandu.
"Mama saya wong Solo jadi bisa lah bahasa Jawa dikit-dikit meskipun tidak terlalu fasih" cengir Rajendra.
Rhea kini duduk sederet dengan Aruna dan Reana. Pandu dan Reana duduk berhadapan namun keduanya sama-sama saling menunduk seolah tidak mau berpandangan satu sama lain.
"Aruna kuliah dimana? Cambridge?" tanya Duncan.
"Iya Opa. Jurusan arsitektur."
"Mantap" ucap Duncan sambil menyuap lasagna buatan Rhea. Menu makan siang hari ini adalah Italian Food.
"Nona Reana kuliah dimana Mr Blair?" tanya Shailendra.
"Reana kuliah di Columbia University ambil econometrics and quantitative economy" jawab Duncan bangga. "Saudara kembarnya, Abi, kuliah di MIT ambil fisika."
Pandu mendongakkan kepalanya dan menatap gadis berambut pirang itu dengan tatapan kagum. "Columbia? Ivy League?" Untuk pertama kalinya Pandu membuka suaranya.
"I..iya" jawab Reana.
Sikap Reana yang tidak seperti biasanya membuat opa dan omanya saling berpandangan begitu juga Rajendra dan Aruna.
"Hebat. Lolos SAT perfect?" tanya Pandu lagi.
Reana hanya mengangguk. Pandu tersenyum dengan tatapan kagum. Gadis ini sudah cantik, pintar juga.
Baru tahu kalau Reana pintar ya bang?
Reana pun menunduk sambil memakan spaghetti nya. Shailendra melihat bagaimana interaksi putra dan cucu Duncan Blair merasa takut. Takut putranya jatuh cinta dengan cucu penguasa MB Enterprise.
__ADS_1
Dia bukan level kamu, nak.
***
Usai makan siang, Duncan mengajak. berbicara dengan Shailendra tentang job description yang harus dia kerjakan di MB Enterprise di ruang kerjanya. Selama ini MB Enterprise memang dipegang oleh Kaia yang masih harus berbagi konsentrasi dengan Giandra Otomotif Co yang dipegangnya bersama dengan Levi Reeves.
Beruntung Yanti, istri Levi mau membantunya di MB Enterprise sebagai wakilnya jadi Kaia sangat terbantu.
Kini Rajendra, Aruna, Reana dan Pandu berada di halaman belakang mansion yang merupakan tempat favorit semua orang jika berkunjung ke mansion.
"Mas Pandu, umur berapa sih?" tanya Aruna tanpa basa basi.
"Saya 22 tahun."
Reana menatap Pandu yang duduk bersebelahan dengan Rajendra. Beda lima tahun.
"Bentar lagi lulus dong" celetuk Rajendra.
"Iya tuan Raje..."
"Hei, panggil aku Rajendra atau Jendra tanpa embel-embel 'tuan'. Kan kamu bukan pengawal aku" potong Rajendra.
"Eh? Tapi... "
"Panggil dik juga nggak papa" sambung Rajendra lagi.
"Dik? Sejak kapan mas Pandu nikah sama kakakmu, Jendra?" gelak Aruna.
"Sejak kapan ya?" cengir Rajendra sambil menggaruk kepalanya.
"Dih! Males banget!" cebik Rajendra sambil bersedekap.
Reana hanya tertawa melihat sepupunya heboh sendiri.
Pandu melirik ke arah gadis cantik itu. Benar-benar cantik kalau tertawa.
Sampai pada waktunya Shailendra dan Pandu pulang, Reana masih tetap bersikap diam dan hanya mengangguk hormat.
"Sampai jumpa lagi, princess" bisik Pandu saat mereka berjabat tangan yang membuat wajah Reana memerah.
"Sampai jumpa lagi" balas Reana.
Di dalam taksi bersama dengan Shailendra, Pandu menatap penuh arti ke Reana.
Setelah taksi itu keluar dari mansion Giandra, Shailendra membuka mulutnya.
