
Aidan terbangun ketika merasakan istrinya tampak gelisah tidurnya. Pria bermata biru itu pun melihat wajah Thara tampak gelisah dan bibir bawahnya tampak digigit terus.
"Ada apa sayang?" tanya Aidan menatap wajah istrinya yang sekarang menggigit kuku tangannya.
"Aku... " Thara menatap Aidan bingung.
"Aku... aku apa, Thara?"
"Aku ingin dibuatkan..."
"Buatkan apa?"
"Eeerrr bubur kayak buatan Necan."
Aidan menatap istrinya sambil mengerjap-ngerjap matanya. "Kamu ngidam?"
"Mungkin...kayaknya... aku tidak tahu." Thara semakin gelisah.
"Ya sudah, aku bikinkan. Yuk ke dapur." Aidan pun bangun berencana memakai kaosnya.
"Eh nggak usah!"
Aidan mengerenyitkan dahinya. "Nggak usah bikin bubur Necan?"
"Bukan... maksud aku nggak usah pakai kaosnya" cicit Thara.
"Hah? Jadi aku masak tanpa baju gitu?" Thara mengangguk semangat. "Ngidam apa tho ini, Thara?"
"Aku nggak tahu, pengennya begitu eh ... Bisa nggak masaknya ... pakai handuk kayak biasanya... kamu habis mandi" pinta Thara dengan wajah memelas.
Aidan melongo lalu melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul dua pagi.
"Thara, apa kamu yakin itu bukan karena kamu pengen aja lihat aku Shirtless?"
Thara pun cemberut. "Ya sudah kalau tidak mau! Ini anakmu yang pengen!"
Aidan pun tertawa. "Ya sudah, yuk!" ajaknya sambil masuk ke kamar mandi untuk mengambil handuk putihnya.
"Seriously, T, ini ngidam paling absurd yang pernah aku alami" kekeh Aidan sambil mengajak istrinya turun ke dapur sambil memakai handuk putihnya di bawah pinggang.
Untung gue pakai boxer.
"Memang ada yang parah?" tanya Thara.
"Well, dulu Tante Maira hamil Arya minta dibuatkan cupcake 200 biji, mami dan Kaia nggak bisa masuk dapur karena pasti muntah-muntah, Sekar minta cupcake blue Velvet."
Thara tertawa. "Arya ternyata dari dalam perut sudah bikin heboh ya."
"Dia kan tidak bisa dekat dengan kompor pasti terjadi kecelakaan atau kebakaran."
"Serius?" Thara sekarang duduk di dekat meja dapur sedangkan Aidan mulai menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat bubur ala Necan Dara.
"Serius." Aidan tersenyum. "Kamu tahu kan iklan yang ada di dekat pintu masuk restauran kan ada fotonya Arya masak untuk masakan Asia. Nah pas itu bocah itu bergaya memasak tapi apa kamu tahu, bisa-bisanya dia nyentuh kompor itu entah bagaimana malah besarkan apinya dan bikin masakanku gosong!"
Thara melongo. "Oh my God."
"Padahal disitu tuh ada aku! Bisa-bisanya dia seperti itu coba!"
"Jangan-jangan kompor julid sama Arya" kekeh Thara membayangkan hebohnya Aidan marah-marah ke sepupunya.
"Memang! Aku tidak kebayang calon istri Arya bakalan pusing menghadapi suaminya yang parah begitu."
Thara menopangkan dagunya menikmati pemandangan di hadapannya. Suaminya tampak seksih dengan handuk di pinggang, menampilkan tubuhnya yang liat dan beroti gembong.
__ADS_1
Sejam kemudian bubur ala Necan Dara pun jadi dan Thara tidak sabar ingin mencicipinya.
"Itadakimasu."
Aidan menatap Thara. "Kamu bisa bahasa Jepang?"
"Baru belajar Ai..." Thara meniup buburnya yang masih panas dan perlahan ia masukkan ke dalam mulutnya. "Hhhhmmmm... Oishiiii!" Wajahnya tampak puas dengan rasa bubur buatan suaminya.
Aidan tersenyum melihat wajah istrinya. Untung sekarang musim panas jadi aku tidak bakalan masuk angin masak dengan masak model begini.
"Enak?" tanya Aidan.
"Enak banget!" Thara memberikan senyum simpul dengan pipinya yang mulai chubby.
"Anak Daddy laper atau mommynya yang laper?" kekeh Aidan.
"Dua-duanya, Daddy" ucap Thara lembut.
