My Cold Chef

My Cold Chef
Times Square


__ADS_3

Malam harinya, Rajendra, Reana, Aruna berserta Ian dan Amir berjalan-jalan di area Times Square, area iconic di kota New York. Ketiganya pun asyik berselfie ( wefie ya karena banyakan ) di banyak lokasi disana.



Ian dan Amir tampak waspada di sekeliling nona dan tuan mudanya meskipun mereka tahu kalau ketiganya jago berantem dan menembak tapi tetap saja tugas utama mereka adalah melindungi ketiganya.


Ketika sedang berada di McDonald, Reana mendapatkan telepon dari Pandu.


"Dimana princess?" tanya Pandu.


"McDonald's Times Square."


"Oke, aku kesana." Pandu mematikan panggilannya. Reana menatap ponselnya.


"Siapa Re?" tanya Rajendra sambil menggigit burgernya.


"Mas Pandu."


"Ada apa dengan mas Pandu?" tanya Aruna.


"Katanya mau nyusul kemari" jawab Reana santai.


"Dia kayaknya naksir kamu deh!" Rajendra menatap Reana dengan pandangan menyelidik.


Reana memerah wajahnya. "Oh no! Kamu juga suka sama Pandu?" seru Rajendra.


"Tapi aku sama dia kan masih muda. Masih banyak hal yang bisa terjadi."


Rajendra dan Aruna hanya saling berpandangan. "Kita apa kabar Re?" kekeh Aruna.


Reana melongo lalu tertawa. "Aku lupa kalian dari TK. Oh, opa Duncan malah sebelum Oma Rhea lahir ya."


"Nah tuh! Contohnya ada. Kalau memang jodoh, mau dipisahkan apapun pasti akan kembali juga" ucap Aruna sok bijak.


"Nona Reana. Ada pria mencari anda" bisik Amir ketika melihat Pandu hendak menghampiri Reana tapi dihadang oleh Ian.


Reana pun berbalik.



"Oh itu mas Pandu Dewanata, anaknya pak Shailendra Juwono. Suruh duduk sini saja, Amir. Tak apa." Reana tersenyum ke arah Pandu yang datang mengenakan jas dan kaus turtleneck.



"Baik nona." Amir memberikan kode kepada Ian untuk memberikan ijin Pandu mendekati tempat duduk disebelah Reana.


Pandu pun datang menghampiri Reana. "Halo princess" sapanya. "Halo Rajendra, Aruna. Puas banting orang?" Pandu menatap Rajendra dan Aruna dengan wajah jenaka.


Aruna terbahak. "Uget-uget itu memang harus dibasmi!"


"Uget-uget?" Pandu menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Iya, cewek itu sudah aku peringatkan tapi masih nekad jadinya aku cari tahu lah dia siapa. Ternyata dia hanya cewek yang menghalalkan segala cara demi kenikmatan duniawi. Salah asuhan tampaknya." Aruna menatap Pandu serius.


"Kenapa kamu banting?" tanya Pandu.


"Dia menyerang aku duluan, masa aku diam saja?" cengir Aruna. "Masih bagus aku hanya banting, nggak aku hajar wajahnya."


Pandu mendelik tidak percaya mendengar ucapan gadis cantik berhijab itu.


"Mas Pandu nggak usah kaget, Aruna memang biasa bar-bar di London." Rajendra tersenyum ke arah gadisnya.


Pandu hanya mengangguk. "Kalau itu saya tidak heran karena kelihatan bagaimana nona Aruna benar-benar perempuan tangguh!"


"Terimakasih mas" cengir Aruna.


Usai makan di McDonald's, keempatnya pun berjalan-jalan lagi dengan Ian dan Amir di belakang mereka. Bahkan kedua pria itu tersenyum melihat bagaimana Pandu mengkaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Reana.


Tampaknya pria itu jatuh cinta dengan nona Reana - batin Ian.


Apakah tuan Rhett dan nyonya Kaia sudah tahu? - batin Amir.


Hingga jam sebelas malam mereka berada di Times Square dan akhirnya pulang ke penthouse keluarga O'Grady sedangkan Pandu pulang dengan motornya.


***


"RAJENDRA SAMUDERA MCCLOUD!"


"Aduuuhh! Mamaaaa! Sakiiiittt!"


Rajendra terbangun dari tidur nyenyak nya ketika tangan lentik Sekar menjewer telinga putra sulungnya.


