
Sejak saat itu Aidan selalu menyempatkan diri untuk mampir ke cafe kopi tempat Ghania dan Richie bekerja. Aidan mengetahui Ghania adalah mahasiswa sastra Inggris University of London dan sekarang menunggu jadwal wisuda.
Kedua orangtuanya adalah dosen di Universitas Sebelas Maret dan Ghania kuliah di Inggris dengan beasiswa. Cafe kopi tempatnya bekerja adalah milik Richie, sahabatnya di kampus.
Tak jarang Aidan tertidur saat berada di cafe hingga Ghania harus membangunkannya jika sudah cafe mau tutup.
Setelah membereskan semua kekacauan di restaurannya, Aidan bertekad untuk menembak Ghania meskipun gadis itu lebih tua tiga tahun darinya. Namun betapa terkejutnya Aidan ketika melihat Ghania asyik mengobrol dengan seorang pria dan keduanya tampak mesra.
Aidan pun menghampiri mereka dan Ghania memperkenalkan pria itu adalah Aksara Lewis, tunangannya dan mereka akan segera menikah sebentar lagi.
Rasanya dunia Aidan seperti berantakan seperti gedung-gedung berjatuhan di film Inception atau mirror citynya Dr Stephen Strange. Meskipun wajahnya menunjukkan raut biasa saja tapi tidak ia pungkiri, hatinya patah sebelum berkembang.
Wajah berbinar-binar Ghania menatap Aksara Lewis, pria campuran Inggris Turki itu membuat Aidan harus realistis bahwa tidak ada celah untuk menjadi pebinor dan jika dia nekad melakukan hal itu, sudah pasti sang Mami Rhea tidak akan tinggal diam untuk tidak memukul kepala Aidan dengan rolling pin kesayangannya.
Sekuat apapun Aidan berusaha melupakan Ghania, tetap saja wajah dan nama gadis itu tersimpan dalam lubuk hatinya paling dalam.
Dan kini di dalam kamar mandi, Aidan merutuki igauannya dan ucapannya yang menyakiti Thara, istrinya yang sah di mata hukum dan agama. Apa jadinya jika orang tahu dirinya menyakiti Thara? Mami dan kakaknya Kaia, pasti akan menghajar dirinya habis-habisan.
Aidan menyelesaikan acara mandinya... mengguyur otaknya sebenarnya, lalu dia memakai handuk di bawah pinggangnya. Akibat marah, dia lupa membawa baju ganti. Pelan Aidan keluar dari kamar tidur dan dirinya tidak berharap melihat Thara disana.
Betapa terkejutnya Aidan melihat Thara tertidur di tempat tidur dengan wajah habis menangis. Aidan segera memakai bajunya dan menghampiri istrinya.
"Thara..." panggilannya pelan sambil mengelus kepalanya.
Perlahan mata hijau Thara terbuka dan sebuah senyum samar terbit di bibir istrinya. "Sudah selesai mandinya? Maaf aku ketiduran."
Rasa bersalah muncul di hati Aidan melihat wajah istrinya seperti tidak terjadi apa-apa bahkan masih sempat memberikan senyum tipis seolah menunjukkan I'm fine.
"Maafkan aku..." ucap Aidan yang membuat Thara menatapnya bingung. "Maaf membuatmu sedih."
"Aku yang seharusnya minta maaf Ai, menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu aku tanyakan karena membuatku sakit jadinya tapi setidaknya aku tahu apa yang ada di hatimu." Thara bangun dari tidurnya dan sekarang posisi duduk. Aidan sendiri memilih duduk di pinggir tempat tidur.
"Bukankah perjanjian kita berdua adalah saling terbuka satu sama lain?" Thara menatap Aidan.
"Ya, apapun itu."
Thara mengangguk. "Meskipun menyakitkan..." gumamnya.
"Maaf jika aku tidak bisa mengontrol ucapan ku" Aidan menatap Thara serius. "Maaf jika hari ini aku menyakitimu."
__ADS_1
"Apa maumu sekarang Ai? Aku tidak bisa hidup bersama dengan orang yang masih membawa masa lalunya. Ghania sudah bahagia menikah dengan Aksara, kamu sudah tidak ada celah, Ai."
"Aku tahu itu tapi kamu tidak tahu bahwa aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta, Thara."
"Aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku." Thara menatap Aidan serius.