"Jangan jatuh cinta dengan cucu tuan Duncan Blair, Pandu. Kita hanyalah orang biasa, mereka adalah Sultan. Bapak tidak mau kamu terluka karena belum tentu keluarga mereka bisa menerima kamu khususnya dan kita semua."
Pandu menoleh ke arah ayahnya.
"Setahu Pandu, cinta tidak pernah salah."
"Cinta memang tidak pernah salah, Ndu tapi subyek yang kamu cintai yang salah. Kita bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka. Jadi sebelum kamu memupuk perasaan kamu kepada nona Reana, bapak minta kamu hilangkan."
__ADS_1
Pandu terdiam. Di usianya yang menginjak 22 tahun, baru kali ini Pandu merasakan rasa tertariknya dengan lawan jenis karena selama ini dia sibuk belajar agar beasiswa yang didapatnya tetap berjalan.
Maaf, bapak. Untuk kali ini aku akan melawan ucapan bapak. Aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama pada Reana.
***
Senin sore ini Aruna sudah menunggu kekasihnya selesai kuliah. Berbeda dengan dirinya yang masih diberikan libur semester, Rajendra benar-benar padat sebelum libur lusa.
Di dalam mobilnya bersama dengan Ian dan Amir, Aruna sibuk memeriksa jadwal kuliah semester depan serta berapa mata kuliah yang hendak diambilnya.
"Oom Ian, Oom Amir, sudah pernah lihat si uget-uget?" tanya Aruna tanpa mengalihkan pandangannya dari ipadnya.
"Belum sih nona, kami baru dengar cerita tuan Rajendra saja" jawab Ian.
"Aku penasaran" ucap Aruna sambil menatap pintu kampus Rajendra. Mata coklatnya berkilat-kilat menahan emosi.
Ian dan Amir saling berpandangan. Gaswat!
Pintu kampus Rajendra terbuka dan tampak remaja pria itu tampak kesal ketika seorang gadis berusaha mendekati dirinya. Gadis berambut merah itu malah berusaha menarik tangan Rajendra yang langsung mengibaskan dengan kasar.
Aruna tidak tahan lagi dan meletakkan ipadnya di kursi lalu membuka pintu, berjalan menuju Rajendra dan gadis itu ribut.
"Sayang, ada apa ini?" tanya Aruna sambil memegang tangan Rajendra.
"Aku sudah punya kekasih jadi jangan kamu buat acara ingin membuat bertekuk lutut denganmu!" hardik Rajendra kesal.
"Apa sih yang kamu lihat dari cewek kuno begini dengan semuanya ditutup rapat. Paling dia juga gemuk jadi pakai baju longgar buat menutup tubuhnya yang jelek!" ledek Anna Rudd. "Kamu lihat bodyku dong!"
Rajendra tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak melihat orang dari bodinya tapi dari sifat, sikap dan perilaku. Dan kamu bukan selera aku!" Rajendra kemudian menggandeng Aruna. "Yuk sayang, kita pulang."
"Paling cewek itu miskin! Berlagak sok religius tapi sama saja mau morotin kamu!"
Aruna berhenti dan berbalik. Rajendra memandang ke arah kekasihnya yang berjalan dengan wajah judes.
"Sepertinya apa yang kamu ucapkan adalah apa yang kamu ingin lakukan. Bukankah kamu ingin berpartner dengan kekasihku karena merasa dia kaya. Aku kasih tahu ya, kekasihku tidak kaya! Jadi lebih baik kamu mencari mangsa lain saja!" Aruna pun berbalik berjalan menghampiri Rajendra yang berdiri menunggunya.
"Cewek miskin saja belagu!" teriak Anna.
Aruna dan Rajendra mengacuhkan teriakan Anna.
"Aku masih sabar, Jendra tapi kalau dia masih bebal, jangan hentikan aku untuk menghajarnya!" ancam Aruna serius.
Rajendra merinding mendengarnya.
***
Yuhuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1