
Polsek Gajah Mungkur Semarang
Jaksa Penuntut Umum bernama Bramantya Daud sudah berada disana karena permintaan Kapten Rasyad dan Travis Blair. Bram sendiri sebelumnya bertugas di Jakarta dan tahu sepak terjang keluarga Blair apalagi Bram dua kali bekerjasama dengan James Blair menuntut seorang koruptor dan memiskinkan hingga ke semua keturunannya.
Karena track record keluarga Blair yang bersih, Bramantya tidak sungkan membantu Travis saat tahu pria itu berada di Semarang. Bram sendiri sudah pindah dari Jakarta ke Semarang setahun lalu karena permintaannya sendiri agar bisa merawat ibunya yang sudah tua di kota lumpia ini.
"Mas Travis!" sapa Bramantya.
"Pak Bram. Apa kabar? Bagaimana ibu?" tanya Travis sambil berjabat tangan dengan jaksa itu.
"Ibu sampun sedho dua bulan lalu."
"Innalilahi. Ikut berduka cita pak Bram. Kok aku tidak tahu ya... Oh aku di Mumbai saat itu hampir sebulan." Travis menatap Bram dengan wajah memohon maaf.
"Tidak apa mas Travis. Saya tahu anda sibuk. So, ada kasus apa sehingga saya diminta hadir?"
"Oh sebelumnya, perkenalkan ini sepupu saya Abi Blair O'Grady dan kekasihnya Gandari Pramudhita." Travis memperkenalkan keduanya tanpa canggung membuat wajah Gandari memerah.
"Whoah! Apakah menyenggol keluarga Blair?" cengir Bramantya.
"You can say that" tawa Travis.
"Mari kita semua ke ruangan pertemuan" ajak Kapten Rasyad.
Mereka semua masuk ke ruang pertemuan dimana para polisi yang bertugas mendiskusikan kasus.
"Maaf agak berantakan" senyum Kapten Rasyad.
"It's okay" ucap Jaksa Bramantya.
"Oke, kita semua sudah duduk, mari kita bahas apa yang sebenarnya terjadi." Travis pun mengeluarkan semua berkas dari kopernya dan Abi mengeluarkan berkas dari tas selempang nya.
Jaksa penuntut umum Bramantya pun mempelajari dan mendengar penjelasan Travis, Abi dan Gandari.
Selama satu jam kelima orang itu berdiskusi dan Bramantya sangat tahu sepak terjang Travis yang totalitas membela keluarga selama itu masih di koridor yang benar. Keluarga Blair dikenal mahal dalam biaya tapi mereka juga tidak gegabah membela.
***
"Mbak Gandari, menilik bukti - bukti yang ada, bisa saya bilang ini kejahatan paling kejam yang pernah saya tangani. Tega sekali sindikat ini kalau boleh saya bilang. Begitu sabarnya membuat semua sesuai rencana yang sayangnya, rencana jahat. Dan Lukman itu hanya anak angkat? Benar - benar ngantem tenan!" ucap Bramantya geram.
__ADS_1
"Sudah bisa naik jadi kasus kan?" tanya Gandari.
"Bisa banget mbak, apalagi bukti - bukti sudah lengkap, ditambah mbak Gandari calon cucu menantu Mr Duncan Blair, habis deh!" kekeh Bramantya. "Anda sangat beruntung bersama dengan mas Abi dan dibantu mas Travis karena mereka adalah orang yang hidupnya lurus."
***
Jaksa penuntut umum Bramantya hanya bisa menepuk jidat ketika kapten Rasyad mengatakan bahwa Gandari ingin membuat perhitungan kepada Lukman.
"Sebenarnya ini tidak boleh dilakukan tapi mengingat kejahatan mereka sangat kejam, tidak ada salahnya kita main hakim sendiri" seringai Bramantya.
"So, mau siapa dulu?" tanya Travis.
"Lukman!" ucap Gandari dan Abi bersamaan.
Travis terbahak. "Kompaknya!"
"Alasannya?" tanya Kapten Rasyad.
"Lukman itu lemah dan Anggita adalah dominator dan manipulatif orangnya. Lukman habis, giliran Anggita" argumen Abi.
"Kenapa tidak Anggita dulu?" tanya Bramantya.
***
Ruang Interogasi Polsek Gajah Mungkur
Lukman tampak bingung melihat wajah-wajah dua anggota kepolisian yang menatapnya dengan garang.