Pria itu hanya tersenyum smirk. "Buktikan bahwa kamu akan membuatku jatuh cinta kepadamu."
Thara hanya tersenyum manis. "Akan aku buktikan, Ai karena aku tidak suka ada perceraian."
"Keluarga ku juga tidak ada perceraian. Kami semua dipisahkan karena kematian" jawab Aidan mengingat Ogan dan Necannya serta Oma dan Opanya.
"Kalau begitu, mari kita sama-sama saling jatuh cinta satu sama lain. Aku akan membuat kamu melupakan Ghania."
Thara pun mendekati wajah Aidan dan mencium pipinya. Pria itu tidak menolak.
"Kukira kamu akan mencium bibirku seperti kemarin" ejek Aidan.
"Aku belum gosok gigi, Ai!" sungut Thara. Aidan tertawa.
Setidaknya baru seperti ini yang baru bisa aku lakukan - Thara.
Be strong Thara dan aku akan berjuang juga menjalani pernikahan ini - Aidan.
***
Rhea yang melihat menantunya sendirian di gazebo, lalu mendatanginya. Melihat ibu mertuanya datang, Thara lalu membenarkan posisi duduknya.
"Mami" Thara mencium punggung tangan Rhea.
"Ngapain kamu sendirian disini. Aidan mana?"
"Aidan sedang pergi bersama dengan saudara-saudaranya, mami. Kan besok mereka katanya pada pulang."
"Asal tidak balapan lagi saja! Belum kapok apa kena jewer?" omel Rhea.
Seorang pelayan mendatangi mereka membawakan teh dan camilannya lalu mengundurkan diri membiarkan sang princess dan ibu mertuanya mengobrol.
"Lusa kami juga pulang ke New York. Besok jadwal kami jalan-jalan karena Abi dan Reana ingin ke Burj Khalifa gara-gara dikompori oleh Rajendra" kekeh Rhea.
__ADS_1
"Oh iya ya, Rajendra sudah ke Burj Khalifa duluan. Anak itu kemana mami?"
"Lagi sama Omanya dan Umi. Tampaknya Umi mu tidak sabar ingin menimang cucu. Dari kemarin semua cucu mami heboh diajak main sama umi mu."
Thara hanya diam saja mendengar ucapan Rhea.
"Kamu belum melakukannya dengan Ai?" tanya Rhea yang dijawab gelengan oleh Thara. "Apa sih alasan anak nakal satu itu?"
Thara mengusap bahu Rhea. "Alasannya kami masih proses penjajakan, mami. Kan kami menikah karena terpaksa. Insyaallah jika kami pulang ke London bisa lebih bisa saling memahami satu sama lain."
"Thara, mami minta tolong sama kamu. Buat Aidan bucin sama kamu. Mami tahu kalian menikah karena terpaksa gara-gara papimu tidak bisa menolak cucunya tapi kami tahu kamu yang bisa mendampingi Aidan."
"Tapi aku tidak sama seperti menantu lainnya mami, aku kan sudah..."
"Ssstt. Itu bukan kesalahan kamu." Rhea memeluk Thara. "Mami hanya ingin Aidan membuka dirinya kembali, tidak seperti sekarang, kayak ada yang membentengi dirinya."
"Ghania?"
Rhea menoleh ke arah Thara. "Kamu tahu Ghania?" Thara mengangguk. "Memang susah keturunan Oma Yuna tuh! Kalau sudah sekali jatuh cinta, susah move on kalau patah hati."
"Tapi aku dan Ai sudah saling berbicara mami. Kami akan berusaha keras di pernikahan ini" jawab Thara serius.
"Ah syukur lah anak itu masih waras mau terbuka sama kamu." Rhea tersenyum. "Kalau sampai nggak bisa mikir bener, mami jitak kepalanya!"
"Jangan lah Mami, kasihan Aidan" bujuk Thara.
"Berusaha lah kalian berdua dan mami serta papi tidak akan intervensi karena ini adalah biduk rumah tangga kalian. Berjuanglah tapi jika pada akhirnya kalian tidak mampu, datanglah ke kami."
Thara memeluk erat Rhea. "Aku akan terus berusaha dan berjuang sampai kami seperti mami dan papi."
"That's what I want, Thara." Rhea membalas pelukan Thara.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
Bonus Babang Aidan