
Pandu mengantarkan Abi dan Reana ke stasiun Gubeng untuk naik kereta menuju Solo. Kedua saudara kembar itu ingin bertemu dengan Iwan dan Danisha, saudara sepupu Kaia Blair. Danisha adalah adik kandung Bara Giandra, anak Ghani Giandra dan Alexandra.
Iwan dan Danisha memiliki seorang putra bernama Pandega atau biasa dipanggil Ega yang selisih empat tahun dari si kembar. Selain mereka, di Solo juga ada Savitri dan Kim Jaehyun, saudara sepupu Ghani dan Rhea. Putra Savitri, Nathan adalah seorang dokter spesialis jantung di Singapura dan memiliki seorang putri bernama Safira.
"Keretanya masih setengah jam lagi berangkat, princess" ucap Pandu sambil merangkul pinggang Reana sedangkan Abi memilih mencari makanan untuk dimakan di kereta.
Abi dan Reana berangkat menggunakan kereta Logawa jam 10.45 yang tiba di stasiun Purwosari Solo sekitar pukul 15.25. Keduanya santai saja meskipun kereta yang mereka akan tumpangi adalah kereta ekonomi bukan eksekutif.
"Aku browsing di google, bersih keretanya" ucap Reana sambil menunjukkan beberapa image ke Pandu. Pria itu pun memilih memeluk Reana dari belakang sembari meletakkan dagunya di bahu gadis itu.
"Biarpun ekonomi tapi tampaknya fun, princess."
"Oh Astaga! Kalian itu!" sungut Abi sebal yang datang dengan membawa dua kantong Hoka Hoka Bento.
"Kenapa Bi?" tanya Pandu dengan wajah polos.
"Menyebalkan!"
"Makanya cari pacar, Bi" goda Reana.
"Nanti saja. Masih enak menjomblo!" sahut Abi sambil menyusun dua koper dan dua duffle bag miliknya dan Reana.
Suara pengumuman bahwa para penumpang kereta api Logawa sudah bisa masuk ke dalam kereta, membuat Pandu tersenyum kecut harus berpisah dengan gadisnya.
"Cepetan gih pamitannya, nggak usah pakai drama ala Drakor atau Dorama!" ledek Abi dengan wajah sinis.
Reana menatap judes ke saudara kembarnya. "Abi nyebelin!"
"Udah cepetan, dik!"
Pandu tersenyum lalu mencium bibir Reana lembut. "Have fun di Solo and safe flight ke Jakarta dan New York. Gonna miss you so much."
"Miss you too, mas" balas Reana.
"Hati-hati Bi. Tolong jaga Reana." Pandu menyalami Abi hangat.
"Look man, gue udah jagain dia dari jaman masih berbagi space, makanan dan fesis dalam perut" ucap Abi sarkasme yang membuat Pandu tertawa sedangkan Reana memukul bahu kekar Abi.
Abi menggandeng adiknya untuk masuk ke dalam kereta dan Pandu pun menunggu hingga kereta itu berangkat baru kembali ke kantor.
***
__ADS_1
"Ramaaaaa! Astaghfirullah nih anak! Mentang-mentang libur, bangun pun siang!" omel Sekar ke anak bungsunya yang memang dikenal paling malas sedunia klan Pratomo.
Arjuna, Elang dan Rajendra hanya cuek mendengar teriakan ibu cantik itu sedangkan Rain hanya bisa mengelus dada dengan kehebohan di kastilnya.
"Sekar, mbok ya biarin Rama bangun siang. Kan mumpung libur" ucap Rain lembut.
"Ya Allah mom, ini tuh sudah jam sebelas! Aku nggak bakalan ngomel kalau nggak sesiang ini bangunnya" keluh Sekar yang gemas dengan putra tampannya. "Rasanya pingin aku masukkan ke dalam perut lagi lalu aku adon yang benar biar nggak malas seperti ini!"
Elang, Arjuna dan Rajendra melongo. "Astaga, Sekar. Kamu sekarang benar-benar heboh ya" gelak Elang mengingat menantunya itu dulu dingin dan kakunya minta ampun saat awal menikah dengan Arjuna.
