
Surabaya Jawa Timur Indonesia
Pandu dan Reana menikmati makan malam romantis di Pavilion Restaurant at JW Marriott tempat Reana menginap. Keduanya tidak memperdulikan sekitarnya karena bagi mereka yang penting dunia milik berdua lainnya indekost.
"Aku terkejut kamu datang lho princess" senyum Pandu.
"Aku bertanya sama mbak Rini, acara kamu apa. Dan mbak Rini memberikan semua padaku. Dikira mbak Rini, aku mengawasi dari New York padahal aku sudah merencanakan sejak seminggu lalu" senyum Reana yang malam ini mengenakan gaun tanpa lengan bewarna putih.
"Jadi kamu mempelajari semua tamu undangan yang datang?" tanya Pandu tidak percaya yang malam ini memakai sweater hitam dan kacamata.
"Ya maaf mas. Aku hanya menjaga calon suamiku" senyum Reana.
"Apakah Rini memberitahu semuanya?" tanya Pandu.
"Hanya soal Inge Purnomo. Karena mbak Rini jengah setiap hari mendapatkan kiriman makanan dari Inge untuk mas..."
"Lho Rini nggak pernah kasih... Eh tunggu, mas memang sempat dikirimkan cake fla gitu cuma karena mas tidak begitu doyan jadinya mas kasih ke anak-anak." Pandu teringat dirinya pertama kali bertemu Inge dua bulan lalu karena dirinya datang bersama dengan seorang pengusaha yang hendak membeli Range Rover terbaru.
"Sejak itu, dia selalu mengirimkan mas makanan. Memang pertama cake itu lalu nasi bebek tapi mas waktu itu sedang makan bersama klien di luar jadi nasi bebek nya buat OB karena mbak Rini juga ikut mas dan sampai malam kan waktu itu?"
"Ah iya mas ingat, Rini waktu itu mendapatkan pesan dari Agus si OB yang sedang bersih-bersih sore kalau ada nasi bebek goreng terus aku bilang buat Agus saja."
"Lalu ada makanan apa lagi tapi mbak Rini curiga kok setiap hari kirim."
Pandu menatap Reana horor. "Apa dia hendak menyantet mas?"
"Aku mana tahu mas. Tapi aku salut sama mbak Rini, menjaga mas banget karena mbak Rini tahu mas orangnya lurus jadi dia tidak mau mas kenapa kenapa."
"Kalau sampai main klenikan, syirik banget."
"Ya kita tidak tahu mas. Yang jelas, dia tidak berani macam-macam sama mas. Habis dia kalau sampai masih nekad!"
Pandu menyipitkan matanya. "Apa yang kamu ketahui?"
Reana hanya menatap datar ke arah Pandu. "Dia wanita panggilan kelas atas mas. Sugar baby banyak pengusaha dan pejabat."
Pandu melongo. "Aku pernah mendengar selentingan tapi aku tidak urus akan hal itu."
"Dia mengincar mas."
"Wong aku gak doyan sama dia!" cebik Pandu. "Mukanya penuh dengan dempul!"
Reana terbahak. "Aku juga pakai dempul."
"Dempulmu masih wajar, princess. Dan kamu jauh lebih cantik dari dia dan aku tidak mungkin melepaskan kamu karena butuh perjuangan untuk mendapatkan kamu sebab yang menentang hubungan kita bukan keluarga kamu, melainkan bapakku sendiri. Sekarang bapakku sudah memberikan restu, lalu aku meleng? Wooo bisa dicincang aku sama bapakku sendiri."
Reana tersenyum. "Do you love me?"
__ADS_1
"So much princess. I love you more than you love me..." Pandu mengambil tangan kiri Reana dan mengeluarkan kotak dari kantong sweater nya. "Will you marry me?"
Reana melongo. Pandu memegang sebuah cincin berlian yang simpel dan elegan tapi cantik dan manis.
"Mas Pandu..."
"Andreana Anindita Blair O'Grady, will you marry me?"
"Yes, I will" bisik Reana dengan wajah sumringah. Pandu pun menyematkan cincin berlian itu di jari manis gadisnya.
