
Sabine merasa lemas setelah harus muntah-muntah yang kesekian kalinya. Karl, suaminya, sedang di kantor sedangkan dirinya terdampar di kamar sendirian. Usia kandungan Sabine sudah menginjak tiga bulan tapi morning sicknya bukan menghilang namun makin menjadi.
"Haaaiiisshhh, mending aku disuruh sniper daripada hamidun muntah-muntah begini!" omel Sabine sambil memakan biskuit dan teh mint yang dibuatkan pelayan.
Semenjak menikah dengan Karl Schumacher, Sabine memang memutuskan pindah ke London dan beberapa kali bertemu dengan Thara. Sekolah culinary nya di Dubai tetap berjalan dan setiap bulan, Sabine memeriksa sembari menengok kedua orangtuanya.
"Telpon Thara ah..." Sabine mengambil ponselnya. Kehamilan Sabine dan Thara hanya berjarak tiga bulan.
"Assalamualaikum" sapa Thara.
"Wa'alaikum salam. Kamu lagi dimana?" tanya Sabine.
"Di dapur lagi menyiapkan bahan-bahan buat bikin pastry nanti. Kenapa Bine?"
"Kamu mau buat apa?" tanya Sabine. Siapa tahu bisa minta icip-icip.
"Lupis, klepon dan cenil. Aku harus makan itu paling nggak dua kali sebulan" kekeh Thara yang sekarang hamil enam bulan.
"Aaahhh mauuu!" teriak Sabine. "Terus tema RR's apa Minggu ini?"
"Masakan Indonesia, dari Padang Minggu ini Ada rendang, sambal hijau, sayur singkong yang harus minta Aksara Lewis mencarikan, balado telur, udang dan terong. Dessert nya ya tiga tadi."
"Aku ke RR's sekarang! Lapaaaarrr!"
"Apa morning sickmu masih parah Bine?" tanya Thara.
"Masih tapi mendengar nasi Padang ditambah dessert nya itu, aku malah ngiler."
"Ya sudah kesini saja nanti aku bilang Ai ada tambahan dirimu dan Karl."
***
Karl masih memeriksa berbagai berkas ketika ponselnya berbunyi dan tampak nama istrinya disan. Karl tersenyum lebar melihat siapa yang menelpon dan masih terbayang kejadian semalam ketika Sabine yang memimpin permainan dan membuat Karl semakin jatuh cinta dengan istrinya.
Sabine pernah bilang padanya jika di luar kamar, dia akan menjadi istri yang anggun dan terhormat tapi di kamar, dia akan menjadi j4l4ng untuk memuaskan suaminya. Meskipun Karl menyukainya dengan amat sangat tapi kata-kata j4l4ng baginya termasuk kasar. Karl selalu membahasakan partner ranjang yang terbaik.
"Ya sayang" sapa Karl.
"Honey, kita makan siang di RR's Meal yuk!" ajak Sabine.
"Lho memang temanya apa disana sekarang?" tanya Karl.
"Nasi Padang!"
***
Karl dan Aidan hanya bisa melongo melihat Sabine begitu kalap makan nasi Padang full squad. Bahkan bumil itu dengan cueknya makan pakai tangan, masih untung kakinya tidak jegang satu seperti di warteg.
__ADS_1
"Ada apa sama bini lu, Karl?" tanya Aidan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sepupunya seperti tidak makan seabad.
"Dia morning sick parah, Ai. Makanya langsung kalap lihat makanan yang dia pengen" jawab Karl yang meringis melihat istrinya makan tanpa ada jaim-jaimnya.
"Aaaiiii, kakiku jegang ya? Jangan tanya kenapa, ini maunya si orok!" Dan Sabine pun menaikkan satu kakinya diatas kursi sambil makan.
"Astaghfirullah! Cumiiii, ini bukan di warteg!" hardik Aidan.
Karl hanya bisa menutup wajahnya malu melihat kelakuan istrinya.
***
"Aaahhh kenyang!" seru Sabine sambil mengusap perutnya yang tampak membuncit.
Thara yang menyusul hanya bisa terdiam melihat iparnya yang menghabiskan satu porsi nasi Padang lengkap, empat klepon, dua lupis dan segenggam cenil.
"Heeekkk... Ooppsss!" Sabine bersendawa cukup keras membuat semua orang menoleh judes termasuk suami dan sepupunya yang menatap tajam sedangkan Thara tertawa terbahak-bahak.