"Habiskan sayang" Aidan mencium kening istrinya.
***
Perut Thara terasa penuh dan super kenyang setelah memakan semangkuk bubur buatan suaminya, chef yang hangat dengan keluarganya tapi dingin dengan orang lain.
Chef yang membuatnya kesal, gemas, sedih, sayang dan dicintai. Chef yang memiliki keluarga Sultan, kekayaan tidak habis mungkin lebih dari tujuh turunan, keluarga yang super gesrek tanpa perduli usia atau generasi manapun, keluarga yang menerima dirinya tanpa melihat apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Yang penting kamu moving forward, Thara. Buang semua kenangan buruk yang kamu alami dulu. Sekarang kamu sudah bersama dengan Aidan, anak bontot kami, yang memang dingin dengan orang lain tapi hangat bersama keluarga. Kamu adalah bagian keluarga kami sekarang, dan tugasmu utama, jadilah istri, partner dan pasangan yang mampu membuat Aidan bahagia, hangat dan suami idaman dirimu" pesan Rhea saat mereka duduk berdua di gazebo belakang istana Al Azzam.
"Tapi Ai kadang masih judes mami" jawab Thara.
"Ah bocah itu sama saja dengan Ogan dan Omanya tapi kalau dia sudah bucin, akan seperti papinya dan Opanya. Tenang saja Thara, keturunan Blair dan Giandra itu jika sudah jatuh cinta maka dia akan setia seumur hidup. Contoh papimu itu."
Thara tersenyum mendengar cerita Rhea. Memang benar Duncan Blair sangat-sangat bucin dengan istrinya Rhea.
***
Suara Aidan membuat Thara terkejut.
"Oh teringat obrolan aku sama mami" senyum Thara.
"Kenapa memangnya?"
"Biasa girls talk."
"Sekarang sudah kenyang, bumilku ayo masuk kamar." Aidan langsung menggendong Thara ala bridal style.
"Ai! Astaghfirullah kaget aku" seru Thara sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
"Sekarang aku kedinginan dan butuh kehangatan ini" ucap Aidan sensu*Al.
"Modus bin meshum" umpat Thara.
"By the way, si boy mau kan dijenguk daddynya?" goda Aidan.
"Astaga... Aidan!"
"Siapa suruh jam dua malam minta aku masakin bubur ala Necan tanpa baju? Bayarannya mahal, nona?" kekeh Aidan.
"Aidaann!"
***
Thara terbangun dengan pemandangan dada yang berbulu. Apa aku dipeluk kingkong? Eh tapi kok kingkong? Dosa nggak sih aku bilang suami sendiri kingkong.
"Enak banget posisi begini, Thara" ucap Aidan sambil menciumi kepala istrinya. Gara-gara bubur, habis itu Thara mendapatkan acara nengok si boy oleh Aidan.
__ADS_1
"Aku juga enak" gumam Thara.
"Kapan si boy lahir ya? Masih lama ya?" Aidan memandang perut Thara yang mulai membuncit.
"Masih enam bulan lagi, sayang" ucap Thara.
Suara ponsel di nakas berbunyi dan Aidan mengambil ponselnya. Wajah pria itu tersenyum simpul.
"Ada apa Ai?"
"Bara pergi ke Solo bareng Gendhis tapi Mario malah bertemu Arum satu."
"Hah? Apa mereka bertemu?" tanya Thara.
"Tampaknya tidak" gumam Aidan.
"Menurutmu apakah mereka akan berjodoh?"
"Semoga sih karena menurut Levi, Gendhis ini lebih koplak tenan."
Thara tersenyum. "Baguslah biar Mas Bara lebih banyak tersenyum."
"Semoga."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf telat, biasa CFD dulu sama suami.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Yuhuuuu Aidan dan Thara mau selesai. Jadi aku sudah menyiapkan novel baru buat next project.
Ditunggu ya tanggal mainnya. Only on Noveltoon.
Blurbnya.
Fayza Sky terbangun di sebuah kamar yang tidak dia kenali.
Aku berada dimana?
"Sudah bangun sayang?"
Sayang?
"Kamu siapa?" Fayza memicingkan matanya dan melihat seorang pria berdarah asia dengan wajah dingin.
"Apakah kamu lupa?"
Lupa? Bahkan namaku sendiri tidak ingat.
"Aku adalah mimpi burukmu" ucap pria itu.
Fayza merasakan tubuhnya merinding.
***
__ADS_1