"Aslinya Sekar tuh sama dengan semua ibu-ibu di dunia. Ramai" kekeh Arjuna yang sedang duduk bertiga dengan ayah dan putranya untuk membersihkan semua senjata api milik mereka. Menurut rencana sore nanti ketiganya hendak menuju arena latihan menembak milik keluarga McGregor. Selain Kaia dan Aidan yang suka memakai gedung itu, Arjuna dan Elang terkadang Rain juga berlatih disana.
"Coba, mommy yang bangunin Rama" bujuk Rain lembut.
Oma cantik itu menuju kamar Rama dan mulai mengetuk pintunya.
"Rama, ini Oma. Ayo bangun boy, kalau nggak ditinggal Opa dan Papamu ke tempat latihan Opa Duncan lho."
Tak lama suara kunci pintu dibuka dan tampak Rama dengan muka bantal muncul disana. "Jam berapa Oma?" tanyanya dengan suara serak.
"Apanya?" tanya Rain yang gemas melihat wajah Elang kecil di wajah Rama.
"Latihannya?"
"Jam dua Rama" sahut Elang.
"Aduuuhh duh duh! Oma, jangan ikutan bar-barnya mommy dong!" rengeknya.
"Kamu mandi, sikat gigi! Bau jigong tahu nggak!" omel Rain judes.
"Eh masa sih?" Rama menghembuskan nafasnya ke telapak tangannya lalu mengerenyitkan dahinya. "Hehehe...iya bau jigong."
"Jorrrroookkk!" seru semua orang disana.
***
Abi dan Reana sudah tiba di stasiun Purwosari Solo. Keduanya tersenyum melihat Iwan dan Danisha datang menjemput bersama dengan Ega.
"Selamat datang di Solo" sapa Danisha sambil memeluk kedua keponakannya.
"Malah repotin Oom Iwan dan Tante Danisha" senyum Abi.
"Santai saja. Solo tuh kota kecil, kemana-mana dekat nggak seperti New York atau Jakarta" kekeh Iwan.
__ADS_1
"Halo Ega. Apa kabar?" sapa Reana ke sepupunya yang semakin mirip Iwan darah asianya.
"Baik, mbak Reana" jawab Ega dengan gaya kalem seperti Iwan.
"Makan dulu yuk. Kalian mau makan apa? Chinese food atau gudeg?" tanya Danisha.
"Gudeg adem ayem!" seru Abi dan Reana kompak. "Tapi nanti malam kita wedhangan ya?" sambung Abi.
"Beres!" senyum Iwan.
***
Para anggota keluarga McCloud kini berada di bangunan milik keluarga McGregor - Blair yang sangat terawat dan terkejut melihat Aidan sudah berada disana bersama Thara dan kedua anak mereka, Direndra dan Alaric. Direndra dan Rama hanya berbeda setahun, tua Rama, sedangkan Alaric dua tahun di bawah kakaknya.
"Wah, pasukan McCloud mau latihan juga?" kekeh Aidan yang menyiapkan Glock dan SIG nya dari lemari koleksi Opa Edward dan Oma Yuna.
"Kan Rajendra pulang ke New York besok jadi sebelum pulang ada bagusnya latihan soalnya aku yakin dia nggak bakalan sempat latihan karena padatnya jadwal disana" ucap Arjuna.
Para pria-pria segera mengambil posisi untuk memulai latihan menembak sedangkan Alaric, Direndra dan Rama memilih untuk berlatih panahan bersama dengan pengawal yang melatih mereka.
Para kaum ibu lebih memilih untuk berghibah dan obyek ghibah tidak jauh-jauh adalah anak mereka sendiri.
"Beneran deh Thara. Aku suka gemas sama Rama, beda jauh sama kakaknya" adu Sekar ke Thara, iparnya.
"Rajendra lebih teratur dan rapi memang. Lihat saja, kamarnya dengan Rama berbanding terbalik, yang terawat dan yang kena angin lisus" kekeh Rain mengingat betapa bedanya sifat kedua cucunya.
"Heran aku! Nurun siapa sih?" gumam Sekar.
Thara terbahak. "Namanya juga anak cowok, Sekar, jadi jangan heran lah."
"Padahal dari kecil sudah aku ajarin hidup rapih lho tapi kok gedhe-gedhe malah makin mbalelo" sungut Sekar.
Rain dan Thara terbahak.
***
Bonus Rama Dewasa
Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️