"Sebenarnya ada apa ini pak? Kenapa saya ditangkap dan dibiarkan disini sekian lama. Apa yang kalian tuduhkan?" tanya Lukman dengan wajah polos.
Dua anggota kepolisian itu hanya diam saja sampai suara pintu dibuka membuat mereka menoleh.
Tampak Kapten Rasyad bersama dengan sersan Kamil dan anggotanya masuk ke dalam ruang interogasi.
"Kalian berdua bisa keluar" ucap Kapten Rasyad yang sudah melepas seragamnya.
"Baik Ndan." Kedua polisi yang menjaga Lukman pun keluar meninggalkan Kapten Rasyad bersama sersan Kamil dan dua anak buahnya. Pintu Interogasi pun tertutup.
__ADS_1
"Lukman... Lukman. Kenyang ya makan $3 juta selama 12 tahun" kekeh Kapten Rasyad.
"Apa maksud anda Kapten?" tanya Lukman berlagak tidak paham.
"Anda tahu, anda adalah orang yang paling keji bersama dengan istri anda bersekongkol dengan mantan suami Anggita, tetangga depan rumah Gavin, pengacara keluarga Kristiawan dan notaris kantor Gavin dan Lahita, untuk membunuh Gavin, Lahita dan Gandari." Mata kapten Rasyad menatap tajam ke Lukman yang tampak memucat.
"Itu... bohong!" ucapnya lemah.
"Bohong?" Kapten Rasyad mengeluarkan semua berkas dari map tebal yang dibawanya. "Pemalsuan sertifikat tanah pemuda, pemalsuan sertifikat rumah Kawi yang dibalik nama ke nama mu dan Anggita. Penipuan asuransi dengan mengatakan Gandari masih di bawah umur, pencurian perhiasan di rumah Kawi, pembunuhan berencana yang paling berat."
"Hanya penipuan tidak terlalu berat hukumannya kapten karena saya bisa membayar dendanya."
"Ohya? Apakah kamu lupa, Jerome dan Joko Triyadi sudah kami tangkap sebelumya dan mereka sudah bernyanyi." Kapten Rasyad memperlihatkan wajah Jerome dan Joko yang babak belur. "Ini hasil karya Gandari, anak yang kamu buat yatim piatu. Oh, ini belum full power ya dan dia sekarang adalah calon menantu keluarga Blair dan Pratomo. Jadi, aku mengijinkan dia melampiaskan dendam selama 12 tahun. Ohya, asal kamu tahu, kamu hanyalah anak angkat yang tidak tahu diuntung! Kamu hanyalah anak haram yang diangkat derajatnya tapi ngantem dengan keji!"
"Aku bukan anak angkat! Aku adalah putra Kristiawan, arsitek terkenal di Semarang!" bentak Lukman.
"BUKAN! Kamu adalah hanya anak haram! Kamu tidak ada hak secuil pun dari harta pak Kristiawan!" hardik kapten Rasyad tidak kalah galak. "Baca ini! BACA!"
Lukman membaca sebuah kertas yang merupakan foto copy dari surat wasiat dan surat Kristiawan yang ditemukan di brankas rumah Kawi.
"I..ini...bohong kan?" ucapnya dengan nada bergetar.
"Kamu memang tolol dan tidak tahu terimakasih! Surat ini ditemukan di brankas rahasia rumah Kawi dan hanya pewaris sebenarnya yang mengetahui. Dan inilah bukti otentik ditambah dengan adanya tanda tangan Kristiawan di atas meterao." Kapten Rasyad bersedekap dengan wajah dingin.
"Tidak...tidak mung...kin" Lukman mengenali tulisan tangan ayahnya dan dirinya benar - benar terkejut dengan kenyataan.
"Oh satu lagi. Saat Anggita bilang hamil anakmu, dia berbohong demi menikah denganmu! Sebenarnya dia sengaja bercerai dari Joko, karena mengincar kekayaan keluarga Kristiawan yang ternyata itu semua bukan hak kamu! Ironis bukan? Kamu sedemikian rupa bersama sindikat penjahat itu dan bersedia membunuh dua orang tidak berdosa serta membuat seorang anak perempuan yatim piatu. Asal kamu tahu ya, barang busuk akan ketahuan juga."
Kapten Rasyad memberikan kode kepada sersan Kamil untuk membawa masuk Gandari. Tak lama pintu Interogasi terbuka dan tampak Gandari masuk dengan wajah menahan amarah bersama dengan Abi dan Travis.
"Saranku, Lukman, pasrahkan saja dirimu" seringai Kapten Rasyad.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1