
Thara mengusap air matanya dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa lalu mengetuk pintu kamar Rajendra. Mata hijaunya menatap Rajendra tapi seolah tidak melihat ada Aidan disana.
"Jendra, Tante pamit dulu ya. Kapan-kapan Tante ke sekolah kamu lagi. Cepat sembuh" ucap Thara sambil mengusap kepala bocah itu setelah berjalan mendekati pinggir tempat tidur.
"Iya Tante" Rajendra merentangkan tangannya dan Thara pun memeluk bocah tampan itu. "Sabar ya Tan, Oom Ai memang galak tapi hatinya baik" bisiknya.
"I know boy. Tante yang salah disini" bisik Thara pelan dan hanya Rajendra yang mendengarnya.
Rajendra mempererat pelukannya ke Thara. "Jendra sayang Tante."
Thara melerai pelukannya. "Thank you sayang. Tante pulang dulu."
"Tante pulang sama siapa? Naik apa?"
"Tante nanti minta dijemput Iffa atau nggak naik Uber saja" jawab Thara santai. Dirinya memang sudah mulai hapal rute dari rumah Arjuna, rumah Aidan dan RR's Meal ke apartemennya.
"Masa Tante pulang sendirian?"
"Tidak apa. Tante pulang dulu." Thara mencium pucuk kepala Rajendra. "Cepat sembuh." Gadis itu pun menoleh ke Aidan. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam" balas Rajendra dan Aidan.
Setelahnya Thara pun keluar dari kamar Rajendra sedangkan Aidan hanya menatap dingin tubuh langsing itu. Rajendra menatap Oomnya kesal.
"Antar pulang kenapa sih Oom?"
"Dia sudah besar. Bisa pulang sendiri!" jawab Aidan cuek yang membuat Rajendra menepuk jidatnya.
"Orang dewasa itu memang complicated!"
***
Thara berpamitan kepada semua orang disana dan menolak untuk diantar pulang oleh sopir Arjuna dengan alasan sudah memesan Uber.
Duncan menuju kamar Rajendra dan melihat putranya sedang mengobrol dengan keponakannya. Segera pria itu menjewer telinga Aidan dan menyuruhnya mengantarkan Thara pulang karena sekarang sudah jam delapan malam.
"Memang papi pernah mengajari kamu menjadi pria menyebalkan? Tidak gentleman? Antar Thara pulang!" omel Duncan.
"Dia sendiri yang mau pulang sendiri, kok jadi aku yang repot? Tanya Jendra!"
"Kamu tuh! Antar Thara pulang!" Rasanya Duncan ingin membanting putranya tapi mengingat dirinya bisa kena encok, pria paruh baya bertubuh besar itu pun mengurungkan niatnya.
"Iyaaaa! Ini karena papi yang suruh lho ya!" ucap Aidan ogah-ogahan. Duncan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Si bontot memang cakap kalau soal pekerjaan tapi soal kelakuan, tidak ada bedanya sama Rajendra. Sudah dewasa kok masih kayak anak kecil juga. Gara-gara Rey manjain sih!
Aidan lalu keluar dari kamar Rajendra yang geli melihat Oomnya dijewer oleh Opa Duncan seperti saat dirinya nakal.
Ternyata tradisi menjewer masih berlaku sampai dewasa ya? Rajendra cekikikan melihat Oomnya memasang wajah jutek.
"Opa sama Oom mu yang bayi itu ke bawah dulu. Jendra sama Cleo ya" senyum Duncan ke cucunya.
"Iya Opa."
__ADS_1
***
Thara sedang membuka aplikasi Uber di dekat gerbang rumah Arjuna ketika sebuah Range Rover berhenti di sebelahnya.
"Masuk!" perintah Aidan lewat jendela yang terbuka.
"Tidak usah Ai. Aku..."
"Masuk! Jangan menguji kesabaran ku Thara!" bentak Aidan yang membuat gadis itu terlonjak kaget.
Gadis itu pun masuk ke dalam mobil mewah milik Aidan dan memasang sabuk pengamannya. Penjaga rumah Arjuna membukakan pintu gerbang dan mobil itu keluar menuju jalan raya.
***
Tidak ada percakapan di dalam mobil dan Thara pun melirik ke arah Aidan yang masih fokus ke jalan.
"Tidak usah melirikku kalau ada yang mau kamu bicarakan!" ucap Aidan dingin yang membuat Thara terkejut.