"Sorry... Hormon ibu hamil tidak bisa dikontrol" cengir Sabine sambil menunjukkan perutnya ke para pengunjung RR's Meal. Mau marah tapi masih sepupu onwernya jadi para pengunjung memaklumi saja.
"Ya ampun Sabiiinneee!" desis Aidan kesal.
***
Sabine masih memakan satu piring dessert khas Indonesia sambil asyik mengobrol dengan Thara.
Thara yang mendengar hanya bisa melongo. "Apa baby mu tidak apa-apa?"
"Kata dokter kandunganku kuat tapi memang nggak bisa gedubrakan seperti jaman belum hamil sih tapi yang penting sama-sama puas lah!"
Thara memegang pelipisnya. "Ya ampun Sabine... Apa sudah diketahui jenis kelaminnya? Soalnya anakku baru mau lihatin pas kemarin kita kontrol."
"Kayaknya sih cowok kalau melihat kelakuannya bikin mommnya darting muntah-muntah tiap pagi. Kalau kamu?"
"Cowok dan Aidan sudah menyiapkan nama" jawab Thara.
"Aku malah belum takutnya besok malah beda kan kacau" kekeh Sabine.
***
"Bahagia Karl?" tanya Aidan ke musuh jaman remaja, sahabat setelah dewasa dan menjadi ipar.
"Bahagia Ai. Alhamdulillah mendapatkan Sabine yang paket lengkap meskipun terkadang mulutnya nggak berfilter" kekeh Karl.
"Ah dia mah anggap saja Levi cewek" cengir Aidan.
__ADS_1
"Ohya kemarin acara nikahnya Bara, kita tidak bisa datang gara-gara Sabine parah morning sicknya. Kenapa ya si boy julid sama mommnya?" gumam Karl.
"Si boy?" Aidan menaikkan sebelah alisnya.
"Hu um. Aku merasa babyku itu boy deh, Ai."
Aidan tersenyum. "Baguslah, biar ada kompak sama boy aku."
"Whoah! Anakmu boy juga?" seru Karl antusias.
"Yoi setelah menyembunyikan jenis kelaminnya saban di USG akhirnya ketahuan kalau anak kami boy." Aidan tersenyum lebar.
"Bertambah lagi generasi Blair, Schumacher, Giandra, Al Azzam dan Al Jordan."
"Semoga our boy bisa kuat membawa nama keluarga yang memang sudah berat." Aidan menatap Thara yang masih asyik mengobrol dengan Sabine.
"Mereka akan kuat kok Ai dengan bimbingan kita. Orangtua kita saja mampu mendidik kita seperti apa, kok kita nggak bisa?" Karl menatap sahabatnya.
"You're right."
***
Hari ini adalah jadwal kontrol Thara apalagi kandungnya sudah memasuki usia 8,5 bulan. Ditemani Aidan, Thara berjalan agak sedikit susah apalagi dengan perutnya yang sudah besar dan kaki bengkak, membuat dirinya mudah lelah.
Aidan sendiri melarang Thara untuk banyak berdiri di ruang pastry dan dia lebih sering duduk jika membuat camilan. Dan sudah satu Minggu ini, Thara mengeluh pegal dimana-mana hingga dia lebih memilih istirahat di rumah. Semua pastry dia serahkan kepada Stacy dan demi chef yang dipilih Thara untuk membantu gadis itu selama dirinya tidak di restauran.
"Kenapa sayang?" tanya Aidan melihat Thara mengernyitkan alisnya.
"Rasanya nggak enak Ai" bisiknya. Aidan pun mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut. Di depan mereka, seorang petugas kebersihan sedang mengepel. Thara dan Aidan memang sedang menunggu di luar ruang praktek dokter obgynnya.
"Sabar Yaaaa. Kan bulan depan si boy brojol" kekeh Aidan.
"Brojol, brojol... Emang kucing!" cebik Thara sambil manyun.
"Lahiran, sayang. Lahir" ralat Aidan daripada kena cubit istrinya.
"Mrs Thara Blair" panggil seorang suster.
"Yuk masuk." Aidan pun menggandeng Thara. Ketika berjalan hendak masuk ke ruang praktek, Thara terpeleset lantai yang baru dipel dan dia jatuh terduduk. Wanita itu merasakan sakit yang amat sangat dan Cairan merah keluar dari sela-sela kakinya.
"Tharaaaa!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️