"Doraemon? Pintu kemana saja? Selamat nggak ada! Bisa habis kupingku. Alhamdulillah belum ditemukan teknologi itu" ucap Rajendra sambil mengelus dadanya.


"Kamu tuh! Kenapa kamu nggak narik Aruna, hah! Mama sampai syok lihat calon mantu mama bar-bar kayak gitu! Papamu sampai menyemburkan kopinya melihat kelakuan Aruna. Kamu itu sebagai pacarnya, harusnya bisa kasih tahu dong! Bukan malah didiemin! Paham nggak Jendra!"


Rajendra akhirnya merebahkan tubuhnya lagi. "Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi" bisiknya.


"Ini beneran cumiiii!" seru Sekar kesal ikutan gaya suaminya kalau sudah gemas.


"Aduuuhh! Mamaaaaa!" teriaknya ketika merasakan pinggangnya dicubit oleh Sekar. "KDRT ma! KDRT!"


"Biarin! Biar kamu nggak sembarangan!"


***


Arjuna hanya menyesap teh wasgitel yang dibuatkan oleh Kaia. Dirinya tidak mau ikutan Sekar sedang memarahi putra sulungnya karena dia sudah mempersilahkan istri cantiknya untuk marah-marah.


"Meskipun Rajendra bukan anak kandungku, mas, tapi aku yang merawat dirinya sejak awal lahir. Jadi aku ada hak prerogatif sebagai ibunya untuk mewakili Lily buat memarahi bocah itu!" ucap Sekar di kamar saat mereka hendak melakukan perjalanan dari London ke New York.


Dan kini Arjuna dan Rama hanya bisa membiarkan Sekar melakukan hak prerogatifnya.


"Rama, mau istirahat dulu? Tidur saja di kamar mas Abi" bujuk Kaia.

__ADS_1


Memang keluarga McCloud sampai di penthouse keluarga O'Grady pada pukul enam pagi dan tampak wajah Rama masih ngantuk.


"Boleh pa? Rama masih ngantuk" ucap bocah berusia 10 hendak 11 tahun itu.


"Boboks saja dulu boy. Mamamu bakalan lama ngomelnya" seringai Arjuna. Rama pun mengangguk dan diantarkan Kaia, bocah tampan itu menuju kamar Abi.


Rhett menatap Arjuna yang tampak lelah. "Kamu mau tidur juga Jun? Sana sama Rama di kamar Abi. Pasti kamu kaget lihat Aruna ya?"


"Parah Rhett, aku tidak menyangka calon mantu aku sebegitu bar-barnya" kekeh Arjuna.


"Tapi bukannya Rajendra memang suka cewek bar-bar?"


"Tapi ini kebablasan. Aksara suka curhat karena anaknya benar-benar pemberani dan sekarang meminta dia untuk diijinkan belajar menembak seperti Rajendra tapi sampai sekarang belum diijinkan."


Rhett terbahak. "Asal jangan seperti Z saja bar-barnya."


"Itu masalahnya Rhett. Rajendra sangat mengagumi Kaia jadi dia tambah bahagia jika Aruna bar-bar." Arjuna mengusap keningnya.


"Wah kacau kalau begitu" gelak Rhett O'Grady.


***


Reana melongo melihat undangan yang dikirimkan oleh Pandu lewat pesan ponselnya. Undangan sidang skripsi Pandu Dewanata.


📩 Reana O'Grady : Maksudnya apa mas Pandu


📩 Pandu Dewanata: Aku ingin kamu menemaniku saat maju sidang skripsi Senin besok.


📩 Reana O'Grady : Tapi apa boleh?


📩 Pandu Dewanata : Tentu saja boleh. Karena itulah aku kirim undangan untukmu, princess. Karena dengan kamu menemani aku, akan semakin semangat dalam menghadapi ujian skripsi nanti."


Wajah Reana tampak memerah. Hanya seperti ini saja, kok aku tersanjung ya.


📩 Pandu Dewanata : Bisa datang kan princess?


📩 Reana O'Grady : Insyaallah.


📩 Pandu Dewanata : Alhamdulillah kalau mau menemani aku.


Reana tersenyum. Begini ternyata rasanya jatuh cinta.


***


Yuhuu Up Malam Yaaaa


Maaf aku hari ini hanya bisa up satu chapter saja dan babang Dapid mungkin agak maleman karena masih belum fit.


Thank you for reading and support author


Terimakasih atas ucapan dan atensinya

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2