
Thara memberanikan diri datang ke mansion Blair bersama dengan Sabine dan Iffa salah seorang pengawalnya. Penjaga mansion yang sudah tahu Sabine, mempersilahkan mereka masuk ke dalam halaman yang luas.
Mansion Blair yang dibangun oleh Edward Blair sebelum menikah dengan Yuna Pratomo itu tampak sangat terawat oleh Aidan, sang cucu. Sabine sudah beberapa kali kemari jika acara lebaran diadakan di London.
Mobil Aston Martin yang dipinjamkan oleh Arjuna pun terparkir rapi di halaman mansion yang tertata cantik itu. Setelahnya ketiga wanita itu pun turun menuju pintu utama.
Kepala pelayan mansion Blair segera membukakan pintu mempersilahkan putri Senna Al Jordan dan princess Thara masuk ke dalam mansion. Bagi Thara, ini kali pertama dia menginjakkan kakinya di rumah Aidan Blair.
Beberapa foto keluarga terpasang disana termasuk empat foto besar Edward Blair dan Yuna Pratomo serta Abimanyu Giandra dan Adara Utari yang merupakan Opa, Oma, Ogan dan Necan Aidan.
"Itu opa dan omanya Aidan" terang Sabine. Selain foto keempatnya, terdapat foto Aidan bersama Kaia, lalu bersama dengan Danisha dan Bara. Ada juga bersama dengan para sepupu prianya, ditambah dengan dua keponakannya Abi dan Reana.
Masih banyak foto keluarga di meja Konsul yang besar itu dan Thara bisa melihat bagaimana akurnya keluarga besar Aidan.
"Eh cewek sniper! Ngapain lu?" tanya Aidan yang turun dari lantai dua. Selama dia tinggal di mansion, Aidan memilih tidur di kamar bekas opanya.
"Sepi aku! Si bocah Jerman lagi berguru sama papa sekalian sunat dia" keluh Sabine.
"Si Karl serius?" tanya Aidan tanpa melihat Thara sedikit pun.
"Serius lah! Eh tahu nggak Kuma, bisa-bisanya si bocah Jerman itu main pitenah bilang kita udah tidur bareng dan takut aku hamidun duluan! Kan bangkeee! Kapan juga gue tidur bareng sama dia! Belum pernah dihajar pakai sarung tinju apa ya!" omel Sabine yang membuat semua orang melongo.
"Karl? Bilang gitu sama Oom Senna? Cari mati!" gelak Aidan. "Silahkan duduk."
"Memang! Sekarang malah menghantar nyawa ke papa" seringai Sabine.
"Kamu sama Karl suka nggak sih?" Aidan duduk di sofa bersebelahan dengan Sabine sedangkan Thara dan Iffa duduk berseberangan dengan kedua saudara sepupu itu.
"Gimana ya Ai, bodinya bikin aku ngeces" ucap Sabine sambil menerawang.
"Memangnya kamu pernah lihat Karl nude?"
"Kemarin dia masakin aku dengan topless-nya. Sepertinya aku ngeces deh lihat itu perut yang kayaknya enak buat digigit. Macam roti sobek begitu... Aduh!" Sabine memegang pelipisnya yang ditoyor Aidan.
"Alex gimana?" goda Aidan.
__ADS_1
"Alex siapa ya?" tanya Sabine polos.
"Alex Ghaidan, arsitek mu!"
"Oh. Aku belum lihat bodinya sih jadi nggak tahu ngeces atau nggak" jawab Sabine asal yang membuat Aidan menepuk jidatnya.
"Kamu tuh! Kalau kamu bisa lihat bodynya Alex, jangan-jangan kamu oleng juga" ledek Aidan.
"Maybe" seringai Sabine usil.
"Haddeeeehhh!" Aidan menggelengkan kepalanya. "Kamu ngapain kesini, princess?"
Thara gelagapan tiba-tiba ditanyai oleh Aidan. "Aku...mau bicara denganmu, Aidan."
"Soal?" Aidan menatap tajam gadis yang membuatnya harus menghabiskan banyak peluru di tempat latihan menembak keluarga McGregor-Blair.
"Bisakah kita bicara empat mata?" pinta Thara penuh harap.
Aidan menatap Sabine yang hanya mengangguk. "Ich weiß nicht, was passiert ist, aber gib Thara zumindest die Chance, es zu erklären ( aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi setidaknya berikan Thara kesempatan menjelaskan )" ucap Sabine.
"Hokkyokuguma ni naranaide kudasai ( jangan jadi beruang kutub )" kekeh Sabine yang membuat Aidan melotot.
"Gesu yaro ! ( Brengsek )" umpat Aidan yang membuat Sabine terbahak. "Ikut aku ke ruang kerja Opa!" Aidan pun berdiri dan berjalan mendahului Thara menuju ruang kerja Opanya. Gadis itu pun mengikuti Aidan.