Hokkyokuguma nya nongol lagi.
"Terima kasih." Aidan tidak menanggapi. "Terima kasih sudah mengantarkan aku."
"Ga usah GeEr. Kalau papi tidak suruh aku, gak bakalan aku antar pulang kamu! Toh kamu sudah besar, bisa pulang sendiri kan?"
Mulut Thara menganga. Astagaaaaa!
"Siapa juga yang GeEr? Aku hanya bersikap sopan santun" jawab Thara sebal.
Thara hanya menghela nafas panjang. "Bisakah kamu berhenti menyindirku?"
"Kenapa? Tidak nyaman?"
"Iya. Masih kurang?" balas Thara dengan nada sindiran.
"Terserah aku!" jawab Aidan kekanakan yang membuat Thara hampir tertawa geli karena Aidan mirip dengan Rajendra kalau sedang ngambek.
Thara memperhatikan wajah Aidan yang tampak berantakan dengan brewok yang menebal disana. Seperti dua Minggu tidak bertemu pisau cukur.
"Aidan" panggil Thara lembut.
"Hhhmm."
"Cukur deh!" ucap Thara.
"Kenapa?"
"Tidak rapih. Bukan chef Aidan Blair yang biasanya."
"Apa urusanmu?"
__ADS_1
Sabar Thara. Sabaaarrr. Menghadapi beruang kutub itu harus sabar.
"Karena saya bekerja dengan anda Mr Blair. Dan saya tidak mau wajah RR's Meal jadi jelek karena pemiliknya seperti tidak bisa mengurus dirinya sendiri."
Aidan melirik ke arah gadis berambut coklat panjang itu.
"Kamu bilang begitu karena rasa bersalahmu?"
Thara melongo. "Bukan! Soal rasa bersalah ku, tidak akan hilang dan kejadian itu menjadi pelajaran yang manis buat aku. Tapi aku melihat kamu berantakan Ai, kan bisa mempengaruhi nama RR's Meal yang kamu banggakan itu!"
Aidan hanya diam. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa sejak ribut dengan Thara di ruang kerja Edward Blair di mansion Blair, dia malas mengurus wajahnya yang biasanya rapih meskipun dengan brewok tipis.
"Tampanmu hilang lho Ai" kekeh Thara.
Aidan menoleh. "Kamu coba menggodaku biar aku tidak kesal gitu?"
"Astaga! Kamu tuh! Apa nggak capek marah terus Ai? Asal kamu tahu, setelah semua pekerjaan aku selesai untuk tema Minggu ini, aku akan mundur dari restauran mu meskipun aku masih betah bekerja disana karena suasananya membuat aku nyaman. Tapi aku lebih baik mengalah daripada kamu seperti ini, Ai."
Aidan membelokkan mobilnya ke sebuah parkiran di sebuah toko 24 jam dan memarkirnya. Pria itu lalu melepaskan sabuk pengamannya dan tubuhnya berbalik menghadap Thara. Mata birunya tampak berkilat marah dan Thara bisa melihat birunya semakin biru dari pantulan lampu jalan.
"Apa kamu bilang? Mundur? Setelah semua kekacauan itu? Enak saja! Dimana tanggungjawab kamu yang sesuai dengan kontrak yang kamu buat? Apa memang sifat kamu seperti ini? Kamu kira pekerjaan di restauran itu main-main? Sudah aku bilang berapa kali, that's not your playground!" omel Aidan kesal.
"Jadi maumu apa Ai?"
"Mauku? Kamu bertanya apa mauku?" Aidan mendekati wajah Thara. "Mauku, kamu tetap bekerja sesuai dengan kontrak yang kamu buat sepihak! Sekali saja Thara, sekali saja, kamu bersikap sesuai dengan apa yang tertulis!"
Thara menatap Aidan lembut. "Thank you."
"Hah?"
"Aku salah, aku akui. Dan sejujurnya aku tidak mau berpisah dari RR's Meal West End dan aku akan bekerja sesuai dengan kontrak itu selama kamu mengijinkan tapi jika sikap kamu seperti itu terus menerus kepadaku, bukankah aku lebih baik mundur?"
"Jadi kamu mengujiku?" Aidan memincingkan matanya. Sialan nih cewek!
Thara tersenyum lembut.
"Jangan harap aku akan melunak, Princess!"
Thara merinding.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1