"Look, aku juga memakai cincin yang menjadi pasangannya."
Reana menitikkan air mata bahagia nya sambil menatap cincin cantik itu melingkar di jari manisnya.
"Mas, nanti kalau orang tua kita nanyain?"
"Bilang saja ini khusus kita berdua dulu, resminya menyusul."
Reana tertawa. "Aku seperti Oma Rhea."
Pandu menatap Reana bingung. "Kenapa?"
"Opa Duncan melamar Oma Rhea di ulang tahunnya yang ke 18 tapi baru bilang setahun kemudian."
"Bisa jadi kita akan seperti Pak Duncan n By Rhea" kekeh Pandu.
"Mom dan Dad bisa heboh ini!"
***
"Wow, kamarnya..." senyum Pandu.
Reana menyalakan termos elektrik yang sudah diisi air untuk membuat kopi. Gadis itu berjalan melewati Pandu untuk meletakkan jaketnya.
"Sebentar lagi kopinya.... Aaaahhh" Reana terkejut ketika Pandu tiba-tiba menariknya dan memeluknya. "Mas Pandu apa-apaan sih?"
Pandu memeluk erat gadis itu. "Love you princess."
"Love you too mas..."
Bibir Pandu langsung Melu*mat bibir tipis Reana dan keduanya saling berpagutan dan Pandu membawa Reana menuju tempat tidur tanpa saling melepaskan ciumannya.
Pandu langsung menindih Reana yang juga hanyut atas cumbuan yang diberikan pria itu. Bibir Pandu menciumi seluruh wajah Reana dan dirinya melepaskan jaket milik Reana.
Keduanya saling berpandangan dengan tatapan sayu dan Pandu melanjutkan cumbuannya. Entah siapa yang memulai, Keduanya saling melepaskan baju atasnya dan Pandu tersenyum melihat aset Reana yang masih tertutup br@ tanpa tali bewarna putih.
"Victoria Secret?" bisiknya sambil tersenyum menatap Reana.
__ADS_1
Gadis itu hanya mengangguk namun sejurus kemudian wajahnya memerah melihat bentuk badan Pandu yang perfect.
"Oh Astagaaa!" bisiknya.
"Kenapa sayang?"
Reana langsung bangun. "Mas, hampir saja kita khilaf!"
Pandu tertegun. Lagi-lagi otaknya mampet kalau sudah melihat Reana.
"Aku ke kamar mandi dulu!" Reana mengambil baju santainya dan langsung ke kamar mandi sedangkan Pandu masih harus menetralisir jantung dan junior nya.
Hampir saja.
***
Pandu sekarang mandi di kamar mandi Reana setelah gadis itu selesai berganti pakaian. Otaknya harus segera didinginkan dan yang penting menidurkan juniornya.
Bisa habis aku dihajar bapak, dihajar Pak Rhett dan Pak Duncan kalau aku tadi kebablasan.
Pandu mengacak-acak rambutnya yang basah. Ya Allah Ndu, Reana baru 20 tahun. Kalau memang kamu sayang, tunggulah setahun lagi saat kontrakmu habis di Surabaya.
Pandu keluar dari kamar mandi setelah setengah jam di dalam dan masih mengenakan pakaian yang tadi. Di ruang tamu, Pandu melihat gadisnya sedang berkaca dan mengoleskan sesuatu di dekat matanya.
"Mata kamu kenapa?" tanya Pandu sambil menghampiri Reana.
"Oh, hanya mengolesi krim mata kok mas."
Pandu memeluk Reana dari belakang. "Maaf tadi mas khilaf."
Reana memegang tangan kekar Pandu. "Aku juga tadi ikut khilaf mas. Cuma begitu aku lihat badan mas, aku langsung tersadar, kita belum boleh."
"Untung kamu mengingatkan mas" ucap Pandu sambil memandang Reana dari kaca di hadapan mereka.
"Kita baru bertunangan mas, belum menikah."
Pandu meletakkan kepalanya di bahu Reana. "Mas minta maaf sekali lagi princess."
"Iyaaa."
Dimana ada cinta pasti ada nafsu tapi dimana ada nafsu belum tentu ada cinta.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️