Iffa yang tadinya hendak ikut, langsung dicegah Sabine. "Alamirat satakun bikhayr ( putri akan baik-baik saja )." Iffa pun kembali duduk.
***
Aidan mengunci ruang kerja Opa Edward setelah mereka masuk. Lagi-lagi Thara terperangah melihat foto Edward dan Yuna tergantung disana.
"Kenapa? Mereka opa dan omaku. Ini juga ruang kerja Opa yang aku pakai." Aidan bersandar di meja kerjanya. "Kamu mau apa Thara?"
Thara menatap Aidan dengan wajah serius meskipun ta urung wajahnya memerah mengingat ciuman mereka di ruang kerja Aidan di restauran RR's Meal dua hari sebelumnya.
"Aku... aku mau minta maaf atas semua sikapku, Ai."
__ADS_1
"Sikap yang mana?" tanya Aidan dingin sambil bersedekap.
"Aku tidak menghormati dirimu sebagai pemilik RR's Meal."
"Dan kamu baru mengatakan sekarang? Now? After five days?" Aidan memincingkan mata birunya. "What are you thinking, Thara? Apa kamu sudah tidak bisa membedakan etos kerja dan hubungan keluarga?"
"Aku yang salah Ai karena tahu kamu pasti akan menolak permintaan aku untuk bekerja di RR's Meal pusat" ucap Thara pelan.
"And?"
"And I'm sorry, Aidan." Thara menatap Aidan sendu dan pria itu hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Sudah? Kamu sudah membuat surat kontrak kerja yang mempersulit aku karena jika aku memecat kamu kurang dari enam bulan waktu yang kamu pinta, aku harus membayar kompensasi yang tidak sedikit! Bukan soal uangnya, Thara. Aku bisa membayar uang itu! Jangan mentang-mentang kamu sekarang berbeda menjadi seenaknya! Jangan dikira aku tidak marah kepada Xander dan James! Hohohoho, bahkan aku sudah menghajar mereka berdua ! Kamu lihat, kekacauan yang kamu perbuat akibat keegoisan kamu, Thara!"
"Aku tidak egois Ai..."
"Lalu aku harus bilang apa? Asal kamu tahu Thara, waktu Awal kamu kemari, aku diminta Rajendra membawamu ke RR's Meal untuk melindungi kamu! Sekarang kamu sudah aman, sudah bebas, situasinya berbda, ada aturannya untuk masuk kerja di RR's Meal! Aku membangun kredibilitas agar para pegawai menghormati aku dan solid dalam bekerja namun itu semua berantakan karena kamu main belakang! Aku tahu kemampuan kamu tapi apakah kamu bisa berpikir sedikit saja, Thara, kamu datang kepadaku baik-baik, melamar menjadi chef pastry meskipun aku menolak tapi kalau kamu bisa memberikan argumentasi yang masuk akal, aku bisa melunak. Hanya saja kamu tidak mau mencobanya kan Thara?" Aidan menatap tajam wajah cantik yang mulai memerah matanya.
"Dan sekarang kamu memberikan senjata terakhir. Air mata!" cebik Aidan. "Aku sangat-sangat tersinggung dengan sikap kamu, Thara. Mungkin kamu seorang princess tapi untuk ukuran manusia, kamu termasuk egois!"
Aidan lalu berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. "Terserah kamu Thara, Putri mah bebas. Silahkan kamu menjadi chef pastry di RR's Meal, aku tidak akan melarang atau memecatmu tapi jangan harap aku melupakan sikap kamu yang egois. Semua chef memiliki ego yang besar, termasuk aku! Tapi jika aturan ku kamu langgar, kamu ... Aku tidak tahu harus berkata apa!"
Aidan membuka pintu ruang kerja Opanya meninggalkan Thara sendirian disana. Gadis itu akhirnya menangis tersedu-sedu. Karena keegoisannya, dia melukai harga diri pria itu padahal Aidan lah yang menyelamatkan nyawanya. Thara pun terduduk sambil menangis membuat Iffa dan Sabine mendatangi gadis itu.
Sabine hanya bisa mengira-ngira sikap Thara yang melukai harga diri Aidan dan Sabine pun tahu, sepupunya itu adalah orang yang sangat ketat dengan peraturan. Hatinya merasa tidak enak ketika melihat wajah Aidan yang lebih banyak kecewanya daripada amarah.
Jalanmu mendapatkan kepercayaan Aidan akan lebih sulit karena Ai adalah tipe sekali kecentok, dia akan lebih memilih tidak mau tahu sama sekali. Sabine hanya bisa terenyuh mendengar tangisan Thara yang terdengar sangat menyesal.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️